Hadir Mu, Sang Penolong (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

“Aku ingin menjadi malaikat bagi malaikat.” Randy.

Seorang gadis berjalan ke sekolah sendirian. Rita melangkah santai meskipun sudah terlambat. Sebuah headset besar menggantung di kepalanya. Wajahnya sedikit terangkat dengan pandangan lurus nan angkuh. Tangannya disilangakan ke dadanya. Dengan seragam yang cukup ketat dan seksi itu ia begitu percaya diri. Sreet.. Ngeng.. ng.. Piip.. bunyi laju sebuah mobil terdengar mendengung bersamaan dengan klaksonnya.

“Ih..” desah Rita menahan kesalnya. Sedetik kemudian matanya terbelalak hampir ke luar. Dilihatnya seorang pemuda tampan di seberang jalan. Pemuda itu memakai seragam yang sama dengannya. Pemuda itu seperti habis terjatuh. Mungakin dialah yang menyebabkan mobil tadi memberikan klaksonnya.
“Ah kesempatan nih..” bisiknya lalu menyeberangi jalan ke arah pemuda itu.
“Hei, kamu gak apa-apa kan?” ucapnya sedikit lembut sambil mengulurkan tangannya ke arah pemuda tampan itu.
“Ya, terima kasih.” Balas pemuda itu meraih tangan Rita untuk berdiri. Ia melemparkan senyum yang begitu manis. Wajah Rita langsung memerah melihatnya. Hatinya berdegup kencang.

Tangannya pun bergetar hebat. Untungnya pemuda itu menggenggamnya erat hingga tak begitu terasa getarannya. Rita menjadi terhanyut dalam lamunan bunga-bunga cintanya.
“Nek, Nenek tidak apa-apa kan?” kata pemuda itu menghamburkan bayangan di mata Rita. “Nenek? Siapa nenek?” bingung Rita di hatinya.
“Iya Nak. Terima kasih. Kalau tidak ada kamu Nenek mungkin sudah meninggal.” Tiba-tiba suara sesosok nenek muncul di telinga Rita. Ia benar-benar tidak sadar bahwa di sana ada sosok itu. Mungkin ini karena ia terlalu angkuh untuk melihat orang-orang yang tidak selevel dengannya.

“Baiklah Nek. Nenek sekarang mau ke mana? Biar saya antarkan.” Tawarnya.
“Tidak usah Nak. Nenek bisa sendiri kok. Kamu kan harus sekolah. Itu, kekasihmu sudah menunggumu.” Ucap nenek itu sambil melirik ke arah Rita yang semakin kebingungan. “Kok, Nenek itu bisa berkata seperti itu?” gerutunya dalam hati keheranan. “Tapi boleh juga sih.. haha” kemudian ia tertawa kecil.
“Baik Nek, kalau begitu saya akan ke sekolah dulu. Nenek hati-hati ya Nek.” Lalu pemuda itu berbalik ke arah Rita. Wajah Rita kembali memerah. Pertama kalinya Rita menunduk ketika melihat orang lain adalah saat ini. Mungakin ia adalah gadis paling angkuh yang pernah ada di sekolah itu. Semua orang tahu itu.

“Eh, maaf yah lama.” Ucap pemuda itu menggaruk kepalanya sambil nyengir kuda.
“Gak apa-apa kok. Tadi itu siapa?” Tanya Rita basa-basi.
“Aku gak kenal juga sih. Tadi mobil itu hampir menabrak beliau.” Tutur kata pemuda itu begitu lembut dan hormat. Rita mulai merasa iri padanya. Baru kali ini Rita penasaran kepada pemuda lembut seperti dia.

“Oh ya, kita belum kenalan. Namaku Rita Putri Ayu. Panggil aja Rita.” Pemuda itu hanya tersenyum melihatnya menyodorkan tangannya. Sejenak Rita merasa risih dipandangi seperti itu. Rita menjadi salah tingakah dan menarik kembali tangannya. Ia kembali menggaruk kepelanya. Suatu kebiasaan yang tak pernah ia lakukan di depan pria lain.
“Namaku Randy. Aslinya Randy Febrian.” Kini giliran pemuda itu yang menyodorkan tangannya.
“Eh, kamu lahir bulan februari yah?” Rita langsung menyambut tangan itu.

HADIRMU
Rita masih memikirkan Randy. Hari ini mereka menghabiskan waktu bersama di sekolah. Bayangan-bayangan indah senyum Randy selalu hadir di matanya. Rita hanya bisa senyum-senyum sendiri. “Ren, kamu manis banget sih. Kamu juga baik dan lembut. Aku suka sama kamu.” Rita menggerutu sambil tersipu sendiri. Malam itu penuh kebahagiaan tentang Randy.

Keesokkan harinya Rita berangakat dengan berjalan kaki lagi. “Siapa tahu bisa ketemu Randy lagi.” Benar saja. Ia melihat Randy di seberang jalan. Tapi, kenapa Randy membawa keranjang? Lagi-lagi Rita terkejut. Kali ini Randy membantu seorang nenek membawa barang belanjaannya dan mampir ke suatu rumah. Rumah nenek itu. Setelah menunggu Randy menyelesaikan tugasnya membantu nenek tersebut, Rita menghampiri Randy. Mereka berjalan bersama seperti kemarin. Hari ini senyum mereka lebih lebar dari kemarin. Rita merasa nyaman di dekat Randy. Meskipun hatinya bertanya-tanya. “Apakah aku pantas untuk orang sebaik dia?”

Pulang sekolah Randy dan Rita sudah berjanji untuk bertemu dan pulang bersama. Rita menunggu di post satpam. Sudah lima belas menit ia menunggu. Sekolah sudah mulai sepi.
“Nungguin siapa non?” Tanya seorang bapak satpam. Rita hanya mengacuhkannya. Menurutnya tak ada gunanya berbicara dengan orang-orang seperti mereka. Sementara itu Randy masih di toilet pria. Ia masih belum ke luar dari toilet itu sejak dua puluh menit yang lalu. Di luar terdengar suara beberapa orang tengah mengintimidasi seseorang.

“Cklk.” Bunyi pintu yang dibuka oleh seseorang. Semua mata yang ada di dalam toilet itu mengarah kepadanya.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” ucapnya menghentikan keheningan.
“Kalian tidak seharusnya menghakimi seseorang seeperti itu. Lihatlah diri kalian. Apa orangtua kalian tahu kalian seperti ini? Jika mereka tahu, mereka akan mengatakan hal yang sama dengan yang kalian katakan pada anak itu.” Tutur Randy panjang lebar melirik ke arah seorang pemuda yang sudah sedikit babak belur.
“Mau cari mati lo?” teriak seseorang di antara para pemuda itu.

Teet.. Rita merasakan handphone-nya bergetar.
1 Pesan Masuk
dari: Randy
Lalu Rita membukanya.
“Rita, aku butuh bantuanmu. Kamu mau kan membawa beberapa orang satpam di luar ke toilet laki-laki? Secepatnya. Keadaannya darurat.”

Rita kaget melihat sms itu. Ia langsung berteriak memanggil pak satpam tersebut. Untungnya pak satpam tersebut mau mendengarkannya meskipun ia begitu angkuh.
“Ini tugas Bapak. Ayo Pak!” teriaknya menyeret tangan pak satpam sambil berlari menuju toilet. Ia berhasil membawa tiga orang satpam.
“Woe, ada satpam woe. Kabuur!!” teriak salah seorang pemuda yang tengah menjaga pintu toilet ke dalam toilet.

Satpam-satpam yang dibawa oleh Rita pun semakin mempercepat larinya dan mengejar semua pemuda yang ke luar dari toilet itu. Salah seorang dari satpam itu berhasil menangkap satu orang dari mereka yang terjebak di dalam toilet. Dua orang lainnya mengejar sisanya. Rita masuk ke dalam toilet. Ia melihat Randy dan seorang pemuda yang sudah babak belur. Mereka berdua baru saja dipukuli oleh preman-preman sekolah itu.

Rita pun membantu mereka berdiri dan berjalan. Sesampainya di pos satpam pemuda itu dinaikkan ke sepeda motor pak satpam untuk diantarkan ke rumahnya. Sedangakan Randy memilih untuk berjalan pulang bersama Rita. Sepanjang jalan Rita menopang tubuhnya. Mereka sama-sama merasakan kenyamanan saat bersama. Langkah demi langkah mereka terisi senyuman.

“Ta, makasih ya. Kamu hebat hari ini. Kamu malaikat termanis yang pernah aku lihat.” Tutur lembut Randy masuk seluruhnya ke dalam telinga orang yang mencintainya itu. Rita tersipu malu mendengarnya. Wajahnya memerah. Ia langsung melepaskan pelukannya pada Randy.
“Ta, aku masih belum bisa berjalan sendiri.” Sahut Randy menggoda Rita yang berjalan menjauh darinya. Rita tak berani melihat wajahnya. Ia tak berani menunjukkan wajah merahnya yang memanas itu. Ia tak berani menunjukkan wajahnya yang tak bisa berhenti tersenyum itu.

KALIAN BERDUA
Keesokkan harinya Randy dan Rita berjalan bersama lagi setelah menolong beberapa orangtua yang ingin menyeberangi jalan. Hari ini mereka lebih mesra dari hari kemarin. Senyum di wajah dua sejoli itu menggambarkan tali cinta mereka yang semakin erat mengikat. Siang itu mereka berdua menunggu di depan ruang guru. Kabarnya mereka menjadi saksi untuk pelanggaran kemarin sore. Seorang pria muncul dari belokan di ujung lorong itu. Ia adalah pemuda yang kemarin mereka tolong. Sesaat kemudian ia telah berada di depan mereka. Wajahnya banyak bekas luka yang sudah diobati.

“Hai, thanks ya bro. Lo udah nolong gue kemarin. Nama gue Pian. Alfian Rahmadi.” Ucapnya berusaha tersenyum di depan Randy dan Rita.
“Sama-sama bro. Gue Randy, kemarin untung ada Rita yang bisa gue maintain pertolongan. Dia yang manggil satpam.” Tutur Randy menunjukkan sisi rendah hatinya.
“Eh, gak kok. I..itu karena Randy yang sms.” Ucap Rita sedikit tergagap. Ia sedikit tidak terbiasa dengan ucapan terima kasih seperti itu.

Perkenalan itu membawa hubungan mereka menjadi lebih dekat. Randy memiliki dua orang yang sangat indah dalam hidupnya setelah orangtuanya. Pian dan Rita telah menjadi sahabat baiknya selama beberapa hari ini. “Teman-teman, besok kan hari minggu, gimana kalau kita ngumpul di taman? Aku mau ngajak kalian berbahagia.” Ajak Randy dengan senyum yang amat lebar dan manis. Kedua sahabatnya itu mengiyakan ajakannya tanpa berpikir panjang.

Malam harinya Randy tak dapat tidur. Ia merasa begitu merindukan seseorang. Rumahnya yang sepi ditinggal oleh orangtuanya ke luar negeri itu membuatnya merasa semakin rindu. Ia begitu membutuhkan sesorang yang dapat menemaninya. Setelah memikirkannya, Randy bangakit dari tempat tidurnya dan turun mengeluarkan motor besarnya. Ia mengirimi pesan kepada Rita untuk menunggunya di depan pintu rumahnya. Untungnya Rita juga belum tidur.

“Brrmm..” suara motor besar itu mengecil ketika sampai di rumah Rita.

Mereka duduk di taman. Suasananya sepi dan hening. Sejuk membelai rambut Rita dan menerbangakannya. Mereka masih terdiam menatap bintang yang berkelap-kelip di langit.
“Aku mau ngomong sama kamu.” Ucap mereka serentak ketika saling berhadapan.
“Kamu duluan.” Rita masih merasa sedikit malu untuk berkata. Ia mengalah pada Randy dan membiarkannya bicara lebih dulu.
“Aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi teman hidupku?” tutur Randy.

Waktu seakan berhenti. Seakan cahaya bintang di langit semakin terang dan berwarna-warni. Randy membelai rambut Rita lembut. Rita memejamkan matanya. Ia tak kuasa mengeluarkan kata-kata. Ia hanya mengangguk. Randy tersenyum bahagia. Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan baginya. Ia mencium kening Rita dengan lembut. Rita mengangkat wajahnya. Senyum kebahagiaan tergaris di bibirnya. Mereka pun menghabiskan malam itu dengan berpelukan sebelum pulang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Alif Mahfud
Facebook: Alif Mahfud Yangdulu

Cerpen Hadir Mu, Sang Penolong (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dulu

Oleh:
Menyedihkan sekali kisah persahabatanku dengan Rinka. Dia dulu sahabatku. Dia dulu orang yang bisa kupercaya. Dia dulu selalu menghiburku saatku bersedih. Dulu kami saling berbagi cerita. Tapi itu semua

My Life And Your Happiness Mother

Oleh:
Ujian Nasional ini merupakan akhir dari perjuanganku di jenjang SMP memang terasa sangat cepat tapi ini lah hidup, kebahagia yang kini kurasakan dengan mendapat nilai yang bagus dan memperoleh

Sandiwara In School (Part 1)

Oleh:
Pukul 05.00 pagi, sudah ada 2 gadis standby di Bandara SoekarnoHatta. Rupanya 2 gadis itu ialah Kurnia Maharani dan Kiella Amandas. Entah apa yang mereka tunggu disana. “Hey, Kiella,

Perempuan Kutukan

Oleh:
Suasana alam di pedesaan memang selalu memanjakan mata manusia yang mulai lelah. Berbeda dengan kota-kota besar. Setiap hari selalu disuguhi suara amukan klakson yang terdengar mengerikan saat jalanan mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *