Gaun dan Sebatang Coklat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 June 2019

Gaun megah dengan taburan permata Swarovski, sepatu hak yang amat cantik, serta seorang pria tampan yang akan berdiri di sebelahmu.. Bukankah itu mampu membuat semua gadis yang ada di dunia ini bahagia?

Tidak dengan seorang gadis yang sedang mematut dirinya di depan kaca berukuran besar itu. Ia memasang wajah termasam yang pernah ia miliki.

Gaun ini.. Kenapa bisa terlihat indah sekaligus menyakitkan dalam waktu yang bersamaan? Batinnya sambil menghela nafas panjang. Meskipun ia terlihat cantik saat mengenakan gaun tersebut, tetapi ada ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Gadis itu tahu; melihat gaun ini sama saja seperti melihat bayangan kakaknya di depan cermin.
Ariella, kakak perempuannya yang gagal menikah dengan Ares, calon suaminya sekarang.

“Ta, kamu sudah selesai? Kenapa lama sekali?” Seru Ibunya dari luar. “Apa kamu butuh bantuan?”
Gadis itu tersadar dari lamunannya.
“Iya, Bu, sebentar lagi aku keluar!” Jawab Arietta—gadis tadi. Arietta mengangkat sedikit gaunnya dan berputar, lalu menarik nafas panjang sebelum membuka pintu kamar ganti itu. Ia menyiapkan diri dengan segala kemungkinan yang akan terjadi pada reaksi Ares saat melihatnya menggunakan gaun yang telah dipesan oleh Ariella.
Saat ia membuka pintu, semua orang yang berada di sana terperangah.

“Arietta.. Kamu cantik sekali.” Puji Ibunya dengan senyum sumringah.
“Anak Ayah sudah dewasa sekarang,” Ayahnya tersenyum bangga. “Kamu jadi semakin mirip dengan kakakmu.”
Arietta hanya meringis saat mendengar perkataan itu. Bahkan, Ayahnya pun mengatakan kalau ia mirip dengan kakaknya.

Mata Arietta langsung beralih kepada Ares. Wajah pria itu menampakkan ekspresi terkejut, tetapi berbeda dengan ekspresi kedua orangtuanya. Arietta yakin, perasaan Ares sedang campur aduk sekarang. Arietta juga amat yakin kalau sekarang Ares kembali teringat Ariella, kakaknya yang meninggal dalam kecelakaan naas tahun lalu. Wanita yang selalu dicintai Ares, wanita yang sudah menjadi sejarah terindah sekaligus menyakitkan dalam kehidupan pria itu.

“Ares..” Panggil Arietta ketika melihat pria itu hendak berjalan keluar. “Kamu mau ke mana?” Arietta berusaha mati-matian menahan perasaan yang tiba-tiba menyeruak minta keluarkan.
“Aku.. Mau cari angin dulu,” Jawab Ares. “Di sini pengap sekali.” Ia tertawa canggung, kemudian tanpa mendengar tanggapan Arietta, ia keluar.
“Setidaknya beritahu aku dulu apa pendapatmu, Res,” Lirih Arietta.
Sepeninggal Ares, suasana di sana jadi ikut canggung.

“Aku mau ganti ini dulu..” Kata gadis itu sambil berputar kembali untuk masuk ke dalam kamar ganti. Saat ia menutup pintu, terdengar Ibunya mengomeli Ayahnya karena sudah menyinggung tentang Ariella. Dadanya terasa sesak dan pandangannya mulai memburam. Tak lama kemudian, genangan air menuruni kedua pipi gadis itu, membuatnya terisak pelan.

Kak, aku sudah tahu semua akan jadi seperti ini. Batin Arietta.

Sesampainya gadis itu di rumah, ia segera masuk ke kamar tanpa mengajak kedua orangtuanya berbicara. Bahkan, tadi ia mengacuhkan Ares yang berpamitan pulang. Arietta masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya ke atas kasur. Saat ini ia hanya ingin sendirian, merenungi peristiwa yang baru saja terjadi.
Kalau bukan karena permintaan Ariella, dirinya juga tidak ingin melakukan hal ini. Gadis itu sampai sekarang masih tidak tahu apa alasan kakaknya meminta ia menggantikan posisinya sebagai calon istri Ares. Hatinya selalu bertanya-tanya, apakah kakaknya tidak tahu kalau sampai kapanpun ia tidak akan tergantikan di dalam hati Ares?

Arietta membuka laci di nakas sebelah tempat tidurnya dan mengambil sebuah lipatan kertas.

Untuk Adikku tersayang..

Itu surat dari Ariella.

Maaf kalau selama ini kakak cerewet padamu. Maaf kalau selama ini kakak selalu mengatur-ngatur kehidupanmu. Tapi percayalah, kakak sayang kamu. Maafkan kakak juga karena pergi meninggalkanmu secepat ini. Kakak harap, setelah ini kamu jangan membuat Ibu dan Ayah khawatir lagi, ya. Jaga tingkah lakumu. Kakak minta jangan pernah pergi ke club dan minum-minum lagi. Kamu tahu, itu semua buang-buang uang. Lebih baik kamu bantu menabung untuk persiapan pernikahanmu.
Kamu pasti sekarang sedang mengerutkan dahimu ketika membaca kalimat tadi.
Kakak tahu.. Tentang perasaanmu kepada Ares. Oleh karena itu, Kakak ingin kamu yang menggantikan Kakak untuk mendampingi Ares di kehidupan mendatang. Pakailah gaun pernikahanku, supaya Ibu dan Ayah tidak perlu membayar sewa gaun lagi.
Ya, kakak menjodohkanmu dengan Ares. Ini perjodohan sepihak.
Kakak selalu sayang padamu, Tata. Jaga diri baik-baik. Jaga Ibu dan Ayah. Juga Ares.

— Ariella.

Arietta melipat kertas itu lagi dan membenamkan wajahnya di atas bantal.

“Aku cinta Ares.. Tapi Ares tidak,” Gumamnya dengan suara yang tidak jelas. “Ini semua tidak ada gunanya, Kak.”

“Segelas vodka untuk nyonya yang sebentar lagi menikah.” Ucap Frans, seorang bartender di club yang sering Arietta datangi.

Ini pertama kalinya Arietta datang kembali setelah sekian lama tidak pernah datang karena permintaan kakaknya. Hari itu, ia memutuskan untuk bersikap tidak peduli dengan semua nasehat Ariella. Yang ia inginkan hanyalah melupakan sejenak permasalahan yang ia hadapi sekarang.
Yang mengancam pernikahannya dengan Ares.

“Menikah?” Ia tertawa hambar. Ia menenggak minuman itu sampai habis. “Beri aku lebih banyak.”
Frans menuangkan vodka ke dalam gelas Arietta lagi. Dalam hitungan detik, gelas itu sudah kosong lagi.

“Aku minta tiga gelas sekaligus!”
“Arietta, jangan gila,” Kata Frans. “Kamu tidak pernah minum lebih dari tiga gelas.”
“Aku tidak peduli!” Arietta menarik kerah Frans. “Aku kira semuanya bakalan berjalan mulus. Tapi ternyata tidak. Semua pria sama saja!” Serunya sambil mengguncang-guncang Frans.
“Arietta.. Aku rasa kamu sudah mabuk..”
“Aku mabuk? Kita lihat siapa yang mabuk di sini!” Gadis itu meminum minuman yang ada di depannya dengan cepat.

“Frans, ada apa?” Tanya seorang bartender lain. “Manager menyuruhku mengecek keadaan di sini, keributan ini cukup membuat pengunjung lain terganggu.”
“Ternyata seorang gadis yang depresi bisa semenyeramkan ini,” Frans bergidik. “Sam, aku serahkan ini ke kamu.”
“Apa?” Sam— pria tadi —menolehkan pandangannya ke arah Arietta yang sedang bergumam tidak jelas.

“Perjodohan sialan… Sudah kuduga hal ini pasti tidak akan berhasil,” Racau Arietta sambil membenamkan wajahnya. “Aku bingung, siapa yang bodoh di sini. Aku, yang menerima perjodohan ini, atau kakakku yang membuat perjodohan ini.”

“Hei, kurasa sebaiknya kamu pulang, daripada kamu mengacau di sini.” Kata Sam sambil membereskan gelas milik Arietta. Pria itu mendengus kesal.
“Berikan aku segelas vodka lagi, kemudian aku akan pulang..”
“Tapi—”
“Kumohon…”
Sam menghela nafas dan menuangkan vodka kedalam gelas Arietta. Gadis itu menatap gelasnya sebentar, kemudian meminumnya sampai tandas. “Ini uangnya..” Arietta mengeluarkan uang sepuluh ribu dari dalam kantong celananya. “Aku akan kembali..”

Gadis itu turun dari kursi dan berjalan terhuyung-huyung menuju ke pintu keluar. Ia mengabaikan sejumlah orang yang sedang menggodanya.

“Sepuluh ribu? Gadis itu gila..” Gumam Sam.

Bruk.
Ketika Arietta terjatuh dan mencoba berjalan lagi, Sam mendecakkan lidahnya dan segera menghampiri Frans.

“Frans, aku izin keluar sebentar. Bilang pada Manager kalau aku mencari obat sakit kepala,” Katanya. Kemudian ia mengeluarkan sejumlah uang. “Ini uang dari pelanggan tadi.” Setelah mengatakan hal itu, Sam segera mengambil jaket dan mengikuti Arietta yang berjalan sempoyongan.

Saat sudah di luar, Sam mendengar gumaman yang keluar dari mulut gadis itu.
“Kenapa kamu masih ingat kakakku yang sudah meninggal…”

“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Sam.
Arietta menoleh ke kanan dan melihat wajah pria itu. “Apa aku terlihat seperti orang yang baik-baik saja?”
Yah, pertanyaan yang sangat bodoh, Sam. Batin pria itu.

“Kupikir sebaiknya aku mengantarmu pulang, tapi setelah aku membelikanmu obat sakit kepala dan air mineral,” Katanya. “Ayo.” Sam menarik tangan Ariella menuju ke minimarket di ujung jalan tersebut.

“Hei bartender,” Panggil Arietta. “Menurutmu apa itu pernikahan?”
Bartender katanya? Batin Sam sambil mendengus.

“Aku tidak tahu apa itu pernikahan.” Jawab Sam dengan sekenanya. Ia hanya ingin segera mengakhiri ini semua dan kembali untuk mengerjakan pekerjaannya. Sam mendorong pintu minimarket dan melepaskan tangan Arietta ketika mereka sudah berada di dalam. Gadis itu dengan menurut mengikuti Sam kemanapun pria itu berjalan. Sesekali, ia terhuyung dan menabrak bahu Sam.

Pria itu melihat sebatang coklat dan memutuskan untuk mengambilnya setelah sebelumnya mengambil sebotol air mineral.
Mereka berdua berjalan menuju ke kasir. “Tolong, obat sakit kepalanya,” Ucap Sam pada kasir tersebut. “Saya juga beli ini.” Ia menyerahkan barang belanjaannya.

“Semuanya dua puluh lima ribu.”
Pria itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dalam kantongnya. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah keluar dari minimarket tersebut. Sejenak, tidak ada yang bersuara. Setelah tadi menanyakan hal itu pada Sam, ia jadi diam.

“Hei, kenapa kamu diam di sana?” Sam membalikkan badannya setelah tidak merasakan kehadiran Arietta.
Arietta terdiam.
“Hei, kau— pelanggan.” Sam balas memanggil gadis itu dengan sebutan pelanggan, mengingat panggilan Arietta untuknya tadi.

Tiba-tiba saja, kedua bahu gadis itu bergetar.
“K-kenapa kamu menangis?” Sam langsung menghampiri Arietta. “Jangan menangis di sini” Ucapnya bingung.
“Dari awal seharusnya aku tahu Ares sama sekali tidak mencintaiku..” Ucapnya yang membuat Sam terdiam. “Surat terakhir kakak yang membuatnya seperti ini.. Aku terlau berharap Ares bisa mencintaiku..”
Sam menatapnya ragu.

Arietta mengangkat kepalanya dan menatap Sam. “Bodoh.”
“Kenapa kamu mengatakan aku bodoh?” Sam mengerutkan dahinya.
“Aku.. Bodoh..”
Memang. Apa gunanya menangisi pria yang tidak mencintaimu? Gerutu Sam dalam hati.
“Dasar merepotkan,” Gumam pria itu. “Ayo, kuantar kamu pulang. Di mana rumahmu?”

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Arietta. “Apa yang harus kulakukan?”
“Relakan dia. Pergi, raih kebahagiaanmu sendiri.”
Arietta terdiam.

“Kebahagiaanmu bukan tergantung orang lain. Kamu yang ciptakan sendiri,” Lanjut Sam. “Semua orang layak untuk bahagia, termasuk dirimu.”
“Kamu benar.. Aku tidak bahagia..” Ucap Arietta sambil memegangi ujung jaket Sam dengan erat. “Selama ini.. Aku hanya berpura-pura bahagia.. Berpura-pura tidak menyadari kalau Ares masih mencintai kakakku.”
“Jangan menangis lagi,” Kata pria itu. “Simpan air matamu untuk sesuatu yang lebih berguna dibandingkan menangisi pria bernama Ares. Dia tidak layak untuk kamu tangisi.”
Arietta terdiam.

“Ya sudah, ayo, kuantar kamu pulang.” Sam menarik tangan Arietta.
“Dingin..” Gumam gadis itu.
Sam melepaskan jaketnya dan memakaikan benda itu kepada Arietta. Ia kemudian mengambil sebotol air mineral yang tadi ia beli. “Minumlah. Tenggorokanmu pasti sakit setelah tadi meneriakki Frans dan menangis tanpa henti,” Katanya setelah membuka tutup botol tersebut.

“Kenapa..?”
“Kenapa apanya? Aku menyuruhmu minum supaya—”
“Kenapa kamu begitu baik padaku, Sam?” Tanya gadis itu sambil menatap Sam di kedua manik matanya.
Dia tahu namaku juga ternyata. Batin pria itu.

“Aku hanya tidak bisa melihat seorang gadis menangis untuk hal-hal yang tidak penting.”

Bruk.
“Hmm..” Gumam Arietta. Ternyata gadis itu tertidur setelah kepalanya menabrak tubuh Sam.
“Dia tidak mendengarkan jawabanku dan malah tertidur?” Gerutu Sam. “Kita tidak kenal dan kamu benar-benar merepotkanku.” Sam mengangkat membawa tas gadis itu dan mengangkat Arietta ke punggungnya.

Setelah berjalan beberapa menit, Sam baru sadar sesuatu.
“Di mana rumahnya?” Tanyanya pada diri sendiri.

Keesokan paginya, Arietta terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Ia mengerang pelan. “Apa-apaan ini..” Gumam gadis itu. Tangannya menyentuh tas yang semalam ia bawa. “Ponselku.. Di mana?” Ketika Arietta membuka tasnya, ia melihat satu strip obat sakit kepala dan sebatang coklat, disertai pesan singkat yang ditulis di atas kertas.

‘Pastikan besok setelah sarapan pagi kamu meminum obat ini. Karena aku yakin besok kepalamu akan terasa sakit sekali. Dan kalau kamu masih sedih, makan coklat ini. Kudengar, makan coklat bisa membuat perasaanmu lebih membaik. (Oh ya, aku membuka dompetmu untuk melihat alamat. Maafkan aku kalau aku lancang. Omong-omong, foto masa kecilmu lucu juga. –Sam’

“Sam?” Arietta mengerutkan dahinya. Kemudian ia teringat kejadian semalam. Ia mabuk, kemudian marah-marah seperti orang gila, bertemu Sam, dan pria itu mendengarkan celotehannya yang tidak penting. “Astaga, Arietta! Kamu memalukan sekali!” Teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan itu.
“Kenapa bisa aku mengatakan hal-hal tidak penting pada pria yang bahkan tidak aku kenal?” Gerutunya. “Tunggu dulu.. Bahkan dia melihat fotoku saat masih kecil!”

Ting!
“Eh?” Ia mengambil ponselnya. “Siapa yang menghubungiku pagi-pagi sepert—”
Gadis itu terdiam.

Dalam pesan masuk itu, Ares mengatakan kalau pria itu hendak mengajak Arietta jalan-jalan hari ini sebagai tanda permintaan maaf.
“Selalu seperti ini..” Gumamnya pelan.

“Ta, kamu sudah bangun?” Suara Ibunya terdengar dari luar.
“Aku sudah bangun, Bu.” Jawabnya.

Pintu kamar gadis itu perlahan terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk dan duduk di pinggir ranjang Arietta.

“Aku tahu kemarin aku salah, Bu.”
Ibunya tersenyum. “Sam. Dia baik juga ternyata. Padahal kalian berdua baru kenal,” Ucap wanita itu, mengabaikan perkataan Arietta tadi. “Kasihan sekali dia harus mengantarmu dengan naik taksi sampai ke rumah, lalu menggendongmu naik ke kamar. Ia pasti sangat kelelahan.”

“Ap—apa?!” Seru Arietta. Wajahnya sudah merah padam. “Dia menggendongku?!”
Ibunya tertawa. “Iya. Kamu tidur pulas, tahu.”
“Astaga.. Benar-benar memalukan..” Arietta menepuk dahinya.
“Kemarin, Sam…” Kemudian bergulirlah cerita tentang kejadian semalam dari mulut Ibunya.

Sore harinya, Ares menjemput Arietta di rumah.
“Kita mau kemana, Res?” Tanya gadis itu setelah mereka berdua berada di dalam mobil. Arietta bersikap seolah-olah kejadian kemarin bukan apa-apa.
“Kamu sudah makan?” Tanya pria itu sambil menyalakan mesin mobilnya.
Arietta menggeleng. “Belum. Kamu sudah?”
“Belum juga,” Ares menjalankan mobilnya. “Bagaimana kalau kita makan di restoran Jepang? Aku sudah lama tidak kesana.”
Tentu saja kamu sudah lama tidak kesana. Restoran itu kan tempat favorit Kak Ella.. Batin Arietta dengan wajah sedih. Namun, gadis itu tersenyum. “Boleh saja,” Katanya. “Tapi bisa tolong antar aku ke rumah teman dulu? Ibu menyuruhku mengantarkan pudding bikinannya.”
“Baiklah, di mana rumahnya?”
“Kata Ibu rumahnya ada di ujung kompleks sebelah.”

Ares mengendarai mobilnya keluar kompleks perumahan Arietta.

“What hurts the most, was being so close, and having so much to say, and watching you walk away…” Lagu What Hurts the Most milik Rascal Flatts itu mengalun dari radio yang di berada di mobil Ares. Di sana, masih tergantung foto Ariella saat menggunakan toga. Kakaknya itu terlihat sangat bahagia.

Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di rumah Sam. Rumah itu terlihat kosong.
“Apa temanmu itu ada di rumah? Kurasa rumah ini kosong.”
“Entahlah, biar kucoba saja.” Gadis itu turun dari dalam mobil. Arietta memencet bel rumah itu beberapa kali, namun tidak ada seorang pun yang keluar dari sana.
“Kurasa Ares benar.. Sam tidak ada di rumah.”

Saat Arietta hendak berbalik, tiba-tiba saja ia mendengar suara pintu dibuka. Sam muncul dengan wajah kusut sehabis bangun tidur.
“Siapa it— kamu?!” Matanya yang tadi masih setengah terbuka, kini terbuka sepenuhnya. Ia berlari ke dalam rumah. Arietta tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Sam tadi. Setelah beberapa saat tertawa, ia menyadari sesuatu. Ia sudah lupa kapan terakhir kali dirinya tertawa selepas itu.

Selang beberapa menit, Sam keluar dengan memakai kaos biru dan celana pendek berwarna hitam. Rambutnya juga sudah disisir. “Bagaimana caranya kamu tahu aku tinggal di sini?” Tanya pria itu sambil membukakan pagar. “Mau apa kamu ke sini?” Ia mendengus.
“Kamu lupa? Bukankah Ibuku yang menanyakan hal itu padamu?” Jawab Arietta dengan geli. “Ia menyuruhku memberikan ini padamu.” Gadis itu menyodorkan sebuah tempat makan pada Sam.
“Apa ini?”
“Pudding cokelat.”
“Kenapa beliau memberikan ini padaku?”
“Sebagai ucapan terima kasih,” Arietta membuang muka, malu mengingat kejadian kemarin malam. “Aku juga ingin berterima kasih padamu.”
“Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot kemari,”
Arietta mengacuhkan perkataan Sam. “Terima kasih sudah mau mendengarkan ocehanku yang tidak jelas,” Katanya. “Terima kasih juga untuk air minum, obat dan cokelatnya.. Aku senang.”
Mendengar ucapan terimakasih Arietta yang tulus, pria itu tersenyum. “Tidak masalah,” Katanya. “Aku hanya tidak bisa membiarkan seorang gadis yang tengah mabuk berjalan pulang ke rumah sendirian.”
“Kamu baik.”
“Aku sudah sering mendengarkan pujian itu. Tapi, terima kasih.” Ucap Sam, disusul dengusan dari Arietta.
“Terserah kamu saja,” Katanya.

“Jadi, bagaimana perasaanmu?”
“Aku sudah baik-baik saja,” Gadis itu tersenyum. “Apa badanmu terasa sakit setelah menggendongku?” Arietta berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.
“Tidak. Untung saja badanmu seringan kapas.”
Ia menghela nafas lega. “Syukurlah,” Katanya. “Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu.”
Sam mengangguk. Ia memperhatikan Arietta yang berjalan menuju ke sebuah mobil berwarna hitam. “Jangan menangis untuk hal-hal yang tidak penting, oke?” Ucapnya setelah terdiam beberapa saat. “Kalau kamu mau.. Berjanjilah padaku agar tidak menangisi dia lagi..”
Gadis itu bergeming di tempatnya.

“Kenapa?” Tanya Sam. “Apa aku salah bicara?”
Arietta menoleh ke belakang. “Tidak,” Gadis itu tersenyum, senyum yang berbeda dari biasanya. “Hmm… Terima kasih karena kamu sudah menarikku keluar dari keterpurukanku. Terima kasih karena kamu sudah bisa membuatku tersenyum lagi.” Setelah mengucapkan hal itu, ia segera berjalan masuk ke dalam mobil Ares. Jantungnya berdegup kencang. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya yang amat bodoh sehingga bisa mengatakan hal tadi.

“Arietta,” Panggil Ares. “Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Seharusnya aku tidak pantas meninggalkanmu seperti itu..”
Arietta menggeleng. “Tidak apa-apa, Res. Aku tahu kamu pasti teringat lagi dengan Kak Ella, kan?”
“Maafkan aku..”

“Ares,” Kata gadis itu. “Kupikir kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini..”
“Kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu?”
“Aku tahu, kamu masih mencintai kakakku.. Bahkan sampai sekarang,” Katanya. “Kamu sudah cukup berusaha untuk mencintaiku, Res. Sudah cukup kamu yang menderita.”
“Tidak.. Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah menyakitimu. Aku harusnya bisa menahan diriku.”
“Di sini kita aama-sama tersakiti, bukan?” Arietta tersenyum miris.

Malam itu, Arietta duduk di balkon kamarnya dengan mata sembab. “Ares.. Aku berjanji padamu kalau ini terakhir kalinya aku menangisimu,” Gumam gadis itu. Ia membuka bungkus coklatnya dan menggigit coklat itu. “Dan Sam.. Aku berjanji padamu untuk tidak menangisi dia lagi.”

Angin malam berhembus, menerbangkan helaian rambutnya.

“Coklat ini memang mampu membuat perasaanku lebih baik.”

Cerpen Karangan: Nathania Christabel G
Blog / Facebook: niaawrites.wordpress.com
Temukan saya di:
– wattpad: niaa27_
– niaawrites.wordpress.com

Cerpen Gaun dan Sebatang Coklat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Chemistri Cinta Adit

Oleh:
“Fire, fire, fire dduduudduuud” suara BBM adit terdengar. dia masukan nomor kode HPnya dan membuka BBM, ternyata dia adalah ely nurjannah yang akrab dipanggil kak elen. Adit temukan Kak

Wanita Perindu

Oleh:
Aku ini gadis kecil yang baru naik kelas 3 Sekolah Dasar aah anggap saja aku si imut, kakak juga bisa panggil aku Sera. “Hey… maen yuk!” ajak cowok kecil

Faith (Part 2)

Oleh:
Ayu tertegun mendapati Oscar yang berdiri tegap bersama Monica di depannya dan Dimas. Ayu berusaha setegar mungkin, menyunggingkan senyum manis kepada Oscar dan Monica yang terlihat mesra di depannya.

Jembatan Merah

Oleh:
Lelah rasanya telah berkeliling sekitar taman. Aku yang memakai kaos putih dan celana pendek serta sepatu sport yang kugunakan untuk jogging. Tak setiap hari aku jogging. Hanya hari minggu

Mengerti

Oleh:
“Dari dulu aku selalu penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan seperti… kenapa kita gak bisa terbang kayak burung, atau kenapa bulan berubah-ubah bentuknya, atau yang paling pingin kutanyain itu kenapa bumi berputar,”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *