Ganda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 April 2016

Namaku Reyhan. Lengkapnya kau tidak perlu tahu. Hanya seorang mahasiswa biasa di sebuah Universitas biasa. Begitulah kehidupanku, terdengar membosankan. Memang, aku selalu merasa jenuh dengan apa yang ku lakukan setiap hari. Rutinitas setiap hari benar-benar monoton dan statis, hampir tidak ada perubahan yang berarti. Di kampus, aku bukanlah tipe-tipe anak yang populer, tetapi bukan juga tipe-tipe anak yang tertindas. Aku biasa saja. Begitulah teman-temanku biasa menyebutku. Dan pagi hari ini, aku harus berangkat kuliah lagi seperti biasa. Ada kelas pagi yang harus ku hadiri dan mengingat dosen yang akan mengajar terkenal killer, aku berusaha keras untuk bangun pagi.

Ya, dan berakhir dengan kegagalan. Ayolah, semua laki-laki menyukai pertandingan sepak bola, oke? Jadi, tolong jangan salahkan aku yang terlambat bangun karena larut menonton pertandingan itu. Aku memang dikenal sebagai tukang terlambat, tetapi kali ini dampaknya benar-benar buruk. “Terlambat lagi, Reyhan? Saya sudah bosan memberi kamu hukuman, kali ini saya berbaik hati akan melarang kamu mengikuti pelajaran saya selama dua minggu kedepan.” Dosen bertubuh gempal itu menatapku selidik dari balik kacamatanya. Aku hanya bisa pasrah saat dia menutup pintu kelas. Pupus sudah harapanku untuk kuliah pagi ini. Selama beberapa saat, aku hanya bersender pada dinding kelas. Tetapi pada akhirnya, aku beranjak pergi. Toh, tidak ada yang bisa ku lakukan.

Sepertinya Dewi Fortuna benar-benar tidak berpihak padaku hari ini. Rintik-rintik hujan mulai jatuh dari langit, membasahi bumi. Aku yang sedang berjalan di trotoar, mempercepat langkah menuju tempat berteduh terdekat. Dan pilihanku jatuh pada kafe dengan plang yang bertuliskan ‘Sakura Cafe’. TING TING.
“Selamat datang di Kafe Sakura! Mau makan di sini atau–”
“Makan di sini.” Ujarku cepat. Pelayan itu lalu mengedarkan pandangan, mencari tempat yang cocok untuk ku duduki. Sayangnya, mungkin karena hujan juga, dia hanya menemukan tempat di depan seseorang yang sudah ada di sana.
“Maaf, apa tidak apa-apa di sini?” Karena tidak berniat ingin berdiri sampai pegal, aku mengangguk.

Sekilas, dapat ku lihat orang yang duduk mengenakan hoodie abu-abu itu mendongak. Ternyata seorang perempuan. Setelah memesan, aku hanya diam sambil terus menoleh pada dinding kaca yang berembun. Tak lama kemudian, pesananku datang. Cappucinno. Aku sedang tidak ingin menghabiskan uang bulananku, toh, ini sudah tanggal tua. Dari sudut mata, aku bisa melihat gadis itu mengeluarkan sesuatu. Tunggu, bukankah itu komik Naruto?

“Kau suka Naruto?” ceplosku tanpa sadar. Mulutku ini memang tidak bisa dikontrol kalau melihat hal yang ku sukai.
Dia terlihat mengerutkan keningnya dan mengangguk pelan. “Ya, begitulah, kau juga?” Sekedar berbasa-basi, dia menjawab. Tapi dia menjawab pada orang yang salah.
“Yap! Tentu saja! Aku sangat suka adegan di mana Sasuke tahu kalau Itachi sebenarnya berniat menolongnya, bukan membunuhnya, itu Volume 70 kan? Pasti kau sudah melewati volume itu,” Dia akhirnya tampak tertarik. Dan kami terlibat percakapan panjang mengenai hal yang sama kami sukai. Dewi Fortuna ternyata tidak sejahat itu. Buktinya, aku tidak dibiarkan mati kebosanan karena menunggu hujan reda, kan?

Entah ini kebetulan atau apa, lagi-lagi aku bertemu dengan gadis itu lagi di kafe yang sama. Aku memang sengaja datang ke kafe ini karena menyukai cappucinnonya, tak ku sangka dia juga di sini. Bahkan di kursi yang sama. “Hei, kau masih ingat aku?” tanyaku sambil duduk di kursi di depannya. Dia mendongak dan tersenyum. Wow, ini pertama kalinya melihat dia tersenyum. Karena sewaktu kami membicarakan Naruto pun, dia tetap memasang wajah datarnya.

“Tentu, Reyhan kan? Apa kabar?” Dan dia berubah menjadi ramah.
Aku tidak terlalu memperhatikan perubahan itu tetapi langsung senang karena akhirnya dia cukup terbuka padaku.
“Ya, Kaelin, aku baik-baik saja, omong-omong apa yang kau lakukan di sini? Membaca Naruto?” tanyaku. Kaelin, dia memberitahu namanya waktu itu.
Kaelin tersenyum. Dia sangat sering tersenyum, mungkin suasana hatinya sedang baik.
“Tidak, aku hanya menghabiskan waktuku,” Aku mengangguk sekilas.
“Memangnya kau tidak kuliah? Kita seumuran bukan?” Ekspresi Kaelin berubah.
Kaelin menunduk dan mendongak lagi. Kali ini entah kenapa matanya menyiratkan sesuatu.

“Aku …. orangtuaku melarangku kuliah, aku homeschooling, lagi pula kita terpaut dua tahun loh,”
“Ah, maafkan aku, Kae,” ujarku karena merasa bersalah.
“Tidak-tidak, kau tidak berkata salah sama sekali, omong-omong, aku suka nama Kae yang kau berikan,” ujarnya sambil tersipu malu. Aku seketika salah tingkah. “B-bagus kalau kau suka,”
Dan kami saling menunduk. Seolah tahu kalau benih-benih itu mulai muncul.

Ini kali ketiga aku bertemu Kaelin. Dan dia tampak berbeda.
“Hei, Kae, apa kabarmu?” tanyaku langsung saat sudah duduk tepat di depannya.
Kaelin terlihat terkejut lalu menatapku. “Reyhan? Ya, aku baik.” Ujarnya singkat. Bahkan dengan pandangan menusuk.
Aku mengernyit, perubahan ini terlalu tiba-tiba.
“Apa kau benar baik-baik saja? Sepertinya kau sedikit pucat,” Baru saja tanganku akan terangkat untuk menyentuh dahi Kaelin, dia sudah menepisnya duluan.
“Aku baik-baik saja! Lebih baik kau pergi Reyhan.” Ujarnya bergetar. Seolah menahan sesuatu.
“Kau terlihat sama sekali tidak baik-baik saja, ceritakanlah, mungkin aku bisa membantu,” Aku tetap bersikeras. Tetapi reaksi Kaelin di luar dugaanku. Dia langsung bangkit dan berlari meninggalkan kafe. Aku masih melongo selama beberapa saat sampai akhirnya ikut mengejarnya. Sayangnya, dia sudah menghilang di trotoar saat aku ke luar kafe.

Karena kejadian itu, aku jadi berpikir untuk memberikan waktu bagi Kaelin. Sebut aku pengecut atau apa, tapi itulah saran yang teman-temanku berikan kepadaku saat aku menceritakan tentang Kaelin. Dan sudah dua minggu ini aku tidak pergi ke kafe Sakura. Tetapi sekarang, aku memutuskan untuk ke sana kembali. Untuk bertemu Kaelin sekaligus meminta maaf kalau aku terkesan ikut campur masalahnya.

TING TING

“Selamat datang di– ah kau yang waktu itu,” Pelayan yang biasa menyapa pengunjung langsung menghampiriku. Aku mengernyitkan kening. Ada apa ini? “Ada titipan dari gadis yang selalu duduk denganmu, ini.” Pelayan itu mengeluarkan sesuatu dari saku apronnya. Amplop.
“Apa ada lagi?” Pelayan itu menggeleng dan mulai mencari tempat duduk untukku.

Sayangnya, aku juga tidak menemukan Kaelin di tempatnya yang biasa. Tempat itu sudah diduduki dua orang pria yang sepertinya orang kantoran yang tengah istirahat makan siang. “Apa di sana tidak apa-apa?” tanyanya sambil menunjuk meja di tengah ruangan. Aku mengangguk sekilas dan menuju meja itu. Setelah duduk, aku perlahan membuka amplop yang katanya pemberian Kaelin. Surat. Aku terperangah membaca isinya dan seketika, perasaan bersalah menyelubungiku.

“Hai, Reyhan. Mungkin, saat kamu membaca ini, aku sudah tidak akan pernah bertemu denganmu di kafe lagi. Kenapa aku memutuskan untuk memberimu surat saja? Begini, kau orang pertama yang berhasil memasuki hatiku, haha, menggelikan. Jadi, aku memutuskan untuk memberitahu semuanya. Ya, semuanya. Kalau aku… sebenarnya berkepribadian ganda. Kau sudah lihat bukan? Sebenarnya, aku seperti Kaelin yang waktu itu, yang menyukai Naruto, bukan yang ramah. Mungkin kau akan terkejut, tetapi sudah tidak ada gunanya. Aku sudah pergi untuk berobat ke tempat yang sangat jauh dari kafe Sakura. Jadi… begitulah. Maaf, aku memang seaneh ini. Lagi pula, aku terlalu takut untuk memberitahumu, karena mungkin kau akan menjauhiku. Maaf karena memberitahumu lewat surat ini, bahkan aku belum mengucapkan selamat tinggal. Aku menyukaimu, omong-omong, haha. Seperti Hinata menyukai Naruto. Semoga kau sehat selalu, Dari Kaelin, yang menyukai Naruto.”

“Hai Reyhan! Ini aku, Kaelin yang ramah. Haha, mungkin kau bingung tetapi tenang saja, aku hanya ingin memberitahumu sesuatu. Toh, Kaelin yang menyukai Naruto sudah menjelaskan semuanya, jadi biarkan aku menjelaskan sisanya. Aku juga menyukaimu loh! Dan walaupun kita tidak akan bisa bertemu lagi, aku akan tetap menyukaimu. Aku juga ingin kau tahu kalau aku ada untuk melindungi Kaelin yang menyukai Naruto. Lagi pula, kami ini satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan. Itu saja sih, tetapi selamanya, aku akan tetap menyukaimu. Ku harap kau juga menyukaiku, tidak, kami. Dari Kaelin yang ramah.”

Cerpen Karangan: Annisa Salsabila
Facebook: Annisa Salsabila
wattpad.com/wishtobefairy
5 teen almost 6 teen. Thank you for reading my stories!

Cerpen Ganda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You Are The Best Friend

Oleh:
Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Chika akhir-akhir ini. Dia seperti menjauhiku. Sepertinya aku telah melakukan suatu kesalahan padanya. Tapi kenapa? Padahal dulu aku dan Chika adalah sahabat

Sebuah Pertanyaan (Part 2)

Oleh:
“Hohoho!” Mas Tyo tertawa. “Kaget, ya?” Aku menatap Mas Tyo dari sepatu hingga ujung rambutnya. Penampilannya benar-benar berubah. Aku tahu pasti penampilan alumnus yang satu ini yang biasanya acak-acakan

Cinta Gugur Sakura

Oleh:
Hai namaku Andrian dwi novesal panggil saja aku Kevin, eh gak nyambung yah, hehe paanggil saja aku Andrian kini aku duduk di bangku SMA lebih tepatnya madrasah sih dan

Harian Gue

Oleh:
Dengan menjinjing sepatu kets warna hitam itu, aku berlari menuju gerbang rumahku. Sepatu itu lalu aku lempar pelan, dan kuraih kunci motor yang tergeletak di meja teras rumahku itu.

Di Balik Kesedihan Ada Kebahagiaan

Oleh:
Aku terus menunggumu dan terus mengingatmu seolah-olah kau menjelma bersama udara yang akan mengiringi napasku tapi kau tak ada di sini. Aku duduk sambil menuliskan bait bersama hatiku yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *