Gadis Arah Jam Sebelas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 10 August 2013

Perut sudah mulai bereaksi mengeluarkan bunyi-bunyian. Otak juga sudah terespon dengan sangat jelas bahwa rasa lapar yang hebat menerpa. Kuraih tangan Fryan dan kulihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 17.00.
Situasi saat bulan puasa kali ini tak ayal sangat menyadarkan kami untuk segera memenuhi salah satu kebutuhan primer manusia, yaitu makan.
“udah jam 5 nih, cari makan dimana?” tanya Fryan
“gimana kalo di luar aja?”
Seketika Fryan mengangguk perlahan, karena dia mungkin ingat akan keluhanku kemarin lusa tentang nasi goreng di food court lantai 3 salah satu mall di Kota Malang. Nasi goreng itu memiliki rasa yang belum atau bahkan tidak cukup untuk mendorong rasa puas yang ditimbulkan dari lidah kami.

Kemudian, kami turun ke lantai 2 dengan Lift. Langkah kaki Fryan kemudian terhenti saat melewati sebuah toko buku.
“bentar bentar, kalau makan di luar terus kita makan dimana? udah mepet banget nih men bukanya”
“iya juga sih. Udah ah, terserah mau makan dimana” sahutku.
“hmm..”
“ya udah, terpaksa ke food court.” Jawabku datar.
Lumayan capek mencari tempat duduk kosong, karena suasana mendekati waktu berbuka puasa.

Setelah memutar area food court dua kali, akhirnya dapat tempat juga. Sejenak kami duduk dan mendiskusikan apa yang ingin kami pesan demi memanjakan perut yang sudah meronta sejak tadi.

Tak lama setelah kami memesan, kami kembali ke tempat duduk tadi. Tentunya, aku tak memesan Nasi Goreng lagi karena sudah kapok dengan Nasi Goreng yang aku makan kemarin lusa. Dan, hal yang cukup mengagetkan terjadi saat itu. Sehingga tak dapat dipungkiri aku sampai teringat hal ini sampai pulang ke rumah.
Sebuah pemandangan kecil dari makhluk ciptaan Tuhan yang terindah mengalihkan pandangan bahkan duniaku dari hiruk-pikuknya orang yang berlalu di sampingku.
“malaikat…” reflekku dalam hati berkata seperti itu.
Malaikat, wujud yang tepat untuk menggambarkannya. Tentunya bukan Malaikat utusan Tuhan yang diutus untuk turun ke Bumi menyampaikan wahyunya. Tetapi malaikat ini mempunyai paras yang cantik, putih, manis dan tentunya tidak bersayap.
Malaikat ini mengenakan kerudung warna hitam berpadu dengan baju berwarna merah muda dan celana jeas biru. Sungguh pemandangan penyejuk hati yang terdalam. Kacamata ber-frame hitam yang terpasang di depan kedua bola mata cantiknya, seakan membuat diriku membeku terpana dibuatnya. Rasanya seperti melayang, bukan diriku yang melayang tetapi hati ini yang melayang.
Rasa melayang hilang saat Fryan mengusikku dengan sebuah kalimat perntayaan.
“kenapa lu?”
“gak papa” jawabku datar.
“oh…”
Kata “oh” yang keluar dari mulut Fryan. Sehingga mulutnya berbentuk seperi bulatan agak besar ini menyisipkan beberapa kalimat balasan dariku sambil menyenggol tangannya yang sedang sibuk mengutak-atik smartphone.
“eh, arah jam sebelas.”
“apaan?”
“itu, arah jam sebelas!”
Respon yang tidak singkron dengan ucapan yang aku maksud, membuat Fryan melihat jam tangannya.
Sontak aku mentepuk dahi dan berkata.
“aduh, maksud gue itu tuh. Cewek di belakang lu, arah jam sebelas dari gue!” sambil menunjuknya degan dagu.
Fryan memutar kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri perlahan layaknya orang kebingungan yang tak tahu arah jalan pulang.
“yang mana?”
“buset dah, masih gak ngerti juga. Itu tuh, cewek yang pake kacamata!”
Permbicaraan kami ini berlangsung agak aneh dengan cara berbisik seperti cewek-cewek yang sedang meng-gossip saat mereka berkumpul.
Dan semua berubah saat beberapa kata mengusik ketenangan, keluar dari mulu temanku ini.
“oh.. yang itu?” sahut Fryan dengan suara agak keras.
Orang di samping kiri meja kami seakan merspon kata “oh” yang kedua keluar dari mulutnya dengan sedikit tolehan bermakna aneh. Sedikit malu memang, dua orang cowok berbicara sambil berbisik. Semua hal tadi tak aku hiraukan, karena aku masih fokus dengan apa yang aku lihat.
Sempat pula aku memalingkan muka saat tahu kalau mataku dan mata gadis itu saling bertemu. Aku memang sering gugup kalau memandang mata seorang gadis yang membuat decak kagum dalam hati. Lima detik saja memandang mata gadis itu aku tak sanggup.
Tapi semua berubah saat aku mendapatkan eye-locknya. Ya, saat aku kembali dari posisi memanglingkan pandangan, mata kita bertemu kembali. Oh Tuhan, rasanya seperti bukan diriku, dan aku sebentar lupa dengan semua hal. Aku lupa ada temanku di depan yang sedang asyik dengan smartphonenya, aku lupa kalau perutku meronta kelaparan, dan aku lupa kalau ada ratusan orang di sekelilingku.
Matanya, sepeti mengunciku pada suatu tempat distorsi bahkan seperti membias dan menembus dimensi lain. Hanya aku dan dia, gadis arah jam sebelas itu. Pertemuan mata kita yang berlangsung sepersekian detik berlanjut beberapa kali. Rasanya aku ingin melayang, bukan diriku tetapi hatiku.
“gadis itu, siapa namanya?”
Pertanyaan itu muncul di otakku. Seakan-akan membuatku mengalami amnesia kecil. Dengan cepat aku merogoh saku celanaku. Aku menekan kamera pada menu aplikasi handphoneku. Satu atau dua shoots dari kamera yang aku arahkan ke dia bahkan tak cukup. Kurebut smartphone Fryan yang fitur kameranya lebih bagus dari punyaku.
Kuarahkan dan dekatkan, tombol zoom seakan sudah hafal mengikuti gerakanku. Potret dirinya berpendar dalam layar mengikuti gesekan ibu jariku.
Kerja bagus!
Aku mendapatkan foto gadis ini dari hasil mencuri. Mencuri kesempatan secara diam-diam dan tanpa sepengetahuannya.
Saat sedang asyik menekan tombol kamera, seketika ekspresi cewek ini yang tadinya calm atau tenang dan datar berubah menjadi sumringah sekali. Betapa cantiknya dia saat berekspresi seperti ini.
Senyum yang membuat bibir tipisnya melebar dan alisnya menaik tentu ada alasannya. Jelas bukan karena dia tahu kalau ada cowok yang diam-diam sedang memperhatikan dan memfotonya, tapi karena ada temennya yang kebetulan lewat di samping kiriku.
Ketolehkan kepalaku ke objek yang ditatap oleh mata indah itu.
“oh, temennya.” Kataku dalam hati.
Teman cewek ini duduk di sampingnya. Menjabat tangannya dan tangan Ibu cewek ini. Aku tidak tahu persis seperti apa wajah Ibu gadis arah jam sebelas ini, karena beliau duduk membelakangiku.
Setelah mereka ngobrol, akhirnya makanan pesananku datang. Herannya, makanan yang dipesan Fryan belum datang padahal kami memesan secara bersamaan.
“makanan lu mana?” tanyaku.
“paling juga masih di bikin.”
“ya udah gue duluan ya? Tapi..”
“kenapa? Udah makan aja dulu gak usah nungguin gue. Katanya tadi lu laper setengah mati?”
Aku menjawab dengan melirik ke arah cewek itu dan melempar senyum kecil.
“iya sih, tapi sekarang gue udah kenyang.”
“hmm, pantesan. Kenyang gara-gara ngeliat yang bening-bening?” jawab Fryan asal.
“hahaha, tau aja lu.”

Waktu berbuka puasa telah tiba, aku melihat cewek arah jam sebelas ini sudah mulai melahap makanannya. Uh, bahkan dia lebih cantik kalau lagi makan. Dan, hal terhebat yang aku lihat terjadi juga. Aku bisa melihat wajah manisnya secara jelas, saat dia melepas kacamatanya. Aku langsung tidak fokus dengan yang aku makan. Aku tersenyum kecil saat mulutku masih penuh dengan makanan yang aku kunyah.
Bahkan, bebek goreng yang aku makan ini rasanya paling enak dari bebek goreng yang biasa aku beli di pinggir jalan. Bukan karena penyajian higienis di food court ini, tetapi karena wajah manis itu.

Sesekali aku melirik ke arah cewek itu, sampai bisa dikatakan makanku sangat lambat. Biasanya aku lebih cepat dari ini. Ya karena tidak fokus juga. Saat makananku hampir habis, makanan Fryan akhirnya datang juga.
Dan, ketika aku menolehkan wajahku ke arah cewek tadi. Dia sudah menghilang. Aku menoleh ke segala arah mencari dimana cewek itu. Aku berharap aku bisa melihatnya melangkahkan kaki cantiknya keluar dari area food court. Tetapi hal itu mustahil, dia sudah menghilang dan hanya menyisakan sisa makanan di mejanya.
Sungguh penyesalan yang sedikit dalam, dimana aku tidak sempat melihat wajah manisnya. Atau bisa juga dikatakan aku tidak sempat melempar senyum kecil terakhirku ke arahnya. Dan yang paling penting aku belum tau siapa namanya. Sedih rasanya.
Tapi aku masih melihat teman cewek tadi berjalan menjauh. Oh tidak, sepertinya dia pergi juga. Menurutku, satu-satunya harapan adalah teman cewek ini tadi. Bisa juga aku menanyakan siapa namanya dan dimana dia sekolah. Tapi semua kesempatanku menghilang.
Aku yang melihat makanan di piring Fryan sudah hampir habis dengan muka murung. Fryan yang sedang asik bergelut dengan udang mayonaisnya berkata.
“cewek tadi udah pulang ya?”
“iya.”
“udah, jangan kesel gitu. Lain waktu juga bakal ketemu.”
“hahaha, gak mungkin lah”
Tiba-tiba seorang cewek duduk di belakangku. Saat kutoleh tenyata itu teman cewek berwajah manis tadi. Seketika, di otakku muncul sebuah ide yang bisa dikatakan nekad dan sedikit gak punya malu. Aku langsung mengutarakan ideku ke Fryan.
“eh, gue punya ide”
“apaan?”
“ini cewek belakang gue kan temennya cewek tadi, gimana kalo gue samperin?”
“trus mau lu apain?”
“ya gue mau nanya ke dia siapa nama cewek tadi, sambil pura-pura kalo gue temen lamanya cewek tadi tapi gue lupa namanya.”
“lu yakin?”
“yakin lah. Eh, tapi gue kok jadi deg-deg an gini ya?”
“haha, katanya lu yakin. Gimana sih?”
“oke gue coba”

Hal ternekad akan aku lakukan. Bisa dibilang hal ini juga sedikit tidak tahu malu. Karena cuman pengen tau nama cewek tadi aku sampai menyusun strategi sedemikian rupa yang intinya cuman bohong belaka. Semua tak aku hiraukan saat aku beranjak dari kursiku dan menepuk pundak teman cewek tadi.
“mbak-mbak”
“iya?”
“hmm, tadi cewek yang pake jilbab itu temen mbak ya?”
“Iya. Emang kenapa?”
“kayaknya aku pernah kenal, kalo gak salah namanya…”
Ekspresi teman cewek tadi berubah. Dahinya mengkerut dan alisnya menajam seakan rasa curiga ke arahku dilemparkannya. Kemudian, berjalan sedikit membaik saat aku menanyakannya lagi.
“namanya siapa? Aku lupa” sambil kulemparkan senyum kecil.
“Risma.”
“oh iya, Risma. Hmm, kalo boleh tau sekarang dia sekolah dimana?”
“di UMM.”
Aku sedikit kaget saat tahu kalau cewek itu sudah kuliah di salah satu Universitas di Kota malang. Tadinya aku berpikir kalau cewek itu masih SMA sepantaran denganku. Rasa malu tak terbendung saat aku tahu hal ini.
“oh ya udah, entar bilang aja aku Rendy temen waktu kecilnya dulu.”
“oh iya.”
Ekspresi teman Risma ini berubah lagi saat aku melontarkan satu kalimat percakapan terakhir. Mulutnya sedikit menganga dengan paduan tatapan mata curiga. Aku kembali ke kursiku dan kulihat Risma kembali melanjutkan aktivitas makannya.
Aku masih gemetaran. Sedikit bodoh dan tak punya malu. Tapi aku puas, sudah tau namanya. Risma, akan kuingat selalu nama itu.
“gimana?” tanya Fryan.
“namanya Risma, dia udah kuliah men.”
“yang bener lu?”
“serius!”
“hahaha, kelakuan lu tadi jantan juga.”
“biasa aja kali”
“kalo biasa aja kenapa tangan lu masih gemeteran?”
“brisik ah. Udah yuk cabut yuk!”
Saat aku keluar dari area food court, tak lupa aku menyapa lagi teman Risma. Dia sudah berjasa menjawab rasa penasaranku.
“duluan ya mbak” sapaku
Kulihat dia hanya tersenyum dan masih menatap dengan tatapan curiga. Tapi itu semua tak hiraukan. Yang terpenting sekarang rasa penasaran yang bakal jadi misteri sudah terungkap. Lega rasanya hati ini. Dan, aku bersyukur sekali sudah bisa bertemu dengan Risma. Ya, walaupun dia lebih tua dariku.

Setahun berlalu. Kini aku sudah lulus SMA dan masuk di salah satu perguruan tinggi di Kota Malang. Aku tidak kuliah di tempat yang sama dengan Risma. Setahun kemarin, aku mengerahkan seluruh tenaga untuk mencari info tentang Risma. Aku sudah berulang kali mencari akun jejaring sosialnya tapi hasilnya nihil.
Sampai Fryan menyarankanku untuk melupakannya karena dia menganggap kalau Risma itu “cuman numpang lewat aja” di kehidupanku. Tapi aku tidak menyerah. Aku rela selama setahun menjomblo sebelum aku mendekati dan menyatakan perasaanku kepada Risma.
Cinta memang rumit. Aku tahu kalau aku jatuh cinta dari saat mata kita bertemu. Awalnya aku merasa ini hanya hal yang biasa saja. Tapi aku menyangka kalau rasa ini begitu kuat.

Sudah sekitar 3 bulan aku menimba ilmu di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Kota Malang. Tapi aku tetap ingin bertemu sekali lagi dengannya. Aku ingin berkenalan dengannya langsung. Walaupun, mungkin dia saat ini sudah memiliki pacar yang lebih ganteng dari aku, aku tak akan peduli. Yang aku inginkan sekarang adalah mengenal Risma.

Sesudah pulang dari kuliah hari ini. Radit, Jasmine, dan Cindy mengajak mengerjakan tugas dasar desain grafis bersama-sama. Kami menempuh program kuliah yang sama yaitu Desain Grafis.
“eh, gimana kalo ngerjain tugas ini di rumahku aja?” tanya Cindy.
“boleh juga tuh, kalian ikut juga?” tanya Jasmine.
“aku ikut ya. Eh Ren, lu ikut juga gak? Tanya Radit sambil menyenggolku.
“ha? Apaan?”
“makanya jangan nglamun aja. Lu ikut gak ngerjain tugas ini ke rumahnya Cindy?”
“terserah lu aja deh. Gue ngikut lu Dit.”
Di rumah Cindy, Radit yang sedang asik mengutak-atik isi laptopku membuka sebuah foto dan menanyakannya kepadaku.
“eh Ren, ini foto siapa? Kok semua lu namain Gadis Arah jam sebelas?”
Sontak aku kaget melihat Rendy membuka foto-foto Risma yang sempat aku abadikan dulu. Aku langsung merebut laptop ku dan mencoba mengeluarkan tampilan foto itu.
“ini rahasia!”
“pake rahasia-rahasiaan segala sih ke temen sendiri?”
“hahaha, biarin!”
Saat kami asik bertengkar, kemudian datang seseorang masuk ke dalam rumah Cindy.
“assallamu’aikum..”
“wa’alaikum salaam.. tumben kak pulang cepet?” jawab Cindy.
Aku yang sedang serius mendiskusikan tugas dengan Jasmine, tiba-tiba Radit mengusikku dengan pertanyaannya lagi.
“eh Ren, bukannya cewek itu mirip sama yang di foto lu ya?”
“apasih Dit, jangan ngaco ah.” Jawabku tanpa memperhatikannya.
Tiba-tiba cewek yang tidak lain adalah kakak keponakan Cindy itu datang menghampiri kami dan bertanya.
“lagi pada ngerjain apasih sih?”
“ini kita lagi ngerjain tugas dasar desa….”
Aku menjawab dengan terputus-putus sambil menghadap ke wajah kakaknya Cindy. Kemudian, Cindy mengenalkannya kepada kami.
“eh iya kenalin, ini kakak keponakan aku namanya Risma. Dia juga anak Desain Grafis juga lho, sekarang semester 3. Tapi gak satu Universitas sama kita”
Kemudian dia mengulurkan tangan dan berkata sambil tersenyum.
“Risma..”
“Aku.. Rendy..”
Aku masih menatap wajahnya dan berkata dalam hati.
“Gadis Arah Jam Sebelas. Ya Tuhan, betapa beruntungnya aku.”

Cerpen Karangan: Fery Arifian
Blog: http://arf-96.blogspot.com/
Seorang remaja yang menjadikan karya tulis sebagai media untuk mengekspresikan diri. Menulis adalah minat saya disamping, bermain basket, bernyanyi, dan hang out bersama teman-teman.
Menulislah sebelum inspirasimu sirna !

Cerpen Gadis Arah Jam Sebelas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sebatas Patok tenda

Oleh:
“Pagi, Bel,” sapa Reihan. “Hei.. pagi juga,” jawabku. “Mau ke mana?” tanya Reihan. “Mau ke kantin. Kalau kamu mau ke mana?” tanyaku balik. “Aku juga mau ke kantin. Kita

Hadiah Pertama

Oleh:
Di bulan desember tahun 2011 adalah bulan yang penuh ceria bagiku, yeah… begitulah. Aku banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku sesudah pulang kerja. Kadang aku tidak langsung pulang ke

Sang Romeo Salma

Oleh:
Siang itu, hujan turun begitu deras. Sederas air mata yang jatuh dari pelupuk mataku, sepuluh menit lalu, mungkin? …hhh, dengan tegar, aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Kunikmati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Gadis Arah Jam Sebelas”

  1. Nadia Salsadea says:

    Ini kalo d lanjutin pasti seru.. Tapi over roll ceritanya keren kok 😉

  2. bobby aptarianto says:

    mmmmmmaaaannnnnnttttaaaapppp !!!
    lanjutkan bro cerita’a…
    penasaran ni w kelanjutan cerita’a…hahaha

  3. Izhary says:

    Sumfeeeehhhh ….!!!!
    Ceritanya asik broo …. Good job deh. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *