Gerimis Awal Desember

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 27 April 2013

Awal Desember. Langit mengganti lazuardinya jadi putih kelabu, menyembunyikan matahari yang sedang malas. Membuatnya jadi muram. Udara terasa lebih dingin. Bumi yang ini jadi basah. Sementara di belahan bumi lain jadi putih di mana-mana. Orang-orang jadi malas beraktivitas pula. Mereka lebih suka di rumah untuk tidur dan orang-orang di belahan bumi lain itu akan duduk di depan perapian beralaskan karpet bulu yang hangat. Tetapi aku heran dengan mereka di bawah sana. Berlarian ke sana kemari, menendang, menggulirkan sesuatu yang bundar menggelinding di tanah yang keras, rata dan halus. Sementara di sekelilingnya orang-orang yang lain bersorak-sorak, tak peduli dengan hembusan angin desember. Dan kejadian ini bukan yang pertama kali. Sudah beberapa hari ini aku menyaksikan hal yang sama. Bahkan ketika aku mulai ‘bertugas’, mereka seakan tak peduli dengan kehadiranku!

Malam ini aku kembali melaksanakan tugasku. Tepatnya masih belum. Aku masih di atas, dan terlihat dari sini mereka lagi-lagi ada di tanah keras dan rata itu. Tanah keras dan rata. Huuh! Aku paling benci apabila harus jatuh di tanah macam itu. Menyakitkan. Aku akan terpelanting lalu menggenang untuk waktu lama. Lebih parahnya lagi aku akan lebih sering terinjak-injak. Sepertinya malam ini aku akan jatuh di sana lagi. Sesekali aku ingin jatuh di tanah yang gembur, lekas terserap, melewati siklus yang selalu sama dan kadang tersangkut di berbagai tempat. Terserap Akar tumbuhan, lalu keluar lagi lewat pucuk dedaun di pagi hari. Jalan yang berliku, namun akan kembali lagi menguap ke langit. Siapa aku? Apa pekerjaanku? Aku benda yang mati. Sebentuk zat. aku adalah setitik air yang terkadang menjelma sebagai rintik kecil gerimis, atau rinai hujan. Tapi beberapa hari ini aku masih melakukan tugas sebagai gerimis. Lebih kecil dari pada gerimis. Aku tengah menjelma serpihan halus gerimis yang mudah di tiup angin. Desember masih dini. Belum saatnya menjadi rinai hujan.

Perintah dari langit sudah terdengar. Sudah waktunya terjun bebas. Semoga kali ini aku tidak terbanting di tanah keras itu. Dan…
Aku mendarat di permukaan yang lunak, berwarna hitam pekat dan menjuntai panjang. Aku tahu. Ini rambut di kepala seseorang. Seorang gadis.

“sudah mulai gerimis” pemuda di sebelah gadis ini menggumam sambil menengadahkan tangannya.
“ya, aku tahu”. Jawab gadis berjaket ini. Hei! Seharusnya kau pakai tudung jaketmu! Karena aku dapat membuatmu pusing. Tapi aku sudah terlanjur mendarat di rambutmu. Semoga kau tidak pusing.
“masih mau di sini?” tanya pemuda itu.
“pertandingan belum selesai, masih baru masuk babak kedua…” jawab gadis itu. Kali ini ia merapatkan jaketnya. Rupanya kau merasa dingin juga.
“ayo geser sedikit, tribun ini tak beratap… bagaimana kalau hujan?” pemuda itu mengajaknya bergeser.
“ah! Masih gerimis halus… belum hujan kok… lagi pula aku tidak akan bisa melihatnya dengan jelas kalau bergeser” tolaknya.
“hhhh” pemuda itu menghela nafas. “memangnya dia tahu kalau sejak kemarin kau nonton?”
“aku juga tidak tahu, sih…”
“jadi kau hanya sekedar berspekulasi? Nonton sambil dingin-dingin begini tanpa kepastian…? wuih! Dramatis sekali!” ujar pemuda itu sinis.
“yaah… setidaknya aku sudah memberitahunya sejak kemarin, bahwa aku akan datang melihat pertandingannya…”
“ck! Hanya memberitahu lewat jejaring sosial seperti itu bukan jaminan!”
“tapi dia membalas pesanku!”
“oh ya? Lalu apa katanya?”
“…’baiklah, lihat saja kalau memang kau ingin lihat’…”
“hanya itu? Kedengarannya datar-datar saja. Tidak ada kesan antusias dalam kalimatnya…”
“jadi maksudmu dia tidak peduli dengan kehadiranku? Dia tidak penasaran dan mencariku?”
“entahlah…” jawab pemuda itu.
Gadis itu terdiam. Lalu menghela nafas berat.

“aku harap dugaan itu juga masih spekulasi. Bisa iya, bisa tidak. Tapi aku harap tidak…” ujar gadis itu dengan tatapan menerawang.
“semoga saja. Tetapi, apa kau hanya akan berdiam diri seperti ini terus? Terus-terusan ‘berbicara’ padanya lewat dunia maya? Padahal pesan yang kau kirim pun hanya sekedar basa-basi!”
“bagaimana menurutmu? Aku perempuan, ruang gerakku terbatas. Tidak mungkin aku langsung menyatakan perasaan kan?”
“terbatas? Itu kan hanya pemikiran konservatif-mu! tidak ada salahnya juga kau bertindak, menunjukkan sedikit eksistensi-mu padanya. Berdiam terus juga percuma dan melelahkan! Dia bukan pangeran yang akan menghampirimu dengan sendirinya dan datang tiba-tiba seperti dongeng!”
“jadi apa yang harus aku lakukan?”
“lakukan dengan cara yang sesuai dengan pemikiran konservatif-mu itu!” jawabnya. Sepertinya kesal.
Gadis itu terdiam lagi. Kali ini seperti memikirkan sesuatu. sebenarnya situasi macam apa yang aku saksikan saat ini? ada apa dengan gadis ini? mengapa matanya tak lepas menatap orang-orang yang berebut benda bundar itu?
“GOLL!!!” tiba-tiba terdengar teriakan dari orang-orang yang bersorak itu. Kali ini seruan itu lebih keras lagi.
“lihat! Tim-nya menang! dia masuk semi final! Lusa aku masih bisa melihatnya!” gadis yang sejak tadi diam terpaku, kini melonjak-lonjak. Membuat posisiku goyah, dan perlahan aku merosot mengikuti helai rambutnya, lalu akhirnya…
Aduh… Sakit!
Aku jatuh lagi di tanah yang keras dan rata.

***

Masih di awal desember. Lusa setelah malam kemarin. Seperti biasa aku masih di awan menunggu perintah dari langit. Kali ini aku akan menjadi rintik gerimis. Dan lagi-lagi aku harus bertugas di tempat yang gaduh ini. semoga aku tidak langsung terjatuh di tanah itu lagi. Aku berharap mendarat di atas permukaan yang lunak seperti rambut gadis yang kemarin. Hei, bagaimana kabar gadis itu ya? Bukankah dia akan datang lagi? Tetapi, siapa sebenarnya yang dia lihat di sini? Apakah seseorang di antara belasan orang-orang yang berebut benda bundar itu?

***

Lagi. Aku terjatuh di kepala seseorang. Tetapi rambutnya tidak menjuntai seperti gadis itu. Siapa lagi ini? oh! Rupanya seorang laki-laki, salah satu di antara orang-orang yang berebut benda bundar itu. Karena kali ini cukup deras, mereka berhenti. Akhirnya mereka sadar juga akan keberadaanku.
“aduh! Di tunda, deh!” nampaknya ia mengeluh karenaku. maaf, ini sudah perintah.
“maklum-lah… musim hujan!” celetuk pemuda di sebelahnya. “hei! Lihat!” lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh pemuda ini. hei! Hati-hati! Aku bisa terpelanting ke tanah itu!
“iya. Aku tahu!” jawabnya.
“dia selalu menonton sejak awal kita bertanding!”
“aku juga tahu.” Jawabnya datar.
“hmm.. kau tidak menghampirinya? Lumayan kok…”
Pemuda ini tersenyum. Sesekali ia memandang ke arah seberang. Aha! Aku tahu! Mereka pasti membicarakan gadis yang kemarin. Apa benar orang ini yang gadis itu lihat?
“entahlah…”
“menurutku dia cuma ingin kau tahu…”
“tahu apa?”
“jangan pura-pura bodoh! Masa kau tidak bisa merasakan?”
“ya, ya, ya! Aku tahu kok! Tapi apa kamu yakin, kalau dia…”
“dia punya perasaan padamu!” potong pemuda di sebelahnya.
“tetapi dia hanya diam saja. Dia hanya mengirimkan pesan-pesan yang isinya basa-basi. Tidak ada yang berarti! Yaah, terkadang dia memberi semangat padaku. Aku juga merasa sedikit aneh…”
“dia muncul tiba-tiba di hadapanmu, membuatmu heran, dan dia tidak pernah absen melihat kita bertanding, walau hujan sekalipun! Hei, asal kau tahu ya… aku sering memergokinya melihat ke arahmu saat kita break!”
“benarkah? Lalu kenapa dia tidak menyapa atau menghampiriku?”
“mungkin malu. Beberapa perempuan merasa ruang geraknya terbatas untuk mengekspresikan perasaannya saat ia menyukai laki-laki. Apalagi kau tak mengenalnya! Dan pesan-pesan yang dia tulis itu adalah cara yang dia pilih untuk berkomunikasi denganmu!”
“begitu ya? Lalu aku harus bagaimana? Sementara aku mengharapkan seseorang yang lain untuk melihatku bertanding hari ini…”
“hufth! Rupanya kau masih mengharapkannya! Pantas saja kau tidak peduli dengan gadis di sana itu!”
“kau dan gadis itu sama saja. Sama-sama mengharapkan seseorang yang tidak pasti. Dia mengharapkanmu, kamu mengharapkan orang lain. Padahal orang yang di harapkan itu sama-sama tak jelas! Yaah… dia pasti sakit hati bila tahu kau tidak peduli dengannya…”
“jadi menurutmu aku bersalah? Aku orang yang jahat? Aku tahu sakitnya perasaan yang bertepuk sebelah tangan, aku tahu letihnya mengharapkan sesuatu yang tanpa kepastian! tapi aku tak bisa memaksakan untuk menyukainya! Butuh waktu untuk itu!” nadanya meninggi. “Dan inilah caraku untuk menunjukkan padanya, bahwa…” imbuhnya. Kali ini nada suaranya lebih tenang. Tetapi ia memutus perkataannya. Seakan enggan meneruskan. Dia terdiam lama dengan kepala tertunduk. lalu menyambung lagi;
“bahwa bukan dia yang aku harapkan..” terdengar lirih.
Hmm… sepertinya aku sedikit memahami apa yang terjadi. Situasi ini situasi yang ‘muram’. Semuram langit bulan desember.

“hahh..! ok, ok… tidak ada terdakwa dalam kasus macam ini. kau dan gadis itu hanyalah ‘korban’!”. katanya. “korban perasaan” ia menambahkan.

***

Aku terpelanting lagi di tanah keras dan rata ini, ketika pemuda itu kembali berebut benda bundar menggelinding. Aku menggenang lagi, menjadi satu kesatuan dengan titik-titik air yang juga turun dari mendung.
Aku, setitik gerimis yang menjadi saksi bisu dari pembicaraan-pembicaraan itu. Banyak kata-kata yang tidak aku mengerti. Aku hanya tahu bahwa gadis yang kemarin lusa itu sama sepertiku yang masih menjadi serpih halus gerimis. Ada, terasa, tapi tidak terlalu dipedulikan. Bahkan tidak di harapkan. Aku jadi kasihan padanya. Seandainya bisa, aku akan menceritakan padamu bahwa pemuda yang kau harapakan untuk peduli denganmu, ternyata mengharapkan orang lain untuk peduli dengannya.
Sepertinya kau harus menjadi rinai hujan agar dia sadar dan peduli akan kehadiranmu. Atau setidaknya menjadi rintik gerimis sepertiku hari ini yang bakal jatuh di rambutnya…
Walaupun…

Walaupun nantinya kau akan kesakitan karena jatuh terpelanting di tanah yang keras dan rata ini….

-fin-

Cerpen Karangan: Fauzia Machdiar
Blog: http://a-logia.blogspot.com
Nama asli: Melati Indah Fauzia
Nama pena : Fauzia Machdiar
seorang mahasiswi biasa kelahiran tahun 1991,
dan sekarang tinggal di jember.

Cerpen Gerimis Awal Desember merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semuanya Tentang Kita

Oleh:
Keana Rhea Jayna Alfariel Sandy Arkan Dia orang yang menyebalkan menurutku. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah merayuku dengan kata-kata manisnya. Sehingga sering kali memicu perdebatan di antara kami.

Mimpi Indahku (Part 1)

Oleh:
Suatu hari, Tania menghadiri acara pernikahan temannya, Yogi. Acara pernikahan itu sangat meriah. Tania sempat membayangkan, acara pernikahannya dengan Sandy nanti akan lebih meriah dan megah dari pernikahannya Yogi

Sesederhana Cinta Adikku

Oleh:
Sepulang sekolah, aku bergeges masuk ke kamar. Viola, ternyata ada di dalam sedang mengambil sesuatu di lemarinya yang tidak berpintu. Tidak aneh lagi bagiku melihat barang miliknya berantakan di

Baru Kusadari

Oleh:
“Tu Tika! Aduh… musim liburan seperti ini kenapa tidak pergi bersama teman-teman sih! Lihat teman-temanmu sudah pada cantik dan siap untuk bertamasya. Kamu nggak boleh diam di kamar terus…

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *