Gadis Pemandang Langit (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

3 bulan kemudian.
“Bun, sepertinya Ayah sudah tak sanggup lagi untuk hidup, lihatlah.. Ayah sudah tak diterima lagi untuk kerja di perusahaan-perusahaan, mereka menolak Ayah, lalu bagaimana dengan Diky Bun? mobil, perhiasaan Bunda sudah dijual, lalu apalagi yang harus kita jual.” tanya pak Arya pada istrinya.
“Bunda juga tak tahu, tapi bagaimana kalau kita melamar lagi ke Bu Kiki?” ide dari bunda Diky.

“Lalu bagaimana jika ia menolak kita?”
“Ayah tahu jika Bu Kiki ingin berbuat jahat, mungkin saat ini kita takkan ada di rumah ini dan Ayah akan masuk penjara.” jelas bunda yang membuat ayah merasa apa yang dikatakan istrinya ada beenarnya. Keesokan harinya pak Arya datang ke kantor.
“Eh, bapak udah cutinya?” tanya salah satu karyawan di kantor.
Pak Arya hanya tersenyum dan bingung kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang bu Kiki.

“Asalamulaikum?” salam pak Arya.
“Walaikumsalam,” Jawab kaka dan membuka pintu.
“Eh Pak Arya, ada perlu apa ya?” tanya kaka.
“Saya ingin bertemu dengan Bu Kiki.” ujar pak Arya.
“Baiklah ayo masuk.” pak Arya pun berjalan menuju meja bu Kiki.
“Pagi Bu.”

“Ada perlu apa anda datang ke mari pak?” tanya Kiki.
“Bu!” sambil berlutut di hadapan bu Kiki, “maafkan saya bu, saya janji akan saya lunasi hutang saya bu, dengan saya bekerja lagi di sini.” Ujar pak Arya memohon.
“Apa kamu akan membayar hutangmu?”
“Ya Bu, maafkan saya, saya janji takkan mengulangi kebodohan ini.”
“Inilah yang saya tunggu Pak Arya, uang 10 miliar itu lupakanlah, bagi saya maaf itu yang penting. Tapi maaf Pak Arya jika bapak ingin bekerja lagi di sini bapak harus membawa istri bapak ke mari.”

“Untuk apa bu?”
“Bapak akan mengetahuinya hari ini juga jika bapak membawa istri bapak, di depan ada mobil yang bapak jual beserta emas yang istri bapak jual, itu semua saya kembalikan. Maka sekarang pulanglah dan bawa istri bapak ke mari!” ujar Kiki.
“Baiklah bu, terima kasih atas kebaikan ibu.”

“Lalu untuk apa bapak berlutut seperti itu, bangunlah pak.” pak Arya pun merasa senang, kemudian ia akan ke luar.
“Pak ingat, saya di sini hanya sampai jam setengah delapan maka bergegaslah.”
“Iya bu.” kaka sangat terkagum dengan Kiki ia memang mirip dengan bu Abil.
“Apa yang akan kau lakukan Ki?”
“Ini hanya perintah Mamah ka.”
“Ya baiklah.”

Kaka ke luar dan Kiki lebih memilih untuk menunggu, ia telah menyelidiki tentang seorang pak Arya, ia adalah ayah dari Diky orang yang ia sayangi. Namun sudahlah memang jika takdir mereka sama, pasti akan bersama.
“Mungkinkah aku di takdirkan untuk Diky.”
“Permisi Bu, ini pak Arya.” suara itu mengejutkan Kiki.
“Masuklah.” pak Arya dan istrinya masuk.
“Duduklah Pak, Bu.”

“Ada apa saya dipanggil bu?” sejujurnya bunda Diky heran orang yang dipanggil ibu itu anak yang masih kecil dan sebaya dengan Diky anaknya.
“Ibu pasti heran kenapa anak sekecil saya, jadi bos di sini?”
“Kenapa ibu tahu apa yang saya pikirkan?”
“Haha tidak perlu tahu… Oke lanjut pada permasalahan ini, saya sebagai direktur utama di sini meminta maaf pada Pak Arya karena bapak tidak dapat bekerja lagi di perusahaan ini.” jelas Kiki belum selesai ngomong.

“Bu, tolong jangan pecat suami saya.”
“Maaf bu, saya belum selesai bicara, bapak dan ibu, saya akan memberi pekerjaan di Sintia cafe sebagai manager, bagaimana?”
“Hah?” ayah dan bunda Diky terkejut.
“Kalian tidak mau?”
“Tentu saya mau bu, dan istri saya pun begitu, kami sangat merasa senang,”
“Baiklah kaka akan mengantarkan kalian ke cafe itu, saya harap kalian dapat memajukan cafe itu seperti dua cafe yang saat ini sudah maju.”
“Iya bu, kami pasti bisa.” ujar pak Arya.
Kaka pun akhirnya mengantarkan pak Arya dan istrinya ke Sintia cafe, kemudian ia menjelaskan tentang cafe tersebut.

“Kenapa bu Kiki menyuruh kami?” tanya pak Arya.
“Itu perintah bu Abil pak!” jawab kaka.
“Lalu, kenapa ia dapat membaca pikiran saya bu?” tanya Yani.
“Itu adalah insting bisnis.” jawab kaka.
“Dia sungguh hebat bu.” puji Yani.
“Ibu bapak tahu alasan kenapa kalian ditugaskan di sini?”
“Tidak bu.”

“Karena bu Abil ingin kalian tak melarat, namun bu abil kecewa saat pak Arya, sahabat bu Abil korupsi di perusahaannya sendiri.”
“Saya sangat menyesal bu, saya sekarang akan jujur bu. Saya janji.” ujar pak Arya.
“Ya kami janji bu.” ujar Yani.
“Untuk memajukan cafe ini, bapak ibu bisa belajar dari cafe-cafe sebelumnya.”
“Ya saya mengerti, terima kasih ya bu.” ujar pak Arya.

Pagi ini Kiki sekolah, ia terlihat lesu.
“Apa yang terjadi Ki?” tanya Diky.
“Apa yang terjadi? Maksudmu?”
“Kau terlihat pucat kau sakit.”
“Aku hanya cape, maafkan aku membuatmu khawatir.”
“Ya, kenapa kau tahu?”
“Aku melihat wajahmu yang khawatir padaku, dan aku berharap kamu sudah mengerjakan pr dan tak mencontek.”

“Kenapa kau tahu aku akan mencontek padamu?”
“Insting seorang pembisnis.”
“Hebat.” puji Diky dan mereka segera berjalan menuju kelas, karena Diky akan meniru pr dari Kiki.
“Kamu harus mengerjakan pr dik, kau tak tau pengorbanan orangtuamu, mereka bekerja untukmu. Dik kau tau mereka menjual mobil, perhiasan hanya untukmu.”
Diky terheran, “Apa kau bisa melihat hal yang jauh? Kenapa kau tahu apa yang dilakukan keluargaku?”
“Diky dengarkan aku, aku bukanlah orang yang di matamu terlihat baik atau terlihat buruk.”

“Maksud kamu Ki?”
“Dik, sekarang jangan pernah kau pikirkan aku, kau harus memikirkan keluagamu, terutama orangtuamu. Kita pasti bersama jika Alllah mengizinkan, ku mohon, kau harus bisa menjadi pemuncak kelas tahun ini.” kata-kata motivasi muncul dari mulut seorang Niky Bilqis.
“Kau benar Ki, aku akan mulai dari awal, aku akan berubah karena orangtuaku,”
Kiki tersenyum, tiba-tiba hp Kiki bergetar, tanda ada sms masuk.

From:+6224378999*****
‘Sayang, apa kabar? Ini mamah, kamu telah melakukan apa yang mamah suruh padamu terima kasih ya anakku tercinta. Maafkan mama yang telah membebanimu dengan tugas bisnis yang mengganggu sekolahmu dan membuat kamu lelah dan cape. Mungkin 1 bulan lagi mamah akan pulang, tapi maafkan mamah, sepertinya papa dan mama akan berpisah karena papa sudah akan menikah lagi. Apa kamu setuju sayang?’

Segera ia membalasnya
From:+62234000098****(Kiki)
‘Mamah, aku memang lelah dan cape. Tapi itu aku lakukan karena mamah, aku sayang mamah, jadi jika mama dan papa akan berpisah, itu kebahagiaan kalian, aku menunggumu mah!” ia menangis.

“Kenapa kamu menangis Ki?” tanya Diky.
“Tidak apa-apa.”

Bel, istirahat, masuk dan pulang itulah kebiasaan yang dilakukan sekolah, hari ini Kiki pergi ke Sintia cafe.
“Bu Kiki, anda telah datang?” tanya Yani.
“Iya, saya akan memulai untuk membuat cafe ini maju lagi.”
“Anda mau turun ke lapangan bu?” tanya pak Arya.
“Iya kenapa tidak?”
“Ibu sangat hebat.” puji Yani.
“Tidak, kalian berlebihan.”

“Bagaimana jika anak saya ikut membantu?” ide dari pak Arya.
“Tidak usah, jangan libatkan anak kalian ikut bekerja keras.”
“Iya bu, memang benar anak saya nilainya menurun, apa lagi saya tidak tega melihat anak saya bekerja keras seperti kami, ngomong-ngomong ibu udah kuliah? Di mana bu?” ujar Yani.
“Tidak perlu bertanya, jangan kalian urus apa yang bukan urusan kalian, mari kita mulai bekerja.” ujar Kiki.
“Maaf bu.” ujar Yani.
“Tidak apa-apa.”

Akhirnya mereka pun mulai bekerja, menawarkan selebaran Sintia cafe ke jalan-jalan besar, orang-orangnya dibagi 2 kelompok. Satu, pak Arya dan bu Yani. Dua, kaka dan Kiki, namun tiba-tiba ada yang memanggil Kiki.
“Hey… Kiki!” ujar Diky memanggil Kiki.
“Diky… Ada apa?”
“Kamu bekerja? Apa yang kamu bagikan?” tanya penasaran.
“Oh, ini adalah selebaran tentang Sintia cafe… Kamu mau membacanya?”
“Apa? Jujur kamu ini siapa?”

“Ada apa denganmu? Maaf aku harus melanjutkan pekerjaanku, ayo kaka!” berlalu pergi.
“Ki, kenapa kamu tidak bicara jika kamu adalah pemilik cafe itu?” Tanya kaka.
“Maaf ka, ini adalah sebuah rahasia, yang siapa pun tidak boleh ada yang tahu kecuali kaka, karena sebentar lagi semuanya akan terungkap.”
“Benar Ki, sebentar lagi bu Abil akan pulang.”
“Ya, Ki udah tahu itu.”

Mereka tersenyum dan melanjutkan perkerjaannya, Kiki memang tau apa yang harus ia lakukan, ia tau perbedaan antara sekolah dan kerjaannya. Satu bulan sudah, akhirnya bu abil pulang dan di sambut oleh anaknya
“Mamah. Akhirnya mama pulang.”
“Iya sayang makasih udah bantuin mama urusin pekerjaan mamah,”
“Iya mah, soalnya ada kaka yang bantuin Kiki mah.”
“Iya mamah tahu. Nanti malam kita adakan pesta perayaan kembalinya mamah dan berhasilnya perusahaan dalam mencapai kejayaan berkat kamu sayang.”
“Iya mah makasih, mamah terlalu berlebihan.”
“Sayang kamu mau ngak lihat mamah bahagia?”
“Tentu mah.”

“Tolong kabulkan permintaan mamah ini dan kamu jangan menolaknya.”
“Iya mah, apa pun itu! Walau nyawa yang mamah minta.”
“Baiklah sayang, malam ini adalah malam terakhir kamu di indonesia, besok pagi mamah akan mengirimkan kamu ke amerika untuk melanjutkan sekolah di sana selama kurang lebih 3 tahun dan setelah kamu pulang kamu boleh pilih kampus yang kamu suka. Bagaimana Ki?”
“Lalu bagaimana dengan sekolah Ki mah?”
“Itu sudah diurus oleh kaka kemarin dan kamu sekarang sudah harus siap pergi, maafkan mama yang harus melakukan ini!” ujar bu Abil.
“Ya mah Ki mengerti, Ki adalah satu-satunya anak mamah.”

Senyuman dan ini mungkin akhir perjuangan kisah cinta dua Kiki itu.
“Haruskah seperti ini Tuhan, setelah mama pulang aku harus meninggalkan mama dan harus ku tinggalkan cintaku Kiki, ya Kiki yang lain yang bukan aku.”

Di rumah Diky.
“Sayang, malam ini kamu harus ikut ke rumah bos, karena di sana ada pesta untuk bersama. Anak bos akan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk lanjut sekolah.”
“Kenapa Diky harus ikut mah?” tanya Diky pada mamahnya.
“Ya karena seluruh anak rekan akan hadir, mama malu jika kamu tidak hadir anak bu Abil sudah sangat baik pada kita.”
“Baiklah mah, aku akan datang.”

Malam yang dinanti pun tiba Kiki memakai gaun yang indah berwarna biru, namun saat ini ia sedang berada di kamar sedang menulis surat untuk Diky, segeralah ia melipatnya dan menitipkan pada kaka. Di ruang tamu sedang sibuk membincangkan tentang anak bu Abil yang sangat pintar dalam masalah keuangan.
“Baiklah para rekan semua anak bu Abil akan segera turun dari tangga.” kaka berbicara untuk mencari para perhatian rekan, Diky hanya termangu ia hanya berpikir andai ada Kiki di situ pasti ia akan sangat senang.
“Apa yang sedang kamu lakukan sekarang ya Ki? Baru beberapa jam saja aku tak bertemu rasa rindu pun terasa olehku.” ujar Diky pelan.

Terdengarlah lantunan musik yang menyambut seorang putri kerajaan haha maksudnya Kiki, semua memperhatikan Kiki begitu pun dengan Diky, “Hah, Kiki?” ujarnya.
“Sayang cantik kan anak bu Abil itu, dia juga sangat pintar dalam dunia bisnis, kamu harus bisa seperti dia ya nak!” ujar bunda Diky.
“Baiklah, asalamualaikum, malam semuanya saya anak dari bu Abil nama saya Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki, saya mencintai bisnis mungkin karena orangtua saya.” sebenarnya Kiki melihat Diky yang shock tapi tak apalah, semua ini memang akan terjadi.
“Maafkan aku ya dik.” batin Kiki menjerit.

Berjam-jam pesta dilaksankan dan pada pukul 12 akhirnya berahir, Kiki sedang melamun di taman dekat rumahnya, keadaannya sangat murung karena takut jika Diky membencinya. “Ki? Kenapa kamu tak pernah jujur padaku?” tanya Diky tiba-tiba.
“Maafkan aku, aku hanya sedang mencari cinta yang benar-benar tulus.”
“Haruskah berbohong?”
“Aku tak pernah berbohong, aku tak pernah menjawab apa yang kau katakan! Benar kan?”

Kiki berlalu pergi dan Diky hanya merenung apa yang Kiki katakan. Ya seingat Diky Kiki tak pernah menjawab apa yang ia tanya jika masalah keluarga. Awal pertemuannya pun saat di taman Kiki hanya diam dan tak mau ada yang tahu masalahnya mungkin hanya Allah dan langit yang tahu, gadis pemandang langit itu sering sekali menangis ketika ke taman. Pagi mulai datang hari ini tiada senyum seorang gadis pemandang langit lagi, entah kenapa Diky pun tak berani bertanya kenapa Kiki tidak hadir saat ini, mungkin sakit? Atau ahhh ia tidak terlalu memikirkan Kiki mungkin karena rasa kecewa telah dibohongi. Tapi sepertinya ia tahu sudah dari awal jika Diky adalah seorang anak korupsi yang dimaafkan dan bahkan diberi kepercayaan lagi untuk mengurusi cafe yang lumayan besar. Bahkan biaya sekolahnya, mobil, dan perhiasan bundanya pun dikembalikan.

“Gadis yang baik.” ujar Diky pelan, barulah sadar Diky atas pengorbanan gadis yang malang itu yang memiliki banyak masalah keluarga lalu ke mana ia sekarang? Bel pun berbunyi waktunya pulang. Di tempat parkir ada kaka yang sedang menunggu Diky.
“Hey, kamu Diky kan?” tanya kaka.
“Iya kak. Ada apa?”
“Oh, ini ada titipan sebelum Kiki pergi ke amerika.”
“Hah? Jadi dia pindah kak?”
“Ya, begitulah!” kaka pun pergi. Diky berjalan menuju mobilnya dan masuk kemudian membuka kertas berwarna oranye.

“Asalamualaikum. Hai, Ky? Maafkan aku yang telah mengecewakanmu ya! Ki di saat kamu baca surat ini aku sudah berada di negara yang kejam ini, ki aku sangat sayang sama kamu. Ki ku mohon kau menungguku, atau tidak pun tak apa. Jika kamu memang sayang aku maka tunggulah aku dan jika kamu rindu diriku datanglah ke taman kota, sudah lama aku tak melihat langit dari sana. Maka bicaralah pada langit jika kamu merindukannku, dan jika kamu membenciku maka kamu boleh bicara pada langit dan kau katakan jika kau membenciku. Aku mohon maafkan aku. Niky Bilqis.”

“Aku tak akan membencimu Ky, akulah yang egois.” Diky akhirnya pulang tapi tidak ke rumah melainkan ke taman kota, “Langit, tolong sampaikan pada Kiki jika aku minta maaf, langit aku ingin jadi pelipur laranya.” Kehidupan adalah hal yang terindah di dunia ini apalagi bisa saling memiliki, mungkin sebagian di antara kita mengalami cinta yang tak berbalas. “Langit aku merindukan dia si gadis pemandang langit, sudah lama aku tak melihatnya, langit aku ingin memilikinya. Langit aku ingin dia kembali, langit sampai kapan aku harus menunggu?”

Waktu berjalan begitu lama, ya karena waktu yang di tunggu itu 3 tahun, menunggu mungkin hal yang membosankan dan bahkan aku tak suka itu, tapi tidak untuk Diky, dia selalu menunggu orang yang ia sayangi. “Langit, tolong sampaikan pada Kiki jika aku telah berhasil membawa sintia cafe ke cafe internasional karena insting seorang pembisnis, aku membawa pengalaman Kiki sebagai bos, makasih Kiki.” ujar Diky.

“Ya sama-sama, Ky aku merindukanmu.” ujar Kiki tiba-tiba.
Ia bebalik, “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Diky.
“Bukan urusanmu.”
“Kapan kau pulang?”
“Kenapa kau bertanya, aku tak suka. Coba berapa lama aku pergi?”
Mulai berpikir.

“3 tahun, kalau tak salah.”
“Ya memang betul.”
“Ky, kenapa kamu pergi nimggalin aku Ky?”
“Gini ceritanya,” Kiki menceritakan permintaan mamanya.
“Ki aku ingin kamu selalu ada untukku, aku ingin kamu ada di sampingku.. Ku mohon kamu menerima pinanganku.”
“Jujur mamah sudah menjodohkanku dengan anak rekannya yang namanya!”

“Kamu jangan menerimanya… Siapa dia.”
“Kenapa jangan? Namanya Diky Fadillah anak om Arya, jadi aku harus menolaknya?”
Mungkin Diky terkejut, “Hah? Kau jangan bercanda!”
“Tidak, bahkan secepatnya aku akan bertunangan dengannya dan aku setuju.”
“Itu seperti namaku!”
“Ya, kamu setuju?”
“Tentu.”

Happy ending, good luck se moga kau bahagia, mungkin kebahagiaan itu hadir dimana aja, jadi gini endingnya Diky sama Kiki itu tunangan terus nikah deh.

Cerpen Karangan: Sintia Ana Bela
Facebook: Shintya Ana Bela

Cerpen Gadis Pemandang Langit (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Usap Rambut Ku, Ma

Oleh:
Belaian tangan Ibu sangat dirindukan gadis kecil itu. Ia kesepian, tak hadir sayang yang dia harapkan. Ayahnya sudah wafat lebih dulu dua tahun silam. Hanya Babysitter yang setia menemaninya

Cinta Sejati

Oleh:
Saat itu aku masih duduk di kelas 3 SMP, dan Aku masih nggak kenal Yang namanya “cinta”. Bagiku “pendidikan” itu nomor 1 daripada “cinta”. Hingga akhirnya Aku bertemu dengan

Catatan Di Udara

Oleh:
Namaku Mentari. Aku sangat suka menulis. Aku selalu menulis catatan harianku di kertas cantik dan mengikatkannya ke sebuah balon. Balon itu akan aku terbangkan ke udara hingga ia tinggi

Aku dan Dirinya

Oleh:
“Tepat jam 04.30, waktunya untuk bangun!”, aku mencoba membuka mata dengan perlahan, mengumpulkan sisa nyawa yang masih setengah, hujan yang turun semalam meninggalkan hawa dingin, membuatku enggan untuk melepas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *