Gilang Story

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

Siang ini, di tengah-tengah bumi, di bawah pancaran sinar matahari yang panas. Aku berdiri di sebuah trotoar, menunggu angkutan umum lewat.
Di sampingku ada dua anak SMA seusiaku menunggu kendaraan juga, entah apa yang mereka tunggu.

“El!” panggil sebuah suara. Aku menoleh. Skenario Tuhan memang sungguh indah, di depanku tampak Gilang, mantanku yang paling istimewa berjalan ke arahku.
“H–hei,” sapaku terputus-putus.
“Ngapain kamu?” tanya Gilang.
Aku menghela nafas sebentar, tidak percaya dengan keadaan. “Nunggu angkot,” jawabku.
Gilang melipat kedua tangannya di depan dada, lalu tubuhnya disandarkan pada dinding sebuah toko dan kakinya setengah dilipat ke atas. Aku terus memperhatikannya. Gilang menoleh, “Ngapain lihat-lihat?” tanyanya.
“Jangan-jangan nggak punya keberanian buat nanya balik aku ngapain ke sini?” tembaknya. Ah, Gilang sialan.
“Dih, nggak. Aku cuma lihat caramu berdiri, itu doang.” balasku singkat dan seadanya.

Sebenarnya, aku benar-benar rindu cara dia membuatku nyaman dulu. Kalau saja aku masih jadi pacarnya, mungkin sekarang dia nggak capek ngacak-acak rambutku biar berantakan, terus dia juga akan melakukan hal-hal konyol yang tidak bisa aku tebak sebelumnya, terkadang membuat aku malu, tapi itu semua justru membuat bawa perasaan sekaligus nyaman.
Sekarang? Mungkin cuma sapa-sapaan, senyum-senyuman, ngomong biasa itu pun kalau ketemu. Sekolah kita sudah berbeda, dia pindah sekolah semenjak dicap sebagai biang kerok setiap ada perkelahian, tidak terhitung berapa kali dia berkelahi sama Boby, ketua gank motor. Boby anaknya nggak gendut seperti arti namanya, justru Boby kurus, dekil, anak motor, urak-urakan, dan suka cari masalah. Kalau soal tampang? Cukup manis sih.
Boby juga pernah menyatakan perasaannya kepadaku.

“Tuh angkot,” kata Gilang sambil menunjuk angkot berwarna biru muda yang menuju ke arah kami. Aku dan Gilang pun langsung menaikinya.

Sampai di rumah, seperti biasanya rumahku sangat sepi. Tidak ada orang. Nyaris seperti tak berpenghuni. Aku hanya bersama satu kucing putihku.
“Meong..” Melly menyambut kedatanganku, yap! Kucing termanis yang pernah dan selalu aku miliki.
“Melly udah makan? Nih Ella bawain sarden, tapi buat Ella dulu yaa..” kataku sambil menjulurkan lidah.
Kucing itu terus mengeong dan memaksaku untuk memberikan makananku untuknya. “Ih sabar Melly!” seruku kesal. Tubuhnya dengan cepat menghalangiku berjalan dan akhirnya….
Buk!
Argh…

Bangun-bangun aku sudah di kamar berposter dinding Naruto, Doraemon, dan Dragon Ball. Ya, itu kamarku. Kamar cewek manis seusia 16 tahun layaknya kamar cowok.
Seingatku, aku tadi tersandung tubuh Melly dan jatuh terkena bagian meja paling ujung.
Eit, siapa yang membawaku masuk kamar? Melly? Mana mungkin.
Mama dan Papaku kah? Tapi ini… Aku melihat jam dinding. Baru pukul 15.00, mereka pulang pukul 18:00. Jadi siapa yang membawaku ke sini? Mana mungkin aku masuk kamar sendiri, posisi kamarku di lantai atas.

“El? Udah bangun?” Aku menoleh. Siskaa!
“Etdah dasar Sis, kirain siapa yang bawa aku ke kamar. Ternyata kamu..” ujarku.
“Bukan aku sih sebenernya, tadi aku ke sini sama Boby, Rehan, dan Acal. Tapi lihat kamu kayak gitu ya udah langsung tuh Boby gendong kamu ke kamar.. Acal sama Rehan mau bantuin nggak dibolehin sama Boby, ya udah kita cuma ngikutin dari belakang.” jelas Siska.
“Ngomong-ngomong tuh Boby, Rehan, sama Acal ngapain ikut ke sini? Kan jarang banget kamu datang sama orang banyak?” tanyaku penuh selidik.
“Ehh santai ajaa.. Mereka udah jadi temenku, eh maksudnya temen kitaa, dia gabung di team basket kita loh,”
“Apaa?! Boby masuk? Aku nggak mau!! Dia penyebab Gilang marah sama aku dan penyebab Gilang pindah sekolah, andai saja nggak ada Boby dalam hidupku sama Gilang pasti aku dan dia masih bersama sampai sekarang. Itu pasti.” kesalku.
Siska terdiam, mungkin sudah tidak punya kata-kata untuk membela teman barunya yang kapten anak motor dan anak buah-anak buahnya si kapten, aku mendengus lalu berjalan ke arah kulkas, mengambil sebotol kecil big cola. Mataku menangkap sosok Siska sedang mengutak-utik hp-nya.

“Chat sama siapa Sis?” tanyaku basa-basi.
“Nggak chat kok, cuma lihat recent update BBM aja, anak-anak basket semua pada pake display pict- nya Boby. Kayaknya mereka bakal usul besar-besaran biar kapten kita diganti sama Boby, yang artinya… Viko bakal tergeser posisinya.” Kata-kata Siska membuat aku heran.
“Serius? Mana-mana lihat?”
Siska menyerahkan hpnya. Dan benar saja apa yang dikatakan Siska.
Aku menelan ludah. Foto Boby terpajang di akun-akun BBM anak basket. Argh, Boby awas sajaa! Dia pakai pelet apa sih?

“Ya udah gini aja, nanti aku bicarain biar Boby nggak jadi kapten.” kataku memecah kepanikanku sendiri.
“Eh jangan dong El! Yaa baguslah kalo Boby yang jadi kapten. Daripada Viko, sok cool, sukanya omdo!” Siska tidak berpihak denganku? Kok bisa? Sepertinya Boby mencuci otak anggota-anggota basket, aku-nya saja yang belum tercuci.
“Kamu kenapa sih Sis? Kok malah bela Boby. Aku heran beneran. Mendingan kamu pulang aja lah! Bikin aku tambah pusing tau nggak?!” omelku. Aku memang sedang emosi besar. Boby, seseorang yang pernah membuat nama Gilang tercoreng. Padahal jelas-jelas Boby yang salah.
“Ya udah aku pulang. Pokoknya aku nggak setuju kalo kamu bikin anak-anak benci Boby!”
Siska berlalu pergi. Tak berapa lama, sayup-sayup aku mendengar suara motor Siska menjauh dari rumahku.
Aku merebahkan tubuhku di kasur. “Uh–”

Pagi ini hujan sudah turun, petir menyambar udara dan menimbulkan suara gelegar.
Aku berada di kelas tanpa mood, wajahku tertekuk, dan berpangku tangan. Pandanganku fokus tertuju pada daun-daun di luar yang basah terkena air hujan.
“Atheis!!” seru Gita yang duduk sebangku denganku berhasil membuyarkan lamunanku.
“Pfft, kamu ngapain sih teriak-teriak?” tanyaku kesal. “Ganggu tahu nggak!”
Gita menatapku heran, lalu menempelkan punggung tangannya pada keningku. “Nggak panas tuh. Kenapa sih El?” tanya Gita balik dengan herannya.
“Tauk,” balasku jutek dan langsung kembali kepada posisiku semula. Kembali menikmati indahnya hujan di tengah suasana tegangnya kelas akibat pelajaran PKN. Aduh, mikir Gilang aja nggak kelar-kelar, gimana mau mikir negara? Eaaa.

Siska? Kalian pasti bertanya-tanya di mana Siska? Bangkunya di belakangku, tepat sampingnya Leli. Tapi hari ini dia tidak masuk sekolah. Ada apa dengan Siska? Mungkin seperti biasa, pusing doang dibikin repot.
Aku, Gita, Siska, dan Leli adalah seperti ibarat satu grup atau kelompok yang kemana-mana selalu bersama atau barengan. Tapi akhir-akhir ini aku kesal sama sikap Siska yang membela Boby setengah mati itu.

“Udahlah El, ngapain mikir tim basket? Mau kaptennya siapa emang apa ngaruhnya?” tanya Gita ketika jam istirahat. Setelah aku ceritakan semua. Kami berada di kantin, ya, Aku, Gita, dan Leli.
“Yak bener tuh,” Leli menimpali. “Lagipula ya El, kalo dipikir-pikir sih Boby ada baiknya juga.”
“Baik apanya sih Lel? Makin ngelantur aja kamu ini,” kesalku. Mataku menerawang jauh, membayangkan jika kaptennya adalah Boby. Dia bisa semena-mena ngatur anak buahnya. Ealah dasar Sis.. Sis!! Pakai menambahkan Boby ke tim basket segala.
“Baik. Dia kan suka sama kamu, ya kamu manfaatin dong. Kamu baik-baikin juga, dan satu lagi, kamu harus bisa jadi pacar Boby.” ujar Leli tanpa rasa berdosa.
“What? Jadi pacar Boby? Sama aja aku… ahh sudahlah! Kalian semua tuh sama aja,” Aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi keluar dari kantin seorang diri.

Untuk kesekian kalinya, aku merasa amat pedih. Harus kehilangan Gilang. Biasanya, aku bisa menghabiskan sisa istirahat bersamanya. Menebak-nebak nama hewan, pokoknya kalau sama Gilang derajat otak atau IQ-ku bisa terus bertambah. Aku rindu kamu, Gilang.

“Ellaaa!” panggil seseorang. Suara itu sudah cukup kupahami, itu suara Boby. Males gila kalau aku pakai acara berhenti segala dan tanya ada apa, aku tetap berjalan menuju kelas, tapi dia mengikutiku. “El–Ellaa!” serunya.
Aku berhenti. Memberikan kesempatan untuknya berbicara kepadaku, marah kepadaku, tertawa karenaku, atau mau mencaciku.
“Ada apa?” tanyaku ketus.
“Jutek banget sih El? Ntar pulang sekolah jangan lupa latihan basket ya.. Tapi kamu pulang makan dulu, nanti aku jemput juga nggak apa-apa,” kata Boby sok baik.
“Siapa kamu? Sok banget!” teriakku. Aku marah serius dengan Boby, aku berlari berlalu meninggalkannya sendiri.

Seperti biasa, aku berdiri di trotoar menunggu angkutan umum. Bay the way, Gilang sudah tidak muncul lagi. Mungkin hanya waktu itu saja dia naik angkot. Tiba-tiba ada segerombolan cewek, 4-an kalau nggak salah, berdiri di dekatku dan nggosip keras sekali. Aku sedikit risih dan agak menjauh.
“Tapi Gilang itu kan dulu jago basket, sekarang jago volly. Eh eh duh!” kata salah satunya. Well,
Gilang siapa?
Aku sedikit mendekat lagi, risih tidak apalah yang penting aku dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas.
“Wey tenang ajaa. Dia pasti bisa kamu dapetin Sa,” ujar yang satunya lagi.
“Pfft, Gilang murid baru yang kece badaii,” gumam cewek yang dipanggil ‘Sa’ oleh yang satunya tadi.
Murid baru?
Aku pun memberanikan untuk bertanya. “Eh maksud kalian Gilang siapa?!” tanyaku.
“Loh kamu denger?” tanya cewek yang barusan memuji Gilang.
‘Ya dengerlah, bicara aja kayak sama anak satu kelas, kerasnya minta ampun!’ balasku dalam hati.
Aku mengangguk.
“Ooh itu Gilang Aditya Pradana, temenku satu kelas. Kenapa? Nggak kenal kan? Tapi, dia mau aku gebet. Jangan macam-macam. Heheh, oh iyaa kenalin aku Salsa.” ucapnya riang.
Aku terdiam sejenak. Gilang.. Gilang.. Tidak! Gilang harus tetap menjadi milikku seterusnya. Aku tidak akan rela kalau dia menjadi milik cewek suka gosip seperti ini.

“Loh! Kalian nggak tahu ya? Gilang itu pacar aku!” seruku. Kebohongan besar pastinya.
“Pacar? Hahaha, kamu nggak usah konyol. Lucu juga ya kamu, mau gabung sama gank kita nggak? Meskipun kita beda sekolah,” tawar Salsa.
“Idih ogah banget! Kamu kok nggak percayaan? Aku beneran pacarnya Gilang!” teriakku. Nafasku tak lagi beraturan, demi mempertahankan sosok ‘mantan’ agar tak terjerumus pada orang yang salah.
Salsa mendorongku. “Konyol tau nggak?! Nggak usah sok ngaku yaa.. Kalo iri bilang aja, pake acara bohongin kita segala! Aku tahu kok, Gilang itu nggak punya pacar!”
Aku terjatuh, posisiku sekarang duduk. Aku mencoba bangkit, tapi Salsa memegang kedua tanganku. “Lepas nggak?!” seruku.
“Sekarang yang salah siapa? Kamu kan? Makanya nggak usah bohongin orang sembarangan! Kamu nggak tahu kita ini siapa? Haa? Kelompok paling ditakuti semua cewek di sekolah kita! Tapi, cowok-cowok demen sama kita, terlebih ke aku! Kenapa Gilang enggak? Ya pastinya iyaa, tapi dia sok jual mahal. Tunggu aja kalo dia udah jadi pacarku! Rasain kamu yaa…” kata Salsa. Aku tidak bisa mencerna kalimatnya dengan baik, jantungku berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi sepertinya migrain-ku kambuh. Sakit sekali.

“Eeh woy apa ini?!” seru seseorang tiba-tiba. Bapak-bapak bertopi coklat, sepertinya tukang becak. Bapak itu membantuku berdiri. “Apa-apaan kalian?” tanyanya.
“Iih, tukang becak aja gayanya belagu! Tukang becak pencitraan, hahaha,” kata teman Salsa, lalu disambut ledakan tawa Salsa dan temannya yang lain.
Tiba-tiba tawa mereka semua terhenti, aku merasakan seseorang hadir di belakangku, aku menoleh.. Gilang!
“Kenapa? Habis berantem ya?” tanya Gilang santai sesantai-santainya.
Aku hanya diam.
“Ini tadi gerombolan itu dorong mbaknya ini, sampe jatuh.” jelas Bapak bertopi coklat itu.
Gilang berjalan santai ke arah Salsa dan kawan-kawannya. Kenapa sih dia?
“Puas belum?” tanya Gilang.
Mereka semua tidak menjawab. Gilang mendekatkan wajahnya di depan mata Salsa, “Aku tanya, puas belum?” bisiknya.
Salsa hanya mampu mengangguk.
“Sekarang…” kata Gilang lirih. “Pulang kalian!!” lanjutnya dengan tegas, nadanya juga jauh lebih tinggi.
Mereka semua langsung berjalan terus, mungkin akan menunggu angkutan umum di trotoar dekat halte yang mungkin lumayan jauh dari sini. Aku dapat membayangkan mereka berjalan sambil ngomel-ngomel sendiri. Hm, Gilang memang pangeranku.

“Udah Pak, makasih banyak. Dia teman saya,” kata Gilang.
“Oh iya den! Jaga ya, jangan sampe kayak tadi!” ujar Bapak itu, lalu pergi.
Hening sejenak.
Gilang memperhatikanku. “Kenapa bisa?” tanyanya singkat.
Aku mengangkat bahu.
“Jawab jangan angkat bahu.”
“Pfft, aku nggak tahu Lang.” jawabku sebisa mungkin. Jawabanku memang tidak pernah memuaskan untuk Gilang. Aku sadar itu dari dulu.. dari duluu….
Karena, semua pertanyaan Gilang tak mampu aku jawab. Dia terlalu special, selalu membuatku gugup saat berbicara dengannya.

“Nunggu angkot ya di sini?” tanya Gilang.
“He-em,” balasku disertai anggukan.
“Oke, aku juga. Gimana kalo kita ke taman dulu? Mau nggak?”
Tawaran yang cukup bagus. Ya Tuhan, terimakasih banyak.
“Kenapa nggak dijawab? Oke, kalau gitu nggak usah. Mungkin kamu perlu istirahat dulu.” kata Gilang akhirnya.
“Eeh! Jangan-jangan! Aku mau kok.. aku mau.. Kitaa jadi ke taman ya?”
“Kalau enggak?” tanyanya santai.
“Yahh… Please, tadi katanya mau ke taman? Aku nggak sakit kok, nggak butuh istirahat! Aku nggak apa-apa!” kataku mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
“Kok maksa sih?”
Hah, benar juga. Kenapa aku jadi maksa begini?

Aroma parfum Gilang menyengat, parfum yang dulu terbiasa pada indra penciumanku, membuat aku terus terbawa arus mudik ke masa lalu.
Kita sekarang sudah di taman yang indah, ditambah lagi ini adalah taman penuh kenangan bagiku dan Gilang.

“Masih ikut basket?” tanya Gilang memecahkan lamunanku dari tadi, setengah jiwaku kali ini sudah benar-benar berada di masa lalu.
“Iya.” jawabku singkat. Ah, jangan bicarakan tentang basket! Bagaimana kalau Gilang tahu, Boby yang akan menggantikan Viko sebagai kapten basket?
“Gimana nggak ada aku?” tanyanya.
“Biasa, enak banget murid di sekolah berkurang satu, pernafasan jadi lebih leluasa sedikit.” jawabku ngelantur. Sarkas.
“Maksudnya?”
“Ooh. Enggak! Lupakan!” kataku cepat.
“Hahah, aku tahu maksudnya sebenernya. Masa iya seorang Gilang nggak tahu apa yang dikatakan Ella, tapi aku cuma tes kamu aja El,” ujar Gilang, 98% berhasil membuatku baper (bawa perasaan).
“Eeh. Oh gitu ya? Kirain beneran.”

“Aku mau tanya, tapi jangan marah..” kata Gilang.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “Tanya apa Lang?”
“Bener ya Boby mau ganti Viko sebagai kapten?” tanya Gilang to the point. “Tapi El, aku nggak bermaksud benci sama Boby kok, aku tahu Boby cinta mati sama kamu. Kamu juga kan? Maafin aku, kalau nggak dijawab, ya nggak apa-apa sih..”
“Apa? Aku cinta Boby? Nggaklah Lang! Kamu ngarang cerita judul apa ini? Aku kok bisa-bisanya suka sama cowok macam dia.” Emosiku datang lagi. Mendadak aku ingat bahwa kepalaku tadi pusing sebagian, dan kini aku merasakannya lagi.
“Ya udah santai aja kali El jawabnya. Kalau bener kan nggak apa-apa, itu juga aku cuma diceritain temen kamu.” kata Gilang.
“Temenku? Siapa Lang? Siapaa?” tanyaku penasaran.
“Siska,”
“Kamu nggak usah percaya lagi sama Siska. Meskipun dulu dia temen dekatku tapi sekarang aku nggak anggap dia. Justru aku benci banget sama Boby! Dan Siska bela Boby, padahal Boby kan yang bikin kamu keluar dari sekolah itu Lang!” ujarku, tak terasa mataku berkaca-kaca.
Semua tidak seperti yang kamu bayangin, Gilang. Aku seperti ingin memeluk Gilang saat ini juga.
Siska keterlaluan sekali memang.

“Udah jangan sampai nangis ya.”
Aku mengangguk. Gilang mencubit pipiku lirih. “Kok nggak tembem lagi?” tanyanya.
“Hah?” Aku meraba pipiku. “Hm, emang dari dulu gini kali!”
“Hahaha,” Gilang tertawa. Tawanya mengundang tawaku juga, kita tertawa bersama. Dia memang selalu bisa membuatku tertawa dikala aku sedih.

Awan putih mengarak ke arah Timur. Aku berada di kelas sambil menghabiskan soft drink yang tinggal seperempat botol.
Siska datang dengan rambut terurai, salah satu telinga memakai headset warna putih, dan berjalan santai menuju bangku belakangku. Aku sudah tidak bisa menahan emosi dari kemarin.

“Siska!” teriakku.
Dia menoleh. “Apa?”
“Kamu bilang apa sama Gilang?”
“Memangnya apa?”
“Nggak tahu, makanya aku tanya!!”
“Bodo amat.”
“Kok gitu?” kesalku. Aku melemparkan soft drink
di tanganku ke kepala Siska.
Tukk!!
“Aduh!”
Aku menahan tawa bahagia. Tak lama kemudian tawaku lepas bebas dan keras, mengisi setiap ruangan kelas yang siap memantulkannya, kelas sedang sepi.
“Kamu apa-apaan?”
“Iri kan kalau aku masih sama Gilang?”
“Kamu itu cuma bad girl, tahu nggak?! Cuma anak yang cuek, nggak mood- an, dan nggak suka bersosialisasi, mana mungkin cocok sama Gilang?!” Kata-kata Siska benar-benar menusuk hati.
“Emang gini aku! Masalah ya dalam dapetin cinta? Ngaca dong, aku cantik, kamu enggak!” cetusku sudah tak bisa menahan amarah. Tapi, memang begitu faktanya, aku jauh lebih baik dan cantik daripada Siska.
“Cerewet!”
Siska mengangkat ranselnya dan berjalan menuju bangku paling belakang, akhirnya dia pindah tempat duduk.

“Tugas kali ini tentang Proyek Studi lagi, tapi bertema kebersihan, dan judulnya Mengamati Kebersihan Lingkungan Sekitar Tempat Tinggal, saya akan bagi kelompok menjadi 5-6 kelompok, urut absen.”
Namaku Ovella Dominiqa Majesta, sedangkan nomor absenku 27.
Dan, nama Siska berawal huruf S, dia berada di nomor absen 28.
“Okey, kelompok 1 adalah absen 1-5, kelompok 2 absen 6-10, dan seterusnya. Setiap siswa ada 5 orang. Jumlah siswa disini ada 30, maka ada sekitar 6 kelompok nanti..” jelas Bu Wahyuni.
“Mati,”
“Kenapa El?” tanya Gita.
“Git, aku sama kamu ya kelompoknya.”
“Nggak bisa lah, dimarah Bu Wahyuni ntar, emang kenapa sih? Aku kan kelompok 3.”
“Yaa, dan aku kelompok 6. Tahu kan? Ada Siska.” kataku.
Gita hanya menunjukkan tatapan kasihannya kepadaku.

Aku di tengah-tengah riuhnya kelas membahas tugas, hanya diam dan berpangku tangan. Aku yakin cepat atau lambat pasti ada yang menegurku, ah membosankan.
“Hei El! Kamu mikir dong, ngerjainnya tugas kelompok kita nanti di rumah siapa?! Jangan cuma diem sama bengong doang!” seru Marni.
“Iya,”
“Iya-iya apaan?”
“Ya ini juga lagi mikir namanya! Emang kalau mikir harus ngomong ya, minta persetujuan dulu mau mikir?”
“Udah-udah ribet bicara sama kamu. Temen kamu itu Sis, ajak dia care, jangan cuma kayak patung, duduk di antara keramaian..”
“Bukan temenku,” ujar Siska. Dyerr!
“Loh?” Marni heran.
“Musuh besar, hahaha.”
Beberapa detik setelah Siska tertawa, yang lainnya juga ikut tertawa.
Aku seperti disudutkan, aku ditertawakan. Semua tawa dari mulut Siska, Marni, dan yang lainnya seakan berputar-putar di sekelilingku.
Pett! Gelap!

“Aku di mana?” tanyaku. Mungkin memang efek bangun tidur, nyawa belum terkumpul, maka aku menanyakan hal aneh.
“Ellaa, sudah sadar Ella?” tanya suara yang kukenal. Aku sungguh benci suara itu, samar-samar aku melihat sosok Boby duduk di samping ranjangku, yap seperti yang aku tahu, aku berada di UKS.
Aku kembali memejamkan mataku, berharap sosok Boby hanya dalam mimpi burukku saja, aku mencoba untuk kembali tidur, tapi sulit. Seseorang mengoyak-oyak tubuhku.
“Ella, bangun.” suara itu lagi. Najis.
Terpaksa, aku membuka mata. “Aku di UKS?”
“Ya. Tadi kamu pingsan,”
“Oh,”
“Aku ambilin air putih ya.”
“Nggak usah, aku nanti ambil sendiri, kalau kamu yang ambil jadi nggak nafsu.”
“Oh ya udah, hm. Aku tinggal sebentar, takutnya aku bikin kamu…”
“Oh okee oke! Silahkan, dengan senang hati. Bye, hati-hati!”
Boby ke luar ruangan. Hm… lega rasanya.

Hari sudah sore, pukul 16.30, aku masih di gerbang sekolah. Jujur, aku malas pulang, jadi aku tadi sekalian menghabiskan waktu luangku untuk tidur di UKS.
Deru motor berhenti di depanku. Seseorang membuka kaca helm, “El, aku anterin pulang yuk.”
“Nggak usah Bob, aku bisa pulang sendiri!”
“Please, aku mau bicara penting.”
“Nggak Boby!”
“Ayolah Ella, sekali aja. Lumayan kamu bisa pulang tanpa harus naik angkot kan?”
Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun menyetujuinya. Aku langsung membonceng Boby.

Ternyata, Boby tak langsung mengantarku pulang, dia berhenti di sebuah taman, ya, taman tempat aku biasa nongkrong sama Gilang.
“Duduk-duduk bentar ya.”
Aku mengangguk.
Entah kenapa, aku merasa Boby berbeda hari ini, gaya bicaranya sudah tidak lagi terkesan sok-sokan, justru tampak lebih cuek dan berwibawa.
“Ovella, aku cuma mau bilang.”
“Apa?” tanyaku cuek.
“Kamu bener kan masih suka sama Gilang?”
“Iya!”
“Aku minta maaf ya, kalau di hidupmu cuma bikin berantakan. Cuma ganggu, aku mau pergi dari hidupmu kok. Asalkan, kamu maafin aku dulu.”
“Pergi? Setelah Gilang ninggalin aku dan Siska berubah gara-gara kamu? Setelah aku benar-benar terpuruk, dan kamu mau… pergi?” tanyaku, ucapannya tadi sungguh tak masuk akal. “Dasar nggak punya rasa tanggung jawab!” lanjutku dengan emosi yang bebal, belum sanggup dilampiaskan.
“Maka dari itu El, aku minta maaf dulu. Dan aku mau… bertanggung jawab.”
“Mana? Seperti apa bentuk rasa tanggung jawabmu Bob?”

Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pohon besar di belakangku dan Bobby. Aku dapat mengetahuinya karena suara kresek-kresek dari dedaunan di bawah pohon tersebut, nyaris berbunyi ketika diinjak. Yap, itu Gilang! Buat apa dia ke sini?
“Ini El, ini bentuk rasa tanggung jawabku sebelum aku pergi dari hidupmu. Aku benar-benar merasa bersalah.”
Aku diam seribu bahasa.
“Ella, aku sudah tahu semuanya, Boby diam-diam cerita tentangmu ke aku. Dan aku sekarang tahu, kalau kamu juga masih ada rasa untukku. Apakah kamu mau jadi pacarku untuk ke dua kalinya?”
Hah? Benar-benar mimpi.
“A-aku nggak mimpi kan?”
“Kamu nggak mimpi,”
“I-iya, aku.. aku mau Lang!”
“Cieeeeeee!!!” teriak beberapa suara dari sumber yang berbeda-beda.
Dari persembunyiannya, Siska, Gita, Leli, sampai Salsa dan kawan-kawannya pun keluar.

“Aku kerja sama dengan mereka El.” ujar Gilang sambil menunjukkan senyum lebarnya.
Siska menghampiriku. “Aku minta maaf kalau pernah bela Boby ya El.”
Aku tersenyum semanis mungkin. “Aku maafin kamu kok,”
Salsa dan kawan-kawannya pun menghampiriku juga. “Kita minta maaf sebesar-besarnya Ella, kita tahu kamulah yang pantas jadi pasangan Gilang.” kata Salsa mewakili teman-temannya.
“Iya,” Aku mengangguk. “Aku memaafkan kalian semua.”
Gilang merangkulku.

“Boby,” panggilku lirih.
Boby berjalan mendekat dengan kepala tertunduk. “Iya El?”
“Bob, kamu jangan pergi dari hidupku ya. Justru aku suka kamu hadir di hidupku sebagai fans konyolku, dan… jangan berubah, tetep jadi cowok cuek dan bijaksana seperti sekarang ya, jangan jadi cowok sok-sokan seperti yang lalu, oke?”
“Serius El?? Oke, Ella. Aku akan berubah, makasih banyak,” ucap Boby kegirangan.
“Kayak poweranjes aja tuh Boby, bisa berubah.” celetuk Gita.
Disambut ledakan tawa anak lainnya.

Ternyata, penantianku selama ini tidak sia-sia, aku mendapatkan sosok Gilang lagi, teman lama dan teman baru, dan juga Boby mengalami perubahan. Terimakasih, Tuhan.

Cerpen Karangan: Iffah Afkarin
Blog: iffahafkarin.blogspot.com
Hanya filosofi pelajar amatiran yang hobby menulis cerita.
Lebih suka hafalan daripada hitungan.
Cek ig saya @iffah.afkarin
Terimakasih untuk cerpenmu.com
Lolos moderasi, alhamdlulillah.

Cerpen Gilang Story merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gara Gara Baju Couple

Oleh:
Aku dan Bastian sudah 1 Tahun menjalani hubungan, tapi hubunganku selalu dipenuhi dengan pertengkaran. Bagaimana Tidak? Selama ini Bastian selalu dekat dengan cewek-cewek cantik yang menurutku populer dibanding diriku

Sahabat Baruku

Oleh:
Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan bagi seorang anak perempuan yang bernama Putri. Tanggal 20 Agustus 2012, Putri akan berpisah dengan teman-temannya dikarenakan dia akan pindah sekolah. Dalam

Cinta Ku Milik Sahabat Ku (Part 2)

Oleh:
Aku hening sejenak memikirkan jawaban apa yang tepat untuk diutarakan. “sudahlah…” kataku. “ternyata kamu suka dengan dia juga?” tanya Diki yang memotong pembicaraanku. “ah.. sudahlah lupakan.” jawabku. “jika benar

Jangan Pinjemin HP Sembarangan

Oleh:
Siapa yang gak tau Smartphone?. Ya, tentu saja pasti semua tahu. Benda ajaib yang bisa mengeluarkan suara dan gambar melalui layar mungil ini hampir semua orang memilikinya. Dari yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *