Friendship or Love (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 August 2017

Belakangan ini Keno sangat sering menjauhkan Nawala dari Zeno. Padahal hari demi hari, ia semakin dekat dengan Nawala. Zeno tak pernah sedikitpun berprasangka buruk pada sahabat terdekatnya itu. Suatu saat Keno termenung sendirian di kamar kosnya, gelisah dengan perasaan bersalah yang ada dalam hatinya. Tangannya terlihat sedang menggenggam surat titipan Zeno yang masih tersegel rapih. Sempat terpikir untuk membaca isinya, namun ia sudah cukup merasa bersalah dengan perbuatannya belakangan ini. Ia tidak mau menambahnya lagi dengan membuka surat itu.

“Tok.. Tok.. Tok..” Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar sehingga membuatnya cukup panik. Dalam pikirannya ia sangat yakin bahwa yang mengetuk adalah Zeno, karena hanya dia yang tahu lokasi tempat kos barunya. Keno kebingungan dimana ia harus menyembunyikan surat titipan Zeno itu, hingga akhirnya ia menaruhnya di bawah kasur. Setelah itu, Keno segera membukakan pintu kamar kos sederhananya.

“Haii..,” sapa seorang wanita dengan ramahnya.
“Astaga kamu Vik,” Keno terkejut bahwa ternyata Vika yang mengetuk. Seorang wanita yang beberapa hari ini tidak pernah ia pikirkan. Vika tertawa melihat respon Keno. “Kok kamu bisa tau dimana tempat kos aku sih? Kan belom aku kasih tau,” tanya Keno dengan perasaan senang bercampur bingung.
“Iyalah, Vika gitu,” jawab Vika berbangga diri, “apa sih yang aku gak tau dari kamu,” lanjutnya bercanda. Keno tertawa.
“Sini masuk,” Keno mempersilahkan masuk dengan ramah. Vika pun masuk dan duduk lesehan di lantai kamar kos yang tidak terlalu besar itu. Keno pun menyamainya setelah melihatnya.
“Eh, Ken ini aku bawain makanan,” kata Vika sambil menyerahkan sebuah kotak makan.
“Wah mantap, tau aja aku lagi laper,” Keno tersenyum lebar meledek. Vika mencubit canda pinggang Keno. Keno pun kemudian membuka kotak makan itu. “Wih ini kamu yang masak?” tanya Keno sambil bersiap menyantap nasi goreng yang ada di dalam kotak makan.

“Bukan, itu Mamah aku yang masak, tadi dia nitipin buat kamu. Kalo aku yang masak kan kamu tau gimana,” kata Vika dengan wajah bete yang dibuat-buat. Keno tertawa.
“Emang, rasanya bisa-bisa anyep. Makanya banyak latihan dong,” ledek Keno sambil mengunyah makanan di mulutnya.
“Dih ngapain amat, apalagi masakin buat kamu gitu?” Vika membalas ledekan. Keno hanya tertawa.
“Kalo ini baru enak nih, masakan Mamah kamu emang paling top.”
“Woo.. dasar.” Lagi-lagi Vika mencubit pinggang Keno. Namun ia terlihat senang melihat Keno menyantap lahap makanan yang dibawanya.

Mereka kemudian mengobrol dengan cukup asik dan santai layaknya seorang sahabat. Sesekali mereka tertawa bersama. Keno yang baru selesai makan melihat Vika yang tiba-tiba melamun seperti memikirkan sesuatu.
“Kok bengong Vik? Ada yang mau diomongin?” tanya Keno heran. Vika agak tersentak seraya sadar dari lamunannya.
“Oh gak papa,” jawab Vika dengan senyuman lebar yang penuh rahasia.
“Banyak utang ya?” tanya Keno bercanda.
“Enak aja, emangnya kamu.” jawab Vika yang membuat mereka berdua tertawa lagi. Keno memandang wajah Vika, namun kali ini bukan tawanya yang menjadi pusatnya.
“Vik, kok muka kamu kayaknya agak pucat ya? Kamu lagi sakit ya?” tanya Keno menunjukan perhatiannya.
“Masa sih? Emm, enggak kok. Mungkin bukan pucat kali, emang muka aku aja yang lebih putih sekarang,” jawab Vika yang lagi-lagi dengan candanya. Keno terlihat sudah terbiasa dengan jawaban-jawaban yang diberikan Vika. Ia sudah sangat hafal dengan sifat Vika yang asik dan penuh canda, sehingga tak ada rasa canggung saat bersamanya.

“Vik, menurut aku kamu jangan di sini lama-lama deh,” kata Keno yang tampak cukup serius.
“Lho kenapa?” tanya Vika bingung.
“Takutnya nanti kalo ada penggerebegan, dikira kita lagi ngapa-ngapain berduaan disini,” lanjut Keno yang sudah mulai terlihat candanya.
“Iihhh… Amit-amit dehh,” Vika merespon dengan mimik wajah yang lucu hingga membuat Keno tertawa. “Yaudah aku pulang sekarang deh.” lanjut Vika sambil mengecek barang bawaannya.
“Eh, tunggu aku gak maksud gitu.” Keno meyakinkan Vika agar tidak salah paham, walau sebenarnya memang Keno tidak mengharapkan Vika berlama-lama di kosnya, karena ia ingin beristirahat.
“Iyaa Keno Kaneza, aku tau kok. Emang aku udah mau pulang,” kata Vika yang dihiasi dengan senyuman uniknya.
“Oh gitu, ya udah ati-ati ya Evika Kumal,” ledek Keno.
“Kumalaa..,” Vika mengoreksi nama belakangnya dengan marah yang dibuat-dibuat. Ia pun akhirnya meninggalkan kamar kos Keno. Memberikan Keno ruang untuk bisa beristirahat.

Setelah Vika pulang, Keno teringat kembali dengan surat yang ia taruh di bawah kasur. Ia mengambilnya lagi. Kemudian ia meremasnya menjadi gumpalan kecil dan membuangnya ke tempat sampah, sehingga rasa takut akan ada orang yang menemukannya telah hilang.

Hari demi hari, Keno mulai lebih banyak menghabiskan waktu bersama Nawala. Tanpa diketahui Zeno, maupun Vika. Bahkan Keno seringkali menghindari pertemuan rutinnya dengan Zeno.
“Oi Ken, lo kemana aja sih? Sekarang dihubungin susah. Bosen lo temenan sama gue?” gurau Zeno sekaligus khawatir saat berkesempatan bertemu Keno yang sudah jarang terlihat batang hidungnya.
“Sorry banget Zen, kerjaan gue lagi numpuk terus nih,” begitulah alasan Keno. Alasan klasik yang sudah sering diberikan.
“Kayaknya gak abis-abis kerjaan lo, apa perlu gue bantu?” tawar Zeno dengan ramah yang tentu saja Keno menolaknya.

Nawala tidak pernah tahu permainan yang dilakukan Keno selama ini. Yang jelas sejauh ini ia tidak ada masalah dengan kehadiran Keno yang selalu menemaninya. Keno memang seringkali membantu Nawala dalam pekerjaannya, menghiburnya disaat sedih, mendukungnya disaat sulit, merayakan disaat senang, dan begitupun sebaliknya. Mereka sudah sangat terlihat memiliki keakraban, dan Keno sangat senang dengan hal itu, tentu saja karena Nawala adalah wanita pujaannya. Menghabiskan waktu bersama Nawala adalah kebahagiaan untuknya. Meskipun ia belum berani untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya terhadap Nawala.

Hari ini adalah hari ulang tahun Vika. Dan tentu saja, Keno tak pernah lupa dengan tanggal kelahiran sahabat perempuannya itu. Dari dulu memang mereka berdua selalu saling merayakan ulang tahun bersama. Entah dengan memberikan kue atau kado, merencanakan surprise, ataupun hanya dengan mengucapkan selamat sudah cukup untuk memperkuat persahabatan mereka. Yang jelas mereka tidak pernah lupa akan hari ulang tahun satu sama lain.

Kali ini Keno berencana datang ke kantor Vika. Ia ingin memberi surprise dengan membawa kue, bahkan ia rela meninggalkan pekerjaannya untuk sementara. Tak sabar ia menuju ke sana dengan membawa kue tart di tangannya.
“Dia pasti seneng banget gue bawain kue pas dia lagi ngantor,” batin Keno dalam hati yang terlihat sangat perhatian pada sahabatnya itu.

Sesampainya di kantor Vika, Keno segera menemuinya di jam istirahat. Dan benar saja dugaannya, Vika terlihat sangat terkejut, bingung, bercampur senang melihat kedatangan Keno. “Selamat ulang tahun Vika..,” ucap Keno. Vika tersenyum senang. Teman sekantor Vika yang juga baru tahu hari kelahiran Vika, jadi ikut merayakannya.
“Vika, itu pacar kamu ya?” tanya seorang teman sekantor Vika dengan berbisik. Vika agak terkejut dengan pertanyaan itu.
“Bukan, itu sahabatku,” jawab Vika ragu.

Setelah selesai merayakan kejutan kecil itu. Vika menarik tangan Keno menuju tempat yang lebih sepi. Keno hanya bingung dan mengikuti.
“Kenooo,” teriak kecil Vika membuat Keno bingung. “Kamu gimana sih? Aku kan ulang tahunnya besok.” Vika memanyunkan bibir. Keno terkejut dan menepuk dahinya.
“Aduh iya Vik, otak aku lagi error kali nih. Aku ingetnya tanggal 23 bukan 24,” jawab Keno sesal. “Maaf banget ya.”
Vika menghela napas. “Ya udah gak papa kok, kamu kesini aja aku udah seneng,” kata Vika dengan senyuman tanpa marah sedikitpun. Keno hanya tertawa malu.

“Kalo gitu aku pamit ya, masih ada kerjaan juga,” Keno menggaruk kepalanya sambil salah tingkah. Saat Keno hendak pergi, Vika menggenggam tangan Keno dengan cukup erat. Kemudian menatap mata Keno dengan begitu dalam. Keno membalas tatapan dengan bingung. “Em, ada yang mau diomongin?” ujar Keno.
“Aku capek Ken,” keluh Vika dengan sedikit desah.
“Kalo gitu istirahat Vik,” canda Keno.
“Aku serius Ken,” tatapan Vika cukup membuat Keno merasakan keseriusannya.
“A-aku gak ngerti maksud kamu Vik?” tanya Keno agak canggung. Vika mengusap dahi sambil mendesah kesal.
“Aku mau kamu bilang sekarang, gimana perasaan kamu ke aku! Aku capek nunggu,” kata Vika ketus. Matanya sedikit berkaca.
“Bilang apa maksud kamu?” Keno semakin bingung dan canggung.

Seketika Vika melingkarkan lengannya ke punggung Keno, memeluknya erat hingga membuat Keno tersentak. “Aku cinta sama kamu Keno,” ucapnya lembut sambil merebahkan kepalanya di dada Keno. “Dan aku juga tau kalo kamu cinta sama aku,” lanjut Vika.
Dengan reflex, Keno menggenggam lengan Vika dan mendorongnya menjauh. “Apa-apaan ini? Apa maksud kamu Vik?” tanya Keno dengan cukup serius. Vika terdiam bingung melihat Keno menjauhkan tubuhnya.
“Bu-bukannya benar yang aku bilang Ken?” wajah Vika agak memelas.
“Astaga Vik, kita ini kan bersahabat, mana mungkin aku cinta-cintaan sama kamu?” jawab Keno dengan yakin. Vika terdiam sejenak seperti tak percaya.
“Gak, gak mungkin. Aku tau kamu Keno, pasti ada alasan lain,” mata Vika mulai membendung.

Keno memalingkan wajahnya dari Vika, ragu untuk menjawab. “Aku udah cinta sama perempuan lain Vik,” jawab Keno terpaksa. Mendengar itu Vika terlihat sangat kecewa. Air matanya mulai mengalir deras.
“Harusnya aku tau itu,” ucap Vika dengan suara parau. Keno bingung harus berbuat apa dalam situasi seperti ini.
“Maafin aku Vik, aku harap persahabatan kita gak rusak karena hal seperti ini,” jawab Keno dengan perasaan tidak enak. Vika hanya menangis sambil menutup wajahnya. “Aku bener-bener harus pergi sekarang Vik,” Keno meninggalkan Vika yang masih menunduk dengan isakan tangis.

Selama hari itu, Keno terus memikirkan apa yang telah ia perbuat kepada Vika. Memang yang ia bilang adalah kenyataan, namun ia merasa menyesal karena terlalu kasar menyampaikannya. Semenjak saat itu pula hubungan mereka merenggang, dan hampir tidak pernah saling berkontak lagi.

“Gila lo Ken!” begitulah respon Zeno mendengar cerita Keno. “Kok lo bisa sampe bilang gitu?” tanyanya.
“Ya emang itu kenyataannya Zen.”
“Ta-tapi bukannya lo juga suka sama dia?” tanya Zeno yang malah terlihat agak panik.
“Iya, tapi dulu. Sekarang udah engga,” jawab Keno. Zeno tampak sedikit resah entah kenapa.
“Duh parah lo Ken,” Zeno seperti ragu mau menyampaikan sesuatu. “Gue kan yang bilang kalo lo juga suka sama dia.”
“Hah?? Kok lo bisa bilang gitu?” tanya Keno dengan terkejut.
“Lho kan lo sendiri yang bilang ke gue.”
“Ya tapi apa perlu lo bilang ke dia tanpa sepengetahuan gue?” Keno mulai berdebat.
“Gimana engga Ken, gue kasihan sama dia yang sering nanyain tentang lo ke gue. Lagian selama ini gue pikir lo juga suka sama dia, jadi gue sering memuji sifat lo ke dia, buat dia makin suka sama lo, bahkan lo tau gue juga sering bantu lo deketin dia. Semua itu gue lakukan karena gue kira kalian berdua saling suka. Mana gue tau kalo lo tiba-tiba berubah pikiran,” Zeno terlihat agak terpancing emosi. Keno sungguh tak menyangka dengan yang dilakukan Zeno selama ini.

“Sorry Zen, emang gue yang salah,” ucap Keno dengan perasaan sesal. Mereka berdua kemudian terdiam beberapa saat untuk mendinginkan kepala dan menenangkan suasana.
“Mungkin salah gue juga Ken udah ikut campur urusan lo, gue minta maaf,” ucap Zeno dengan hangat.
“Gak papa Zen, tujuan lo baik,” balas Keno dengan hangat pula.
“Gue cuma mau ingetin aja. Gue harap lo gak nyesel menolak cewek kayak Vika. Bahkan kalo waktu itu bukan lo yang suka sama dia, pasti gue yang akan kejar dia,” kata Zeno yang terlihat serius. Keno merasa tersentuh dengan ucapan Zeno, namun ia juga merasa tidak enak mengingat perbuatannya terhadap Zeno belakangan ini.

Di suatu malam, Keno terlihat sedang menunggu seseorang di sebuah meja makan restoran yang cukup mewah. Restoran tersebut berada di atap sebuah gedung sehingga menciptakan suasana romantis dengan panorama kota yang indah. Tak lama kemudian seorang wanita datang dengan pakaian yang sederhana namun tampak menawan. Wanita itu adalah Nawala. Ia segera duduk di meja makan bersama Keno. Sapaan hangat diberikan oleh Keno, begitupun sebaliknya. Mereka kemudian membuat perbincangan ringan sambil menunggu pesanan mereka.

“Kok tumben sih kamu ngajak ketemuannya di tempat kayak gini?” tanya Nawala heran di tengah-tengah perbincangan.
“Kamu gak suka ya tempatnya?”
“Suka, suka banget. Ini tempatnya bagus dan romantis banget, tapi..”
“Sebenernya ada hal penting yang mau sampaikan Naw,” Keno memotong perkataan Nawala. Tiba-tiba ia tampak sangat serius, matanya menatap tajam.
“A-apa Ken?” Nawala merasa sedikit gugup melihat tatapan tajam Keno. Keno terdiam sejenak, seketika jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
“Aku, aku cinta sama kamu Naw,” ucap Keno dengan sangat lembut.
“Cin.. Cinta?” Nawala agak terkejut.
“Benar Nawa, aku mencintai kamu, aku ingin sekali lebih sering berada di dekatmu daripada orang lain, aku ingin aku yang selalu kamu ajak bicara, aku ingin terus tertarik padamu, aku ingin terus mendapatkan pengaruh positif darimu. Semua itu akan aku dapatkan jika kamu mau menjadi kekasihku, percayalah aku bisa membuatmu bahagia,” jawab Keno dengan kata-kata dari dalam hatinya. Nawala tampak bingung dan sulit berkata. “Apa kamu mau jadi kekasihku?” tanya Keno dengan harapan diwajahnya. Nawala seperti ragu untuk menjawabnya.

“Sebenernya aku masih lebih nyaman kalau kita berteman Ken, kasih aku waktu untuk berpikir,” jawab Nawala sambil menunduk. Keno menghelas napas dengan sedikit kecewa.
“Kamu belom bisa melupakan Zeno,” ujar Keno agak dingin. Nawala tersenyum dengan perasaan tidak enak, merasa perkataan Keno adalah benar. “Gak papa kok Naw, cepat atau lambat kamu pasti akan melupakan Zeno. Aku akan selalu tunggu kamu,” lanjut Keno dengan senyuman hangat. Tangannya menggenggam lembut tangan Nawala.
“Kita lihat nanti,” Nawala tersenyum manis.

Cerpen Karangan: Satria Akbar Difa
Inspired by the writer’s true story.

Cerpen Friendship or Love (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Undangan Pernikahan Postman

Oleh:
Cerita yang hadir tiba-tiba merangkai kembali puing-puing hati yang sempat beku terpaku dalam asa yang berbeda. Tokoh yang tak pernah aku bayangkan akan mengisi sebagian skenarioku dari Tuhan, membuatku

Sebatas Angan

Oleh:
“Gila ya Wan, cewek yang lewat depan kantor tadi siang bener-bener cantik, gue jadi kepikiran sampe sekarang,” ucap Aldi sambil menghembuskan asap rok*k terakhirnya. “Ya elah Di lebay banget

Arti Sahabat

Oleh:
“Hufh… Akhirnya sampai juga,” Kataku. Perkenalkan. Namaku Syifa Amalia. Sekarang ini aku bersekolah di SMAN Putra bangsa. Yap, ini adalah tahun ajaran baru, dan semua siswa baru masuk sekolah

My Heart My Healer

Oleh:
“Pernah tidak, sebagian dari masa lalu kamu masih menghantui dirimu, meskipun saat ini kamu sudah berada jauh di masa depan? Kalau jawaban itu iya, selamat! kamu masih belum bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *