Gadis Pemandang Langit (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

Dia gadis yang menawan, kebiasaannya adalah memandangi langit, siang atau malam di taman kota. Namanya Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki, ia akan memandangi langit dengan banyak ekspresi, seperti nangis, senyum, dan ketawa. Hari ini ia datang dengan perasaan yang kurang baik, ia menangis.

“Langit, maafkan aku, aku sangat membenci malam, kamu tahu kenapa, aku mendengar lagi kalau orangtuaku bertengkar karena orang ketiga masuk dalam hidup Ayahku, langit kamu tau aku tak mengerti apa kurang Ibu pada Ayah, apa salah Ibu pada Ayah, dan apakah semua laki-laki seperti itu?” tanya Kiki. Namun tiba-tiba ada yang menjawab pertanyaan Kiki, ia sebaya dengannya namanya Diky dan kebetulan panggilannya adalah Kiki, ia baru datang ke kota itu, bahkan ia belum menemukan sekolah saat ini.

“Tidak semua laki-laki itu seperti Ayahmu, buktinya Ayahku selalu bertanggung jawab pada keluarga kami, dan kami hidup rukun.” jawab Diky.
“Mungkin benar itu hanya Ayahku.” Kiki tersenyum dan akan segera pulang karena hari sudah akan malam.
“Mau pergi ke mana?” tanya Diky.
“Kenapa kau bertanya padaku, aku mau pergi ke mana pun itu urusanku!”
“Maafkan aku, aku baru di sini, sudah dua hari ini aku melihatmu, dan kau menangis di sini, apa kau punya masalah, mungkin aku bisa membantu!”
“Tidak perlu.. Aku harus segera pulang.”
“Tunggu, boleh ku tahu namamu?”
“Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki.”

“Apakah benar?”
“Yaa, kenapa kau ragu?”
“Tidak, mungkin ini kebetulan, nama panggilan kita sama Kiki, namaku Diky Fadillah.”
“Haha, senang berkenalan denganmu, aku harus pulang.” Kiki segera pergi menuju mobil yang sering ia pakai, ia sekarang sudah lupa dengan masalah yang ia hadapi, ia sekarang sedang memikirkan laki-laki yang bernama Kiki. “Laki-laki yang aneh, hmm… Mungkinkah besok aku akan melihatnya lagi?” ia segera menuju rumah, namun yang dirasakannya sepi, kemudian dia bertanya pada bi iwa pembantu di sana.

“Bi, Mama dan Papa mana?” tanyanya.
“Kalau nyonya pergi ke bandung ke Nenek non, kalau Bapak pergi ke yogya menemui kekasihnya yang baru non.”
“Astagfirullah, kenapa semuanya secepat itu?”
“Nyonya hanya berpesan agar non mengurus perusahaan dan cafe non, selama nyonya tidak ada dan menenangkan diri.”
“Lalu bagaimana dengan sekolahku Bi?”
“Kata nyonya, ada sekretaris nyonya yang akan mengatur itu semua dan ia sudah ada di ruang tamu non.”
Ia kemudian berjalan menuju ruang tamu dan melihat seorang wanita yang cantik dan masih muda, mungkin sebaya dengan mamahnya.

“Kamu?”
“Kamu pasti Niky Bilqis, aku hanya disuruh oleh Ibumu untuk mengaturmu, maafkan dia, dia sedang banyak masalah. Mungkin kau akan mengerti nanti.”
“Aku tidak mungkin bisa mengurusi itu semua, cafe ada tiga, lalu perusahaan apa yang harus aku lakukan? Harus panggil apa aku padamu?”
“Tenang Kiki, panggil aku Kaka, anggap aku seperti kakakmu, kau mengerti.”
“Ya aku mengerti Kak… Bagaimana dengan sekolahku Kak?”

“Tenang kamu harus tahu waktu, apa kau mengikuti OSIS?”
“Tidak Kak, aku tidak berminat, mamah bilang jika itu hanya membuang waktu, jadi aku nurut Mama.”
“Bagus ini memang sudah direncanakan.”
“Maksud kakak?”
“Sebenarnya Ibumu sudah tahu jika Ayahmu berselingkuh, kemudian ia pergi ke bandung untuk mengadu pada nenekmu dan akan bercerai, maafkan Ibumu ya Ki, kamu jangan marah, ini takdir illahi.”

“Iya kak, aku mengerti.”
“Sekolah di mana kamu Ki?”
“SMA Maharani kak.”
“Ya baiklah, sejak saat ini kakak akan tinggal di sini, kamu keberatan?”
“Tentu tidak kak, aku sangat senang ada yang menemaniku di sini selain Bi Iwa.”
Karena malam semakin larut, Kiki akhirnya memutuskan untuk tidur dan kakaknya itu sekamar dengan dia, karena merasa tak enak jika ia tidur di kamar bos-nya. Waktu, memang tak lama tiada kabar dari ke dua orangtuanya, kini ia hanya menjadi manusia sebatang kara. Jam menunjukkan pukul 5 pagi.

“Ki, segera kamu bangun… Hari sudah siang.” ujar kaka pada Kiki, terbukalah mata Kiki dan melihat jam wekernya.
“Bagaimana? Apa yang kakak sebut siang ini baru jam 5 pagi, sekolah masuk pada jam 8 pagi kak. Jadi tenang aja.”
“Apa yang kamu katakan, bukankah sudah kakak bilang jika kau harus pandai menggunakan waktu. Pagi ini jam 6 kamu harus ke perusahaan.”
“Baiklah aku akan nurut padamu kak!”

Ia bergegas bangun, mandi, mengambil wudhu, salat, dan memasukkan baju-baju yang akan ia gunakan pada koper dan dibawa dengan mobil yang sangat mewah. Memang tidak seperti biasanya Kiki yang bergaya sederhana sekarang berubah, menjadi sangat mewah. Perjalanan pun di mulai menuju perusahaan. Semua para karyawan berkumpul di ruang pertemuan.

“Baiklah, hari ini bos kita akan diganti untuk sementara oleh anak tunggal dari bu Citra Bilqis yakni Niky Bilqis.”
“Oke, buat semuanya, assalamulaikum wr. wb, perkenalkan nama saya Niky, anda semua bisa memanggil saya Kiki, mungkin saya terlalu muda untuk menjadi pemimpin di sini, tapi saya akan terus berusaha, walaupun saya masih muda. Mohon bantuannya untuk kelancaran perusahaan ini.”
“Iya Bu.”

Mereka pun akhirnya bubar, kemudian Kiki menuju ruangan ibunya.
“Ini, ada berkas… Ki. Apa kamu ingin saya menjelaskannya.”
“Tidak terima kasih kak. Sebaiknya kakak sarapan karena sebentar lagi aku akan kembali ke sekolah.”
“Baiklah, nanti pulang sekolah kamu harus ke Anna cafe, sintia cafe dan bela cafe, maafkan aku mungkin kamu cape!”

“Tidak masalah demi orangtuaku. Kakak tidak perlu khawatir tentang masalah ini, aku tau perusahaan sedang mengalami krisis karena seorang korupsi.”
“Di mana kamu tahu, jika di sini ada pengkhianat?”
“Aku sudah belajar tentang dunia bisnis, selama kakak di luar aku akan sudah selesai menemukan pengkhianat itu.”
“Benarkah?”
Ia tersenyum dan kaka mulai kebingungan dan heran lalu ia berpikir.
“Mungkin ini yang di maksud bu Abil, tentang anaknya yang sangat cerdas dalam dunia bisnis!”

30 menit kemudian kaka datang kembali.
“Apa kamu sudah menemukan siapa pengkhianat itu?”
“Tolong panggilkan Pak Arya.”
“Baiklah,” kaka kemudian menyuruh pak Arya datang.
“Maaf Bu, ada apa?” tanya pak Arya.
“Tak usah berbasa-basi. Maaf anda saya pecat secara tidak hormat!”

“Kenapa Bu?” laki-laki itu menjadi terheran, namun sedikit takut.
“Anda tidak perlu heran dan bertanya. Maafkan saya, saya tahu Anda adalah karyawan yang sudah mengabdi lama di sini. Tapi bukti sudah menunjukkan bahwa Anda Pak Arya terbukti bersalah?”
“Apa buktinya Bu!”
“Ini.” sambil menunjukkan berkas-berkas yang menunjukkan pak Arya bersalah.
“Apa?”
“Kenapa anda terheran? Saya yang hanya anak kecil bisa menemukan bukti secepat itu?”

Pak Arya pun ke luar, ia merasa sangat terkejut, itu adalah korupsi yang ia gunakan beberapa tahun yang lalu yang memang tidak kecil, ia adalah seorang karyawan yang mengurus keuangan yang memang mudah untuk memakai uang perusahaan. Ia tidak tanggung-tanggung korupsi pada saat itu, pak Arya mengambil uang 10 miliar untuk membeli rumah yang ditempatinya.

“Ka, dengarkan saya. Jangan pernah bilang jika pak Arya dipecat. Jika ada yang bertanya, maka jawablah ia sedang mengambil cuti.” ujar Kiki.
“Kenapa? Banyak pertanyaan yang ingin kaka ajukan terutama kenapa kamu tidak membawanya ke jalur hukum.”
“Ini perintah mamah.”
“Baiklah, kaka mengerti.”
Pak Arya pun pulang dengan wajah yang lesu, ia juga takut jika rumah itu akan disitanya, bagaimana dengan anaknya, akhirnya ia berpikir untuk menjual mobilnya untuk biaya sekolah Diky.

“Yah, kenapa kamu pulang cepat?” tanya istrinya bernama Yani.
“Bun, maafkan Ayah, Bunda tahu jika korupsi yang Ayah lakukan 7 tahun yang lalu sudah terungkap.”
“Ayah… Lalu bagaimana dengan Diky, Ayah Bunda tak ingin jika Diky terlantar Yah, ia baru saja kelas 2 SMA, ia belum bekerja Yah.”
“Bukan cuma Diky aja yang Ayah pikirkan, tapi juga rumah ini Bun.”
“Iya Yah, Bunda siap hidup sederhana lagi.”
“Tidak Bun, Ayah tak akan membiarkan keluarga kita jatuh miskin lagi.”
Mereka hanya menangis.

Saat ini Kiki sedang melaju pergi menuju sekolah. Ia ke luar dari mobil mewahnya, kemudian ia berjalan menuju kelas, namun saat itu ia sudah terlambat

“Asalmualikum, maaf Bu saya terlambat.” kata Kiki dengan nada takut, bercampur malu karena saat itu ada seorang murid baru yang ia tahu adalah Diky.
“Ehh, Kiki tidak apa-apa, belum 10 menit kamu terlambat.” kata bu Lis selaku guru ipa.
“Terima kasih Bu.” Kiki berjalan menuju bangkunya yang emang sendiri karena teman sebangkunya sedang sakit.
“Baiklah anak-anak, hari ini kita kedatangan siswa baru, silahkan kamu kenalkan namamu.”
“Asalamualaikum, perkenalakan nama saya Diky Fadillah, pindahan dari bandung.”
“Baiklah Diky kamu duduk dengan Niky ya, yang barusan baru datang.”
“Bu, tapi kan ada Anissa.” protes Kiki.
“Tapi Ky, Nissa kan sedang sakit jadi kamu sekarang sebangku dengan Diky.”

“Kalau udah sembuh gimana Bu?”
“Dia bisa sebangku dengan Wenda.” ujar ibu dan kini Kiki mulai menyerah, Diky pun sangat merasa senang bisa sebangku dengan Kiki orang yang ia impikan.
“Baiklah anak-anak hari ini ibu ada rapat jadi kalian ibu kasih tugas aja ya, tolong kerjain halaman 75.”
“Baiklah Bu.” jawab anak-anak serentak.
Bu Lis pun keluar dari kelas.
“Ki, kamu tidak senang aku ada di sini?” tanya Diky.
“Tidak.”

“Oh, baguslah… Tolong kamu bantu aku mengerjakannya.” ujar Diky.
“Hmm… Baiklah, halaman itu udah ku kerjakan kemarin, jadi kamu boleh menirunya ”
“Apa? Sudah kamu kerjakan?”
“Ya, aku sudah dapat bocoran, hari ini dan hari-hari selanjutnya aku akan sibuk. Melelahkan.” keluh Kiki.
“Kau sungguh rajin.”
“Aku terpaksa.”

Waktu pun akhirnya berjalan, kini bel pertama sudah berbunyi dan mereka berhamburan keluar, termasuk Kiki dan Diky. Masuk, dan pulang, hari ini mobil Kiki sudah stand by.
“Ki, mobilmu mewah sekali!” ujar Diky.
“Itu, maafkan aku. Aku buru-buru.” Kiki berjalan pergi menuju mobilnya dan masuk sana.
“Itu pacarmu Ki?” tanya kaka.
“Tidak, dia murid baru yang kebetulan teman sebangkuku.”
“Oh hari ini, kita akan pergi ke sintia cafe untuk mengurusi keuangan di sana.” jelas kaka.
“Baiklah, oh iya kak jika Pak Arya datang ke kantor, maka terimalah ia dan izinkan ia masuk.”
“Baik Ki.” Perjalanan di mulai kembali, dan akhirnya malam menjemput, 3 cafe telah ia datangi dan hasilnya sama, keuangan bermasalah karena menu yang kurang menarik.

Di mobil.
“Kak, malam ini saya akan pergi ke taman kota, bolehkah, hanya sebentar.”
“Baiklah.” mobil melaju begitu kencangnya agar bisa segera cepat untuk sampai.
“Kak, maaf ya aku akan ke taman ini sendiri.”
“Ya, baiklah Ki, jangan lama karena kamu harus beristirahat.”
“Iya kak.”

Ia berjalan menuju tempat duduknya, kemudian memandangi langit dan berbicara.
“Langit, Mama dan Papa sepertinya akan berpisah, aku tak apa asalkan mereka bahagia. Langit aku hari ini sangat lelah, mulai dari pagi sampai malam ini aku belum beristirahat.”
“Kenapa kamu belum beristirahat?” tanya Diky tiba-tiba.
“Bukan urusanmu.”

“Ky, kau sakit, wajahmu pucat?” tanya Diky khawatir.
“Haha, tidak perlu kau urusin aku.”
“Maafkan aku sejujurnya, ketika pertama melihatmu aku sudah sayang sama kamu.”
“Terima kasih Dik, kita memang punya perasaan yang sama, tapi sayangnya aku masih terlalu kecil untuk menjalani hubungan ini, maafkan aku ya, jika kamu bisa untuk menunggu, maka insya Allah kita akan dipersatukan oleh Allah.”
“Baiklah, aku akan menunggumu Ky.”

Kiki berjalan untuk pulang, hari-hari sama seperti awal kejadian pisahnya Kiki dan ibunya, bangun pagi, pergi kantor, sekolah, dan pergi lagi ke tiga cafenya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Sintia Ana Bela
Facebook: Shintya Ana Bela

Cerpen Gadis Pemandang Langit (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cahaya di Ujung Jalan

Oleh:
Seperti biasa setiap malam senin, banyak anak muda berkumpul di jalan untuk menyaksikan balapan liar. Teriakan mereka tidak pernah padam untuk memberi support kepada jagoan mereka masing masing. Mereka

Sang Kakek Buyutku

Oleh:
Aku mempunyai seorang kakek buyut bernama Eni djuaeni. Ia dilahirkan di sebuah desa bernama desa pasawahan dan dilahirkan dari seorang ibu bernama Oma dan ayahnya bernama Etje. Sewaktu kecil

Seperti Yang Kau Minta

Oleh:
“Aku tahu ku takkan bisa menjadi seperti yang engkau minta. Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta.” alunan lirik diiringi nada terdengar begitu indah

Memoir of Naya

Oleh:
Saat itu kebahagiaan sedang terpampang di hadapanku, tidak ada keinginanku menatap ke arah lain. Seperti seekor kuda yang dipakaikan kacamata, arah yang bisa dilihatnya hanya arah di depannya. Tapi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *