Gadis Penjual Pulsa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 January 2016

Sudah seminggu lamanya aku tidak mengisi pulsa, aku juga jarang mengecek sisa pulsa yang aku miliki, ketakutan sering melanda jika aku melakukan itu. Entahlah, aku ini tipe pria seperti apa. Yang jelas aku pria yang baik. Malam itu, aku sudah mendownload 6 lagu dan hal ini membuatku harus mengeceknya. Ku mainkan jemariku di atas layar handphone dan benar, pulsaku mulai menyusut. Aku segera ke luar dari kamarku dan bergegas mengisi pulsa. Ku pacu motor maticku dan melaju di tengah gerimis. Malam itu tak begitu banyak kendaraan yang melintas. Aku mencari tempat penjual pulsa di sekitar rumahku namun tutup. Aku tak bisa pulang tanpa hasil, maka kembali aku memacu motorku mencari di tempat yang lain.

Semakin jauh aku berjalan, semakin aku kedinginan. Gerimis menjelma menjadi hujan yang lebat. Tanpa disadari aku sudah memasuki kawasan bandara. Terang lampu jalan seakan memberi harapan, dan akhirnya aku menemukan sebuah kios pulsa. Di seberang jalan, aku memakirkan motorku. Aku menggigil kedinginan dan berjalan menuju kios itu. Di sana aku menemui seorang gadis berambut panjang sedang menulis sesuatu di bukunya. “selamat malam” aku menyapanya dengan pelan. Gadis itu mengangkat wajahnya dan memperhatikanku secara detail. Kami bertatapan, lalu dengan senyum tipis dia membalasnya “yah, selamat malam”. Dia berdiri dari tempat duduknya dan mengambil handphone untuk diberikan padaku. Aku mengisi nomor dan nominal pulsa yang aku inginkan, lalu menyerahkannya kembali. Wajahnya yang cantik memberi kesan hangat untuk aku nikmati.

“sudah ya, pulsanya!” ucapnya kepadaku. Saat aku membayar, gadis itu bertanya “kamu tinggal di mana?”
“butuh waktu 30 menit untuk sampai di sini” jawabku.
“sepertinya kamu kedinginan masuklah, aku akan membuatkan secangkir teh untukmu,” aku menganggukkan kepala.

Dalam hatiku berbisik, ini adalah kali pertama aku ditawari minum oleh penjual pulsa, terlebih dia adalah seorang gadis. Aku melangkah ke dalam kiosnya, mengambil kursi dan duduk di dekat pintu. Hujan di luar semakin deras, dan aku pasti lama di sini. Gadis itu kemudian memberikan secangkir teh dan sebungkus tisu kepadaku. Aku meminumnya sembari berkata “maaf sudah merepotkan” dia tertawa dan mengatakan “aku justru senang melakukannya.” Kami berdua bercerita banyak hal. Kami tertawa bersama seperti dua orang yang sudah saling akrab. Di tengah canda aku bertanya sesuatu yang sedari tadi mengusik otakku “kamu tidak keberatan jika aku menanyakan sesuatu?”

“tanyakan saja, aku akan menjawabnya” dia menatap ke dalam mataku, menunggu pertanyaan yang akan aku ajukan.
“apa kamu biasa melakukan hal ini kepada setiap pembeli?” dia tersenyum. “tidak. Ini adalah kali pertama aku melakukannya?” aku semakin penasaran maka aku bertanya lagi.
“kamu tidak takut jika aku orang jahat?”
“tidak.”
“kenapa kamu begitu yakin?” sambungku.
“karena aku tahu, kamu tidak akan melakukan itu” aku tertegun.

Untuk sesaat kami saling diam. Dia mengambil buku kecil yang tadi ditulisnya, kemudian menunjukkannya padaku. Aku meraihnya. Ternyata berisi sketsa wajah seseorang. Dia menggambarnya dengan begitu sempurna. Aku terkagum melihat sketsa itu, dia lalu bercerita “itu adalah mantan pacarku. Dia meninggal dalam perjalanan menuju jepang, pesawat yang ditumpanginya tersambar petir dan…” pembicaraannya terputus, dia menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Aku mulai salah tingkah, aku membujuknya agar tidak menangis. Dia kemudian menyeka air matanya dengan tisu yang aku berikan. “aku turut berduka” jawabku singkat. Di antara sisa air mata yang berlinang ada senyum manis yang dia tunjukkan. Dengan sedikit terbata dia pun berujar, “dia mirip denganmu bukan?”

Aku hanya senyum mendengar ucapannya. Harus aku akui, sketsa yang digambarnya memang mirip denganku. Aku menaruhnya di atas meja namun dia menyuruhku untuk menyimpannya. Bisa jadi, pertemuannya denganku malam ini menghidupkan lagi kenangan antara dia dan orang yang sudah tiada. Hujan mulai reda dan malam semakin larut. Bintang bermunculan di antara kepingan awan. Aku mengantarnya pulang, dalam perjalanan dia memelukku dengan erat. Ada rasa canggung tapi aku menikmatinya.

Sesampainya di depan rumah dia pun turun dan sebelum kami berpisah dia bertanya.
“siapa namamu?” aku menyodorkan tanganku dan menjawab “aku Rizal dan kamu?”
“aku Felicia terima kasih sudah mengantarku pulang,” dia mengajakku masuk ke rumahnya. Namun aku menolak. Dia tersenyum kepadaku. Aku sempat meminta nomor handphone-nya namun dia menjawab, “kamu sudah tahu rumahku, datanglah. Kapan pun kamu mau!”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, dia membalikkan badannya, dan menuju ke dalam rumah. Sesampainya di depan pintu, dia menoleh ke arahku, melambaikan tangan lalu tersenyum. Aku membalikkan motorku dan pulang. Di rumah, aku segera menulis kejadian ini menjadi sebuah cerita. Aku membuka handphone dari saku celanaku dan kertas bergambar sketsa itu jatuh ke lantai. Aku mengambilnya dan membuka kertas itu. Aku memandang kertas itu dengan rasa kagum. Di belakang kertas itu, tertera nama Felicia dan sebuah nomor handphone. Kini aku tahu, apa yang harus aku lakukan.

Cerpen Karangan: Rizal
Blog: rizalistis.blogspot.com
Seorang mahasiswa sosiologi unsrat yang gemar menulis di blog. Penikmat kopi dan pecinta sastra. Twitternya @rizalistis

Cerpen Gadis Penjual Pulsa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


MoU Cinta (Part 3)

Oleh:
Aku sudah membuat list untuk isi MoU nanti. Hari ini aku akan bertemu dengan cowok yang tidak kutahu namanya itu untuk membahas hal tersebut. Kami janjian bertemu di sebuah

Ternyata Kamu

Oleh:
Aku pun termenung mengingat semua itu. Oh tuhan… sungguh benar-benar membuatku tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Semua yang ku ingat tentangnya itu benar-benar kejadian yang konyol, gila bahkan membuat

Catatanku di Perjalanan Singkat Waktu

Oleh:
Perjalananku ke Semarang hampir sampai, sepuluh menit lagi Stasiun Tawang akan tampak. Malam terus bergulir, sepi.. dan kesepian ini mengikutiku, membiaskan perjalananku yang lalu-lalu, meniti galau yang lama ku

Untitled (Part 1)

Oleh:
Mentari tersenyum menyambut insan yang terbangun dari buaian mimpi. Setelah melakukan semua aktivitas pagi mulai dari bersih-bersih, menyiram bunga, mandi dan lain-lain, aku segera mengambil seragam osis yang tergantung

Tahun Baru Untuk Helen

Oleh:
Cinta itu aneh, kadang orang yang kita cintai tak mencintai kita dan orang yang mencintai kita tak kita cintai. namun, di balik semua itu hanya satu kata yang tepat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gadis Penjual Pulsa”

  1. Sound Na says:

    Sederhana tapi bermakna. Gue suka cerpen lo, bro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *