GARIS (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 3 February 2013

Jam kuno itu berdentang 12 kali. Bunyinya melambung ke seluruh sudut rumah, menggetarkan kaca- kaca di dekatnya. Itulah suara jam kuno yang ada di menara belakang rumah. Setelah bunyi itu, berarti kali ini sudah memasuki 6 Januari, tepat 15 bulan aku sudah bekerja di rumah ini. menjadi bodyguard Evi.

Awalnya aku kurang senang dengan Evi. Sosok nona muda yang terlalu rapuh dan tidak punya motivasi menuju masa depan. Tapi, aku pastilah bodoh kalau masih membenci dia yang begitu. Kenapa? Evi itu bisa melihat masa depan! Untuk apa dia merencanakan visi?

Segera kuinjak puntung rokok itu dengan sepatu lars hitamku. Rokok itu jadi terasa ampang setelah aku kepikiran kebodohanku itu. Kuputuskan masuk ke dalam rumah untuk sekedar merebahkan badan. Aku terbiasa terjaga 2-3 hari tanpa tidur.

Baru saja punggungku menyatu dengan sofa yang ergonomis, telingaku menangkap suara langkah kaki. Aku segera bersiap dan berjaga. Siapa gerangan pagi buta berkeliaran di rumah ini? begitu aku siap dengan kuda- kudaku..

“Rey, anda belum tidur?”
Nyaris hilang kewarasanku ketika melihat Nona Evi berjalan dengan piyama hitamnya.

“Nona?! Apa yang anda lakukan pagi buta begini? Nona belum tidur?” tanyaku.

Dia menggeleng, “Sudah sebulan ini aku tidak bisa melihat mimpi yang berbeda. Aku tidak bisa melihat pertanda untuk Papa.. “

“Apakah nona melihat mimpi buruk?”

Dia juga menggeleng, “Bukan mimpi buruk, hanya saja aku merasa aneh. Baru kali ini aku memimpikan orang yang sama, berturut- turut selama satu bulan.”

“Apa yang terjadi pada orang itu, non? Apakah itu membuat anda ketakutan?”

“Iya.. Aku takut, sangat takut kehilangan dia.” “Mungkin itulah kenapa aku terus memimpikannya setiap malam. Ternyata dia begitu berarti. Dan selama ini aku tidak sadar.” Lanjut Evi.

Aku hanya diam, tidak tahu harus menanggapi apa. Sedikit cemburu melesap ke dalam kalbu. Aku menahannya dan berusaha profesional.

“Rey, apakah anda percaya pada jodoh? Menurut anda bagaimana sih jodoh itu?” tanyanya kemudian.

“Emh.. Jodoh itu seperti sebuah garis yang menghubungkan dua titik.” Jawabku.

“Kenapa harus titik?”

“Kalau dilihat dari alam semesta, bumi ini tidak lebih besar daripada sebutir kelereng. Tapi di dalamnya tinggalah makhluk ajaib yang disebut manusia..” aku mulai menjelaskan argumenku. Evi nampak antusias, dia memajukan badannya ke arahku sambil menatap lekat- lekat ke arahku.

“Lalu?”

“Manusia itu meski kecil, sekecil titik, dan jumlahnya ada milyaran, ternyata diciptakan berpasang- pasangan. Setiap 2 titik itu bila dihubungkan akan menjadi garis.”

“Bagaimana kamu menemukannya di antara milyaran manusia itu?” Evi bertanya.

“Biarkan garis itu yang menghubungan kedua titik. Kalau saya sih, percaya sekali dengan takdir dan jodoh. Kalau memang sudah jodohnya, sesulit apapun pasti akan kembali.”

“Hanya menunggu saja usaha anda?”

Aku diam menatap lekat- lekat matanya yang hitam kelam. Aku seolah ditarik masuk ke dalam dunia di mana hanya ada aku dan dia. Hanya ada bayang senyumnya, nyaring tawanya dan detik- detik bersamanya. Aku tersadar, aku sudah jatuh ke dalam pesona wanita ajaib ini. bukan karena kekuatan ramalan mimpinya, tapi karena… Yah, dia jauh lebih ajaib daripada kemampuannya.

“Usaha saya untuk menemukan titik itu… Saya rela mengorbankan nyawa saya bekerja di sini.”

Seketika ruangan tengah ini menjadi sangat hening. Aku tahu aku mengucapkan itu dengan spontan, tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang lebih baik dari itu. Kepalaku hanya sedang dibayang- bayangi sosok Evi.

Evi kemudian tersenyum tersipu. Dia membenahi duduknya, kembali menegakkan punggungnya, “Sungguh, filosofi titik dan garismu sepertinya bersambut.”

“Maksud nona?”

“Semua orang bilang kalau kemampuanku ini berkah, tapi bagiku ini seperti musibah. Tidak ada orang yang mau dekat denganku, karena takut mendengar kematiannya. Tidak banyak yang peduli juga, kata mereka aku bisa merencanakan dan menjalani hidupku sendiri karena aku bisa melihat masa depan. Mereka katai aku pemimpi. Dan mimpi yang kulihat hanyalah mimpi yang tidak pernah aku di sana untuk senang.”

“Tapi, sejak sebulan yang lalu aku terus bermimpi hal yang sama. Selama mimpi itu aku akhirnya sadar, kalau ada seseorang yang tidak pernah melakukan hal seperti yang pernah mereka lakukan. Ada satu orang yang betapapun susahnya menjagaku dia tetap setia.”

Aku merasakan wajahku agak memanas. Aku pasti tersipu! Aku paham perkataan Evi barusan. Selama ini yang dimimpikannya adalah aku!!

“Di dalam mimpi aku selalu bertemu denganmu dalam wujud dua titik cahaya. Kita bisa bersatu, tapi selalu aku yang menghilang kemudian. Begitulah mimpi satu bulan ini. meski begitu, aku senang sekali.”

Itulah kata- kata yang membuatku terharu untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya. Evi masih terus memimpikan hal yang sama sampai 2 bulan. Dia tidak melihat pertanda lain kecuali aku dan dirinya. Hingga suatu sore Papanya pulang ke rumah, dan mencari Evi.

Aku masih sangat ingat, sore itu dia memaki- maki dan memarahi Evi karena ramalan Evi belakangan ini menjadi tidak akurat. Karena hal itulah, sebuah anak perusahaan di Hongkong terpaksa gulung tikar.

“Evi! Kamu itu kenapa, sih? Ramalan kamu meleset semua! Papa kalah tender, kerugian besar, kredit macet dan akhirnya kolaps!!! Apa yang kamu pikirkan??”

“Aku akhirnya bisa melihat mimpi yang benar- benar indah, pa.”

“Mimpi apa??”

“Evi ketemu sama titik Evi..”

“Bicara apa kamu? Evi, jangan bermimpi kamu! Ayo, kamu harus terus meramal untuk papa! Kalau kamu berhenti, Cuma akan jadi beban saja! Kamu ini anak yang nggak normal, nggak ada sekolah yang mau terima kamu! Jadi kamu kalo mau kerja juga susah! Kerja saja buat papa!”

Aku ingat apa yang kulakukan saat Evi terus dimaki seperti itu. Dengan spontan aku memasang tubuh antara Evi dan papanya. Seperti yang diduga, bos besarku itu langsung berteriak marah karena aku menginterupsi omelannya.

Ketika aku berusaha membela Evi, akhirnya Evi mengakui. Kalau selama ini yang ada di mimpinya adalah aku.

Masih teringat jelas tuan besarku itu melotot ke arahku. Bola matanya yang berwarna coklat terang itu seolah ingin mencolokku. Dia marah habis- habisan, semua umpatan, kata- kata kotor keluar. Evi hanya terisak di belakangku, sementara aku menahan diri dengan semburan amarah pria paruh baya itu. Membunuhnya agar dia tidak berisik adalah hal mudah bagiku, tapi itu bukan keputusan yang bijak.

Aku terlalu menahan diri saat itu, hingga berujung pada putusnya karirku. Aku dipecat. Evi terus diancam, kalau dia tidak meramal untuk papanya, maka aku akan dibunuh. Aku ,memilih pergi daripada harus melihat Evi sakit. Sebelum pergi, aku mendengar bisikannya,

“Rey, anda pernah bilang, kalau dua titik yang sudah digambarkan untuk segaris, maka sesuah apapun pasti akan kembali, kan?”
“Iya, nona..” kataku.

“Kalau begitu kenapa anda pergi, rey? Anda tidak ingin di sisi saya lagi?”

“Saya mencintaimu, tapi nggak berarti saya harus memaksakan perasaan ini. melihat anda tenang dan bahagia itu juga kebahagiaan buat saya. Mungkin hari ini saya harus mundur, dan di kali lain ada kesempatan kita untuk bertemu.” Ucapku sebelum pergi.

Benarlah firasatku. Beberapa hari kemudian sampailah kabar itu ke kamar kontrakanku. Evi meninggal. Dia bunuh diri dengan melompat dari menara gedung perkantoran milik papanya. Di kamarnya ditemukan setumpuk gulungan benang ruwet yang di ujungnya diikatkan pada fotoku. Di baliknya ada tulisan ‘Sejauh apapun titik itu terpisah, pasti akan ada garis yang menyatukan’.

Siang hari pintu kamarku didobrak. Beberapa orang dan di belakang mereka ada mantan bos besarku. Dia sudah membawa sebuah pistol.

“Kurang ajar berani- beraninya kau mengambil anakku!”

Setelah desingan peluru, aku tidak bisa ingat apa- apa lagi. Semua terasa gelap dan hening. Aku melihat sebuah titik berpendar di kejauhan… Lalu munculah sebuah garis yang mengarah padaku. Setelah garis itu menyentuhku, semua berubah menjadi putih.

Evi berdiri di depanku, mengenakan gaun berwarna pink cerah. Dia meraih tanganku dan berkata, “Aku menemukan titikku di antara milyaran titik lainnya. Dan sesusah apapun, kedua titik yang sudah digambarkan segaris akan bersatu juga.”

(TAMAT)

Cerpen Karangan: 66Heavenese

Cerpen GARIS (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hingga Akhir Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kasihan Naaa Kak Ramly, aku melihat sendiri mukanya babbak belur dan darah mengucur deras di mulutnya.” “Liiin, sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku tak akan mengungkitnya di hadapanmu.

Sepeda dan Cinta Pertamaku

Oleh:
Namaku Tiara, aku sangat suka sekali bersepeda. Dari kecil aku sangat menyukainya. Aku masih ingat dulu saat pertama kali ibu dan ayah mengajariku menggunakan sepeda. Jatuh bangun ku rasakan,

Kenangan

Oleh:
Maaf maryam, surat ini mungkin telat datang kepadamu. Maklumlah, sekarang aku cukup sibuk dan lelah meratapi kenyataan tentara-tentara sekutu yang ternyata memboncengi Belanda itu sempat membuatku terkejut. Mereka sudah

Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)

Oleh:
Januari 2015, NASA bekerja sama dengan beberapa lembaga Antariksa Asia untuk misi penelitian ke planet Mars dengan mengirimkan tiga orang astronot. Aku mewakili LAPAN untuk bergabung bersama aliansi NASA.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “GARIS (Part 3)”

  1. yudhi says:

    woouuww…keren banget ceritanya,so sweet

  2. ziendy says:

    Ya ampun ceritanya bagus bangetttt, sampai baca berkali-kali dan ga bosen 🙂

  3. nok says:

    Ngena banget walopun cerpen alias pendek ceritanya, kerennnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *