Gaul (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

Wajah Aris memerah karena tegang, dan bukan hanya karena cuaca di luar yang sangat terik. Dia rasa penampilannya sudah sesuai, dia tak lagi memakai celana sobeknya saat ini. Dia benar-benar rapi. Minus wajahnya saja yang tak bisa menghindari perasaan tegang. Entah seperti apa bentuknya. Di hari penting ini rasanya tak mau ia akhiri dengan kecewa. Dia ingin niatnya sekarang bisa diterima dengan baik. Niat ingin melamar kekasih yang sudah hampir tiga tahun ia pacari.

“Bismillah.” Dengan sekali tarik napas, kalimat dzikir menyebut Tuhannya ia gunakan sebagai penebal mental. Seperti memintaNya menjadi penjaga.
Tarikan napas berikutnya, terdengar suara ketukan di pintu kayu cokelat itu. “Tok, tok, tok.”
“Assalamualaikum.” Ia yakin suaranya cukup keras, dan bergetar gugup. Beberapa saat setelah salamnya dari arah dalam ia mendengar derap langkah medekat.
“Walaikummussalam. Sudah datang kamu Ris, ayo masuk. Sudah ditunggu Bapak di dalam.” Terlihat perempuan paruh baya mempersilahkannya masuk. Nampaknya dia sudah menunggu.

Tak banyak waktu untuk basa-basi, mereka langsung masuk ke dalam menuju ruangan tamu rumah dua lantai itu yang ternyata sudah ada beberapa orang terlihat di sana. Terlihat di ujung runangan duduk di kursi single sheet Arum kekasihnya. Sebelah kirinya tak ada orang lain selain Pak Setyo ayah Arum yang berpenampilan layaknya seorang pemuka agama. Benar-benar rapi dengan peci putih di atas kepalanya. “Aris, sudah datang kamu Nak, duduk.” Bagai sebuah mantera hipnotis, langsung saja perintah itu dipatuhi oleh Aris. Dengan canggungnya dia duduk di kursi single sheet di depan orang yang memerintahnya tadi. Duduk pun dia tetap diam, ia tak mau memulai dengan tingkah yang salah, walau dengan diam seperti ini akan membuat sikap gugupnya semakin kentara.

“Jangan terlalu tegang seperti ini, seperti bukan kamu saja.” Pak Setyo mencoba mencairkan suasana di dalam ruang tamu. Ayah Arum ini mengerti betul perasaan pemuda di depannya, ia jadi teringat saat melamar ibu Arum dulu. Saat itu sikapnya pun sebelas dua belas dengan sikap Aris sekarang. Terlihat senyum kecil tersungging di bibir Pak Setyo. “Jadi bisa kamu jelaskan niat kamu datang ke rumah Bapak.”
“Saya mau melamar anak bapak, si Arum.” Ucap Aris singkat kali ini penuh dengan keyakinan yang terlihat dari matanya. Tak ada lagi kegugupan yang terlihat dari lakuannya.

Pak Setyo sedikit terkejut, bukan karena ucapan Aris, melainkan tentang sikapnya yang cepat sekali berubah menjadi tenang. Mengingat beberapa detik lalu sikapnya tak setegas ini. Beda dengan Pak Setyo yang seakan sudah siap dengan pernyataan Aris, wajah tegang terlihat jelas di muka Arum dan ibunya. Mereka seolah tak sabar menunggu apa reaksi Pak Setyo mendengar permintaan Aris. Sejak Aris menyampaikan maksudnya berkunjung, suasana di ruangan menjadi hening. Tak ada sepatah kata pun yang ke luar dari mulut mereka. Bahkan dari seorang Pak Setyo yang sedari tadi mencoba mencairkan suasana yang tegang.

“Jadi bagaimana Pak? Apa niat saya diterima, atau tidak?” Aris begitu terlihat tak tahan dengan diam seperti tadi. Akhirnya dengan segenap keberaniannya dia mencoba untuk memastikan jawabannya. Pak Setyo mendesah pendek, terlihat rona wajahnya menegang. Melihat hal itu Aris jadi semakin kalut, terbayang sudah jawaban yang akan diterimanya.
“Sebenarnya Bapak sudah mengetahui niat kamu datang ke mari dari Arum. Dan Bapak juga sudah menyiapkan jawabannya.” Jawaban yang diberikan Pak Setyo begitu tanggung. Dia berhenti di saat Aris ingin mendengar kelanjutannya. Semakin tegang saja Aris dibuatnya, sampai tak terasa ada butiran-butiran peluh yang menetes membasahi pipinya.

“Jadi…”
“Astaghfirullah Pak, Ibu sampai lupa bikinin Aris minum. Sebentar ya Ris, Ibu buatin kamu minuman dulu.” Baru saja bibir Pak Setyo terbuka memberikan jawaban, Ibu Setyo jadi teringat bahwa sedari tadi ia belum sempat menawari tamunya minuman. Itu karena obrolan mereka berdua terlalu to the point.

Urung saja Pak setyo melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Ia memilih untuk kembali diam, sampai istrinya kembali. Hal ini membuat suasana menjadi tak karuan. Perasaan tegang, takut, dan ingin segera tahu jawabannya, membuat keringat yang membasahi dahi Aris semakin banyak saja. Tak heran sesekali dia terlihat mengusap kepala dengan tangannya sendiri untuk menghilangkan keringat yang menetes.

“Maaf sudah keluapaan tadi Ris, ini Ibu buatin teh hangat. Diminum dulu gih, mumpung masih hangat.” Nampaknya Ibu Setyo sudah selesai dengan membuat minum untuk tamunya. Disuguhkanlah segelas teh dengan cangkir kecil kepada Aris yang belum habis tegangnya, dan tak lupa mempersilahkan untuk meminumnya.
“Iya Bu, maaf merepotkan.” Ucap Aris sembari menyeruput teh dengan pelan-pelan.

Nampaknya sedikit jeda tadi membuat Aris sedikit berkurang rasa gugupnya. Dia sudah siap dengan apa pun yang akan dikatakan Pak Setyo nanti. “Jadi begini Ris, Bapak mengerti maksud kamu itu baik. Bapak juga sudah mengenal kamu cukup lama. Di samping itu kamu juga Bapak lihat selama ini orangnya baik. Namun, untuk urusan yang satu itu sepertinya belum waktunya.” Papar Pak Setyo menjelaskan dengan suara rendahnya, namun dengan kondisi hening seperti sekarang, pasti suara itu terdengar begitu jelas.

Apalagi di telinga Aris yang sejak tadi ia buka selebar mungkin agar tak satu pun kata ia lewatkan. Tentunya jawaban Pak Setyo begitu mengejutkan Aris, itu terlihat dari ekspresi wajah Aris yang terlihat sedikit tersentak mendengar ucapan Pak Setyo. Ia berusaha untuk setenang mungkin menyembunyikan rasa kecewanya, walaupun begitu susah untuk dilakukan. Ia juga sempat tertunduk lesu memikirkan bahwa inilah akhir dari perjuangannya selama ini. Begitu menyakitkan.

“Tapi, Bapak bukan menolak kamu Ris.” Aris menegakkan kepalanya kembali mendengar perkataan Pak Setyo yang tadi terhenti. “Bapak mau kamu kembali ke sini lagi untuk hal yang sama setelah kamu bisa belajar dan mengerti satu hal.” Lanjut Pak Setyo menjelaskan.
“Apa itu Pak?” Tanya Aris begitu penasaran.
“Tolong kamu pahami omongan Bapak ini. Hidup ini bukan soal besar atau kecilnya masalahmu, tapi dengan siapa kamu menghadapinya.”
“Maksud Bapak?”
“Tolong cari arti dari perkataan Bapak barusan. Dan kamu tidak perlu menjawab secara langsung kepada Bapak, cukup tunjukkan dengan sikap kamu.” Pak Setyo menyandarkan punggungnya kesandaran sofa panjang. Memberikan waktu pemuda di depannya untuk mencerna permintaan yang ia sampaikan tadi.

Aris terdiam cukup lama. Ia begitu keras berusaha mengerti maksud perkataan Pak Setyo kepadanya. Tapi percuma, ia butuh petunjuk. “Kamu boleh tanya kepada siapa pun yang kamu anggap dia itu mampu untuk menemukan jawabannya. Karena memang begitu tujuan Bapak.” Aris makin terlihat kalut dengan pikirannya. Dari mulut Pak Setyo sendiri ia mendengar kalau dia bisa meminta bantuan orang lain untuk menemukan jawabannya. Apa maksud dari calon mertuanya ini? “Bapak yakin sama kamu Ris. Bapak tahu kamu anak yang baik dan pintar, jadi Bapak yakin kamu bisa.” Pak Setyo menatap lekat-lekat mata anak muda di depannya. Sementara Aris membalasnya dengan tatapan kurang yakin.

Detik berikutnya mereka kembali ke dalam suasana hening yang begitu kaku. Terlebih untuk Arum dan ibunya yang sedari tadi tidak bisa ikut berbicara. Walaupun begitu, sesekali Ibu Setyo bertanya kepada Aris, hanya sebatas basa-basi untuk mengusir ketegangan yang sudah terlanjur tercipta. Dan sekitar setengah jam kemudian, Aris memutuskan untuk menyudahi kunjungannya di rumah kekasihnya ini. Walau masih dirundung kebingungan memikirkan permintaan calon mertuanya, ia tetap berusaha setenang mungkin saat berpamitan. Dengan diantar Arum sampai depan pagar, Aris pun pulang ke rumahnya.

“Bapak yakin Aris nggak apa-apa?” Sesaat setelah Aris pergi, Ibu Setyo yang begitu penasaran dengan ucapan suaminya tadi langsung menanyakan kegundahannya.
“Bapak yakin kok Bu. Kalau segini saja dia nyerah, berarti dia nggak pantas sama anak kita. Lagian Bapak sudah memberikan petunjuk dengan jelas kok.” Ujar Pak Setyo sambil berlalu menuju kamarnya.

Entah sekarang waktu sudah menunjukkan angka berapa, tapi yang jelas matahari masih bersinar begitu terik di atas kepala. Di jalanan seperti ini pun masih banyak sekali kendaraan lalu lalang dengan begitu cepat. Salah satu dari ribuan kendaran yang melintas terdapat sebuah motor matic hitam yang melaju dengan kecepatan sedang. Motor ini dikendarai oleh seorang pemuda yang sedang dirundung masalah yang begitu berat. Ya, dia adalah Aris. Ini adalah perjalanan pulangnya selepas bertamu ke rumah kekasihnya Arum untuk melamarnya. Alih-laih diterima, Aris harus membawa pulang segudang pertanyaan akibat syarat yang diberikan calon mertuanya.

Hidup ini bukan soal besar atau kecilnya masalahmu, tapi dengan siapa kamu menghadapinya. Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinganya, mengalahkan suara bising kendaraan-kendaraan di sekitarnya. Dan terlalu larut dalam masalah kalut nampaknya membuat Aris harus menerima konsekuensinya. Konsentrasinya pecah, padahal saat ini dia sedang mengendarai kendaraannya di jalanan yang cukup padat. Dia bahkan tak menyadari kalau di depannya ada sebuah mobil box putih besar yang terlihat mengalami masalah.

DORR!!!

Ban bagian belakang mobil box itu pecah. Suara letupannya pun begitu kencang, mengejutkan bukan hanya kendaraan yang ada di sampingnya, namun juga beberapa orang yang ada di pinggir jalan. Banyak sekali orang-orang yang berteriak begitu kencang saat melihat kejadian ini, namun tak banyak membantu. Laju mobil box tak bisa dikendalikan sang supir. Dan akhirnya mobil box yang bobotnya berton-ton itu terguling di tengah jalan yang sedang ramai.

Tak pelak beberapa kendaraan yang berada tepat di depan dan belakang mobil box mengalami kepanikan. Mereka berusaha mengendalikan kendaraan masing-masing agar setidaknya tidak menabrak mobil box yang sedang terguling. Termasuk Aris yang berada sekitar 10 meter di belakang mobil box. Ia mencoba segala cara, mulai dari menarik rem tangannya dengan begitu keras, tapi sial jaraknya sudah tak memungkinkan. Kondisi ini diperburuk dengan sebuah motor di belakangnya yang juga terlambat mengerem menabrak bagian belakang motor yang dikendarai Aris.

BRAAKKK!!!

Tabrakan tak bisa dihindari. Aris harus tesungkur ke tanah setelah motornya ditabrak dari arah belakang kemudian terbentur mobil box yang roboh di depannya. Tabrakan ini membuatnya tak berdaya tergeletak di tanah. Keributanpun langsung pecah saat hampir sepuluh motor mengalami kecelakaan serupa. Kondisi jalan jadi semerawut lantaran banyak sekali warga yang mendekat dan mencoba menolong pengendara yang terjatuh.

Kondisi para korban bermacam-macam, mulai dari yang hanya mengalami luka lecet di sekujur tubuh sampai yang terparah ada yang mengalami patah tulang di bagian tangan dan kaki. Dan salah satu korban yang terluka paling parah adalah Aris yang harus mengalami patah di lengan kanannya. Dia sempat tak sadarkan diri saat dievakuasi oleh warga. Warga pun dengan sigap langsung membawa Aris dan korban lain ke rumah sakit terdekat yang ada di sana.

“Ugghhh…” Aris terbangun dari pingsannya tadi. Ia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Yang ia ingat terakhir tadi, ia mengalami kecelakan di jalan dan tak ingat lagi setelah ia merasakan tubuhnya diangkat setelah terjatuh. “Mas sudah siuman?” Suara itu datang dari seorang perawat perempuan lengkap dengan setelan perawatnya. Dia terlihat begitu ramah dan senang melihat Aris sudah sadar.

Namun walaupun matanya terbuka, Aris masih belum sepenuhnya bisa mengendalikan kesadarannya. Di matanya sekarang terlihat cahaya putih terang yang berasal dari lampu ruangan tepat di atas kepalanya. Hidungnya pun menangkap bau yang begitu khas dari ruangan ini, bau obat-obatan dan entah kenapa penciumannya menjadi begitu peka sekarang. Aris masih bisa mendengar tanya dari perawat. Setelah dia sedikit bisa mengontrol napasnya, dia menoleh ke arah perawat yang masih menunggu responnya.

“Saya.. saya di mana?” Suara Aris masih parau. Masih begitu lemah dan terbata. Ia mencoba untuk menggerakkan badannya, tapi gagal karena rasa sakit yang menang. Dia bahkan seperti tak bisa merasakan tangan kanannya. “Tolong jangan bergerak dulu Mas, Mas belum kuat betul. Mas ingat kan kalau mas kecelakaan tadi. Badan Mas lecet-lecet dan tangan kanan Mas patah tulang. Untuk sementara saya yang akan membantu segala urusan Mas. Kami juga sudah menghubungi keluarga Mas, jadi Mas tidak perlu khawatir lagi.”

Serasa mendapat sedikit angin segar, penjelasan dari perawat itu benar-benar membuatnya lebih tenang. Walaupun dia tak mampu untuk berkata-kata lagi. Aris memilih untuk diam saja, sambil merasakan sakit yang dia rasakan sampai nanti orangtuanya datang menjemputnya. Beberapa menit kemudian saat dia benar-benar tak tahu harus melakukan apa, kedua orangtuanya datang dengan panik dan langsung menuju ruang di mana anak mereka sedang terbaring. Orangtua Aris mendapat beberapa penjelasan panjang lebar dari perawat dan dokter yang menanganinya. Dan setelah menyelesaikan segala macam urusan administrasinya, akhirnya Aris mendapat penanganan yang lebih serius lagi.

Seminggu sejak dirawatnya Aris akibat kecelakaan yang dia alami, walaupun masih belum pulih sepenuhnya, yang jelas kondisi Aris sekarang jauh lebih baik dari pertama kali dia dibawa kemari. Dia mendapat perawatan-perawatan yang baik dari pihak rumah sakit, mulai dari operasi untuk menyambungkan tulangnya kembali, terapi-terapi untuk memulihkan tubuhnya, hingga pengawasan selama 24 jam.

Kebanyakan korban kecelakaan yang kemarin dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Aris sudah bisa pulang terlebih dahulu. Mungkin karena kondisi luka yang mereka derita tak begitu parah. Dan nampaknya Aris menjadi pasien terakhir yang meninggalkan rumah sakit. Dan setelah semua urusan tektek bengek di rumah sakit terselesaikan, Aris bisa sedikit bernapas lega dan pulang kembali ke rumahnya. Entah kenapa sekarang pulang menjadi hal yang begitu ia tunggu, padahal biasanya yang ia rasakan tak seperti ini. Mungkin karena dia sudah bosan dengan bau obat ruangan rumah sakit yang sangat menyengat, membuat ia susah untuk menelan makanannya.

“Kamu itu mikirin apa sih Ris, kok bisa-bisanya sampai ikut-ikutan kecelakaan kayak gitu.” Di dalam mobil menuju rumahnya, Bapak Aris membuka pembicaraan dengan masih tetap memegang kemudi mobil. Dia hanya melirik anaknya dengan kaca spion di atas kemudinya.
“Iya Ris, kok bisa ikutan jatuh. Kamu lagi ngelamun mungkin waktu itu atau lagi mikirin sesuatu?” kali ini Ibunya yang ikut menimpali dengan pertanyaan. Dia berada di samping Aris yang duduk di bangku penumpang sambil memijit-mijit pundak anaknya.
“Ya Aris juga nggak ngerti Pak, Bu. Namanya juga musibah, semuanya tiba-tiba.” Aris menjawab dengan lesu, rasanya sudah puluhan kali ia mendapat pertanyaan seperti ini. Dan kenapa setiap orang yang menemuinya mempertanyakan hal itu, pikirnya.

Tapi mungkin yang dikatakan Ibunya sekarang ada benarnya. Memang saat itu dia sedang memikirkan sesuatu hal, hal yang begitu penting, bahkan yang akan menentukan nasibnya nanti. Namun dia tak mau menceritakannya dulu kepada orangtuanya, setidaknya saat seperti ini dia tak memilih untuk memikirkan hal-hal berat. Laju mobil yang mereka tumpangi tak begitu kencang, terasa begitu santai melaju, sesantai pikiran Aris yang sedang bersandar di kaca mobil sembari melihat pemandangan di luar sana. Beberapa waktu kemudian, sampailah mereka di sebuah pemukiman padat penduduk di barat kota.

Bukan kawasan elit, hanya kawasan penduduk biasa saja. Untuk menuju rumahnya saja, Aris dan keluarganya harus memarkir mobil mereka di ujung gang, dan harus berjalan beberapa meter ke dalam. Sampai rumah banyak sekali tetangga yang menjenguknya. Batallah rencana Aris untuk langsung istirahat karena harus meladeni segudang pertanyaan dari mereka. Dan baru saat tetangganya satu per satu pergi Aris bisa merebahkan tubuhnya di kasur yang diletakkan di ruang depan. Tujuannya tentu untuk lebih memudahkan Aris mengakses semua ruangan rumah. Akan repot sekali kalau dia harus naik turun ranjang kamarnya untuk melakukan sesuatu. Jadilah dua buah kasur busa ditata sedemikian rupa di sudut ruangan untuk tempat Aris beristirahat.

Hari-hari berlalu begitu lambat di pikiran Aris, dia masih tergolek lemas di kasur tidurnya. Hanya handphone kecil itu yang menjadi temannya selama ini. Apalagi semenjak orangtuanya memutuskan untuk pulang kemarin. Memang saat ini Aris tidak tinggal satu rumah dengan orangtuanya. Ia memutuskan untuk menempati rumah pamannya yang sudah tidak ditinggali sejak ia bekerja di perusahaan asuransi di tengah kota.

Drrtttt… Drrtttt…
Hand phone milik Aris bergetar, nampaknya ada panggilan masuk. Setelah ia lihat dari siapa, baru dia memencet tombol untuk menjawabnya. “Iya, waalaikum salam. Alhamdulillah udah baikan kok, kamu gimana sehat kan? Mau ke sini minggu depan? Iya udah yang penting kabari dulu sebelum datang, biar Mas bisa siap-siap. Iya, iya.. Waalaikum salam.” Percakapan Aris di telepon tak begitu panjang, telpon itu dari Arum kekasihnya. Arum menanyakan kabarnya, dan memberitahukan bahwa keluarganya akan menjenguk Aris minggu depan.

Ya setidaknya, Aris punya waktu seminggu untuk mempersiapkan diri, mengingat kondisinya yang sekarang tak begitu layak untuk menemui mereka. Minimal dalam waktu seminggu dia akan membenahi diri dan rumahnya. Pagi ini sepertinya akan menjadi pagi yang panjang untuk dilalui. Aris begitu bosan tinggal di rumah dan berdiam diri, jadi dia memutuskan untuk menghibur dirinya dengan berjalan-jalan ke luar rumah. Tak terlalu siang memang saat Aris ke luar rumah, karena waktu sekarang baru menunjukkan pukul 08.30. Cuaca di luar juga tampak belum terik dengan cahaya matahari. Masih terasa segar.

Saat di luar, dia memutuskan untuk duduk sejenak di kursi depan pagar rumahnya. Mengamati lingkungan sekitarnya yang sudah hampir dua minggu tidak dilihat. Walau sudah hapal dengan pemandangannya, namun baru kali ini dia mengamati detail lingkungannya. Entah karena sudah lama dia tidak pulang, atau memang selama ini dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, ia begitu terheran melihat lingkungan rumahnya. Banyak sekali detail-detail yang baru pertama kali dia lihat. Sebut saja pot bulat di pelataran rumah Bu Mirna, atau warna cat tembok rumah Pak Togar yang sudah berubah dari biru ke putih cerah.

“Apa segitunya aku melewatkannya?” gumamnya lirih heran dengan dirinya sendiri. Di tengah asyiknya dia melamun, dia tak menyadari seseorang mendekat ke arahnya. Seorang pria paruh baya berpenampilan sederhana. Nampaknya ia ke luar dari rumah sebelah, sebuah rumah yang dihiasi spanduk memanjang di atapnya yang bertuliskan, “Maman Taylor, menerima pesanan jahit.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Rizki Ashari
Facebook: ashari_rizki[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Gaul (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpisahan Termanis

Oleh:
“Aku harus pergi meninggalkan kota ini,” ucap Rona memulai pembicaraan. “Tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan sekolah di sana?” tanya kekasihnya. Rona hanya mengangguk perlahan. Matanya menerawang jauh ke arah

Apa Adanya

Oleh:
Malam yang dingin tak pernah Sastra rasakan bahwa itu adalah suasana yang melelahkan. Baginya, semua waktu adalah suasana yang harus ia jalani. Menuliskan seribu kisah dan menjadi sorotan utama

Antara Kita dan Taekwondo

Oleh:
Awal mulanya aku masuk organisasi taekwondo, aku disitu kenal banyak temen, salah satunya Mitsalina yang sekarang sudah ngelanjutin perguruan tinggi negeri di Malang. Kita awal latihan taekwondo itu semangat

Siapa Sih Billy?

Oleh:
Semilir angin lembut siang ini menyibak helai demi helai rambut panjangku. Aku masih duduk manis di kursi taman ini hampir 2 jam yang lalu. Entah bagaimana rupa orang yang

18 Bulan Bersama Hujan

Oleh:
Suara angin dan petir bergemuruh mengiringi hujan deras malam itu di tengah Kota Jakarta. Di sebuah appartemen, Surya dan Indira duduk berhadapan, saling diam. Lampu appartemen yang temaram dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *