Garuda 1 (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 31 December 2019

Suara yang tak asing terdengar memanggil. Dan benar, ica sudah berada di depan pagar dan memanggilku. Aku tinggalkan
“Kamu sedang bersama siapa?” itulah kalimat pertamanya yang aku dengar. Sepertinya suaranya tak asing bagiku.
“Ini temanku, Ica namanya.” ujarku yang disambung dengan lambaian tangan dari Ica.
“Ini adalah batu yang mempunyai energi di dalamnya.” tuturku lagi sambil mereangkaikan lampu dan kabelnya itu hingga lampu itu menyala.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Ini punya Ica dan dia mendapatkannya dari papanya yang berada di PAPUA.”
“Itu sangat berarti buat kita.”
“Tapi apa yang kau kerjakan di sana?” tanyaku penasaran. Wajahnya menjadi gugup dan menjawab, “aku sedang merancang pesawat kita. Lihatlah!”, dia membawa laptopnya dan menunjukan padaku banyak orang sedang merancang sesuatu yang aku tak pahami, namun bedasarkan penuturannya itu pesawat.
“Kau sudah mengerti kan?” ujarnya lagi yang kini wajahnya sudah berada di monitorku lagi.
“Itu sangat mengesankan, di mana kamu berada?”
“Itu rahasia, dan temanmu itu aku rasa cocok denganmu.”
Seketika itu dia offline dan aku cukup lega dapat berbicara dengannya, setidaknya aku tahu bahwa dia nyata. Ica pamit meninggalkan aku setelah ibuku datang, dan sama seperti kemarin-kemarin ibuku menyuruhku ganti baju dan mandi.

Hari-hari berlalu dan nilaiku semakin membaik. Hingga tak terasa kini aku telah lulus dari SMP.
“PINGGGGG”, “Selamat atas kelulusanmu.” laptopku kembali berbunyi.
“Mana janjimu?”
“Besok aku akan menjemputmu. Persiapkan mentalmu.” lalu dia offline lagi.

Aku segera berlari menuju rumah Ica yang tak jauh dari rumahku. “kamu kenapa Kris?” tanyanya.
“Aku akan pergi, mungkin sangat lama.”
“Lalu?” mimik wajahnya kecewa.
“Apa kau akan merindukan aku?” tanyaku sambil merunduk, malu akan jawaban yang akan diutarakannya.
“Tentu saja aku akan merindukanmu.” kini dia meneteskan air matanya
“Ica, mungkin aku terlalu dini untuk mengatakannya, tapi aku suka kamu.”
“Iya Kris, aku tahu aku akan menunggumu kembali.”
“Kamu yakin?”
“Aku tak pernah seyakin ini.”

Senja menjemput dan aku pulang dengan hati yang bimbang, namun tetap yakin akan mimpiku. Aku menyiapkan baju dan perlengkapanku. “kamu mau kemana?” ibu datang dan mengagetkanku. Aku bingung, tak tahu harus menjawab apa. “kamu mau ke bulan ya, mengejar mimpi konyolmu itu?”.
“Eh, iya kenapa ibu bisa tahu?” aku panik.
“Kamu tau siapa yang selalu chat denganmu?”
“Tidak bu.” keringatku mulai bercucuran.
“Itu ayahmu. Dan ibu meninggalkan ayahmu karena mimpi gilanya itu.” dan pernyataan itu membuat aku semakin tersudut oleh perasaan yang sangat memilukan. Aku terdiam, aku tak menyangka bahwa semua ini bukan takdir, melainkan sebuah pilihan akan keyakinan. Dan keyakinan pula yang bisa merubah semua hal.

Aku masih berbicara pada diriku sendiri dan tak menyadari bahwa ibu telah meninggalkan aku sendiri di kamar. Aku menangis aku dihadapkan pada pilihan yang menentukan masa depan. Aku berdiri dan meletakan tubuhku pada kasur yang empuk dan lembut. Dan tertidur.

Mentari mengetok langit tanda pagi datang, aku terbangun dan masih berpikir tentang pilihan, tentang takdir, tentang masa depan. Aku turun dari ranjangku dan pergi mandi. Setelah itu aku ganti bajuku dengan baju yang terbaik yang aku punya. Lalu aku ambil tasku dan kusempatkan untuk membuka laptopku. Dan benar, ada pesan di sana. “AKU MENUNGGUMU DI BANDARA PAGI INI JAM 8”

Masih ada waktu satu jam pikirku, aku segera mencari ibuku yang biasanya sedang memasak di dapur. Namun saat aku ke dapur dia tidak ada disana. Bukan hanya disana, namun dia tidak ada dimana-mana.

Aku bergegas mengambil roti siap saji di dalam kulkas, dan melihat secarik kertas menempel pada pintu kulkas itu. “JIKA KAMU TAHU PILIHANMU, MAKA KAMU TAHU TAKDIRMU, JIKA KAMU TAHU TAKDIRMU, KAMU TAHU RESIKOMU. SEMOGA KEPUTUSANMU TEPAT. LOVE YOU”

Aku mengambil kertas itu dan mengantonginya. Lalu mengambil beberapa roti dan pergi untuk berpamitan dengan Ica. Ica yang pagi itu mengenakan jaket ungu duduk di teras rumahnya.
“Ica, aku pergi dulu ya” teriakku. Ica kemudian berlari menujuku dan memelukku.
“Kris, cepatlah pulang. Aku tak mau lebih lama merindukanmu.”
“Aku berjanji, aku akan pulang untukmu.”

Setelah berpamitan dan saling menangis, aku pergi ke bandara. Aku terkejut begitu mengetahui bahwa begitu banyak mobil limosin berjejeran di sekitar bandara. Dan juga banyak pria bertubuh kekar dengan pakaian jasnya. Seseorang dari mereka datang menghampiriku, “kamu telah ditunggu di dalam.”

Aku berjalan cepat menuju bandara itu dan mendapati seseorang dengan kursi roda dan dengan pengawalan dari pria berbaju formal itu telah menungguku. Aku hampiri dan mengamatinya. Lalu dia menoleh ke arahku namun tidak berucap, hanya memandangku.

“Ayah, apakah itu kau?” tanyaku memecah keheningan.
“Kemarilah nak, aku ingin memelukmu.” tangis tak terhindarkan,
“Apa yang terjadi padamu hingga kau kini berada di atas kursi roda?” tanyaku sesaat pelukan itu terlepas.
“Aku cedera parah saat aku berlatih dengan simulator di NASA”
“Lantas apa yang kau kerjakan kini hingga banyak orang yang mengawalmu?”
“Aku kini adalah seorang perancang. Perancang gila yang mengikuti imajinasinya.”
“Bendera apa yang akan kau kibarkan di sana? Apa masih bendera MERAH PUTIH?” tanyanya lagi.
“Iya, aku akan mengibarkan bendera itu disana.”
“Jika begitu cepatlah kita bergegas.” kini dia tampak senang.
“Apa nama pesawatmu?”
“Menurutmu apa nak?”
“GARUDA 1”
“Itu nama yang bagus”
“Berapa lama GARUDA 1 akan selesai?”
“Satu tahun. Cukup lama untukmu.”
“Lalu apa yang aku lakukan dalam waktu setahun itu?”
“kamu akan ke NASA, belajar di sana.”

Pembicaraan kami terhenti saat kami sampai di depan sebuah jet pribadi yang terlihat sederhana, namun saat aku memasukinya itu semua berbeda dari yang aku bayangkan. Sangat mewah. Dilengkapi juga dengan bar juga sebuah monitor LED yang besar, aku tak tau berapa inch. Tapi yang aku tahu itu sangat mahal.

Setelah aku duduk dan mengamati kemewahannya, pria dengan kursi rodanya itu datang dan berada di sebelahku lengkap dengan kursi roda otomatisnya. Lima menit kemudian kami lepas landas menuju JAKARTA

Sepanjang perjalanan kami hanya diam sibuk dengan alam pikiran masing-masing. Hingga tersadarkan bahwa kami telah memasuki wilayah jakarta. Saat kami turun dari pesawat, sudah ada sebuah limosin yang menunggu di dekat pesawat. Tentu saja limosin yang sudah dirancang khusus agar ayahku dapat menaikinya.

Kami segera menuju ke sebuah lembaga yang berkaitan. Namun itu sia-sia karena proposal kami ditolak karena tak ada persetujuan dari LAPAN. Maka ayahku memutuskan untuk pergi ke Presiden secara langsung dan seolah ayahku adalah seseorang yang sangat berperioritas, maka dengan mudah ayahku bisa menemui Presiden secara langsung, dan aku ada disana mendorong kursi rodanya.

“Pak. Coba lihat proposal ini sebentar.” katanya sambil menyodorkan proposal dengan sampul biru itu.
“Oh ini bagus sekali dan sangat membanggakan jika benar-benar berhasil.” kata Presiden sambil membolak-balik halaman proposal.
“Robi, apa kamu punya simulasinya?” dari sana aku mengetahui nama ayahku adalah Robi.
“Tentu saja ada. Mana komputermu, aku akan tunjukan.” Presiden kini menunjukan sebuah ruangan konfrensi. Dan segera Robi, eh, maksudku ayahku menuju komputer di sudut ruangan. Dan dengan sekejap LCD besar di ruangan itu menyala dan menampilkan sebuah animasi simulasi dari GARUDA 1.

Dalam simulasi itu terlihat bahwa Garuda satu memiliki bentuk seperti roket yang sangat besar dengan empat buah sesuatu yang menurutku itu adalah pelontarnya. Dan menurut simulasi, GARUDA 1 akan terbang hingga orbit dan separuh bagian itu memisahkan diri, bagian yang besar atau dari bawah ke tengah itu berada di orbit untuk menjadi media informasi dan pengisian bahan bakar bagi bagian yang akan benar-benar ke bulan.
Dalam simulai itu juga terlihat bahwa ada lima orang yang akan berangkat, tiga hanya mengorbit dan yang dua lainnya akan menginjakan kakinya di bulan. Simulasi yang ditunjukan sangat mempesona dan aku menyadari bahwa itu hanya simulasi.

Presiden memberikan sebuah surat resmi untuk mengizinkan pembangunan GARUDA 1, namun itu harus mendapat izin juga dari institusi yang kami datangi tadi, institusi yang berhubungan dengan antariksa.
Kami segera meluncur kembali ke tempat institusi itu, aku melihat wajah ayahku sangat senang.
“akankah kau ikut denganku ke bulan?”
“aku menunggumu di bumi nak, mimpiku adalah mewujudkan mimpimu.”

Kami pun tiba dan mencari ketuanya guna mendapatkan izin. Namun tetap saja ijin tak bisa diberikan dengan berbagai macam alasan, walaupun sudah mendapat izin dari presiden. Aku lihat ayahku, pria dengan pengawalan ketat itu memohon agar izin itu dapat diberikan, dan aku ada disitu. Ada di belakang kursi rodanya, memegangi dorongannya sambil berharap izin itu dapat diberikan.

“Baiklah, begini saja..” kata pria berkumis itu membelakangi kami.
“bagaimana?”
“kau beri aku 2 Triliun dan aku akan mengizinkannya” kata pria berkumis yang memakai baju santai berwarna merah dengan celana jeans yang membuatnya terkesan muda
“apa kau gila?” bentak ayahku. Dan aku hanya diam tak tahu apa yang harus aku perbuat.
“itu terserah kamu.” katanya sambil berlalu meninggalkan kemarahan.

Kami berdua segera meninggalkan gedung itu dengan kekesalan dan kekecewaan, “Apakah kau akan membayarnya?” tanyakku sesaat kami telah masuk di dalam mobil limosin hitam itu. “tentu saja tidak” jawabnya singkat. “Kita akan ke Amerika, kita bisa dengan mudah membuatnya disana.”
“Oh ya, bagaimana dengan batu yang hebat itu?” tanyanya
“itu berada di PAPUA, apa kau tertarik dengan hal itu?”
“tentu saja, dan kita sekarang berangkat ke PAPUA”

Siang itu kami terbang menuju PAPUA dan mencari informasi tentang batu berenergi itu. Dan hasilnya adalah batu itu adalah batu yang tercecer di sekitar tambangan batu bara terbesar di Indonesia.

Di sana aku melihat bahwa sangat mudah mencari batu itu. Dan Robi memintaku untuk memungutnya satu. Dan setelah ditelitinya ternyata memang bisa digunakan sebagai bahan bakar GARUDA 1. hal itu membuat aku senang dan yang menjadi pertanyaannya adalah butuh berapa ton batu untuk membawaku ke bulan dan mengembalikan aku kebumi.

Cerpen Karangan: Ariel Kristant
Facebook: facebook.com/ariel.kristant?ref=bookmarks
Ariel Kristant, belajar menulis.

Cerpen Garuda 1 (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Ujung Pelangi

Oleh:
“Zilna, cepat bangun” Teriak mamanya zilna “Ini kan hari minggu mah, jadi, aku bisa tidur seharian” Jawab zilna, “Zilna, kamu kan belum sholat subuh, nanti tuhan marah lho!” Balas

Perempuan Anggun (Part 1)

Oleh:
Aku sedang berada di perpustakaan. Sendiri, karena sahabatku sedang berpacaran. Oh ya namaku Vena. Aku adalah seorang gadis yang sederhana tapi agak tomboy sih. Aku terkenal dengam sikapku yang

Kenangan Masa Lalu

Oleh:
Satu orang baru hadir di hidupku, dia benar-benar baru tetapi sudah mampu memporak-porandakan hatiku. Aku baru mengenalnya sekitar 5 hari yang lalu dan berasal dari pertemuan yang sama sekali

Petualangan Muty

Oleh:
Saat itu, liburan tiba… Muty, Ibu, Ayah dan Radyt adik nya ingin berlibur ke rumah nenek di desa. Ibu telah mempersiapkan perlengkapan nya, siang itu pun mereka berangkat ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *