Genggam Tanganku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 March 2016

“Jika suatu saat nanti aku terjatuh, aku berharap kamu bisa mengangkatku lebih tinggi.”

Petang yang indah, warna langit yang jingga bersama awan-awan yang seakan turun melengkuk memutari bumi. Di tengah-tengahnya ada matahari, sang surya yang mulai ingin berisirahat, gerakan turunnya pelan-pelan namun seakan ia akan turun di balik bukit. Jalan-jalan di desa mulai sepi, hanya suara serangga petang yang terdengar hilir mudik di telinga.

“Fahri! Tunggu!” Suara seseorang itu sontak membuat Fahri menghentikan langkahnya. Pemuda tinggi hitam manis itu memalingkan wajahnya ke sumber suara.
“Minna…? Kenapa kau ke mari?” Tanyanya, Fahri padahal baru saja beberapa langkah meninggalkan desa, Minna, gadis putih yang lumayan dekat dengannya itu sudah tegopoh-gopoh mengejarnya. “Kenapa kakang gak bilang kalau berangkatnya itu sekarang?” Raut wajah Minna tersirat jelas kekecewaan, tapi entahlah kecewa dengan pemberitahuan Fahri atau hal yang lainnya. “Apa jangan-jangan kakang sengaja?” Fahri hanya tersenyum, senyuman yang biasa ia lemparkan karena tak tahu harus berkata apa lagi. Jujur Fahri memang berniat tidak memberitahukan kepergiannya itu pada sahabat-sahabatnya di desa, terutama si manis Minna.

“Kenapa malah tersenyum kakang?!”
“Apa benar kakang sengaja gak beri tahu aku?!”
Untung tadi Minna melihat Fahri sedang berjalan menggendong tas besar ke arah utara, kalau tidak tentu ia akan kehilangan kesempatan terakhir ini.
“Jawab kakang!” Fahri mendekat, dari wajahnya terpancar suatu perasaan.
“Minna… Aku percaya Minna tahu, Minna…”

Fahri memberikan sebuah gelang yang terbuat dari jerami itu, benda itu terlihat sudah lama, namun masih terlihat bersih karena selalu terawat. Mata kecil Minna terbelalak melihat benda itu, ia tak bisa berkata-kata lagi. Ada suatu kisah di balik benda itu. “Minna… Aku akan kembali, jangan khawatirkan itu..” suara Fahri terdengar lembut dan sangat tenang. “Jadi, apakah Minna janji akan percaya?” Minna hanya mengangguk. Padahal tadi Minna benar benar ingin meluapkan kata-kata yang banyak namun apa yang terjadi, hanya dengan senyuman dan kata-kata lembut tenang Fahri sudah bisa membuat Minna terbungkam seribu kata, hanya dengan itu sudah bisa membuat Minna tenang dan percaya.

“Minna percaya..” Fahri tersenyum lagi, senyum ketulusan.
“Jangan pergi lama-lama, Ri!” suara itu? Ahmad. Fahri mengangkat kepalanya, matanya hampir kaget, ada Ahmad, Nawanda, dan Hakim berdiri tegak di belakang Minna.
“Kalian…” Ahmad tersenyum, ia mendekat.
“Kami akan menunggumu pulang, bawalah kerja kerasmu pulang suatu saat nanti.” katanya bijak.
“Jangan khawatir, di sini dengan siap kami akan menjaga Minna..” Nawanda menambahkan.
“Bawalah senyummu sampai hari esok, kami, sahabatmu ini tak rela kau tinggalkan senyumanmu itu!” Hakim, pemuda tirus itu tersenyum lebar.
“Kalian…” Fahri tak tahu harus berkata apa lagi, ternyata ia benar-benar salah menyembunyikan kepergiannya itu pada sahabat sahabat karibnya.
“Terima kasih, kalian bisa pegang janjiku ini.”

Itulah saat saat terakhir Minna, Ahmad, Nawanda, dan Hakim bisa bertemu Fahri, bertemu senyumannya, dan bertemu suara lembutnya. Kini kekecewaan terkuak jelas dari benak mereka, 5 tahun sudah mereka menunggu Fahri pulang namun, yang mereka dapatkan hanyalah sepucuk surat selamat menikah untuk Nawanda, padahal itu sudah tiga tahun yang lalu. Mereka benar-benar kecewa, Fahri bahkan tak bisa menambah kebahagiaan mereka saat Hakim menikah 2 tahun yang lalu, saat Nawanda menjadi ayah 2 tahun yang lalu dan di saat Ahmad menikah 1 tahun yang lalu. Dan apa yang terjadi dengan Minna, gadis itu kini hampir putus asa, namun apa yang dilakukannya, ia hanya menunggu, menunggu, dan menunggu. Karena Minna benar-benar percaya pada Fahri, ia tak bisa berpangling. Gadis itu bahkan sudah kehilangan semangat hidupnya, kini ia benar-benar sudah terjatuh. Dan hampir tak bisa bangkit lagi.

“Apa kau lihat itu Minna..” Ahmad menunjuk sang surya petang yang mulai tenggelam di balik bukit.
“Tentu kakang..”
“Apa yang kau rasakan saat terkena sinarnya?”
“Panas,”
“Kalau kamu kedinginan?”
“Tentu aku akan merasa hangat,”
“Dan jika matahari sudah tenggelam apa ia akan datang lagi?”
Minna terdiam, ia merasakan sesuatu. Ia benar-benar merasakan sesuatu masuk ke jiwanya.
“Ibaratkan itu adalah semangat,” Minna menangis, entahlah ia benar-benar merasakan, kata-kata Ahmad barusan langsung mengenai jiwanya, jiwa yang membeku, harapannya, ah harapannya. “Minna.. Apa kamu bisa?”

Batin Ahmad, karena selama ini ia sudah tak bisa lagi melihat Minna terjatuh seperti itu. Dia adalah sahabat Minna dari kecil, ia tahu Minna dan Minna tahu dia, kini Ahmad benar-benar tak mau lama lagi melihat Minna menderita karena Fahri, sudah cukup, 5 tahun itu sudah terlalu lama, dan kini entah bagaimana kalau Fahri sudah keterlaluan.
Kesedihan Minna pecah, ia berlari dari gubuk itu, berlari melewati sawah-sawah padi, ia menangis ia benar-benar tak tahu harus apa lagi. Ia tahu ia sudah lama terjatuh tapi uluran tangan Ahmad, Nawanda, dan Hakim nampaknya belum mampu membuatnya bangkit lagi.

Malam ini langit sangat cerah, bintang-bintang mekar di langit, menyebar ke semua sudut yang ada. Cahayanya berkilauan, memancarkan harapan yang besar. Minna dan Hakim duduk di teras depan rumah dengan sesekali pandangan mereka tertuju ke langit ke atas harapan.

“Di antara para bintang dan sebuah bulan itu kamu mau pilih yang mana?” Hakim mulai membuka percakapan.
“Em… Kalau kakang?” Minna malah balik bertanya.
Hakim tersenyum. “Aku memilih satu bintang yang kecil itu.”
“Hah, kenapa? Bukanya bulan lebih indah, besar, lebih bersinar daripada satu bintang kecil itu?”
Minna nampak heran. “Karena, satu cahaya bintang kecil akan menjadi besar karena mereka bersama dan akan lebih besar daripada bulan, begitu pula harapan…”

“Harapan kecil akan menjadi besar jika bersama-sama,” sambung Minna, ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
“Cukup kakang, cukup!” Minna berdiri.
“Aku tahu kalian sudah berusaha keras agar bisa mengangkatku dari keterjatuhanku itu, tapi, kakang, aku benar-benar tak bisa,” dengan hati yang kacau, Minna masuk ke dalam rumah. Sirat kekecewaan terpancar jelas dari wajah Hakim, untuk kesekian kalinya ia gagal mengangkat Minna dari keterjatuhannya. Padahal ia adalah sahabat Minna dari kecil, tak bisa ia benar-benar tak tega, ia, Ahmad, Nawanda sudah berusaha dengan keras. Hakim berdiri, ia menatap langit. “Andai kau tahu Fahri, kami di sini menunggumu menunggu senyumanmu dan menunggu janjimu.” Dengan berjalan pelan Hakim bergumam. Persahabatan yang telah mereka bangun dari kecil tak akan pernah ia biarkan rapuh begitu saja.

Sinar sang mentari mulai menembus melewati celah-celah jendela kamar Minna. Suara burung-burung bernyanyi terdengar hilir mudik di luar, gadis manis itu masih tertidur, masih berusaha menikmati sisa mimpi yang ada, kamar Minna sangat rapi, itu karena ia sangat merawat kamar itu, dua poster foto persahabatan mereka berlima terpampang di dinding kamar Minna, wajah-wajah yang masih terlihat polos dengan senyum ceria khas anak-anak kecil. Di meja dekat ranjang Minna terdapat foto ia dengan Fahri yang telah terbingkai cantik. Mata Minna sedikit terbuka tatkala ia mendengar pintu kamarnya terbuka, perasaan ini, perasaan nyaman yang sudah lama tak ia dapatkan.

“Minna.. Berdirilah.. Sekarang kamu tak akan terjatuh lagi karena kami akan mengangkatmu lebih tinggi.” suara tenang itu, Fahri.
“…Fahri..” Minna terbelalak, tanpa memedulikan ketiga sahabatnya di belakang Fahri, Minna langsung memeluk Fahri, ia meluapkan rasa kangennya selama ini.

Cerpen Karangan: GP. Arifin
Blog: Http://gparifincerpen.blogspot.com

Cerpen Genggam Tanganku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Kecilku

Oleh:
Semilir Angin malam mengingatkanku sosok anak kecil yang selalu membelaku, Ketika itu aku sedang mengelamun dan membayangkan sosok si kecil itu di benaku, lalu Hanphone berbunyi dan bergetar tersentak

Cinta Yang Tak Terucap

Oleh:
Aku adalah seorang murid yang sering membuat masalah di sekolah. Sering kali, aku bolos sekolah. Teman-temanku memanggilku Irfan. Pagi yang cerah, langit berwarna biru. Mentari menyinari dunia dengan hangat.

Key of The Black Sphere

Oleh:
“Demon mulai membanjiri Black Sphere. Mereka memerangi kaum kami. Cresill. Kaum berdarah campuran. Aku dan Jeremy berhasil keluar dari sana demi melakukan serangan dari luar agar dunia kami tetap

Kehilangan Rini

Oleh:
“Ini bukan salahku.” “Sudah jelas itu salah kamu, Wil. Ingat, kamu orang terakhir yang bertemu Rini. Setelah itu dia hilang entah ke mana, bak ditelan bumi.” “Iya bener tuh.”

The Bright Star

Oleh:
“Apa? Azura Winata datang ke sekolah kita? Ke SMP N 1 Tenggarong?” Viola terkejut mendengar temannya itu berteriak dengan suaranya yang melengking sambil menatap BB nya dengan takjub. “Siapa?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *