Gadis Pengganti Menemui Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 October 2013

Waktu menunjukan pukul 15.30 WIB. Menemui seorang gadis yang tengah duduk di atas sebuah kursi panjang berlantaikan papan di pekarangan rumah belakangnya, mungkin tak kan ada seorangpun yang tau apa yang tengah di pikirkan nya karena terlihat seperti melamunkan sesuatu, sesaat kemudian air matanya menetes ke pipinya dan jatuh ke atas kain sarung yang dipakainya dengan memakai baju kurung busana ciri khas daerahnya sehari-hari. “Ya Allah… adakah wanita lain yang kau siksakan bathinnya seperti ini..” Jeritnya di dalam hati. Air mata itu berhenti sesaat ketika suara wanita setengah baya memanggil namanya. “Mah…,o mah.. dimano kau Mah…?”. Ternyata suara ibu nya yang memanggil. “Aku di belakang umah Mak..” sahutnya dengan suara agak serak. “Apo gawe kau di belakang tu..?” Sahut suara mak nya lagi dari kejauhan dengan bahasa ciri khas nya dari Rantau Panjang, tepatnya di daerah perkampungan Rumah Tuo, Kampung Baruh Muaro Semayo Negeri asal orang Bathin 19 Kecamatan Tabir, Merangin, Jambi.

Gadis yang di panggil bernama Siti Ramah tersebut tidak menyahut lagi. Karena heran suara anaknya tak terdengar lagi ibunya pun pergi melihat ke belakang rumah, setelah dibukakan pintu menuju halaman belakang ternyata Ramah sudah tidak ada disana. Sesaat setelah ibunya memanggil namanya Ramah ternyata lari ke atas rumah dan segera masuk ke kamarnya, entah apa yang membuat air matanya yang bening itu bercucuran membasahi kedua belah pipinya sambil terisak-isak meski ia telah berusaha untuk menahannya agar tidak terdengar olah ibunya. Karena heran tak melihat seorangpun di belakang rumah ibunya pun bertanya kepada anak sulungnya yang sedang nonton di depan televisi bersama sang adik yang paling bungsu. “San, mano adikmu si Ramah? tadi mak panggil ado suaro nyo nyawab, tapi mak clik ke belakang dado nyo..”. Tanya ibunya. “Mungkin adolah nyo dateh umah tu mak, mano brani nyo main-main klua umah”. Jawab Hasan. “Pgi kawan clik sbenta dateh umah wan, apo gawe nyo dateh umah nah…!”. Suruh ibunya kepada ridwan anak bungsunya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Ridwan pun segera menuruti perintah ibunya, saat sampai di atas rumah Ridwan tidak mendapati kakaknya, tapi matanya segera melihat menuju ke arah kamar kakaknya yang ternyata pintunya tengah tertutup, ia pun memanggil kakaknya. “Mbok Ramah, mak ngimbau mbok nyuhuh ke bawah..” Teriak adiknya hingga beberapa kali dipanggil namanya Ramah tak juga terdengar suaranya menjawab. Ridwan pun bermaksud akan membukakan pintu kamar kakaknya dan mendorongnya dengan kuat hingga pintu itu terbuka lebar terlihatlah oleh Ridwan tubuh kakaknya sedang terbaring di atas kasur tapi anehnya Ridwan melihat tangan kiri kakaknya berlumuran darah, Ridwan pun segera mendekatinya dan mencoba untuk membangunkannya tapi Ramah tak menunjukan reaksi apa-apa, dia tetap diam dengan matanya yang terpejam seperti tengah tertidur lelap, Ridwan yang sudah berumur 8 tahun tersebut mulai menyadari bahwa telah terjadi sesuatu dengan kakaknya, karena dia juga menemukan ada sebuah pisau kecil yang tergeletak di sampingnya. Ridwan pun segera memanggil ibu dan kakaknya untuk segera naik ke atas rumah… “Mak… bang Hasan…! naik umah cpek, Mbok Ramah mak..!! Banyak dahah di tangannyo…!” Teriak Ridwan dengan keras.

Hasan dan ibunya yang mendengar teriakannya pun terkejut bukan main antara percaya dan tidak percaya mereka pun segera naik ke atas rumah, lalu terlihatlah oleh mata mereka bahwa Ramah memang sedang terbaring lemah dengan bersimbah darah di tangan kirinya. Didekatinya lah Ramah oleh ibunya, segera dipegangnya pergelangan tangan kiri Ramah yang berdarah, dirasakannya denyut nadi nya ternyata sudah tak berdenyut lagi, ibu nya pun menatap ke arah kedua anaknya yang terlihat sangat mencemaskan keadaan Ramah dan berharap tidak akan terjadi apa-apa dengannya. “Innalillahi wainnalillahi Roji’un… Hasan… pgi lah imbau bapak kawan di bawah, suhuh nyo naik..” Suruh ibunya kepada Hasan dengan suara terbata bata seperti hendak menangis. “Mbok Ramah diapo mak..?!” Ridwan pun bertanya. “Mbok Ramah kawan dado gi wan…nyo lah dulu ninggal awak…!?” setelah menjawab ibunya pun menangis keras dan tak bisa lagi membendung airmata dan perasaannya sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya itu. ”Ya Allah apo yang tjadi dengan anakku ya Allah… knapo cpek nian Engkau ambil nyawo anak kami, Eee.. malang nian nasib kau nak, umua kau agi mudo… ngapolah kau pilh jalan macam ko nak… kini dado gi anak btino mak..” tangis ibunya pun semakin menjadi jadi meraung keras, hingga datanglah suaminya. ”Ado apo dengan Ramah Yah? diapo sampai kau maung nangih macam ko kah..?!!” tanya nya sambil mendekati Ramah,dan terlihatlah darah olehnya pada tangan Ramah. ”Astaghfirullah… diapo kau nak sampai munuh dihi macam ko?!.. cpek nian kau ninggal kami..” bapaknya ramah pun ikut menangis tak dapat menahan airmata mengenang nasib anaknya yang tak berumur panjang.

Dan akhirnya masyarakat yang mendengar berita kematian Ramah menjadi penasaran atas hal apa yang menimpanya hingga membuatnya bunuh diri, namun hingga beberapa lama kemudian setelah kematian Ramah tak juga diketahui penyebabnya hanya saja ada sebagian yang menduga kalau Ramah memiliki gangguan kejiwaan, karena termakan oleh perasaan ketidak percayaan diri hingga timbul rasa minder, dan dijadikan permasalahan yang dipendam dalam dirinya dan akhirnya putus asa dan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Kepergian Ramah yang begitu cepat telah membuat seluruh keluarganya merasa sangat kehilangan apalagi ibunya yang merasakan ada sesal mendalam karena dulunya dia tidak begitu memperhatikan dan menghiraukan keadaan dan kondisi Ramah dalam masa pertumbuhannya, kurangnya perhatian, kasih sayang dan belaian seorang ibu ternyata telah menjadikan Ramah tumbuh sebagai seorang gadis yang lemah dan tak ada semangat hidup karena merasa tak berguna dan tak bisa membanggakan orangtuanya.

Ternyata rasa penyesalan yang dalam pada ibunya telah menganggu kejiwaannya hingga tak mau lagi bergaul dengan orang banyak, dia hanya berdiam diri saja di rumah dan tak mau melakukan apa-apa, anehnya lagi jika ada orang yang menjenguk atau berkunjung ke rumahnya dia marah dan lansung mengusir orang-orang tersebut, hingga banyak orang yang merasa kasihan dengan keadaannya, yang dulunya orangnya sangat ramah dan baik kepada setiap orang.. terlebih kasihan lagi melihat nasib suami dan kedua putranya yang terpaksa harus menggantikan ibunya untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, kadang tak terurus lagi, mereka biarkan saja rumahnya berantakan, rumah yang dulunya sangat bersih dan rapi sewaktu Ramah masih hidup, hidangan yang sudah siap untuk makan siang atau makan malam kini tak lagi ada.. hingga di suatu malam, disaat tengah melaksanakan shalat isya usai mengucapkan salam ayahnya Ramah memanjatkan doa dengan hikmat dan sempat meneteskan airmata meminta perlindungan, kekuatan dan kesabaran atas segala cobaan dan ujian yang menimpa keluarganya, dan terutama sekali berdoa untuk kesembuhan dan kesehatan untuk ibunya Ramah dan berharap akan mukjizat tuhan untuk memulihkan kembali keadaan dan kondisinya agar normal kembali seperti dulunya supaya bisa berkumpul kembali meskipun tanpa kehadiran Ramah yang tak mungkin lagi kembali karena dia sudah tenang dan abadi di sisi tuhan.

Satu bulan kemudian, desa Kampung Baruh kedatangan para mahasiswa dari UNJA (Universitas Jambi) dalam rangka melaksanakan KUKERTA (Kuliah Kerja Nyata) selama lebih kurang 3 bulan, ada sekitar 15 orang mahasiswa, mereka akan menempati sebuah rumah panggung tua yang sudah ditinggal oleh penghuninya. Meskipun rumahnya sudah tua tapi masih tetap berdiri kokoh dan akan cukup nyaman untuk menampung sekitar 15 mahasiswa. Rumah itu pun berjarak sekitar dua rumah dari rumahnya Ramah. Saat masyarakat setempat melihat kedatangan mereka yang begitu menarik perhatian mereka sebagai orang awam yang jarang dapat melihat wajah-wajah orang-orang terpelajar yang berasal dari kota-kota dan berbagai pelosok daerah di wilayah Provinsi Jambi, pemuda-pemuda yang gagah dan para gadisnya yang cantik-cantik berkulit bersih dengan kerapian mereka yang seragam mengenakan baju almamater berwarna orange (merah muda).

Kedatangan mereka disambut ramah oleh bapak kepala desa dan para penduduk setempat yang rame oleh anak-anak yang ingin melihat mereka dari dekat, para mahasiswa pun tersenyum dan senang melihatnya dan mengajak beberapa di antara mereka bercakap-cakap dengan ibu-ibu maupun bapak-bapak yang ada disana sambil memperkenalkan diri mereka masing-masing.

Saat itu Ridwan adiknya Ramah juga ikut berkumpul disana bersama teman-temannya untuk melihat para mahasiswa tersebut namun tak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara Ridwan berteriak memanggil nama Ramah kakaknya sambil berlari ke arah seorang wanita yang ternyata adalah salah seorang peserta Kukerta dari UNJA tersebut, orang-orang yang ada disana pun jadi berpaling perhatiannya semua ke arah Ridwan yang sudah berada di depan wanita tersebut dan langsung memeluknya dan kemudian meraih tangan kanan wanita tersebut, lalu di genggamnya dan ditariknya seakan mau menyeretnya untuk diajak pulang ke rumahnya. “Yuh mbok balik kumah awak, mak sakit didumah, nyo sasuhong didumah..” Ajak Ridwan kepada gadis tersebut yang terlihat sangat bingung dan keheranan dengan sikap Ridwan kepadanya yang seakan sudah mengenalinya dengan baik. “maaf, adik ini siapa? Nama kakak bukan Ramah.. tapi Fira, adik mau ngajak kakak main ke rumahnya ya? sebentar dek ya, nanti kakak pasti akan main ke rumah adik..” Jawab gadis tersebut yang ternyata bernama Fira. “Mbok nyumbong, yuh balik mbok…” Ajak Ridwan lagi sambil merengek seakan mau menangis sambil menarik tangan Fira dengan kuat. Fira pun bingung dan langsung melihat ke arah teman-temannya dan terakhir pandangannya langsung tertuju kepada kepala desa yang terlihat sedang berjalan mendekatinya. “Ada apa dengan anak ini pak? Kenapa dia mengajak saya ke rumahnya? dan kenapa dia memanggil saya dengan nama Ramah?” Tanya Fira lansung kepada pak kepala desa. “Begini nak, anak ini dan keluarganya baru saja kehilangan kakak perempuannya yang meninggal karena bunuh diri, kematiannya nggak lama sekitar satu bulan yang lalu, sampai sekarang ini belum tahu penyebab kematiannya, malangnya lagi ibunya pun sekarang sedang mengalami gangguan kejiwaan karena belum bisa menerima kepergiaan anaknya yang begitu cepat dan menyesali atas sikapnya yang kurang pehatian terhadap anaknya yang bernama Ramah tersebut.” Cerita pak kepala desa tsb. “Oh… jadi begitu ceritanya pak, tapi pak kenapa dia kok bisa mengira saya ini kakaknya.. atau jangan-jangan karena saya mirip kakaknya pak ya.?” Tanya Fira penasaran. “Iya nak, bapak perhatikan dari tadi kamu memang sangat mirip dengan almarhumah Ramah kakaknya Ridwan, seperti nggak ada bedanya sama sekali, tinggi badannya, potong rambutnya, warna kulitnya dan semuanya mirip.” Jawab pak kepala desa. “Wah… jangan-jangan kamu dulunya terlahir kembar Fir? kok bisa ada orang yang mirip sekali sama kamu?” Sambung teman Fira yang juga sedang berdiri di sebelahnya. “Iya yak kok bisa ada orang yang mirip sekali dengan saya.” Ungkap Fira yang merasa heran. “Begini saja nak, jujur bapak dan semua masyarakat disini sangat kasihan melihat keluarga anak ini, setelah kematian kakaknya mereka harus menerima kenyataan bahwa ibunya tak lagi bisa berbuat apa-apa untuk melayani kebutuhan mereka, perhatian dan kasih sayang seorang ibu tak lagi mereka rasakan. Jika boleh bapak minta pertolongan mungkin sekiranya anak bisa menjenguk dan berkunjung ke rumahnya sekedar menguji perasaan hatinya akankah dia tersentuh nalurinya sebagai seorang ibu setelah melihat kembali sosok anaknya yang mungkin sangat dia rindukan dan dia harapkan untuk kembali.” Pinta pak kepala desa.

Fira yang sesaat melirik ke arah ridwan yang masih berdiri di dekatnya dengan tangan masih mengenggam erat tangan Fira membuat Fira lansung tersentuh hatinya juga ikut merasakan kesedihan atas kemalangan yang menimpa keluarga anak itu. “Iya pak, dengan senang hati saya akan melakukannya, dan insyaallah untuk demi kebahagiaan anak ini saya akan berusaha untuk melakukan apa saja agar keluarga mereka bisa bahagia kembali dan semoga saja dengan melihat sosok saya yang mirip seperti anaknya bisa mengembalikan kesadaran ibunya.” Jawab Fira dengan yakin kalau dia akan bisa melakukannya. “Baiklah, bapak sangat senang mendengarnya nak, bapak sangat berharap kita semua dapat saling membantu dan juga ikut mendoakan untuk diberikan kemudahan dan kebahagiaan pada keluarga anak ini.” Tambah pak kepala desa lagi. “Iya pak, bagaimana kalau sekarang saja kita kesana pak? Karena saya lihat anak ini sepertinya tidak akan mau melepaskan tangan saya..” Ajak Fira. “Iya nak, mari sekarang juga kita segera menuju kerumahnya.” Balasnya. Fira pun pamit kepada teman-temannya untuk pergi sebentar.

Sesampainya di rumah yang hendak dituju ternyata benar apa yang telah diperkirakan, ibunya Ramah yang biasanya tidak senang dikunjungi orang ternyata setelah melihat sosok Fira menjadi tertegun tak berkutik, Fira mencoba untuk memberanikan diri mendekatinya lebih dekat lagi dan duduk di depannya dan diambilnya tangan beliau untuk disalaminya oleh Fira, ibunya Ramah kemudian bersuara, “Ra…ra mah?” Ucapnya terbata bata. “Iya mak, saya Ramah anak mak..” Jawab Fira yang sengaja mengaku kalau dirinya Ramah untuk melihat respon beliau. “Ramah sudah pulang.. Ramah tidak mati… Ramah jangan tinggalkan mak lagi ya…” Ungkap ibunya Ramah. “Iya mak, Ramah tidak akan pergi.. Ramah akan tinggal disini bersama mak, bapak, dan adik Ramah..” Balas Fira. “Bapak mana mak?” Tanya Fira. “Bapak… bapak mu mana ya?” Ibu nya Ramah pun jadi bingung tak tau suaminya pergi kemana. “Bapak lagi pergi ke kebun mak.” Tiba-tiba muncul Hasan yang baru keluar dari kamarnya dan sepertinya dia baru bangun tidur. Fira yang belum tau dengan Hasan langsung bertanya dengan pak kepala desa yang duduk agak jauh dari mereka. “Abang ini siapa pak?” Tanya Fira. “Dia adalah Hasan kakaknya Ridwan yang paling tua”. Jawab pak kepala desa. “Oh…” Balas Fira sambil menggangukan kepala nya. “Fira, kamu ngobrol lah dulu bersama ibumu, bapak akan berbicara sebentar dengan nak Hasan.” Suruh pak kepala desa. “Iya pak..” Jawab Fira yang sudah mengerti akan maksud Pak kepala desa untuk berbicara empat mata dengan Hasan.

Pak kepala desa pun segera mengajak Hasan untuk duduk ke atas palamban yaitu teras rumah panggung rumah tersebut. “Begini nak Hasan, bapak ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting kepadamu dan ini demi untuk kesembuhan ibumu”. Ungkap pak kepala desa. “Hal apakah itu pak?” Jawab Hasan. “Begini, gadis yang sedang berada di dekat ibu mu itu adalah Safira, dia baru saja datang ke daerah kita ini untuk melaksanakan Kukerta utusan dari kampusnya di Universitas Jambi, dia datang bersama rombongannya yang berjumlah 15 orang, tadi kebetulan saat mereka datang Ridwan juga ikut melihat saat kedatangan mereka, kamu lihat sendiri wajah nak Safira itu mirip sekali dengan almarhumah adikmu Ramah, jadi tadi Ridwan mendadak lansung menghampiri Safira mungkin dia mengira Safira itu adalah Ramah, Ridwan menangis mengajak Safira untuk pulang.. Safira sempat bingung namun segera bapak ceritakan kepadanya atas kesalahpahaman itu hinggga bapak bawa Safira kesini. Nak Fira ikut bersedih dan kasihan dengan keadaan hidup kalian apalagi melihat Ridwan yang masih kecil, dia akan besedia untuk memberikan perhatian pada ibumu kalau memang nanti ada perubahan pada kondisi jiwa nya, dan selama dia masih melaksanakan kegiatan KKN nya disini dia akan berusaha untuk membagi waktunya untuk menjenguk dan merawat ibumu. Nah menurut nak Ridwan bagaimana? Apakah kamu menyetujui jika nak Fira ingin ikut merawat ibumu? Niat nya sangat tulus nak, dia hanya bermaksud menolong keluarga kalian agar ibumu bisa pulih kembali kejiwaan nya.” Tanya pak kepala desa kepada Hasan. “Sebenarnya saya mengikuti saja pak kalau memang itu baik bagi ibu, tapi nanti saya akan coba tanyakan dulu kepada bapak setelah beliau pulang dari kebun nanti”. Jawab Hasan. “Iya, nanti Hasan sampaikan kepada bapakmu ya.. katakan dengan baik-baik seperti yang telah bapak sampaikan kepadamu tadi, mudah-mudahan bapakmu setuju”. Ungkap pak kepala desa. “Iya pak nanti pasti saya sampaikan”. Jawab Hasan lagi. “Baiklah sekarang bapak pamit dulu karena hari juga sudah sore”. Dan Pak kepala desa pun pergi berserta Fira setelah mereka pamit kepada Hasan.

Keesokan harinya Fira yang tidak ada kesibukan di sore harinya datang lagi menjenguk ibunya Ramah dan dia datang bersama teman-temannya. Saat tiba di rumah Hasan ternyata ibunya Hasan sudah mulai mengalami sedikit perubahan dimana dia tidak lagi marah marah melihat kedatangan orang banyak yang ingin menjenguknya, itu karena dia merasa ada kebahagiaan setelah melihat kehadiran Safira yang dikira Ramah anaknya telah kembali. Setelah cukup lama mereka ngobrol-ngobrol disana akhirnya mereka pamit tapi kali ini Fira tidak diperbolehkan pergi oleh ibunya Hasan, dia meminta Fira untuk untuk menginap disana, dan teman-temannya pun memperbolehkan Fira untuk nginap disana.
Begitu lah seterusnya disaat Fira tidak ada kesibukan dia selalu menjenguk ibunya Hasan dan sesekali bermalam dirumahnya. Hal ini ternyata menimbulkan ada benih cinta antara Hasan dan Fira, Hasan yang berpenampilan sederhana dan apa adanya serta hanya bekerja sebagai penyadap karet membantu ayahnya ternyata mampu membuat hati Fira sedikit terhanyut dalam keharuan setelah melihat kepribadian Hasan yang sangat patuh kepada kedua orangtuanya, sopan sikap dan tindak tutur katanya serta sangat menyayangi keluarganya, dan yang semakin menggugah perasaanya untuk mendambakan sosok Hasan adalah karena Hasan juga taat dalam beribadah, sebaliknya Hasan pun diam-diam mengagumi sosok Fira yang selama ini tidak pernah ia duga ternyata ada seorang gadis yang mau berkorban dengan ikhlas memberikan perhatian dan kasih sayang kepada ibunya nya yang tidak sehat jiwanya dan seakan sudah dianggap oleh Fira seperti ibunya sendiri. Namun Hasan berfikir adalah salah besar jika rasa kagumnya itu ia anggap sebagai perasaan cinta, karena sedikit pun dia tidak akan berani berharap akan dapat memiliki gadis kota seperti Fira yang anak kuliahan sedangkan dia hanya pernah bersekolah di pesantren namun tidak selesai. Hasan memang tidak seperti pemuda lain yang selalu membuat masalah di kampungnya, yang sering mabuk-mabukan dan melakukan pekerjaan pekerjaan yang tidak bermanfaat.

Pada suatu malam terlihat seorang gadis dengan berpakaian khas Rantau Panjang yakni baju kurung dan kain sarung serta berkerudungkan jilbab berwarna biru muda, terlihat masih sangat muda dan cantik, dia datang bersama ibunya yang adalah kakak dari ayahnya Hasan, mereka datang berkunjung untuk menjenguk ibunya Hasan. Kebetulan Fira pada malam itu juga sedang berkunjung di rumah Hasan beserta tiga orang temannya Rika, Zaky dan Irzam. Pada saat gadis itu dan ibunya masuk rumah, salah seorang teman Fira yang bernama Irzam pun langsung berucap “Waw… bro nih cewek cantik banget..?!” Ungkapnya kepada Zaky yang duduk di sebelahnya dengan sedikit berbisik. “Iya bro.. cantiknya alami banget, putih bersih.. ini nih cewek yang paling gue dambakan bro..!” Bisik Zaky sambil mata nya terus melirik gadis tersebut yang akhirnya duduk tidak jauh dari mereka di samping ibunya Hasan duduk dan tidak jauh di sampingnya Fira duduk disana, dan Zaky yang dikenal sebagai cowok playboy itu pun sempat juga mengedipkan sebelah matanya ke arah cewek itu yang tak sengaja memandang ke arah Zaky. Mereka pun diperkenalkan oleh ayahnya Hasan kepada Fira, dan akhirnya keakraban pun terjalin karena obrolan mereka yang panjang pada malam itu, hingga pada pukul 10 lewat Fira dan ketiga temannya pamit pulang ke rumah posko mereka, kebetulan Fira tidak menginap disana karena merasa tidak enak dengan keberedaannya nanti karena saudaranya Hasan juga akan nginap disana dan kondisi ibunya Hasan pun sudah jauh lebih baik.

Setelah beberapa hari kemudian entah mengapa Fira tidak lagi terlihat mengunjungi ibunya Hasan dan ini membuat Hasan dan keluarganya heran, hingga terdengarlah kabar kalau Fira sedang mengalami sakit, yakni demam malaria yang sempat harus dirawat di rumah sakit satu hari satu malam dan kini sudah dibolehkan oleh dokter untuk dibawa pulang. Hasan yang mendengar kabar itu ikut prihatin dan dia pun berniat untuk menjenguk Fira di rumah poskonya. Hasan tidak pergi sendirian, ia pada hari itu kebetulan dikunjungi kembali oleh bibi nya, yakni saudara ayahnya yang memiliki anak gadis cantik bernama Misna. Ia mengajak Misna menemaninya, Kedatangan Hasan dan Misna disambut baik oleh teman-teman Fira yang pada saat itu sedang berada di posko termasuk Irzam yang adalah teman dekat Fira cowok satu-satunya yang selalu perhatian dan setia menjaga Fira saat dia lagi mengalami sakit. Hasan dan Misna diizinkan oleh teman-temannya untuk melihat kondisi Fira yang masih terbaring lemah di kamarnya. Fira menyambut mereka dengan bahagia apalagi melihat Hasan yang sudah beberapa hari tak dilihatnya dan membuatnya rindu dan teringat dengan ibunya Hasan yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. “Fir, abang sanga mohon maaf.. karena baru menjengukmu sekarang, abang baru tadi pagi mengetahui kabar dari pak kepala desa kalau dirimu lagi sakit dan sampai dirawat di rumah sakit”. Ungkap Hasan. “Iya bang, tidak apa-apa, sekarang alhamdulilah Fira sudah sembuh dan tidak demam lagi hanya saja kondisi badan Fira masih lemah karena belum ada selera makan”. Ungkap Fira.

Tidak lama perbincangan mereka akhirnya Hasan dan Misna yang juga sudah cukup akrab dengan Fira pamit untuk pulang dan juga pamit dengan teman-temannya Fira. Saat mereka berdua mau melangkah keluar dari pintu rumah bersamaan dengan itu datang serombongan cowok dengan mengendarai sepeda motor berhenti tepat di halaman rumah posko Fira. Ternyata salah satu dari mereka adalah Zaky, Hasan yang mengenal wajah Zaky saat datang ke rumahnya pada malam itu menyapa dan tersenyum ke arah Zaky. Zaky pun membalasnya. “Eh Hasan, mau langsung pulang ya? kok buru-buru pulangnya..” Basa basi Zaky. “Iya nih buru-buru mau pulang soalnya hari sudah sore, Misna nya takut kelamaan udah ditunggu sama ibunya di rumah”. Balas Hasan. “Oh.. jadi adik yang cantik ini Misna ya namanya, kenalan dulu dong, kan kita belum kenalan.. biar nanti mana tau aja kalau kita ketemu lagi kan dah tau namanya”. Rayu Zaky. Saat Zaky sudah mengulurkan tangannya Misna hanya memberi salam dengan mengangkat tangannya ke atas dan sambil menyebutkan namanya yang artinya sebagai salam seorang wanita muslimah dia tidak mau berpegangan tangan dengan seorang lelaki yang bukan muhrimnya. Dan melihat itu salah seorang temannya Zaky berkomentar. “Alaah.. perempuan sekarang munafik… gaya nya aja nggak mau salaman tangan, padahal aslinya udah sering dijamah lelaki”. Ungkapnya dengan nada sedikit keras dan diikuti dengan tertawaan temannya yang lain. Mendengar itu sudah pasti membuat hati Misna panas karena dia menyadari itu kalimat yang sangat merendahkan dirinya sebagai seorang perempuan Muslimah yang berasal dari sekolah pesantren tapi dia akan berusaha untuk sabar. “Maaf.. abang boleh saja katakan apa saja yang abang mau, tapi perlu abang ketahui tidak semua cewek yang bisa saja gampang diperdaya oleh banyak lelaki, Allah adalah saksi kalau di antara semua wanita di dunia ini masih sangat banyak yang mulia dan terhormat..!”. Ungkap Misna dengan tegas kepada mereka. “Oh ya? Waw hebat sekali adik ini.. sudah pintar berceramah rupanya, ya sudah lupakan saja.. adik ini dari pesantren kan? kok sore-sore gini berkeliaran jalan-jalan sama cowok?”. Ungkap cowok itu lagi. “Maaf bang ya, antara saya dan Misna masih bersaudara, dia adalah adik sepupu saya.. kami berdua berniat baik datang kesini untuk menjenguk Fira, kami harap abang jangan berprasangka buruk terhadap kami”. Hasan yang juga panas oleh ucapan laki-laki itu pun terpaksa berkomentar membela misna. “Oups… ternyata kalian berdua bersaudara, maaf deh saya kira kalian pacaran.. berarti boleh dong saya minta nomor Handphone nya dia?”. Ungkap cowok itu lagi. “Kebetulan dia tidak punya Handphone, di pesantren dilarang menggunakan handphone”. Ungkap Hasan lagi. “Ah nggak percaya saya, kalau diluar pesantren pasti dia memakai HP, ya kan dek..? jujur aja lah..”. Balas lelaki itu yang nggak mau kalah. “Sudah lah bang.. kita pulang saja, tidak baik berlama-lama disini”. Misna pun mengajak Hasan pulang. “Eh.. kok gitu sih dek? tunggu bentar napa..?”. Balas laki-laki itu lagi. Namun Misna tidak menghiraukan lagi omongan laki-laki itu, dia segera beranjak dari tempatnya berdiri mendahului Hasan dengan sedikit berlari. Hasan pun juga beranjak pergi dan hanya meninggalkan kalimat. “Maaf bang, kami harus pergi..!”. “Hei… jadi cewek sombong banget sih, sok jual mahal segala..! pacaran aja tuh sama saudara mu sendiri!”. Teriak cowok itu agak sedikit kesal.

Namun mereka tetap tidak menghiraukan. “Bro, kamu kok kasar banget sama cewek, kalau dia nggak mau jangan dipaksa dong, kamu harus sadar kita ini bukan berada di kota, perempuan desa tu beda dengan dikota, kamu harus jaga sikap kamu, nggak enak kan nanti dipandang sama warga di sekitar sini..!”. Zaky yang tadi diam menasehatkan temannya. “Emang gue pikirin..! Eh sejak kapan kamu bisa perhatian ama cewek, kamu naksir ya sama cewek tadi..!?”. Tanya cowok itu kepada Zaky. “Persoalan naksir atau nggak itu urusan gue, seharusnya kamu itu bisa membedakan mana cewek yang baik dan yang tidak baik, kamu tau nggak ucapan yang kamu lontarkan tadi sangat menyakitkan bagi seorang wanita, lain kali kamu harus bisa menghargai perasaan wanita karena suatu saat kau pasti akan membutuhkan seorang wanita yang akan menjadi pendampingmu”. Zaky pun menambahkan nasehat kepada temannya yang arogan itu. “Ya udah cukup.. cukup Zek, saya sudah paham dengan perubahan sikapmu yang sekarang, mending sekarang kita lupain saja kejadian yang tadi karena saya mau masuk rumah dulu, saya mau istirahat”. Balas cowok itu menutupi pembicaraan mereka pada sore itu.

Satu bulan kemudian terdengarlah kabar kalau Hasan dan Misna akan dijodohkan oleh orangtua mereka, dan perjodohan itu sebenarnya sudah lama direncanakan sebelum almarhumah Ramah meninggal tapi baru sekarang dimantapkan keputusannya karena Misna yang dulu masih berat untuk menikah muda akhirnya terbuka pintu hatinya untuk Hasan. Pernikahan itu akan segera dilaksanakan dirumah Misna yang cukup lumayan jauh jaraknya dari rumah Hasan karena berbeda desa. Dua hari menjelang pernikahan mereka rombongan Fira pun berakhir kegiatan Kukertanya dan mereka semua harus pulang ke kota untuk melanjutkan kembali study perkuliahan mereka. Fira sudah begitu akrab dengan keluarganya Hasan, sangatlah tidak sopan jika ia pergi tanpa pamit kepada mereka. Sayangnya saat Fira akan pamitan ternyata Ibunya Hasan memaksa agar Fira mengundurkan hari kepulangannya setidaknya hingga menjelang selesai pernikahannya Hasan. Fira yang sudah merasakan kasih sayang seorang ibu dan ayah terhadap orangtua Hasan ternyata membuatnya tak dapat menolak. Meskipun di hatinya menyimpan rasa sedikit kecewa karena Hasan telah menjatuhkan pilihannya kepada Misna sebagai pendamping hidupnya.

Fira telah menunda hari kepulangannya namun dia tidak sendiri, Irzam yang kebetulan berasal dari daerah yang sama dengan Fira merasa tidak tega meninggalkan Fira sendirian di desa sedangkan teman teman yang lain sudah pulang semuanya, dia bersedia menemani Fira hingga mereka akan pulang bersama nanti ke kota. Hingga tibalah saatnya pada suatu malam dimana besok paginya Hasan dan Misna dinikahkan. Fira yang pada malam itu harus menginap di rumah Hasan sebagai malam terakhir untuk menghabiskan kebersamaan bersama keluarganya Hasan, dia tidur bersama ibunya Hasan, sedangkan Irzam yang juga tidak ada pilihan lain pada malam itu juga harus tidur di rumah Hasan.

Entah mengapa pada malam itu Fira yang tidur di samping ibunya Hasan mengigau menyebut nyebut nama Hasan hingga terlontar sebuah kalimat yang membuat ibunya Hasan yang tak sengaja mendengarkan kaget tak percaya. “Bang Hasan, Fira ingin tinggal disini bersama abang, Fira cinta sama abang.. Fira ingin tinggal sama ibu dan ayah disini selamanya..”. Begitulah kalimat yang terdengar oleh ibunya Fira pada malam itu. Sebaliknya Hasan pun melontarkan kalimat yang sama.. dimana Irzam yang pada malam itu tidur di samping Hasan mendengarnya dengan jelas termasuk ayahnya Hasan.

Keesokan harinya saat jam menunjukan pukul 7 pagi, Hasan pun dipanggil oleh ibunya beserta Fira untuk mempertanyakan kepada mereka berdua untuk berbicara jujur dengan perasaan mereka. Dan akhirnya terbuka lah rahasia dua orang insan yang telah lama memendam perasaan cinta itu. Pernikahan pun dibatalkan, kedua orangtua Hasan dengan segera menyampaikan berita itu kepada Misna dan keluarganya, meskipun sakit dan pahit yang diterima Misna karena harapannya kandas untuk mempersuamikan Hasan yang sudah mulai dicintainya itu tapi ia akan berusaha untuk ikhlas dan dia percaya bahwa Allah akan menemukan dia dengan jodohnya suatu saat nanti. Hingga tiba lah saatnya Fira dan Irzam untuk pamit pulang ke kota, Fira dan Hasan pun sudah sepakat bahwa mereka akan bertemu kembali tidak lama lagi saat Fira sudah mendapatkan gelar sarjananya, dan Hasan berjanji untuk setia menunggu Fira hingga dia tamat kuliahnya.

Tepat pukul 2 siang.. tibalah saatnya Fira dan Irzam untuk pamit kepada Hasan dan keluarganya, mereka berdua akan naik mobil Family Raya dari kota Bangko ke Jambi tepatnya dengan tujuan daerah Batanghari, namun untuk sampai ke kota Bangko mereka harus mencari angkot atau ojek yang mau mengantarkan mereka kesana yang perjalanannya kira-kira memakan waktu setengah jam. Akhirnya mereka memutuskan untuk naik angkot saja dan kebetulan salah satu family Hasan ada yang punya angkot dan dia bersedia untuk mengantarkan mereka berdua ke kota Bangko.

Saat mereka akan melangkahkan kaki untuk naik keatas angkot yang akan mereka tumpangi tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil nama Fira. “Kak Fira tunggu..!”. Teriak suara wanita itu. Fira pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya yang ternyata dia adalah Misna. Fira sedikit kaget melihat kedatangan Misna yang berjalan ke arahnya dan dia jadi merasa tidak enak karena diliputi rasa bersalah telah merebut Hasan yang akan menikah dengannya. “Ada apa Mis?”. Dengan agak berat Fira pun berusaha untuk bersuara. “Kak, Misna datang kesini mau mengucapkan selamat jalan, kakak hati hati di jalan, dan ingat.. kakak harus menjaga cinta kakak untuk bang Hasan, Misna tau cinta bang Hasan sangat besar untuk kakak, dan orangtuanya bang Hasan sangat menyayangi kakak seperti anaknya sendiri, dan melihat kakak rasanya Misna kembali melihat kehadiran sosok kak Ramah pada diri kakak, dia orangnya begitu sabar dan lemah lembut seperti kakak, semoga cinta kak Fira dan bang Hasan akan mulus hingga berakhir di pelaminan”. Ungkap Misna dengan sedikit terbata bata. “Amin, kakak nggak tau harus membalas dengan apa atas kebaikanmu kepada kakak Mis, kakak merasa sangat bersalah telah mencintai bang Hasan hingga saat ini membuat pernikahanmu yang akan berlangsung hari ini menjadi batal, dan kakak mohon maaf jika membuat hatimu sakit dan kecewa atas sikap kami yang tak bisa jujur dengan perasaan kami dari awal. Sekali lagi kakak mohon maaf ya Mis.. kakak sangat yakin suatu saat wanita yang hatinya begitu tulus sepertimu akan diberikan jodoh yang lebih baik segala galanya sama seperti mu.. amin”. Ungkap Fira dengan wajah berkaca kaca karena terharu dengan kebaikan Misna. “Kakak nggak perlu merasa bersalah, yang jelas Misna sudah ikhlas merelakan bang Hasan untuk kakak, kalian sangat cocok dan serasi bagi Misna, karena bang Hasan ganteng, soleh dan baik hati berdampingan dengan sosok kak Fira yang juga sangat cantik dan baik hati”. Tambah Misna lagi hingga membuat hati Fira merasa sedikit tersanjung dan lega mendengar ungkapan hati Misna secara langsung dari mulutnya. “Terimaksih ya Mis.. kamu telah membuat hati kakak merasa sangat bahagia hari ini, kamu juga sebenarnya jauh lebih cantik dari kakak, masih muda dan soleha.. benar nggak Zam?” Sambung Fira dengan sedikit menggoda Irzam yang terdiam dari awal mendengar pembicaraan antara mereka berdua. Ýaa…, sangat cantik”. Balas Irzam yang mendadak dan jadi salah tingkah. “Nah… kalau boleh kakak ngomong jujur nih ya, kayaknya kak Irzam boleh nih daftar buat jadi calon nya Misna kalau mau, kak Irzam belum punya pacar lho Mis… dia satu satunya teman kakak yang orangnya Soleh, cerdas dan paling perhatian dan bertanggung jawab.. buktinya sekarang dia rela menunggu dan menjaga kakak sampai pulang”. Goda Fira yang berhasil membuat Irzam tersenyum dan akhirnya mengeluarkan suara juga. “Itu terlalu berlebihan lho Fir, saya nggak suka dipuji yang berlebihan.. kan Misna bisa lihat sendiri bagaimana saya… saya memang apa adanya seperti ini, udah jelek… miskin nggak punya apa-apa..”. Ungkap Irzam dengan nada pelan merendahkan diri. “Alaah.. lebay banget kamu Zam, emang kamu itu nggak pernah berubah ya Zam.. nggak mau bersyukur dengan apa yang telah tuhan berikan kepadamu”. Ungkap Fira lagi. “Lha… kan emang begitu adanya Fir, jadi orang kan harus jujur, ya nggak dek?”. Balas Irzam sambil melirik ke arah Misna. “Emang benar kok yang dibilang kak Irzam kalau kita itu nggak boleh bohong kepada orang lain termasuk membohongi diri sendiri… tapi jujur menurut saya abang nggak jelek kok, dan abang juga kelihatannya adalah cowok baik-baik yang jauh lebih baik sikapnya dibandingkan dengan teman teman abang yang dulu kukerta disini”. Terang Misna. “Ehmm… ehmm… siapa tuh yang dipuji, Kayaknya ungkapan yang jujur banget nih dari adikku Misna”. Canda Fira lagi kepada Irzam. “Ahh.. adik bisa aja memuji abang, jadi malu nih..”. Ungkap Irzam malu malu. “Ya sudah… sekarang yang lagi malu malu salaman dulu sama Misna, dan bilang sampai jumpa lagi kalau ada jodoh pasti datang lagi.. dan akan menjemput sang pujaan hati, oke?”. Ungkap Fira sambil melirik kearah Irzam.” Kalau begitu sekarang kakak berangkat dulu ya dek ..jaga diri baik-baik, sampaikan salam kakak sekali lagi buat semua keluarga, kapan ada waktu luang kakak pasti akan berkunjung kesini”. Tambah Fira lagi.

Akhirnya mereka pun berangkat meninggalkan desa Kampung Baruh, Rantau Panjang Tabir dengan hati bahagia berbunga bunga karena suatu saat harapan Fira untuk berbahagia bersama sang pujaan hati sudah menuggu di depan mata, termasuk Irzam yang menanti jawaban apakah cintanya akan berlabuh untuk si gadis desa nan cantik bernama Misna dikemudian hari, dan hanya waktu yang bisa menjawabnya.

~ THE END ~

Cerpen Karangan: Faira Afzazs
Blog: www.fairaafzazsblog.blogspot.com

Cerpen Gadis Pengganti Menemui Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Gift

Oleh:
“Cie Alsey!.. cinta datang tiba-tiba nih!” teriak Carl, salah satu teman sekelasku. “aduh, mukanya memerah!” tambah Kavitha menggoda. Lalu bagaimana aku? Aku tetap duduk di bangku ku, menundukkan kepala,

Diary Chelsea

Oleh:
Chelsea, itulah namaku. Aku terlahir dari keluarga kecil bahagia. Ayah, ibu dan adik. Ketiga orang itu, orang terhebat dalam hidupku. Pagi ini, aku kesal. Atau bahkan setiap pagi. Aku

Karena Reuni Mempertemukan Kita

Oleh:
“Na, ntar loe nanya Nicholas, rangkumanku udah di FotoCopy apa belom”, ucapku pada sahabatku, Venna. “Sipp! Ntar aku kasih tau”, jawabnya. “Okay! Byee”, kataku sambil berjalan pergi. Aku keluar

Radar Cinta Prosesus dan Brontosrious (Part 1)

Oleh:
Setiap malam aku selalu berpikir untuk menemukan radar cinta dari prosesus pangeran ganteng dari negri kayangan. agar suatu saat nanti aku bisa mendapakan cinta dari prosesus.. aku menyebutnya prosesus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *