Garuda 1 (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 31 December 2019

Tak jauh dari tambang itu ada toko jus yang sedang sepi pelanggan, aku memutuskan untuk meninggalkan Robi sebentar dan membeli jus untuk kami berdua. Aku berjalan menembus teriknya mentari meskipun ini sudah jam empat sore, namun tetap saja kau merasa panas.

“mau beli jus apa?” tanya penjual itu dengan ramah.
“Jus apelnya dua ya.” dan saat aku melihat mesin jus itu menghancurkan apel aku baru menyadari jika batu itu harusnya dihancurkan dan menjadikannya bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dibawa.

Setelah jus itu jadi dan juga setelah aku membayarnya, aku segera berlari dan mengatakan usulku kepada Robi dan diiyakannya usulku yang menurutmya sangat cemerlang.

Jam sudah menunjukan pukul lima sore waktu PAPUA dan aku lihat Ayahku sedang bernegosiasi dengan beberapa anak buahnya dan tak lama kemudian selesailah itu.
“selanjutnya kita akan kemana?”
“AMERIKA” jawabnya singkat yang kemudian masuk ke limosin yang telah menunggu sedari tadi.
“Apa kabarmu, bagaimana dengan mimpimu itu?” sebuah pesan singkat aku terima dan rupanya itu dari ibu. Aku membalasnya, “aku baik dan aku semakin dekat dengan mimpiku.”
Tak ada jawaban lagi, karena kini kami telah meninggalkan Indonesia, dan lagi-lagi aku tertidur. Ah, masih pagi di sini. Aku pusing mengingat aku tak biasa hidup dengan siang yang begitu lama.

Namun saat aku sadar aku telah berada dalam limosin dan akan memaski kawasan milik NASA. Aku segera mengikuti ayahku yang menurutku kesal karena ini tak seperti yang dibayangkannya. Kali ini aku melihat begitu besarnya gedung itu.

Ayahku menemui seseorang yang menurutku berpangkat dan tak lama kemudian mereka berjabat tangan, mungkin mereka sudah membuat persetujuan. Dan benar, aku dibawa ke tempat dimana ada banyak peralatan yang hanya aku lihat di televisi. Tempat itu sangat luas dengan banyak komputer di dalamnya.
Robi menyerahkanku pada seseorang bertubuh kurus dengan rambut putihnya dan kumis tipis bewarna sama.

“Aku akan membawamu ke ruang simulasi, karena sesungguhnya setiap orang dapat ke bulan dan nilai sekolah hanyalah sebuah syarat saja.” kata Pria berambut putih itu lantas yang lantas tertawa.

Aku memperkenalkan diri dan aku mengerti bahwa namanya adalah John Robert dan dia adalah seorang pelatih astrounot. Dia mengantarku menuju ruang kesehatan, untuk mengetahui kemungkinan aku memiliki penyakit bawaan atau hal-hal yang lainnya. Ketika aku menuju ruangan itu, aku melewati jembatan yang seperti ada di film, jembatan yang terkesan canggih, walau fungsinya sama.

Di bawah jembatan itu aku melihat sebuah ruang yang sangat luas dan dalam. Di sana pekerja-pekerja berseragam dengan logo NASA merakit GARUDA 1. kini jantungku berdetak membayangkan bagaimana bentuk utuh dari GARUDA 1. Namun ada sedikit penyesalan karena GARUDA 1 tidak dirakit dan diluncurkan dari Indonesia.
Penyesalan itu selintas terlupa saat aku memasuki ruangan kesehatan yang benar-benar sangat memukau untuk sekedar ruang kesehatan. Alat yang digunakan sangat bersih dan tertata dengan rapi. Ada juga tempat untuk mensterilkan tubuh.
Seorang perawat yang bernama rebbeca segera datang menyambut.

“Kamu Kris, apa itu benar?” Tanyanya dengan wajah yang tampak senang, entah mengapa dia dapat senang.
“iya aku Kris, dan kamu adalah rebbeca, apa itu benar?”, kini aku balas tanya.
“dari mana kamu mengetahuinya?” Terheran
“Dari situ.” aku menunjuk pada nama dada yang dia pakai.
“owh, kau benar-benar teliti. Dan biar aku periksa, agar kamu dapat segera berlatih.”
“dari mana kamu tahu jika aku akan berlatih?”
“tentu saja setiap orang di sini tahu bahwa kamu akan ke bulan” ujarnya sambil mulai memeriksaku. Mula-mula tekanan darahku, sedangkan John, aku melihatnya menunggu di luar ruangan sambil mengamati pembuatan GARUDA 1 di ruang yang berada di bawahnya.

“Ayahmu adalah seorang perancang pesawat dan juga penasehat untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan ruang angkasa. Dia orang Indonesia yang hebat.”
“lalu, kenapa dengan kakinya?”
“dia ingin ke bulan, sama sepertimu. Namun naas, saat berlatih di ruang simulasi, alat antigravitsinya rusak dan ayahmu terjatuh. Maaf.”
“oh, iya itu telah terjadi.” aku menunduk membayangkan kejadian itu.
“namun dia sangat gigih dan tetap berjuang mewujudkan mimpinya.”
“apa itu mimpinya?” tanyaku spontan.
“mimpinya adalah mewujudkan mimpimu.” jawabnya dengan senyum.

Aku terdiam mendengar jawaban itu, itu sangat mengesankan bagiku, dan perjuangannya demi aku sungguh tak ternilai. Menyesal kini aku telah mengutukinya dulu, ternyata dia ada dan menyiapkan segala sesuatunya buatku.
Tiga puluh menit sudah pemeriksaan itu berjalan dan kini telah selesai. Aku dinyatakan sehat, dan memang aku sehat. Aku berjalan keluar menyusul John yang sedari tadi terlihat nyaman memperhatikan perakitan GARUDA 1. Terlihat juga Rebbeca melambaikan tangannya dan meneriakan salamnya pada ayahku.

“Sudah selesai pemeriksaanannya?” tanya John yang tersadar aku telah keluar dari ruang kesehatan.
“sudah, itu tadi menyenangkan sekali.” aku tersenyum. perjalanan menuju ruangan simulasi di lanjutkan lagi.
“Apa kau mengetahuinya nak?” tanya pria yang kira-kira berusia 50 tahun itu sambil terus melihat kedepan tanpa melirikku sama sekali.
“mengetahui apa?” tanyaku sambil mencari matanya, mencari arti pandangannya.
“walau Ayahmu sangat dihormati di sini, namun dia tetap bodoh.”
“mengapa anda berkata demikian?” tanyaku ketus
“bagaimana tidak, dia memaksa akan membuat pesawat itu di Indonesia. Kami tahu benar apa yang akan terjadi, dan hal itu memang telah terjadi.” jawabnya dengan santai
“dia berjuang untukku.”
“tentu saja, itu yang membuatnya dihormati disini. Direksi telah melarangnya dengan keras untuk merakitnya di Indonesia. Namun dia memohon dengan sangat, sehingga izin itu diperolehnya.”. Aku terdiam cukup lama hingga tak terasa telah sampai di depan ruang simulasi.

“Jika aku jadi ayahmu, aku akan melakukan hal yang sama.” katanya yang kini melihat kearahku dan tersenyum.
“Sekarang pakai seragammu, ini adalah seragam khusus yang dibuat untukmu dan timmu.” ujarnya lagi sambil mengambilkan sebuah seragam latihan bagi astrounot yang telah terpampang rapi di depan ruang simulasi. Seragam itu berlogo NASA di lengan kirinya, namun yang membuat aku bangga mengenakannya adalah adanya bendera Indonesia di lengan kanannya dan juga gambar garuda di bagian dada kiri dan bendera Indonesia lagi di dada sebelah kanan. Di bawah bendera itu tertera namaku.

Aku tak menyianyiakan waktu dan segera memakai seragam latihan itu, aku melihat empat orang dengan seragam yang sama telah menunggu aku di dalam.
“Hai, aku Andrew. Kita sekarang adalah tim.” sapa seorang yang aku kira memiliki usia sama denganku.
“Kristant ya, aku Nina. Senang bisa bertemu denganmu.” seorang gadis menujuku dan menjabat tanganku. Bella dengan rambut pirangnya itu telah membuat aku sesaat tak mengedipkan mata, terpesona.
“bagaimana kau bisa tahu namaku?” aku heran
“semua orang di sini juga pasti tahu.” jawabnya, aku menatapnya tajam.
“hei, perhatikan aku juga. Aku Bella, dan kita akan bersama menginjakan kaki ke bulan.” celetuk perempuan berambut sebahu itu.
“oh, benarkah itu?” tanyaku ragu
“benar sekali, aku dan Nina akan mengendalikan pesawat kalian di pesawat pengendali. Perkenalkan aku Brown.” seseorang yang bertubuh kekar itu berdiri dan menepuk pundakku, mencoba akrab.

Aku duduk di sebelah bella karena memang itu satu-satunya kursi yang kosong. John segera mengambil alih pembicaraan dan segera memulai kelas. Sesekali bella melirikku, diam-diam juga aku menaruh rasa padanya, dan itu adalah saat dimana Ica terlupakan.

Aku membuka pesan singkat di HP ku dan menyadari ada sebuah pesan baru dari Ica “Kris, aku sekarang sudah masuk SMA, bagaimana kabarmu?”
“Aku di sini baik-baik saja. Dan kau, bagaimana kabarmu?”
“aku juga baik. Aku menunggumu Kris, cepatlah pulang.” balasnya.
“tentu saja aku akan kembali untukmu.” aku membalasnya dengan cepat, namun tak ada jawaban darinya.

Hari-hari yang aku lalui selama setahun itu sama seperti hari-hari yang telah terjadi dan itu sedikit membuataku bosan, namun kini tahun berganti dan juga umurku yang semakin bertambah serta pemahaman tentang penjelajahan bulan yang semakin bertambah. Aku siap, siap untuk mengibarkan bendera MERAH PUTIH di sana.

Setelah melewati masa latihan itu dan juga bertepatan dengan selesainya GARUDA 1 kini yang aku tunggu hanyalah waktu untukku menaikinya. Pemerintah Amerika menyiarkan penerbangan ini secara langsung dan menyebarluaskan hal ini hingga seluruh dunia tahu, termasuk INDONESIA.

Aku segera menaiki tangga yang menghubungkannya dengan pintu GARUDA 1 di dalamnya sangat keren seperti mimpi aku bisa masuk ke dalam pesawat yang super canggih ini. Seperti saat simulasi aku segera mengambil tempat duduk di belakang bersama Bella.

Keringat mulai bercucuran saat suara hitung mundur terdengar sangat keras. Dan kini aku terbang. Sesampainya di orbit aku dan bella masuk ke pesawat yang lebih kecil dan kami berdua segera meluncur ke bulan. Pesawat kami melaju dengan sangat kencang tak sadar ketika Bella telah memeluk lengan kiriku.

Mungkin karena setahun ini kami bersama dan hal itu membuat ada rasa yang aneh ketika ada Bella. Aku sendiri juga menggenggam erat bendera dengan tangan kananku, tak sabar ingin segera mengibarkannya di bulan.

2 jam sudah berlalu dan kini pesawat mendarat mulus di bulan. Aku membuka pintu dan menuntun Bella keluar dari pesawat. Gravitasi lemah sudah menanti kami, namun simulasi yang menurutku lebih dari cukup itu telah membuatku terbiasa.

Sekitar tiga puluh langkah kami berjalan lalu aku menancapkan tiang bendera merah putih di bulan. Di sekitar kain bendera terdapat besi penahan yang membuat bendera itu seolah-olah berkibar di bulan. Aku sangat senang sekali saat itu. Mimpi telah menjadi nyata.

Bella mengambil fotoku di dekat bendera itu, sebagai bukti bahwa merah putih juga bisa berkibar di bulan. Segera itu kami kembali ke pesawat dan segera ke pesawat induk, lalu kembali lagi ke bumi. Ada yang telah lama menungguku disana.

Di bumi kami disambut dengan meriah, namun aku segera memutuskan untuk segera pulang ke Indonesia. Dan orang yang pertama kali ingin aku temui adalah Ica. Entah mengapa aku sangat gugup ketika menyadari aku semakin dekat dengan Ica.

Aku kini tepat berada di depan rumahnya, nyaliku menghilang saat hendak mengetok rumahnya. Namun tanpa aku duga pintu itu terbuka dan itu Ica, jantungku seakan berhenti, keringatku bercucuran tak terkendali. Ica menatapku dan tersenyum lalu memelukku dan berbisik dengan lembut
“Kris, kamu kok lama sekali. Aku kangen kamu.”

SELESAI

Cerpen Karangan: Ariel Kristant
Facebook: facebook.com/ariel.kristant?ref=bookmarks
Ariel Kristant, belajar menulis.

Cerpen Garuda 1 (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nino’s Story

Oleh:
Seperti biasa, Nino menyapa siapa saja yang dia lihat saat akan menuju kelas dengan senyum yang lebar. Dia memang sosok yang ceria dan ramah. Idola di sekolahnya. Sangat sempurna,

Chip Robot (Part 1)

Oleh:
Malam ini aku berjalan menyusuri sepanjang trotoar, di balik kelamnya ternyata menyimpan banyak pesona, jarang-jarang aku bepergian malam hari, ya aku sedang berjalan pulang ke rumah setelah tadi aku

Karena Saya Sayang Kamu

Oleh:
Maria menekan tombol telepon beberapa kali. Terdengar bunyi tut-tut beberapa kali, tapi ia tetap menunggu sambutan dari sana. “Halo,” terdengar suara perempuan separuh baya. “Maaf, Tante. Bisa bicara dengan

Deathka Soul

Oleh:
Tahun ke-4 Sekolah Menengah Umum Deathka didirikan, kejadian mengerikan terjadi lagi. Murid kelas 1A dan B, meninggal secara tragis dengan menerjunkan diri dari atas tebing. Sebanyak lima puluh sembilan

Perbedaan Bukan Penghalang

Oleh:
Hari ini aku bangun agak siang karena hari ini libur kerja tepatnya sih pas imlek. Aku bangun mandi dan seperti biasa setiap kali libur, kerjaanku bermalas-malasan di kosan sambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *