Friendship or Love (Part 5)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 August 2017

Malam itu Keno belum berhasil mendapatkan hati Nawala, namun ia sangat yakin suatu saat ia akan mendapatkannya. Mereka melanjutkan perbincangan masih seperti seorang yang berteman. Namun mengetahui bahwa Keno mencintai Nawala, malah membuat Nawala agak sedikit canggung. Ia tak pernah mengira akan membuat hubungan cinta dengan Keno, namun ia serius untuk mempertimbangkannya.

Setelah merasa sudah cukup lama berbincang, mereka memutuskan untuk pulang. Keno terlihat lebih perhatian pada Nawala, bahkan ia yang membayar semua tagihan restoran. Nawala pulang menggunakan dengan mobil pribadinya dan Keno menggunakan kendaraan umum. Nawala sempat menawarkan untuk mengantar Keno, namun Keno menolaknya kali ini. Ia merasa sudah harus memiliki kendaraan pribadi sendiri agar nanti bisa menjadi kekasih yang layak bagi Nawala. Begitulah pikirnya. Setelah sekian lama tak pernah serius ingin membuat hubungan dengan seorang wanita, membuat Keno sangat bahagia dan bersemangat.

Dalam perjalanan pulang, Nawala mampir sebentar ke ATM terdekat untuk mengambil beberapa lembar uang. Saat hendak masuk ke ruang ATM, ia melihat seorang lelaki muda yang sangat familiar keluar dari ruangan itu, sehingga mereka berpapasan.
“Nawala,” ujar lelaki itu yang tak lain adalah Zeno. Ia terlihat cukup terkejut. Seketika Nawala sangat panik dan bingung. Detak jantungnya berdebar-debar melihat lelaki yang ia rindukan, cinta, dan benci secara bersamaan. Namun sepertinya rasa benci lebih mendominasi. Ia spontan berbalik arah dan bergegas menjauh. “Nawala!” seru Zeno sambil mengejar Nawala, namun Nawala semakin mempercepat langkahnya.

Tak ingin Nawala semakin menjauh, Zeno menggenggam pergelangan tangan Nawala untuk menghentikannya. “Lepasin!” Nawala melepas paksa eratan tangan Zeno kemudian melanjutkan langkahnya.
“Nawala aku ngerti kamu pasti marah banget sama aku, tapi aku mohon setidaknya kasih aku jawaban terakhir dari surat itu?” tanya Zeno agak teriak. Mendengar pertanyaan itu membuat Nawala terhenti dan agak bingung.
Nawala pun mulai mau untuk menatap wajah Zeno.
“Surat apa maksud kamu?” tanya Nawala ketus.

Nawala terdiam dengan wajah geram saat Keno baru datang menemuinya di sebuah cafe tempat mereka biasa bertukar pikiran.
“Hey, kamu kenapa? Kok bete banget kayaknya? Aku datengnya kelamaan ya?” tanya Keno dengan santainya, kemudian duduk menghadap Nawala.
“Aku pikir kamu dan Zeno adalah teman yang sangat baik,” jawab Nawala dengan tiba-tiba dan nada yang sangat ketus. Seketika Keno mulai panik dan bingung mendengar hal itu.
“A-apa maksud kamu Naw?” tanya Keno yang tampak salah tingkah. Takut jika dugaannya benar.
“Gak usah ada kebohongan lagi Ken, aku udah tau semuanya. Aku bertemu dengan Zeno,” jawab Nawala dengan kata-kata ketusnya.
“Apa? Berani-beraninya dia menghubungi kamu lagi,” balas Keno yang terpancing emosi.
“Bukan. Aku bertemu dengannya secara gak sengaja kemarin. Kamu sebaiknya berhenti menyalahkannya. Mulai sekarang, jauhi aku. Aku mau ini menjadi pertemuan kita yang terakhir,” ujar Nawala tegas. Emosi Nawala tampak semakin meningkat. Ia pun bergegas ingin pergi.

“Aku bisa jelasin Naw..,” kata Keno berusaha mencegah Nawala pergi.
“Apalagi hah? Kamu itu telah berkhianat Ken. Gak ada lagi yang perlu dijelasin.”
“Asal kamu tau Naw. Zeno itu bukan pria baik-baik. Ia adalah lelaki brengsek yang suka mempermainkan perempuan. Aku yakin kamu gak akan…,” belum selesai Keno berbicara, Nawala memotongnya.
“Lelaki brengsek itu adalah sahabatmu, dan ia adalah kekasihku Ken. Itu yang seharusnya perlu kamu ingat,” jawab Nawala ketus kemudian segera bergegas pergi.
“Tunggu Nawala, aku mohon,” pinta Keno kepada Nawala yang mulai menjauh. Namun Nawala tak menghiraukannya. Ia tetap pergi meninggalkan Keno. Keno terdiam dimeja makan restoran itu sambil memegang dahinya, berusaha menahan emosinya. Perasaan marah, sedih, kecewa, dan menyesal bercampur aduk didalam kepalanya.

Beberapa hari berlalu. Keno berusaha menghubungi Zeno, namun tak pernah sekalipun diterima. Hingga suatu hari, Zeno membalas dengan sebuah pesan singkat.
“Temui gue. South park. 3 siang.” Tempat itu bukanlah tempat yang asing bagi Keno dan Zeno. Sewaktu kecil dulu mereka sering bermain di taman itu bersama. Namun semenjak akan dibangun proyek, taman itu mulai dibongkar sehingga jarang dikunjungi.

Dengan segera Keno memenuhi permintaan Zeno itu. Sesampainya di taman itu, Keno melihat Zeno sedang berdiri memalingkan wajahnya. Sepertinya ia sudah melihat kedatangan Keno. Keno pun menghampirinya. Tak ada orang lain di taman itu, hanya puing-puing bangunan yang belum jadi tersebar dimana-mana.
“Lo harusnya jauhin Nawala Zen. Gue tau lo cuma mau mempermainkan dia,” ujar Keno dengan tiba-tiba.
“Oh ya? Darimana lo bisa berfikir gitu hah?” tanya Zeno ketus.
“Darimana? 20 tahun lebih gue kenal sama lo. Melihat tingkah lo yang kadang bikin gue muak.” Entah mengapa Keno terlihat cukup termakan amarah.
“Walaupun lo udah kenal gue lama, bukan berarti gue gak bisa berubah Ken. Lo sebaiknya jangan ngeremehin gue,” ujar Zeno
yang tampak mulai terpancing emosi.
“Ah bullsh*t. Gue tau lo Zen, itu cuma dari mulut lo aja,” balas Keno yang semakin memancing emosi Zeno.

“Gue mengajak lo ke sini buat bicara baik-baik. Tapi setelah semua yang udah lo lakukan ke gue, liat gimana cara lo ngomong ke gue,” sindir Zeno kepada Keno.
“Lo mengharapkan gue minta maaf? Gue gak merasa salah sedikitpun, karena gue tau gue melalukan itu untuk Nawala. Gue gak mau dia jatuh ke tangan cowok brengsek seperti lo,” ujar Keno yang membuat Zeno sangat geram. Zeno terdiam setelah mendengar itu, tangannya mengepal. Hingga tiba-tiba ‘Bukk!’ Zeno melayangkan pukulan ke wajah sahabatnya itu hingga hampir tersungkur ke lantai. Membuat mata kanan Keno menjadi lebam.
“Kurang ajar…,” ‘Bukk!’ Keno segera berdiri dan membalas pukulan Zeno hingga membuatnya terjatuh ke lantai yang penuh tanah dan pasir.
“Ahhg..,” Zeno terlihat cukup kesakitan sambil mengelap bibirnya yang mengeluarkan darah. Ia kemudian berdiri dengan perlahan. “Melihat gimana cara lo mukul gue, membuat gue nyesel sering belain lo waktu sekolah dulu,” ujar Zeno dengan sedikit tawaan sinis. Keno hanya terdiam sambil menatap tajam wajah Zeno. “Cukup. Gue gak mau kita berantem gini seperti anak kecil. Tapi gue mau lo tau, kalo gue gak akan membiarkan Nawala deket lagi sama lo,” ujar Zeno dengan sangat serius.
“Lo pikir lo bisa bahagiain dia? Dia gak akan bahagia bersama lo!” balas Keno geram dengan sangat yakin.
“Akan gue pastiin kalo gue bisa. Lo liat aja nanti,” ujar Zeno yang tampak lebih serius lagi. Membuat Keno khawatir jika itu akan benar-benar terjadi. Setelah berkata begitu, Zeno mulai meninggalkan Keno. Keno hanya terdiam geram melihatnya.

“Oh iya satu lagi,” tiba-tiba Zeno memutar balik tubuhnya seperti mengingat sesuatu yang belum disampaikan. “Apa lo tau kalo Vika udah meninggal?” lanjutnya.
“Apa??” Mendengar itu membuat Keno kaget setengah mati. “A-apa maksud lo?” Pikirannya buyar.
“Ia ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumahnya dengan pergelangan tangan teriris silet. Ia mati kehabisan darah,” jawab Zeno dengan wajah iba. Keno tampak terkejut dan bingung hingga tak bisa berkata apa-apa. “Ibunya bilang ia depresi karena gak kuat menerima kenyataan bahwa ia terkena penyakit kanker paru-paru akut. Tapi aku yakin, bukan itu saja alasan ia sampai nekat melakukan itu,” lanjut Zeno.
“Gu-gue bahkan gak tau kalo dia kena penyakit kanker paru-paru,” balas Keno yang tampak menyesal.
“Liat diri lo. Lo bahkan udah gak peduli lagi sama dia. 7 tahun itu bukan waktu yang sebentar buat dia nunggu lo. Tapi lo malah menginjak-injak dia gitu aja. Gue gak bisa bayangin gimana perasaan dia,” Zeno terus berbicara dengan rentetan kalimat yang membuat Keno semakin menyesal. Keno tampak masih tak menyangka dengan apa yang dikatakan Zeno, bahwa Vika kini telah tiada. “Itu aja yang mau gue sampein. Jangan pernah ganggu gue lagi Ken, urus aja hidup lo sendiri,” ujar Zeno ketus dan mulai melanjutkan meninggalkan Keno.
“Zeno!” teriak Keno memanggil sahabatnya. Untuk mengatakan apa, ia juga tidak yakin. Namun Zeno tak menghiraukannya dan tetap meninggalkan Keno. Keno tampak kesal bercampur sesal. Ia meluapkannya dengan meninju tembok disebelahnya hingga tangannya terluka.

Segera setelah mengetahui semua hal itu. Keno datang ke tempat kediaman Vika. Suatu hal yang tidak pernah ia lakukan beberapa bulan belakangan ini. Disana ia bertemu dengan ibunda dari Vika yang sudah ia kenal dengan baik. Kedatangan Keno juga sangat diterima di sana.

“Sebenarnya sudah cukup lama ia mengidap penyakit itu,” ujar Ibunda Vika ditengah perbincangannya dengan Keno. “Dokter bilang ia butuh semangat yang tinggi agar bisa sembuh dari penyakit itu, karena kemungkinannya sangat kecil. Awalnya ia penuh semangat menghadapinya, ia bilang bahwa ia punya alasan untuk terus bertahan hidup. Namun entah kenapa tiba-tiba ia berubah. Ia menjadi pemurung, bahkan tidak mau makan dan minum obat. Hingga akhirnya..,” cerita Ibunda Vika terhenti karena tak mampu menahan tangisnya yang sedari tadi membendung.
“Maafkan aku Ibu,” ucap Keno singkat dengan perasaan penuh sesal di hatinya. Tentu saja, karena ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibunda Vika tampak mulai menenangkan diri.
“Ibu kira kamu sudah tau tentang ini nak. Karena waktu itu Vika pernah bilang ingin ke tempat kos mu untuk mengatakannya,” ujar Ibunda Vika yang masih sibuk mengelap air matanya. Keno teringat saat itu.
“Memang benar ia datang ke tempat kos ku Bu. Tapi sayangnya dia gak bilang tentang itu,” ujar Keno lembut.
“Dia memang seperti itu, kadang suka tidak mau membuat orang cemas,” Ibunda Vika tak bisa berhenti mengenang anak bungsunya itu. Keno malah tampak semakin menyesal mendengar perkataan Ibunda Vika.

“Ngomong-ngomong terima kasih karena membawakan aku makanan waktu Vika ke tempat kos ku. Masakan Ibu enak sekali,” ujar Keno dengan senyuman hangat, berusaha mengurangi kesedihan Ibunda Vika.
“Masakan apa ya? Sudah lama Ibu tidak pernah memasak lagi. Semua pasti Vika yang selalu memasak makanan di rumah,” ujar Ibunda Vika agak bingung. Namun mendengar itu malah membuat Keno tiba-tiba merasa kacau. Matanya mulai berkaca serasa ingin menangis. Namun ia masih bisa menahannya.

Tak terlalu lama Keno berada dirumah Vika. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, ia berhenti dan menyenderkan punggungnya di sebuah tembok sambil menutup matanya. Ia menangis. Tangannya gemetar. Mengingat semua yang telah ia lakukan kepada Vika.
“Maafkan aku. Maafkan aku Vika.. Aku sayang padamu, sangat..,” sambil terus menangis ia berbicara sendiri seperti itu. Sangat menyesal dengan perbuatannya, namun semua sudah terlambat.

Beberapa bulan berlalu. Keno dan Zeno sama sekali tak pernah saling berkontak sedikit pun. Mereka menjalani kehidupan mereka sendiri-sendiri. Hingga akhirnya Keno mendapatkan sebuah surat. Ia membukanya, dan langsung melihat ukiran indah yang bertuliskan ‘Zeno Aria dan Nawala Nibia’. Dua nama yang sangat familiar. Tunggu. Itu bukan surat, melainkan sebuah undangan. Undangan pernikahan. Melihat itu Keno langsung memalingkan wajahnya. Ia tak berani melihat undangan itu lagi dan melemparnya jauh-jauh. Ia tetap menunggu apa yang pernah ia katakan kepada Zeno terjadi. Bahwa mereka tidak akan pernah bahagia. Namun seiring waktu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ia tak pernah sedikitpun mendengar kabar buruk itu. Kali ini ia justru mendengar kabar bahwa mereka tengah mengadakan pesta kelahiran anak mereka yang kedua.
Keno terlihat lebih tua dengan kumis dan jenggot yang semakin panjang namun tidak pernah ia cukur. Ia tetap menunggu sesuatu yang ia yakini akan terjadi. Namun semakin lama ia menunggu, ia justru semakin menyadari, bahwa sesuatu yang ia tunggu itu tak akan pernah terjadi.

Persahabatan dan percintaan memang terkadang bisa menjadi suatu persoalan yang sangat rumit. Namun kita semua tahu bahwa cinta tak akan pernah bisa disalahkan.

Friendship or Love

END

11 Januari 2017

Cerpen Karangan: Satria Akbar Difa
Inspired by the writer’s true story.

Cerpen Friendship or Love (Part 5) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sisa Hariku

Oleh:
Pada suatu hari di kota Surabaya terdapat seorang anak yang bernama Defi. Dia anak yang sangat sombong, nakal dan boros. Karena ibu dan ayahnya punya uang banyak ia selalu

Promise

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah sekolah yang bernama North. “Albert apakah benar jika kau akan dipindahkan?” tanyaku dengan seseorang yang berada beberapa langkah di depanku. Laki-laki itu pun menghentikan

Kudapatkan Apa Yang Kumau (Part 1)

Oleh:
Kenalin nama aku yuri, usia aku 17 tahun. Cerita ini berawal saat aku jatuh cinta pandangan pertama dengan seorang laki-laki di daerah rumahku, nama dia kiki, entah kenapa aku

Sahabatku Cintaku

Oleh:
Pertama aku mengenal cinta hanya lewat kicauan sahabatku Monica. Seorang gadis cantik yang selalu menemani hari-hari ku di bangku sekolah SMA ini sejak SMP kita bertemu. Seorang gadis periang

Hari Yang Bersamaan (Part 1)

Oleh:
Mataku sudah pedas sekali rasanya sejak habis solat magrib sampai sekarang pukul 23.30 pandanganku selalu tertuju oleh leptop, entah apa yang aku lakukan itu tidak penting asalkan penat dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *