Friendship or Love (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 August 2017

Beberapa hari berlalu. Keno berencana untuk mengajak Nawala bertemu hari ini setelah beberapa hari sebelumnya ia sibuk dengan pekerjaan. Keno membuat pertemuan dengan Nawala dengan alasan untuk kesempatan bisnis dan pertemanan. Nawala menerimanya dengan senang hati.

Tak lama mereka pun bertemu di sebuah cafe seperti yang telah direncanakan. Walau beberapa hari mereka tidak bertemu semenjak pertemuan pertama, keakraban masih cukup terlihat diantara mereka. Keno hanya membahas tentang pekerjaan, belum lebih. Nawala mengimbangi dengan topik yang serupa. Suasana obrolan mereka masih terlihat santai dan ringan.
“Gimana? Kalo menurut aku prospek kedepannya bagus,” kata Keno dengan santai.
“Ya boleh, gak ada salahnya kan dicoba,” jawab Nawala dengan ramah.
“Oke nanti aku coba ngomong ke atasan aku, semoga beliau tertarik.” Keno sungguh tak menyangka sejauh ini obrolannya dengan Nawala sangatlah formal. Padahal tujuan utama ia membuat pertemuan ini bukanlah itu. Ia sungguh bingung bagaimana cara ia membalik suasana ringan yang sedang berlangsung itu demi memenuhi janjinya pada Zeno. Hingga akhirnya ia memberanikan diri, memaksakan dirinya untuk menerima apapun respon dari Nawala.

“Em, Naw,” Keno memanggil Nawala dengan perasaan ragu. Nawala merespon dengan mata yang sangat bersahabat.
“Em anu, aku boleh tanya sesuatu yang a-agak pribadi?” tanya Keno yang mulai merasa gugup.
“Apa?” Nawala mengernyit bingung. Keno mendadak bingung mau bertanya apa.
“Kamu masih mengingat cowok yang mengecewakan kamu waktu itu?” tanya Keno yang setelahnya terlihat menyesal dengan pertanyaan bodohnya. Mendengar pertanyaan itu mimik wajah Nawala mulai berubah, seperti mengingat suatu kejadian pahit. Keno pun menyadari dan merespon, “Oh sorry, kalo kamu gak mau bahas gak papa kok.” Keno tertawa grogi, seolah berusaha mencairkan suasana.
“Aku ingat, mana mungkin aku bisa lupa sama dia,” jawab Nawala dengan tiba-tiba, menunjukkan bahwa ia tidak masalah membahasnya. Ia tersenyum hangat, namun kesedihan jadi muncul di matanya. Keno memandang senyuman itu, lagi. Entah bagaimana, perasaan itu muncul lagi, perasaan yang belum ia yakinkan. Namun Keno berusaha menolaknya.
“Kamu pasti marah banget ya sama dia?” tanya Keno yang mulai menimbun kepercayaan diri dan fokus pada tujuannya.
“Gak, aku gak marah. Aku kecewa.” Tanpa ingin tahu alasan Keno menanyakannya, Nawala menjawabnya berat. “2 tahun lebih aku sama dia menjalin hubungan bahkan dia pernah membahas tentang hubungan yang lebih serius. Tapi apalah gunanya, dia menyelesaikan begitu saja seperti memadamkan api sebuah lilin,” Nawala bercerita seolah meluapkan beban yang ada di pikirannya. Keno agak tercengang mendengar berapa lama hubungan mereka telah berlangsung, mengerti apa yang dirasakan Nawala.

“Waktu itu kamu bilang kalau dia selingkuh, apa kamu bener-bener yakin?” tanya Keno yang cukup penasaran.
“Kalau kamu punya penjelasan logis lain mengapa seorang pria dan wanita bercumbu mesra, aku akan senang mendengarnya,” jawab Nawala yang terlihat sedikit terbawa emosi. Lagi-lagi Keno cukup tercengang dengan jawaban Nawala.
“Maaf,” kata singkat Keno yang merasa cukup bersalah.
“Gak papa kok Ken, harusnya aku yang minta maaf karena udah curhat ke kamu,” balas Nawala dengan senyuman sambil berusaha menenangkan diri.
“Justru aku senang kalau bisa meringankan beban kamu, dan ngeliat kamu tersenyum.” Keno mendadak bingung, mengapa ia bisa sampai mengucapkan kata-kata seperti itu.
“Benarkah?” Nawala mengangkat alis dengan matanya yang berkaca-kaca. Keno memandangnya kemudian mengangguk sambil tersenyum hangat, ia mulai hanyut dengan perasaannya. Keno memandang Nawala dengan sangat dalam, seolah tak bisa menahan pesonanya.

“Sebenernya apa yang kamu inginkan?” tanya Nawala yang mulai curiga dengan situasi Keno. Pertanyaan itu sungguh menyadarkan Keno. Cukup untuk membuat pikirannya pecah.
“Em anu, aku cuma mau tau apa kamu masih sayang apa enggak sama cowok kamu itu?” Lagi-lagi Keno menyesal setelah mengeluarkan pertanyaan bodohnya. Nawala terlihat cukup keheranan.
“Apa itu penting untuk kamu?” tanya Nawala seperti mulai menutup diri. Keno sungguh bingung harus menjawab apa.
“Temen yang waktu itu mau aku temui adalah Zeno,” jawab Keno dengan terpaksa. Ia sudah menerka seperti apa respon yang akan ia terima. Nawala sangat terkejut mendengarnya.

“Jadi maksud kamu, Zeno yang nyuruh kamu ketemu sama aku?” tanya Nawala dengan perasaan masih terkejut namun mulai mengerti dengan semuanya. Keno sempat berpikir sejenak untuk menjawabnya.
“Bukan,” jawab Keno. Jawaban dusta yang tidak sesuai dengan pikirannya. Ia memiliki rencana lain.
“Jadi?” Nawala tidak menyangka perkiraannya salah.
“Kemaren dia sempet cerita tentang yang terjadi sama hubungan kalian. Sebagai sahabatnya, aku cuma mau tau aja apa yang sebenarnya terjadi. Maaf kalo ini mengganggu kamu.” Keno terlihat cukup serius. Nawala terlihat memikirkan sesuatu, Keno belum bisa menebaknya.
“Tunggu, ada satu hal yang mau aku tau. Waktu Zeno cerita tentang apa yang terjadi, apa dia menunjukkan perasaan menyesal?” tanya Nawala dengan mimik wajah yang membuat Keno jadi mengerti perasaan Nawala yang sesungguhnya. Bahwa Nawala ternyata berharap pertanyaannya benar.

Waktu yang ditunggu Zeno akhirnya tiba, yaitu untuk menemui Keno dan mendapat sebuah jawaban. Ia tampak sedikit gugup menunggu Keno untuk datang di restoran tempat mereka biasa berkumpul.
“Oi Zen, sorry ya gue telat,” sapa Keno dengan ramah. Zeno tersenyum ramah. Keno duduk di meja makan menghadap Zeno.
“Gak papa bro, gue nya aja yang kecepetan. Ini udah gue pesenin minum,” kata Zeno sambil mendekatkan gelas yang berisi jus ke arah Keno.
“Sip, thanks ya.” Keno terlihat santai.
“Yoi.” Mereka berdua terdiam sejenak. Keno sesekali menyeruput minumannya. “Jadi gimana?” tanya Zeno dengan perasaan sedikit tidak enak bercampur penasaran. Keno menghela napas seolah bersiap mengeluarkan jawaban.
“Sorry Zen,” jawab Keno singkat dengan wajah menyesal.
“Maksud lo?” Zeno terlihat ingin memastikan, walau sebenarnya ia sudah menebak jawabannya.
“Dia bener-bener marah sama lo, bahkan gak mau kenal lagi sama lo. Gue saranin lo jangan hubungin dia lagi deh,” kata Keno dengan sangat meyakinkan. Zeno tampak kecewa dengan jawaban itu, namun ia berusaha menerimanya.
“Udah gue duga Ken, dia pasti gak akan maafin gue. Gue emang bener-bener salah waktu itu.” Zeno masih berusaha menahan rasa kekecewaannya.
“Lo kayaknya serius banget sama dia, tumben.” Begitulah komentar Keno.
“Bukannya gitu Ken, lo kan tau gue udah mau mulai buat hubungan serius. Selain itu, menurut gue Nawala juga cewek terbaik yang pernah jadian sama gue, karakternya, sifatnya, dan sebagainya beda dari yang lain. Sebelum akhirnya gue melakukan tindakan bodoh yang ngerusak semuanya,” Zeno menjelaskan panjang lebar penyesalannya. Ia terlihat sangat serius dan meyakinkan. Namun Keno yang telah mengenalnya sejak lama, masih ragu untuk percaya.
“Gue minta maaf Zen, gue ngerti perasaan lo,” Keno berusaha menenangkan Zeno.
“Gak usah minta maaf Ken, justru lo udah berusaha bantu gue. Tenang aja gue ini bukan cowok yang lemah,” kata Zeno dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana, walau masih terlihat kekecewaan. “Gue juga akan tau diri. Gue gak akan ganggu dia lagi,” lanjut Zeno. Keno merasa lega mendengarnya.

“Terus rencana lo apa?” tanya Keno.
“Gue nanti akan coba cari cewek lain. Ya mungkin belum tentu bisa sebaik Nawala, tapi gue akan pastiin bahkan gue berani janji, kalo kemaren adalah putus gue yang terakhir.” Kata-kata tersebut sungguh membuat Keno semakin merasakan keseriusan Zeno.
“Gue pasti dukung lo Zen.” Keno menggenggam pundak Zeno. Zeno terlihat bangga dengan sahabatnya itu.
“Oh iya, tapi lo masih hubungan baik kan sama Nawala?” tanya Zeno yang mulai santai.
“Em, masih. Kemungkinan gue ada kerjasama bisnis nantinya,” jawab Keno yang mengimbangi santai.
“Oh gitu, baguslah. Sabar ya sama dia, kadang suka bawel, orangnya terlalu perfeksionis, tapi lo bakal liat hasilnya.” Zeno tertawa kecil. Tanpa ia sadari ia sedang mengingat masa-masa bersama Nawala.
“Tenang aja Zen,” kata Keno bersahabat.

“Oh iya Ken sorry nih, gue mau ngerepotin lagi,” Zeno mengambil sebuah amplop surat yang disegel dari dalam sakunya, “kalo nanti lo ketemu lagi sama Nawala, tolong kasih surat ini ya. Walaupun dia tetap gak mau maafin gue, tapi gue berharap dia masih mau baca surat ini. Pokoknya kasih ke Nawala, itu penting.” Zeno menitipkan surat itu dengan penuh kepercayaan. Keno melihat surat itu dengan ragu selama beberapa saat.
“Iya, nanti kalo ketemu pasti gue kasih,” kata Keno sambil menerima surat itu. Zeno tersenyum dengan cukup puas.

Malam ini Keno ada janji untuk menemui Nawala, yang ternyata sudah mereka rencanakan beberapa hari sebelumnya. Mereka duduk berdua di sebuah meja makan cafe, dengan segelas minuman yang masih terisi penuh. Mereka berdua hanya terdiam, seperti canggung.
“Gimana?” Begitulah pertanyaan pertama Nawala, setelah beberapa saat terdiam.
“Seperti dugaan aku kemaren,” jawab Keno meyakinkan.
“Maksud kamu?” Wajah Nawala mulai terlihat kecewa.
“Gak lama lagi dia akan punya cewek baru, dia bener-bener udah lupa sama kamu. Bahkan mungkin dia gak akan menghubungi kamu lagi,” Keno menjawab lagi dengan yakin. Nawala memejamkan mata dan menunduk, seperti menahan tangis, namun air matanya tetap menetes.

“Tadinya aku kira dia masih bisa berubah. Memang dia kadang suka keras kepala, tapi aku yakin dia itu orang yang baik.” Curhat Nawala yang tak kuasa menahan tangis.
“Maafin aku Nawala, tapi kenyataannya dia gak menghiraukan kesempatan kedua yang kamu kasih,” ucap Keno yang sesekali melihat surat yang ia genggam dibawah meja tanpa sepengetahuan Nawala. Ia sungguh ragu untuk memberikan surat titipan Zeno itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyimpannya kembali. Nawala terlihat sudah mulai menenangkan diri.
“Mungkin perkiraan aku selama ini salah, aku terlalu berharap,” kata Nawala dengan wajah sendunya.
“Aku ngerti perasaan kamu. Kamu bukan cewek satu-satunya yang pernah dibuat begini sama dia,” Keno berusaha menenangkan Nawala. “Lagian, apa yang buat kamu sangat berharap sama dia?” tanya Keno.
“Dia itu pacar pertama aku,” jawab Nawala berat. Keno tercengang. “Dulu aku selau ingin, kalau pacar pertama aku itu akan jadi pacar terakhir aku,” lanjut Nawala yang masih terlihat kecewa.

Keno mulai merasa bersalah dalam hatinya atas apa yang telah diperbuatnya. Namun ia sudah memulainya, dan ia sangat yakin dengan keputusannya itu. Menurutnya, Nawala hanyalah salah satu korban dari ke playboy-an sahabatnya. Memang Zeno terlihat sangat meyakinkan dengan keseriusan yang dibahas sebelumnya. Tetapi bagi Keno, ia tidak mau mempertaruhkan Nawala untuk membuktikan benar atau tidaknya perkataan Zeno. Keno sangat tidak ingin melihat Nawala tersakiti lagi bagaimana pun caranya. Karena ia telah meyakinkan perasaannya, bahwa ia mencintai Nawala.

“Terkadang sesuatu yang kita inginkan itu belom tentu baik buat kita Naw,” ujar Keno yang mulai menggenggam tangan Nawala, “kamu itu wanita yang sangat baik. Aku yakin kamu pasti akan dapat pasangan yang jauh lebih baik daripada Zeno.” Keno tersenyum tulus. Nawala membalas genggaman tangan Keno.
“Makasih Keno,” Nawala tersenyum manis dengan sedikit air mata yang menetes. Keno mengusapnya dengan lembut.

Cerpen Karangan: Satria Akbar Difa
Inspired by the writer’s true story.

Cerpen Friendship or Love (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lamunan Persahabatan

Oleh:
Namaku Andi, remaja laki-laki berusia 24 tahun dengan seugudang mimpi yang selalu diwujudkan dalam lamunan. Setidaknya begitulah gambaran diriku. Melamun menjadi aktivitas yang mengasyikan untuk anak dengan keperibadian yang

Cerita SMA

Oleh:
Masa SMA masa dimana penuh warna, cerita, cinta dan kasih sayang. Waktu kelas 1 SMA ada kakak kelas yang naksir wihh udah seneng banget. Tanpa basa basi lagi, saat

Kesempatan Yang Musnah

Oleh:
Minggu, 30 Oktober 2016 Aku membenamkan diriku di sofa empuk di ruang tengah. Kakakku duduk di sampingku sambil terus berkutat dengan novel barunya. Aku agak heran dengannya, novel lebay

Fall in Love

Oleh:
Berawal dari senyuman itu. Kini ku merasakan kenyamanan. “ah.. sudahlah dia hanya angin lewat saja bagiku” kataku sambil menutup buku pelajaran malam ini. Lalu, aku beranjak ke tempat tidur

10 November (Part 1)

Oleh:
Hari ini hari upacara bendera dan seperti biasanya aku terlambat, akhirnya aku dihukum berdiri di tengah lapangan sampai pelajaran pertama selesai. Astaga, bayangkan saja di terik matahari pagi walaupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *