Gadis di Pemakaman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 December 2017

Perlahan namun pasti kucoba untuk membuka mata tapi mata ini tetap saja sulit untuk kubuka, lalu kucoba menghilangkan selimut yang telah membalut tubuhku, kupandang sekeliling tapi hanya gambaran cat putih dan bau yang tidak sedap, kuangkat tanganku tapi jelas ada selang infus lalu kuraba hidungku tapi masih ada infus, kuhembuskan nafas dalam sebagai lambang putus asa, inilah aku Pinky Setrianta seorang gadis remaja yang lelah karena hidupnya selalu dihantui oleh penyakit penyakit.

“pinky sayang, kamu sudah siuman, mama sangat khawatir sayang” kata mamaku sambil mengusap kepalaku.
“I am ok mom” kataku dengan susah payah membuka mulut.

Aku sudah hambir 2 minggu dirawat di rumah sakit ini, tapi belum juga ada perubahan, hingga akhirnya suatu ketika kudengar papa sedang mengobrol dengan dokter spesialis penyakitku.
“Begini pak, sebenarnya saya sulit untuk mengutarakan ini, sejujurnya umur pinky sudah tidak lama lagi pak, dan mungkin hanya tinggal sekitar 1 minggu lagi” kata dokter itu.
“Ya tuhan, dia telah sakit sejak dia umur 5 tahun, dan mungkinkah ini akhir dari semuanya?” kata papaku dengan mengusap air mata.
Aku sudah tidak sanggup lagi harus mendengar pembicaraan mereka, aku justru semakin pusing dan entah apa yang terjadi semuanya menjadi gelap dan aku tidak mengingat apapun.

Seolah-olah aku telah beristirahat dengan sangat tenang tanpa merasakan apapun bagaikan aku telah mati yang tiada merasakan bau obat, minum obat, makanan yang pahit dan lain sebagainya. Namun ku mulai membuka mata dengan pasti dan kupanggil mama dan papa perlahan, dan alhasil ku bisa menatap mama dan papa ada di depanku seperti aku sudah tiada mengenal mamaku, dia seorang wanita karir yang sangat menjaga penampilan tapi kali ini mama terlihat kurus dan acak-acakan, dan tiba-tiba mama memelukku dengan erat hingga beliau menanggis.

Hari itu sangat berarti bagiku dan keluargaku, tanpa kusadari ternyata aku telah lolos dari komaku yang hampir 3 bulan, dan sekarang aku telah sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa.

“Pagi yang cerah sayang, setelah kamu sakit berbulan-bulan bukankah kamu rindu kuliah?” tanya mamaku
“iya ma, aku rindu dengan dunia kuliahku, makanya hari ini aku putuskan untuk masuk kuliah” jawabku dengan mantap.
Tapi mama justru menatapku dengan cemas, aku tau mama sangat mengkhawatirkanku, kupeluk mama dengan erat dan kuyakinkan dia untuk mengizinkanku kuliah hari ini.

Hari ini 23 Juli 2016, hari yang cukup bermakna dalam hidupku setelah kesepianku yang telah berlarut-larut, aku mencoba membuka lembaran baru yang bisa membuka hidupku lebih baik. Kutatap sekeliling orang yang ada di taman hari itu, semua terlihat sama berpasangan dengan segenap cumbu mesranya, sedangkan aku hanya duduk bersender pada pohon besar yang kuharap bisa menjadi temanku, di tengah lamunanku asistent rumah tanggaku datang berlari dan memberikanku obat, meskipun aku telah sembuh aku masih harus meminum obatku, sejujurnya aku telah lelah, kukatakan pada assistentku “baiklah taruh di sini nanti aku minum” lalu assistentku baru pergi pulang ke rumah, kupandang sekelilingku dan dengan sigap kulempar botol obat itu jauh-jauh, tapi tiada kusangka obat itu justru ditangkap oleh seorang laki-laki dengan baju lengan panjang yang sangat formal kalau menurutku tidak pantas dipakai di taman seperti ini.

“hei, kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya laki-laki itu.
“oh maaf, kenapa kau tangkap obat itu?” Tanyaku kembali
“karena aku tau kamu harus meminumnya, cepat diminum, cepat!” kata laki-laki itu dengan sigap, dia langsung mengambilkan air putih dan menaruh obat itu di tangannya dan bersiap untuk meminumkan obat itu kepadaku.
“stop” kataku tiba-tiba, entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu kecuali oleh kakakku yang telah bekerja di london sejak 6 tahun yang lalu.
“kenapa stop?, sekarang buka mulutmu” kata laki-laki itu
Dengan seketika aku telah menelan obat yang hampir aku buang, aku pun heran mengapa aku menuruti perintah lelaki yang tidak aku kenal hanya karena dia mengingatkanku dengan kak Trian yang sangat aku rindukan.

“oke, kalau ada obat itu diminum bukan dibuang, kasihan assistent u yang sudah nganterin obat itu, emang kamu sakit apa?” tanya laki-laki itu
“hmmm,” gumamanku dengan menundukkan kepala.
“oh ya maaf, aku dari tadi ngomong terus, oh ya namaku choklyn, kamu?” tanya laki-laki itu.
“aku pinky, lebih tepatnya pinky setrianta,” jawabku
Lelaki itu justru memandangku, dan aku jutru memandang tatapan matanya itu, entah mengapa aku merasa duniaku tidak sepi lagi ketika melihatnya.

“derr.. derr.. derr” tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat keras.
Aku merasa sangat ketakutan, entah mengapa aku langsung memeluk Klyn, dan dia seperi mengetahui ketakutanku dan dengan sigapnya dia membuka jaket dan memakaikannya padaku, dan hal yang tidak kuduga lagi adalah tiba-tiba dia menggendongku sedangkan gerimis mulai bertambah lebat.

“klyn turunkan aku,” kataku setelah berada di tempat yang teduh.
“baiklah” kata klyn dengan menurunkanku

Bermenit-menit aku disana bersama Klyn seorang laki-laki yang baru kukenal, tiba-tiba aku merasa pusing dan berkunang-kunang.

Malam harinya aku barulah siuman, ternyata tadi aku pingsan dan Klyn mengantarku pulang, aku pun cukup heran karena Klyn bisa tau rumahku.
“klyn tante mau ngucapin makasih ya udah nganterin pinky pulang” kata mamaku
“iya tante tidak masalah, saya tadi cuma ngecek di ktp milik pinky tante” jawab pinky

Keesokan harinya matahari bersinat sangat terang, dan aku juga tidak diizinkan sama sekali keluar rumah karena pingsanku kemarin itu. Lalu papa justru sibuk menyiapkan taman belakang rumah untuk meeting dengan rekan kerjanya.

Pukul 14:00 akhirnya meeting itu selesai dan papa justru memanggilku untuk keluar, aku dengan sangat malas keluar kamar hanya memakai celana pendwk dan kaos pendek dengan rambut sedikit acak-acakan karena kupikir kalau acara meeting pasti isinya om-om yang sudah tua. Tapi tidak di sana aku melihat Klyn sedang bercakap-cakap dengan papa dan seketika itu pula aku ingin membalikkan badan dan berlari karena malu tapi Klyn justru memegang tanganku, menahanku agar tidak pergi dan dia menarikku benar-benar menarikku. Hatiku berdegup sangat kencang seketika dan tiba-tiba Klyn melepasnya dan aku langsung berlari sekuat tenaga dan kucoba lirik papa dan Klyn justru tertawa terbahak-bahak.

12 Agustus 2016, pagi yang cerah hari ini aku telah ada jadwal untuk pergi bersama Klyn namun tiba-tiba telephone berdering kencang dan kuangkat telephone itu.
Seketika itu pula lemas diriku seperti hidupku lagi-lagi tiada berdaya, telephone dari pihak kepolisian yang mengatakan bahwa kakakku meninggal dunia saat menuju tempat kerjanya di london. Aku sangat lemas hingga akhirnya satu keluargaku menangis menjerit dan menjerit.

Pemakaman kakakku telah selesai tapi aku tidak siap meninggalkannya sendirian lagi-lagi hidupku tak berdaya. Kematian kakakku membuatku seperti mayat yang tiada berdaya hingga akhirnya kuputuskan untuk selalu ada di makam kak Trian, aku tidur di dekat makamnya, saat ini aku sudah putus asa, tuhan telah memberikan kesepiaan yang hingga akhirnya berujung kematian kak Trian, semua anggota keluargaku terus memaksaku untuk meninggalkan makam kak Trian tapi aku tiada sanggup.

Hingga 40 hari setelah kak Trian meninggal aku masih terus ada di makamnya, aku tau keadaanku saat ini sangat lemah, hingga aku bisa menatap jelas lengan tangan dan kakiku begitu buruk dan kotor.

“sayang mama mohon pulanglah sayang, biarkan kakak kamu tenang sayang” kata mamaku
Tapi aku tidak menjawab hingga keluargaku mencarikanku ustad untuk menceramahiku agar aku pulang tapi semua itu percuma, aku sudah putus asa, aku tetap tidur di samping makam kak Trian dan tanpa henti-hentinya menangis.

Hingga malam bulan purnama pun datang aku masih menanggis di situ dan karena letak makam yang dekat dengan jalan raya itu akhirnya banyak orang yang datang karena ketakutan mendengarkan tangisanku, mereka semua berbondong-bondong menontonku dan memaksaku untuk pulang hingga hampir 3 jam lamanya mereka menontonku, dan tiba-tiba aku mendengar suara seseorang “pinky” kata orang itu, kutolehkan kepalaku dan di sana seorang laki-laki berdiri bersama orangtuaku.
“pinky aku mohon, segala sesuatu pasti bisa kamu lalui pinky, aku yakin pulang lah” kata laki-laki yang tak lain adalah Klyn.
“tidak klyn aku tidak akan pulang, aku akan menemani kak trian di sini” kataku sambil menanggis bersama mama pun juga kelihatan menangis dan mama ingin duduk di sampingku tapi dicegah oleh Klyn.
“pinky aku mohon, kamu bangkit dan mulai kehidupanmu yang baru” kata Klyn.
“hidupku sepi Klyn, sepi” kataku dengan semakin menangis.
Tapi jutru Klyn duduk di sampingku dan memelukku sedangkan aku telah dikelilingi warga yang sangat banyak, Klyn memelukku dengan erat

“klyn aku akan selalu ada di dekatmu aku akan merubah kesepianmu menjadi kebahagiaanmu” kata Klyn.
“kamu janji akan selalu ada untukku dan tidak membuatku kesepian lagi?” tanyaku.
Klyn mengangguk sambil menggendongku seperti saat aku bertemu dengannya.

Semua orang seketika mengucap syukur, apa lagi kedua orangtuaku sangat bahagia. Sedangkan aku, aku juga sangat bahagia meski kehidupanku sepi selalu ada penyakit hingga kak Trian meninggal aku masih bisa kuat menjalaninya, dan ditambah dengan kehadiran Klyn di hidupku, membuat aku merasa bermakna dan selalu tersenyum meski luka selalu datang menerka.

Cerpen Karangan: Lisa Frikugeana
Facebook: Lisa Frikugeana
Aku lisa frikugeana saat ini aku 17 tahun. Alamat fb dan twitter ku Lisa Frikugeana.
Semoga terkesan dengan cerpen yang aku buat, salam kenal untuk para pembaca.

Cerpen Gadis di Pemakaman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kata Maaf Terakhir

Oleh:
Di pagi hari dengan cuaca yang tidak bersahabat, awan hitam menyelimuti langit biru yang cerah diseratai dengan rintikan hujan, Nindy siswi teladan SMA ATHENS yang kini duduk di kelas

What Is Love?

Oleh:
Cinta? Kata itu sudah terasa nggak asing lagi untuk para remaja, bahkan anak-anak sudah pada bisa tuh bilang cinta. Nggak ngerti kenapa orang-orang zaman sekarang sudah pada doyan banget

Misteri Lagu Bunda

Oleh:
Namaku Naya Aqilla. Aku punya Bunda yang sangat pengertian padaku, namanya Bunda Nisa. Namun sayang, bundaku telah tiada. Mau tau ceritanya? Kok bisa bundaku meninggal. Suatu malam, ketika aku

Patengan

Oleh:
“Wow, keren banget!!!,” seru Bram saat ia melihat betapa indahnya tempat itu. “Kalian akan pemotretan di sini! Jadi, untuk persiapan materi dan juga pemantapan kita mengajak ke sini. Oh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *