Friendship or Love (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 August 2017

Setelah mereka berdua selesai merapihkan berkas-berkas yang berserakan di lantai, wanita itu terdiam sejenak dan menghela napas seolah sedang menenangkan diri.
“Kamu gak papa?” tanya Keno dengan penuh perhatian.
“Gak papa kok, aku baik-baik aja,” jawab wanita itu dengan senyuman yang sangat manis. Keno melihat senyuman wanita itu, dan entah bagaimana ia sangat senang memandangnya, menurutnya senyumannya itu sangat indah seindah wajahnya. Namun dibalik senyumnya itu, kesedihan masih terlihat di dalam matanya yang berbinar, dan Keno merasakannya.

“Sini aku bantu berdiri.” Keno memegang kedua lengan lemah wanita itu dan membantunya untuk berdiri.
“Makasih ya,” ujar wanita itu yang masih tersenyum.
“Pasti pekerjaan kamu hari ini berat banget ya?” tanya Keno dengan sedikit canda.
“Iya nih kayaknya.” Wanita tersebut tertawa kecil, seolah masih ingin menyembunyikan kesedihan yang terpancar di matanya.
“Em, baru pulang kerja ya?” Keno berusaha membuat percakapan.
“Oh aku gak kerja di sini,” jawab wanita itu yang terlihat memikirkan hal lain dan kehilangan fokus.
“Oh gitu, kirain kerja di sini,” Keno memperhatikan tingkah wanita itu. Ia mulai penasaran mengapa wanita itu bersedih dan mengapa ia bisa ada di kantor itu sedang ia tidak bekerja di sana. “Oh iya aku Keno,” Keno mengajaknya berjabat tangan.
“Aku Nawala,” balas wanita itu. Mereka berdua pun berjabat tangan.
“Makasih ya udah dibantu, aku harus pulang,” ucap Nawala yang hendak meninggalkan Keno.
“Eh tunggu,” panggilan Keno membuat Nawala terhenti dan memutar balik tubuhnya, “jalan raya masih macet banget lho. Kita ngopi dulu yuk?” tawar Keno yang bahkan ia tidak menyangka akan mengatakannya. Mendengar itu Nawala berpikir untuk mempertimbangkan. “Em, kedai kopinya deket kok, enak banget lagi,” hasut Keno yang terlihat sangat ingin mengajak Nawala.
“Boleh deh,” jawab Nawala singkat. Jawaban singkat itu membuat Keno lega dan senang, entah mengapa ia juga tidak yakin.

Mereka berdua pun pergi ke kedai kopi sederhana yang jaraknya akan terjangkau hanya dengan berjalan kaki. Di kedai itu mereka memesan kopi favorit mereka masing-masing, kemudian duduk bersama di sebuah meja makan kecil.
“Kamu ada urusan apa ke kantor itu? Tadi aku kira kamu baru pulang kerja,” Keno membuka percakapan sambil sesekali menyeruput kopi moccacino miliknya.
“Em, gak ada urusan yang terlalu penting sih, cuma ketemuan sama seseorang,” jawab Nawala dengan suara lembutnya. Wajahnya terlihat kembali sedih, setelah menjawab pertanyaan itu. Bahkan setetes air mata terlihat jatuh dari tepi matanya.
“Eh maaf, pertanyaan aku salah ya?” tanya Keno yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
“Gak kok, gak papa. Aku cuma lagi sedih terus entah kenapa,” jawab Nawala sambil menghapus air matanya dan lagi-lagi ia tersenyum untuk menyembunyikan tangisnya.
“Karena cowok?” ceplos Keno dengan ragu-ragu. Nawala sedikit tersentak mendengar pertanyaan itu, kemudian ia mengangguk kecil sambil menunduk, menandakan iya. “Dia kenapa?” Keno bertanya lagi dengan perasaan masih agak ragu.
“Dia mengecewakan aku,” jawab Nawala yang berusaha menahan air mata.
“Yaudah kamu sabar aja, emang kadang cowok suka gak bisa melihat kebaikan yang luar biasa dari kekasihnya.” Keno berusaha menenangkan Nawala.
“Aku melihat dia, dia berselingkuh tepat di depan mata aku sendiri, setelah semua yang udah kita lalui bersama,” jelas Nawala yang tanpa ia sadari air matanya mulai berjatuhan.
“Kamu relain aja, dia itu pasti cuma cowok brengsek yang gak tau diri. Makanya kamu jangan suka percaya sama kata-kata manis cowok.” Keno mengambil beberapa lembar tisu dan memberikan pada Nawala.
“Iya, mungkin ada benarnya kata-kata kamu.” Nawala mengelap matanya yang sembab dengan tisu dari Keno.
“Emang dasar cowok itu makhluk gak tau diri yang gak bisa ngertiin cewek,” ujar Keno.
“Tapi kamu kan juga cowok?” Nawala heran.
“Oh iya, lupa,” jawab Keno dengan nada bercanda. Nawala tertawa dengan mata yang masih terlihat sembab. Keno lega memandang wajah Nawala yang tertawa.
“Akhirnya kamu ketawa juga,” kata Keno dengan senyuman lebar di mulutnya.
“Habisnya kamu aneh,” Nawala mulai menunjukkan nada bercanda sambil sesekali masih mengelap mata dan hidungnya. Kesedihannya terlihat sudah mulai memudar. “Kamu sendiri ngapain ke kantor itu?” tanya Nawala.
“Aku tadinya cuma mau balikin mobil temenku, tapi kayaknya dia masih sibuk deh, soalnya di telpon gak aktif,” Keno menjawab dengan ringan.
“Oh jadi kamu juga gak kerja di sana?” Nawala mulai membuka banyak topik pembicaraan, begitupun dengan Keno. Sesekali mereka tertawa untuk mencairkan suasana. Keno terlihat bangga pada dirinya sendiri karena mampu mengurangi kesedihan wanita yang baru dikenalnya itu. Mereka terlihat mulai akrab megobrol bersama, bahkan sempat bertukar kontak.

“Eh jalan raya kayaknya udah gak terlalu macet tuh, aku pulang sekarang ya, takutnya kemaleman,” kata Nawala sambil melihat ke tepi jalan raya, setelah mengobrol cukup lama dengan Keno.
“Oh gitu, okelah,” jawab Keno santai, walau sebenarnya dalam hati ia masih ingin bersama Nawala.
“Senang bisa kenal sama kamu Ken,” ujar Nawala dengan ramah dan tersenyum. Kesedihan di matanya sudah hampir tidak terlihat.
“Sama-sama Naw. Oh iya nanti sesekali aku hubungi kamu ya, kali aja ada kesempatan buat mitra bisnis,” Keno terlihat sangat ramah dan bersahabat.
“Silahkan,” jawab Nawala lembut dan singkat dengan senyuman yang lebih manis dari sebelumnya.

Mereka berdua pun memutuskan untuk pulang. Keno mengantar ke parkiran karena Nawala pulang dengan mobil pribadi.
“Kamu pulang naik apa?” tanya Nawala dengan polosnya dari dalam mobil pribadi sederhana miliknya.
“Em anu, nanti aku pulang naik mobil bareng temenku,” jawab Keno yang terlihat tidak yakin dengan jawabannya.
“Ya udah, aku duluan ya, sampai ketemu.” Nawala mulai mengendarai mobilnya menjauhi Keno.

Keno pun kembali ke kantor Zeno, namun sepertinya Zeno masih sibuk karena tidak bisa dihubungi. Sehingga Keno hanya bisa menitipkan kunci mobil di resepsionis, dan pulang menggunakan kendaraan umum seperti biasanya. Selama perjalanan entah mengapa ia terus memikirkan Nawala, seperti ada perasaan yang belum bisa ia yakinkan. Bahkan perasaan tersebut lebih kuat dari perasaannya terhadap Vika.

Gelap mulai memudar di langit, matahari segera bertahta. Seperti biasanya Keno harus bekerja di kantor hari ini. Saat ia sedang bersiap-siap untuk merapihkan diri, tiba-tiba ponselnya bergetar, yang ternyata adalah panggilan dari Zeno. Ia pun segera mengangkatnya.
“Halo Ken.”
“Oi, ada apa Zen?”
“Lo nanti pulang kerja sibuk gak?”
“Engga sih, kenapa emang?”
“Selesai kerja nanti gue jemput lo, kita makan bareng yok. Ada yang mau gue obrolin juga sama lo.”
“Oh gitu, tumbenan lo, yaudah deh.” Keno terlihat tidak ada masalah dengan tawaran Zeno. Walau sebenarnya agak jarang Zeno mengajak berkumpul di hari kerja. Biasanya mereka hanya berkumpul atau makan bersama di hari libur.

Selesai Keno bekerja, Zeno tak mengingkari janjinya, ia datang menjemput Keno yang telah menunggunya selama 20 menit.
“Lama banget lo Zen, udah hampir setengah jam gue nongkrong di sini,” ujar Keno ketus dengan sedikit canda.
“Sorry sorry bro, tadi jalanan agak macet,” jawab Zeno dengan tawa maafnya.

Seperti yang telah direncanakan, mereka pun mampir ke restoran terdekat. Sambil menunggu pesanan, mereka mulai mengobrol.
“Tumbenan lo ngajak ketemuan hari gini, ada apa emangnya?” tanya Keno dengan santai.
“Gak penting-penting amat si sebenernya, lagi pengen ngobrol aja.” Zeno terlihat ragu.
“Bilang aja mau curhat lo Zen, susah amat.” Keno tertawa ledek. Zeno juga jadi tertawa.
“Iya sih,” kata Zeno. Mereka berdua pun melanjutkan tawanya. “Gini Ken, kita kan udah bisa dibilang mulai masuk ke tahap pria dewasa nih, menurut gue kayaknya kita udah harus cari hubungan serius deh. Ya gak sih?” Zeno tampak cukup serius dengan topiknya.
“Ya iya sih Zen. Lo sendiri bukannya udah ada si Gena tuh? Seriusin aja sama dia.” Keno juga menanggapi serius topik yang di bicarakan Zeno.
“Si Gena mah terlalu kekanakan, lagian gue udah lama banget putus sama dia kali,”
“Hah udah putus lo? Sejak kapan?” tanya Keno yang sedikit terkejut.
“Yah, lo nya sih gak pernah perhatiin hubungan gue lagi,” sindir Zeno. Keno pun tertawa kecil, seperti membenarkan perkataan Zeno.
“Lagian gue males ngapalin nama cewek lo yang di update terus,” ledek Keno sambil tertawa.
“Parah lo, tapi iya sih,” balas Zeno yang membuat mereka berdua tertawa. “Gini Ken, gue sih udah ada beberapa kandidat, nah gue mau minta pendapat lo.”
“Masih aja lo jadi playboy kelas teri, pake kandidat-kandidat segala lagi. Lo kira mereka capres apa?” ledek Keno bercanda.
“Enak aja lo bilang gue playboy kelas teri! Kelas mujaer gue sekarang.” Lagi-lagi Zeno mengeluarkan candaan. Mereka berdua pun tertawa lagi seperti tak ada habisnya.
“Eh iya, maksud lo sekarang lo jomblo berarti?” tanya Keno yang sedikit penasaran.
“Bisa dibilang iya sih Ken, sebenernya gue baru putus kemaren,” jawab Zeno yang terlihat cukup serius.
“Oh ya? Siapa lagi tuh?” Keno bertanya lagi dengan santainya. Seketika Zeno mengambil ponselnya dan menunjukan sebuah foto cukup mesra yang berisi dirinya dan seorang wanita. Saat Keno melihat foto itu, ia terkejut dengan wanita yang ada di foto tersebut.
“Namanya Nawala, lulusan amerika dan dia kerjanya desainer baju. Orangnya baik, polos, cantik juga menurut gue,” jelas Zeno dengan ringan. Seketika tubuh Keno seperti mematung, wajahnya terlihat cukup menjelaskan jika ia sedang terkejut.

“Oi Ken, lo gak papa?” tanya Zeno bingung dengan reaksi Keno. Seketika Keno tersadar dari lamunannya.
“Oh anu, kemaren gue sempet ketemu sama itu cewek,” jawab Keno dengan senyum yang agak dipaksakan.
“Hah, serius lo Ken?” Zeno malah terkejut. Wajahnya terlihat berharap bahwa yang dikatakan Keno adalah benar.
“Serius gue Zen, kemaren dia emang kelihatan lagi sedih,” jawab Keno yang mulai menaggapi serius.
“Terus lo sempet kenalan sama dia?” tanya Zeno yang semakin penasaran. Keno sempat berpikir sejenak untuk menjawabnya, seperti ragu.
“Iya, gue sempet tukar kontak buat mitra bisnis.” Keno terlihat tidak yakin telah memberikan jawaban itu. Mendengar itu Zeno bernapas lega. “Ngomong-ngomong kok lo bisa sampe putus kenapa?” Keno bertanya dengan penasaran.
“Gue mutusin dia Ken.” Wajah Zeno terlihat seperti sedang menyesali sesuatu.
“Kenapa?” Keno semakin penasaran
“Kemaren kita sempet cek-cok, dia marah dan gue juga jadi terbawa emosi sampai kehilangan kontrol,” jawab Zeno dengan serius, “dia ngira gue selingkuhin dia.”
“Kenapa dia bisa ngira lo selingkuhin dia?” Keno menyerbu Zeno dengan rentetan pertanyaan.
“Jadi gini, di kantor itu emang ada cewek yang demen banget godain gue. Entah apa yang dilihat Nawa, tapi yang jelas habis itu dia dateng marah-marah dan ngira gue selingkuh.” Zeno menjelaskan sambil terlihat serius dan menyesal.
“Terus?” tanya Keno singkat seperti mengharapkan inti pembicaraan.
“Sebenernya gue nyesel banget mutusin dia, gue masih sayang sama dia.” Wajah penyesalan masih ditunjukkan Zeno, namun entah kenapa Keno tidak begitu yakin akan perkataan Zeno.
“Jadi maksud lo, lo mau balikkan sama dia?” tanya Keno yang terlihat mulai mengerti inti pembicaraan.
“Tadinya gue ngira gak akan ada kesempatan bisa balikkan sama dia, tapi sekarang gue liat masih ada kesempatan,” jawab Zeno dengan harapan di matanya. Mendengar itu, Keno terlihat sepenuhnya mengerti maksud Zeno, namun sepertinya ia tidak begitu menyukainya. “Gue minta tolong Ken, sampaikan perasaan dan maaf gue ke dia,” kata Zeno memohon.
“Kenapa lo gak ngomong sendiri aja sih?” tanya Keno yang terlihat sedikit kesal.
“Kalo bisa pasti gue lakuin Ken. Semua akses ditutup, gue telpon dia gak pernah diangkat bahkan belakangan ini nomornya gak pernah aktif, gue dateng ke apartemennya gak ada orang. Gue gak tau lagi gimana supaya bisa ngomong sama dia,” jelas Zeno meyakinkan. Keno mulai merasakan keseriusan Zeno, ia pun berpikir untuk mempertimbangkan kemauan Zeno. Sebenarnya ia sangat tidak suka ikut campur dengan hal seperti ini, namun karena Zeno adalah sahabat yang telah banyak berbuat baik kepadanya, ia pun mulai berpikir untuk mau membantunya.
“Oke jadi lo mau gue ngomong apa sama dia?” tanya Keno seraya menunjukkan bahwa ia setuju membantu Zeno. Zeno pun menyampaikan semua pesan yang akan disampaikan Keno pada Nawala, bahkan ia meminta Keno untuk menghasut Nawala agar mau menjalin hubungan kembali. Keno menerimanya walau hatinya terasa berat, karena ia tahu ia melakukan ini demi sahabatnya.

Cerpen Karangan: Satria Akbar Difa
Inspired by the writer’s true story.

Cerpen Friendship or Love (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Di Puncak Binaiya

Oleh:
Aku adalah Senja. Entah kenapa mama papa memberi aku sebuah nama yang pada akhirnya membuat aku menyatu dengan alam. Senja bukan hanya sebuah intuisi, dia adalah simbol keindahan, dia

Cinta Nayang (Part 4)

Oleh:
Semakin hari gue semakin deket sama arga, begitu juga dengan keluarga gue, gue juga semakin nyaman sama arga, tapi gue bingung sekarang gue masih takut ngungkapin perasaan gue. Disini

Semusim Untuk Selamanya

Oleh:
Yaaa… Aku mau nya cuma kamu?? Bukan dia, hanya kamu yang ada dipikiranku saat ini dan mungkin entah sampai kapan. Cuma kamu, bukan Tito yang mamberikan aku sebuah kalung

Tasya My Best Friend

Oleh:
Hujan turun dengan deras, rasanya tak ada yang menyapaku dari luar sana, sepi banget “marsya kamu sudah mandi sayang” kata mama memangilku “udah ma” jawabku sedikit berteriak. Pagi pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *