Garuda 1 (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 31 December 2019

“Anak-anak, siapa yang tahu manusia yang pertama kali menginjakan kakinya di bulan?” tanya Bu Anis seraya menunjuk sebuah gambar astronot yang mengibarkan bendera Amerika. Aku hanya terdiam mengamati anak-anak yang lain berebut untuk menjawab pertanyaan itu. Namun aku hanya terdiam dan memikirkan hal yang lain. Aku memikirkan bagaimana caranya untuk mengibarkan bendera merah putih di bulan.

Aku masih tertegun dengan pemikiranku sendiri,
“Kris, mengapa kamu melamun. Cepat jawab pertanyaan saya tadi.” bentak Bu Anis
“Dia Neil Amstrong”
“Kamu tahu jawabannya, tapi mengapa kamu tidak mengangkat tanganmu?”
“saya hanya tidak ingin menjawabnya.”

Guru itu terdiam mendengar jawabanku yang aku pikir telah menyakiti hatinya. Namun nilai sejarahku tetap baik meskipun aku rasa Bu Anis tidak suka denganku. Tapi itu tak berarti karena aku sudah mencoba memberikan nilai yang terbaik untuknya.

Akhirnya bel pulang terdengar dan itu yang aku suka, aku bergegas mengemas bukuku. Namun aku melihat seseorang menghampiri aku,
“Mengapa kamu tiap kali masuk pelajaran ini selalu menjadi aneh?”, tanya ica yang aku tahu sedari pelajaran tadi memperhatikanku.
“Aku hanya tidak tertarik dengan teori” jawabku dengan nada datar. Terlihat ekspresi wajahnya berubah. Apakah aku telah menyakitinya dengan kata-kataku. Tak lama kemudian dia berlari pergi meninggalkan aku.

Aku mengambil tasku yang kini penuh sesak dengan buku dan menyusulnya pulang. Akupun berlari menyusul Ica.
“Ica, kenapa kamu tadi meninggalkan aku?” tanyaku terengah-engah saat berhasil mengimbangi langkahnya yang bisa dibilang cepat.
“kamu aneh Kris, kamu tak seperti biasanya, dan aku tak suka itu.” jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari tatapanku
“Oh, berarti kalo aku seperti biasanya kamu suka?” celotehku dengan diiringi tawa ringan
“Eh, emm.. maksudku” kini dia berusaha mencari mataku.
“kita masih SMP, mungkin masih belum siap untuk sesuatu yang lebih serius.” jelasku. Namun naas karena kakiku tersandung sebuah batu dan akuhirnya aku terjatuh, dan sikuku berdarah.
“Kris kamu gapapa?” tanyanya panik
“Coba kamu tadi bilang jika ada batu. Pasti aku tak akan berdarah seperti ini.” keluhku
“iya maaf deh, ke rumahku dulu yuk. Biar aku obati” ajaknya seraya tersenyum, senyum yang membuat siapa saja tak bisa menolaknya.

Sesampainya di rumahnya, aku langsung diberi pertolongan. Berulang kali aku menjerit kesakitan. Namun tak dihiraukannya. Akhirnya, sebuah kasa melingkar rapi di siku kiriku. Aku langsung berpamitan dan segera pulang.

Aku setiap hari berjalan kaki dari rumah ke sekolah, mungkin karena rumahku dekat atau memang karena orangtuaku tak peduli lagi dengan aku. Sial hari ini siang sangat terasa terik, belum lagi haus yang datang menyapaku sedari tadi. Diperjalanan pulang ini aku teringat akan pelajaran sejarah yang membuatku dimusihi oleh Ica. Aku mulai membayangkan bendera Indonesia berkibar di bulan. Aku membayangkan jika aku yang melayang-layang di angkasa. Memakai baju astronot.

Hingga tak sadar bahwa aku sudah berada di depan rumahku. Aku segera masuk dan mengambil laptopku yang berada di kamar lalu membawanya ke ruang tamu dan menghubungkannya dengan modem. Aku buka search engine kesukaanku dan mengetikan “bagaimana ke bulan”

Hasil yang aku dapat memang tak memuaskan. Namun aku yakin, suatu hari nanti aku akan mengibarkan bendera merah putih di bulan. Ibu datang dan berkata “mengapa kamu tidak mengganti bajumu?”, “aku sedang mengerjakan tugas.” bohongku. Namun kebohongan itu musnah setelah ibu melihat kata kunciku di search engine lalu dia menepuk pundakku pelan dan meninggalkan aku dengan langkah gontainya.

Kutinggalkan laptopku dan bergegas pergi ke kamar untuk mandi dan berganti baju (di dalam kamarku ada kamar mandinya). Alasan pertamanya adalah hari sudah malam dan aku sadari bahwa badanku sudah tak nyaman dengan keringat yang berhamburan di sekujur tubuh.

Dingin air mulai meredakan penatku dan aku berpikir bahwa aku masih PUTIH BIRU dan masih sangat jauh dari mimpiku yang sangat, teramat gila. Mandipun selesai dan aku kembali lagi ke ruang tamu dan mulai mencari informasi lagi. Kebanyakan situs yang aku buka adalah situs luar negeri dan dengan mudahnya aku membacanya. Memang Inggrisku sangat baik, namun hal itu aku anggap biasa.

Namun aku mendapati sebuah situs berbahasa indonesia yang mengejutkanku. Karena di situs itu juga menuliskan hal-hal yang sangat luar biasa mengenai perjalanan ke bulan dan juga peluang bendera indonesia dapat berkibar di sana. Aku semakin antusias membaca artikel itu dan di akhir pembahasan penulis situs itu menuliskan sebuah kalimat yang mengenyahkan keraguanku akan mimpiku.

Tiba-tiba tanpa aku sadari YM-ku menyala dan seseorang yang nama emailnya tak aku kenal menyapaku.
“Apakah anda bermimpi untuk pergi ke bulan?” tulisnya dalam pesan chat.
“tentu saja iya, siapa anda dan bagaimana anda bisa tahu emailku?” balasku
“aku adalah seseorang yang mempunyai mimpi yang sama denganmu, namun takdirku berbeda denganmu.”
“apa maksud anda, saya tak mengerti?”
“belajarlah dengan tekun, satu tahun lagi aku akan mendatangimu. Namun jika kamu mengetahui sesuatu yang baru, kamu dapat menghubungiku melalui chating seperti ini.”
Dan setelah itu dia offline dan meninggalkanku dengan tanya yang sangat besar. Namun itu sangat memberikanku motivasi untuk belajar dan belajar lebih giat lagi.

Aku menutup laptopku setelah mematikannya tentunya karena aku mendengar ibu telah berteriak menyuruhku makan.

“Bu, apakah takdir saat aku tak memiliki seorang ayah?” tanyaku yang secara spontan teringat akan sosok ayah yang telah lama hilang dari hidupku. Terlihat wajah ibu berubah menjadi cemas dan bingung. “sudah cepat kamu selesaikan makanmu.”, “itukah jawaban yang bijak?” batinku.
Aku tak menghabiskan makan malamku dan bergegegas pergi ke kamar sembari kembali mengingat percakapanku dengan orang asing di YM. Hingga akhirnya aku tertidur

Dan pagi kini telah datang menantangku untuk menghadapinya. Karena hari ini aku ada ulangan sejarah dan itu sangat menakutkan buatku. Namun yang paling aku tunggu adalah si Ica dan senyumnya itu. Aku berjalan ke sekolah yang jaraknya tak jauh dari rumahku.

Saat aku masuk ke kelas, aku lihat anak-anak mengerubungi meja Ica. Aku segera berlari untuk menyusul melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata Ica membawa sebuah batu yang berbentuk hampir seperti lingkaran dan itu sangat unik. Baru pertama kali aku melihatnya. Yang membuat aku semakin terpesona adalah saat Ica menyambungkan rangkaian lampu dengan kabel ke batu itu, dan hasilnya menyala. Lampu itu menyala.

Semua anak bertepuk tangan. Dan bergegas kembali ke meja masing-masing, karena guru matematika yang sangat galak masuk ke kelas. Seperti biasanya, aku menunggu pelajaran sejarah di jam terakhir dan aku sangat cinta akan BEL PULANG.

Tujuh jam sudah berlalu dan aku lega bisa menyelesaikan ulangan sejarahku.
“Kris sekarang kamu yang ninggalin aku.” seru seseorang di belakangku.
“Oh, maaf. Bukannya kamu yang terlalu sibuk dengan anak-anak yang lain?” aku gusar
“Cemburu nih ceritanya?” ejeknya yang membuat wajahku memerah.
“Tapi kamu dapat dari mana batu itu?” aku mengalihkan pembicaraan
“Batu itu aku dapat dari papaku yang bekerja di PAPUA.”
“Tapi hebat sekali ya batu itu.” selidikku
“Itu karena karena ada kandungan energi di dalamnya” jelasnya.

Dan aku seperti mendapatkan sebuah pencerahan saat ica mengatakan bahwa batu itu memiliki energi. Aku termenung memikirkan bilamana batu itu menjadi energi pesawat yang akan membawaku ke bulan.
“Kristant, kamu kenapa?” kejutnya.
“Eh, sudah kukatakan, jangan panggil aku Kristant, panggil saja Kris”
“Kamu sih, akhir-akhir ini sangat aneh.”
“Eh, itu rumahku. Aku pulang dulu ya.”
“Tuh kan kamu aneh.”, wajahnya menjadi sedih.
“Maaf, tapi aku punya sebuah proyek yang besar namun aku tidak bisa mengatakannya padamu.”
“Oh, jadi begitu.” wajahnya semakin sedih.
“Apa aku bisa meminjam batu itu?”
“Buat apa?”
“Hanya untuk aku foto.” kataku sambil mengambil HP

Dan aku pulang segera meninggalkan Ica yang sedang termenung melihat keanehan sikapku akhir-akhir ini. Namun aku tak begitu mempedulikannya. Yang aku pikirkan kini hanya mengambil laptop dan modemku lalu mencoba chat dengan orang asing itu.
“Apa kau ada di sana?” aku memulai percakapan
“Iya aku di sini” jawabnya cepat
“Aku mendapatkan informasi yang mungkin berguna buatmu.”
“Apa itu?”

laptopku dan segera menemuinya.
“Kris, maafkan aku ya.” ujarnya polos.
“Hah, kamu salah apa?”
“Aku terlalu egois.”
“Ah, itu hanya perasaanmu saja.” aku mencoba menenangkannya.
“Lho kok kamu nangis” aku melihat air mata telah ada di pipinya.
“Hmm, masuk dulu aja ya”
“Sudahlah, tak usah terlalu kamu pikirkan, aku juga salah kok.” timpalku lagi.
“Iya deh, jadi kita masih teman kan?” tanyanya sembari mengedipkan matanya.
“Lebih dari itu.” jawabku asal yang lantas tertawa sejadi-jadinya.

“PINGGG” Laptopku berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Segera aku baca dan aku baru meyadari jika orang asing itu menungguku.
“Maaf, tadi ada tamu” balasku pada orang asing itu
“Kris itu siapa?” ica bertanya
“Ini adalah proyek besar yang tadi aku ceritakan padamu.”
“PINGGGG” suara laptop yang diikuti munculnya pesan “jadi, apa yang akan kamu tunjukan padaku?”
Aku menoleh ke arah Ica dan bertanya, “apa kamu membawa batu tadi?”. Ica hanya mengangguk.
“Bagaimana jika kita video chat?” tantangku pada orang asing itu dan tak lama sebuah pesan video aku dapat dan kini aku bisa melihat, bahwa orang asing itu adalah seorang pria.

Cerpen Karangan: Ariel Kristant
Facebook: facebook.com/ariel.kristant?ref=bookmarks
Ariel Kristant, belajar menulis.

Cerpen Garuda 1 (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpisahan

Oleh:
Sungguh aku sangat membenci kata ‘perpisahan’ apapun bentuk dan kalimatnya aku membencinya. Iya aku tau dimana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Tapi taukah kau kalau perpisahan yang kau

Kaulah Cintaku

Oleh:
Nama ku Dinda paramegha, bekerja di salah satu perusahaan milik alhmarhum ayahku di kota Surabaya namun kini aku telah pindah di Kota Gresik untuk menjalani dinas di sini. sudah

Love and Deary

Oleh:
09-12 tepat dmn hari aku dilahirkan, mungkin seharusnya hari ini menjadi hari yg spesial di hidupku, namun tidak untuk ku.. Bahkan aku sangat membenci hari ini, karena bnyak menyimpan

5 meter

Oleh:
Sak.. kau mulai lagi menatapku, masih menatap dengan tatapan yang sama. Tatapan yang terus menyakitiku. Sekian lama aku mencoba melupakan tatapan itu, kini kau hadir kembali masih dengan tatapan

Angka, Wanita Dan Kebahagiaan

Oleh:
Tampak jingga-jingga senja terpancar dari sudut barat. Berbagai kesibukan berhenti pada sore itu, mulai dari kuli, penjual cireng, tukang jajanan, maupun pekerja-pekerja kelas kakap lainnya. Begitu juga dengan salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *