Gara-gara Voli Turun ke Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2013

Namaku Vila Lestari, saat ini usiaku 15 tahun. Aku duduk di bangku kelas satu SMA. Susan adalah sahabatku yang baru aku kenal ketika masuk SMA dan sekelas denganku. Susan anaknya baik dan asyik, maka dari itu aku bersyukur sekali bisa bersahabat dengan Susan, selain baik pintar pula jadi aku bisa jadikan dia guru aku.

Suatu hari di sekolah, Pak Lukman guru olahragaku sedang mendata anak-anak yang mau ikut eskul voli. Tanpa pikir panjang aku langsung mendaftar untuk ikut juga, karena hobiku adalah olahraga salah satunya itu, main voli. Aku semangat sekali di hari pertama eskul voli. Saat aku mau masuk gerbang sekolah, langkahku terhenti, karena ada yang memanggilku,
“Vila. vil! Tungguin aku” teriak seorang cewek yang jaraknya kira-kira 10 meter denganku.
Dan ternyata cewek itu Lia, teman sekelasku juga.
“Lia. ngapain sore-sore gini kamu ke sekolah?”.
“Aku mau ikut eskul voli, kamu sendiri?”.
“Eskul voli? Berarti kita sama dong”.
“Kamu anak voli juga! Bagus deh kalau gitu, aku gak bakalan sendiri”. Aku dan Lia pun segera masuk.

Di hari latihan pertama ini bisa dibilang masih perkenalan, anak-anak yang berminat pun lumayan banyak juga.

Sekarang ini hari kedua eskul, untung juga ada si Lia, jadi aku tidak sendirian ada teman ngobrolnya. Pak Lukman membagi kami dalam dua tim untuk tanding voli. Permainan pun seru banget.
“Vila. awasss!”, teriak Lia, brakkk. agh sial banget aku gara-gara ngelihatin burung, kepalaku kepentok bola. Permainanpun dilanjutkan, tapi kali ini aku ngerasa aneh aja kok saat bola menuju ke aku dan mau aku pukul, cowok di sebelah aku selalu yang pukul bolanya, aku pun tidak ada kesempatan untuk memukul bola lagi. Aku mulai rasa tidak nyaman, mungkin gara-gara kecerobohan aku tadi, aku dianggap tidak bisa main lagi. Akhirnya karena kesal, aku memutuskan untuk berhenti main, dan digantikan dengan Lia. Aku pun minta izin ke Pak Lukman, kalau mau cari tugas di warnet. Aku langsung bergegas menuju rumah.

Sampai di rumah, ku rebahkan tubuhku di kasur, aku memikirkan kejadian tadi, kejadian yang tidak mengenakan sekali, baru pernah aku dicuekin kaya gitu, aku juga masih penasaran dengan cowok yang tadi, yang tidak beri aku kesempatan sama sekali buat pukul bola. Dasar sok berkuasa, sok pinter main volinya, walaupun mainnya bagus sih, tapi gak gitu juga kan.

Keesokan harinya di sekolah, Susan terheran-heran aja melihat aku yang biasanya ceria tiba-tiba melamun terus karena masih memikirkan kejadian kemarin.
“Vil, kamu gak apa-apa kan?” Tanya Susan perhatian.
“Hmm gak apa-apa kok, Cuma lagi males aja hari ini”.
“Gak mungkin pasti ada sesuatu! O iya tadi si Lia bilang, kemarin sore waktu eskul voli kamu pulang duluan, apa kamu sakit?”.
Aku pun terdiam sejenak dan menghela nafas panjang. Dan dengan terpaksa deh aku menjelaskan semuanya ke Susan, karena memang aku dan Susan sudah berjanji kalau di antara kita ada masalah sekecil apapun harus diceritakan.
“Aku bukannya sakit kemarin, tapi karena aku kesal aja sama seseorang. Masa waktu main voli cowok di sebelah aku gak mau kasih kesempatan ke aku buat pukul bolanya, cuma gara-gara kecerobohan kecil aja.
“Orangnya itu siapa?”, ketus Susan.
“Nah itu dia yang lagi aku pikir, yang pastinya dia cowok, pengen banget aku balas dia. huu benci banget aku”.
“O jadi itu alasannya, sabar yah say, orang sabar disayang Tuhan, lagian hati-hati lo, jangan main benci-benci aja, benci bisa jadi cintaaa!”
Hmm, bukannya bantu aku buat balas tuh cowok, egh malah dibilang sabar, sakit tau.

Aku dan Susan pergi ke kantin. Aku pun memesan bakso dan mencari tempat duduk untuk aku dan Susan, sementara Susan sedang membeli minuman. Saat sedang makan, tiba-tiba Susan datang bersama seorang cowok yang dia ajak untuk duduk bersama. Lagi asyik-asyiknya makan, Susan memperkenalkan aku dengan sosok yang dia bawa itu.
“Vil, kenalin ini sepupu aku, anak kelas sepuluh tiga, Evian!”. Saat aku angkat wajahku, sontak aku langsung tersedak.
“Vil kamu gak apa-apa kan?”. Sambil batuk-batuk aku mengangguk tanda tidak apa-apa. Aku langsung minum minuman yang baru dibeli Susan.
“Evian, ini sahabat aku Vila!!”, aku hanya balas tersenyum.
Dan ternyata sosok itu adalah, cowok yang bikin aku kesal waktu main voli itu, dan yang bikin aku tambah shock lagi, Susan sepupuan sama cowok itu. Harrggghh mati deh aku. Selera makan pun jadi hilang, aku pun memutuskan untuk ke kelas duluan, walaupun masih 15 menit lagi bel masuknya. Susan pun menghampiriku dan bertanya tentang kejadian di kantin tadi, karena memang aku tidak seperti biasanya tadi. Aku pun terpaksa menjelaskan semuanya ke Susan dan Susan pun juga kaget. Susan pun minta maaf ke aku atas perbuatan Evian, sepupunya. Dan Susan bilang Evian itu sebenarnya anak yang baik dan sopan sama perempuan, mungkin waktu itu Evian lagi BadMood aja, jelas Susan. Aku pun menerima semua penjelasan dari Susan.

Satu minggu berlalu, Susan berulang tahun, Susan pun membuat pesta yang meriah. Aku datang dengan menggunakan gaun merah yang terlihat sangat feminim dan cantik. Aku langsung memberi selamat pada Susan dan memberinya kado. Tiba-tiba Evian datang dan memberi selamat juga pada Susan, Susan pun meninggalkan kita berdua sendiri karena mau menjamu tamu-tamu yang lain. Aku pun jadi salting sendiri dekat Evian. Evian pun langsung angkat bicara,
“Hai Vila, Aku minta maaf yah, soal kejadian waktu itu”
“Haa kejadian yang mana?” Aku sok lupa gitu.
“Itu, waktu kita main voli, kamu sampai kesal dan marah ke aku kan, dan gara-gara itu juga kamu gak pernah masuk eskul lagi?”.
Memang sih karena masih kesal aku sampai tidak masuk eskul voli lagi selama seminggu.
“Kata siapa aku marah, alasan aku gak masuk eskul seminggu ini juga, karena tugas sekolah numpuk.”
“Masa sih, tapi Susan sendiri yang bilang ke aku, dan aku jadi rasa bersalah sama kamu, aku gak tau kejadian itu bakal bikin kamu dendam sama aku”.
“Aghh, nggak kok, aku gak dendam, si Susan aja yang lebay.”
“Iya, waktu itu juga aku memang lagi bad mood sih, makanya aku gak sadar udah bikin kamu marah”.
“Iya santai aja kali”. sumpah aku jadi malu banget.

Suasana pun berubah menjadi sangat romantis diiringi lagu yang romantis pula. Tiba-tiba Evian mengajak ku berdansa, sebagai tanda permintaan maafnya, aku pun tidak bisa menolak. Malam itu aku dan Evian benar-benar larut dalam pesta, Evian pun mengantar aku pulang dengan mobil Honda Jazznya. Sampai di rumah, Aku pun segera turun dari mobil, Evian pun membukakan pintu mobil untukku.
“Selamat malam yah, sampai ketemu di sekolah besok!”. Aku pun hanya tersenyum.

Keesokan harinya di sekolah Evian menemuiku di kelas yang sedang mengerjakan tugas MTK dengan Susan.
“Hai Vil, ntar malam kita nonton yuk, ada film bagus Twilight Saga Part 2!”, ajak Evian
“Haaa, kamu ngajak aku nih ceritanya?”
“Iya. soalnya gak asik kalau nonton sendiri!”
“Sorry, tapi aku gak bisa, ntar sore aku harus ke rumah Susan buat bikin tugas yang lain, dan mungkin sampai malam, iya kan Sus?”
“Aghh, gak apa-apa kok, tugasnya kan masih seminggu lagi buat dikumpulin. kan masih ada besok, lagian ni film kan memang lagi lo tunggu-tunggu.”, ketus Susan.
“Jadi, kita jadi pergi nih ntar malam, kalau gitu nanti aku jemput di rumah yah jam 7?”, kata Evian.
“Iya, jangan takut, nanti Vila bakal dandan yang cantik…”, ketus Susan lagi.
Aku hanya bisa senyam-senyum gitu. Haaa dasar Susan.

Malam pun tiba, Evian menjemputku dengan mobilnya. Kita berdua pun berangkat ke bioskop. Waktu nonton bareng Evian jantungku tiba berdebar-debar, karena filmnya romantis banget, apalagi aku nontonnya sama cowok. Setelah nonton kita berdua pergi makan malam. Sambil makan kita bersenda gurau gitu. Dan dari semenjak malam itu aku dan Evian semakin dekat, aku tidak sendiri lagi berangkat eskul voli tapi selalu ditemani Evian, kita juga biasa main voli bareng kalau ada waktu luang. Lama kelamaan aku juga mulai merasakan ada yang menggajal dengan hatiku, aku mulai merindukan Evian kalau tidak bertemu sehari. Aku mulai menyadarinya, kalau aku suka dengan Evian, tapi apakah Evian akan membalas cintaku?.

Saat sedang nonton tv di rumah, tiba-tiba ada sms masuk di hp aku, ternyata dari Evian, dia ngajak aku ketemuan di taman dekat sekolah. Aku mengiyakan ajakan Evian. Ternyata aku tiba duluan, aku menunggu Evian sambil duduk di bangku bawah pohon cemara. Satu jam berlalu aku menunggu Evian, tapi dia tak kunjung datang, saatku telfon juga hpnya tidak aktif. Hpku pun berbunyi, ternyata dari Susan.
“Halo San, ada apa?”
“Evian kecelakaan Vil, dia sekarang dirawat di rumah sakit *pip*”. Ternyata Evian mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan ke taman untuk menemuiku.

Dengan masih dalam keadaan shock aku segera ke rumah sakit, saat aku masuk ke ruangan UGD, aku melihat sosok yang aku sayangi terbaring dalam keadaan lemah, dan di sana sudah ada Susan dan keluarganya Evian. Aku menangis tak henti-hentinya, Susan menyerahkan buket mawar merah yang ditemukan di mobil Evian saat dia kecelakaan dan surat yang bertuliskan, I Love You Vila!! Aku tambah histeris menangis tak percaya, kenapa aku harus tahu Evian juga mencintaiku di saat seperti ini. Tapi aku bersyukur sekali, karena dokter bilang Evian tidak apa-apa dan mungkin hanya dirawat dua hari di rumah sakit.

Keesokan harinya, karena hari minggu pagi-pagi sekali aku berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Evian. Sebelum itu juga aku sudah masakin bubur ayam spesial buat Evian. Sesampainya di rumah sakit aku menyuapi Evian, dan dia suka sekali dengan bubur ayamnya. Kami berdua pun mengobrol sambil bercanda, di tengah obrolan kami, tiba-tiba Evian memotong dan ingin bicara serius.
“Vil, aku senang deh kamu ada di sini, sebenarnya tujuan aku ngajak kamu ketemu itu aku cuma mau bilang kalau aku sayang kamu, dan aku ingin kamu jadi pacar aku?”. aku pun hanya tersenyum.
“Jadi kita jadian nih?”
“Gak ah, aku gak mau”.
Evian kaget mendengar jawabanku.
“Masa kita jadian di saat seperti ini, gak romantis. dimana-mana tuh cowok nembak cewek di tempat yang romantis dong!, bukannya di rumah sakit…”
Kita berdua pun tertawa lepas. Tiba-tiba Susan masuk dan mengagetkan kita.
“Haaa, jadian nih, cie-cie. jadi setelah Evian keluar rumah sakit kita harus rayain dong, aku maunya kira rayain di pantai sambil barbequean… hmmm pasti seru!”
Serentak aku dan Evian berkata,
“Iya bawelll”
Aku dan Evian pun resmi pacaran.

~ The End ~
Karangan :Cia. S

Cerpen Karangan: Valencia Souisa
Facebook: Valencia Souisa

Cerpen Gara-gara Voli Turun ke Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


MAYU

Oleh:
Ketika tidur tiada lagi mimpi dan ketika mimpi bukanlah kenyataan, aku sadari bahwa hidup ini seperti angka-angka alfabetis yang selalu bergerak dari angka 0 dan akan berakhir pada angka

Cinta Berujung Maut

Oleh:
Di pagi itu Sam datang bertamu ke rumah Rani, terlihat Rani yang lagi sedang duduk di teras rumahnya bersama kedua orangtuanya. Sam pun menghampiri Rani bersama kedua orangtuanya. Sam

Aku, Kamu & Dia

Oleh:
Menyukai yang sama, apa itu berarti salah ? Aku tak mengerti, kenapa kejadian seperti ini terulang lagi. Di saat aku menemukan sahabat-sahabat yang baru, kenapa ini harus terjadi lagi.

Ketika Cinta Jatuh Cinta Lagi

Oleh:
Hanya kamu yang bisa membuat aku jadi tergila-gila…kata-kata itu berulang-ulang terdengar ditelingaku sampai membangunkanku dari tidur lelapku. Ternyata itu nada dering dari handphonenku yang ku save khusus untuk kekasihku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gara-gara Voli Turun ke Hati”

  1. eka d'arnadal says:

    ceritanya keren!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *