Hadir Mu, Sang Penolong (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

MASIH KALIAN BERDUA
Setelah menjadikan Rita sebagai kekasihnya malam itu, lantas tak membuat Randy memberikan perlakuan yang berbeda dari sebelumnya. Mereka memang sudah mesra sejak awal. Ditambah selain mereka, masih ada Pian dalam tali persahabatan mereka itu.

Hari minggu itu tiba. Mereka telah berkumpul di taman. Randy membawa mereka ke sebuah tempat yang tak jauh dari taman, yaitu sebuah panti asuhan. Teman-temannya tak pernah protes tentang yang ia lakukan. Mereka juga mengaku sangat menyukai sosok ramah tamah dan berhati mulia seperti Randy. Hari itu mereka menghabiskan waktu dengan bermain bersama anak yatim, membelikan mereka makanan, mengajarkan mereka membaca, dan banyak lainnya. Mereka juga mengunjungi panti jompo di dekat panti asuhan itu. Mereka menghibur para manula yang begitu kesepian itu. Hari yang penuh kebahagiaan seperti yang dijanjikannya. Senyum lebar yang begitu tulus dan indah.

“Yan, orangtuamu kerja apa?” Randy tiba-tiba bertanya kepada Pian saat berjalan pulang.
“orangtuaku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ayahku telah meninggal. Jujur, kehadiranmu mengubah hidupku sobat. Sebelumnya aku tak dapat terima kenyataan sepeninggal ayahku. Aku masih belum berani menjadi tulang punggung keluarga kami.” Jawab Pian mendadak termenung. Suasana menjadi hening. Randy tersenyum dan Rita hanya bisa bersimpati.

“Aku ingin kita bisa menolong orang lain. Bagaimana pun keadaan kita, kita pasti bisa membantu orang lain. Setidaknya yang paling berharga adalah menolong orangtua kita. Kalian lihat kan, kita tadi bisa membantu anak yatim dan orangtua itu. Selama kita mau berusaha. Akan adda jalannya untuk kita bisa menolong orang lain.”
“Ya, kami percaya. Kami juga ingin menjadi malaikat sepertimu.” Ucap kedua orang di sampingnya dengan senyum haru mereka. Rita menyandarkan kepalanya ke bahu Randy. Sedangkan tangan Randy merangakul bahu sahabat di sampingnya itu.

HILANG
Pagi itu aku pergi mengantar ibuku bekerja. Aku mengangkatkan barang-barang belanjaannya untuk bahan memasaknya. Kebetulan, rumah majikannya berhadapan dengan rumah Randy. Ibuku juga bilang kalau mereka memang keluarga yang baik. Ia sering bergaul dengan pembantu tetangga sehingga banyak yang bisa ku tahu tentang Randy dan keluarganya. Ibuku juga bersyukur karena aku bertemu dengan Randy hingga berubah seperti ini. Aku tersenyum memandanginya.

“Ran, Randy?” sahutku di depan pagarnya yang tinggi sambil menekan bel.
“Ada apa yah Mas?” Tanya seorang satpam dari balik pagar.
“Pak, Randynya ada tidak? Saya temannya. Pian.” Tanyaku masih berdiri di luar pagar.
“Yah, Mas gak tahu yah mas. Mas Randynya sudah dibawa ke singapura sejak tadi pagi-pagi sekali. Mayatnya akan dimakamkan di sana katanya.”

“Apa? Maksud Bapak apa? Randy gak mungakin mati Pak. Randy belum boleh pergi. Randy! Randy!” aku tak mampu menahan histeris. Air mataku mengalir dengan sendirinya. Sahabatku meninggal tanpa sepengetahuanku. Ia bahkan tak pernah berkata bahwa ia punya penyakit apa pun. Sahabat macam apa aku ini?
“Sabar Mas.” Ucap pak satpam menenangkanku. Aku masih tak bisa menerima kenyataan ini. Hatiku berkecamuk. Terpampang semua bayangan indah kebersamaan kami. Persahabatan yang begitu hangat. Aku hanya bisa berlari menjauh dari rumah itu. Rumah yang mengingatkanku tentang senyumnya. Seorang sahabat yang ramah dan penyayang.

Aku masih merenung di kamarku. Kemarin aku tak sekolah. Hari ini hari minggu. Aku tak percaya Randy sudah pergi. Siapa lagi yang akan mengajakku menolong orang.
“Pian, buka pintunya Nak. Kamu kenapa?” ibu mengetuk pintu kamarku.
“Tidak apa-apa Bu.” Sahutku. Aku tak ingin membuat ibuku ikut sedih melihat keadaanku. Aku sudah belajar banyak dari Randy. Aku tak akan membagi kesedihanku, aku hanya akan membagi kebahagiaan. Aku membukakan pintu untuk ibuku. Ia memberikanku sebuah surat. Katanya surat itu dari Randy.

“Untuk kekasihku Rita dan sahabatku Pian.”

Tulisan tangan itu ku kenali milik Randy. Oh iya, masih ada seseorang lagi. Aku langsung mengambil handphone-ku. Aku mengetikkan pesan yang berisi ajakan pertemuan dengan Rita. Setelah itu aku bersiap-siap. Aku berpikir untuk membuka surat itu bersama Rita. Aku bertemu Rita di taman tempat kami biasa berkumpul dengan Randy. Hari ini suasana taman sama seperti kemarin. Kami masih duduk di sini, bedanya kali ini Randy tak bersama kami lagi. Ku lihat Rita masih tertunduk. Matanya bengkak. Aku yakin bahwa dia sudah tahu kenyataan pahit ini.

“Ta, kamu yang sabar yah. Aku yakin kita berdua pasti bisa melalui masa-masa sulit ini. Kita akan saling menolong untuk menjadi lebih tabah dan tegar. Sekarang aku mau kamu angkat kepala kamu. Kuatkan hati kamu. Aku punya sepucuk surat dari Randy untuk kita.” Mendengar kata-kataku Rita mengangkat wajahnya perlahan. Ia kembali menghapus air matanya yang berlinang. “Aku bukain yah?” tanyaku sambil mencoba melepaskan kaitan lem pada amplop surat itu dengan sangat berhati-hati.

“Untuk kalian berrdua. Sayang aku minta maaf karena meninggalkanmu tanpa peringatan sebelumnya. Tapi aku tidak mau kalian sedih. Aku sudah lama divonis gagal ginjal oleh dokter.
Pian, tolong jaga Rita selama aku pergi. Aku mengandalkanmu sahabat. Kalian berdua ingatlah hari minggu pertama kita datang ke taman ini. Aku tak akan pernah lupa rasanya kebahagiaan itu.”

“Melihat dua orang terindah dalam hidupku mendampingiku menolong orang lain. Jika kalian merindukanku, ingatlah pesanku ini. Kalian akan tersenyum bahagia saat ada orang yang membantu kalian ke luar dari kesulitan. Tapi kalian akan tersenyum lebih lebar jika kalian berhasil membantu seseorang ke luar dari suatu masalah. Sampai jumpa di surga. Randy.”

MENJADI MALAIKAT KAREANAMU
Setelah minggu itu, aku dan Rita selalu bersama. Aku telah berjanji untuk menjadi malaikat sepertinya, seperti Randy. Rita dan aku sering berangkat sekolah bersama sambil membantu orang-orang di jalan seperti yang selalu dilakukan oleh Randy bersama Rita. Setiap minggu kami juga selalu melakukan kegiatan rutin kami. Rita seringkali menangis dalam pelukanku ketika ia tak sanggup menahan kerinduannya pada Randy. “Sahabat, jangan tinggalkan kami.” Aku sendiri sering berkata seperti itu dalam lamunanku.

Minggu ini kami kembali menghibur orang-orang di panti. Sorenya aku dan Rita duduk di taman. Rita mendadak hening dan kami sama-sama termenung. Aku perlahan mendengar suara isaknya. Rita mulai menangis. Aku merangkulnya dari samping. Ku tarik kepalanya bersandar ke bahuku. Ia kembali memelukku dan menenggelamkan wajahnya ke pelukanku. Isaknya kini tak begitu terdengar. Sepertinya ia tertidur. Aku mengusap rambut kepalanya lembut. Tak terasa aku meneteskan air mataku.

Hari hampir malam aku membangunkan Rita untuk pulang. Sepertinya ia tak punya kekuatan untuk bangkit. Aku merasa iba melihatnya. Aku berjongkok di depannya. Aku berniat menggendongnya. Ku lihat ia tak keberatan naik ke punggungku. Aku membawanya di punggungku hingga sampai ke rumahnya. Aku mengucapkan salam perpisahan seperti biasa. “Sampai jumpa.”

Berlanjut dari rumahnya, aku berangakt ke rumah majikan ibuku yang ada di depan rumah Randy. Aku berlari dengan penuh semangat menuju ibuku yang telah menungguku di depan rumah itu. Aku membantunya membawakan barang-barangnya. Di jalan kami berbincang sedikit tentang hubungan Randy denganku. Menurut ibuku aku seperti sedang marahan dengan Randy. Karena ia sudah lama tak melihatku berkunjung ke rumah Randy. Aku pun menjelaskan kenyataannya. Randy sudah pergi. Pergi ke surga.

Malam ini aku tak dapat tidur lebih awal. Aku masih memikirkan apa yang ibu katakan tadi. Aku juga tak dapat melupakan isi surat Randy yang menyuruhku untuk menjaga Rita selama ia pergi. Itu artinya aku harus menjadi malaikat untuk Rita. Ya, aku akan melakukannya. Aku mengirimi Rita sms ajakan untuk bertemu malam ini juga. Ku katakan bahwa aku berharap ia mengenakan pakaian yang cantik karena aku akan tampil tampan.

Kami pergi ke alun-alun kota setelah Rita menjemputku dengan mobilnya. Malam itu aku mengungkapkan segala isi hatiku selama ini. Segala yang membuat hari-hariku terganggu. Aku membiarkan ia tahu bahwa aku ingin menepati janjiku menjaganya selama Randy pergi. Itu berarti aku boleh menjadi kekasihnya. Rita menurut padaku. Ia yakin ini akan jadi yang terbaik bagi Randy. Kini aku dan Rita resmi menjadi kekasih. Kami pulang dengan hati yang berdebar-debar. Senyum kami Nampak sangat berbunga-bunga dan lebar.

Bersambung

Cerpen Karangan: Alif Mahfud
Facebook: Alif Mahfud YangDulu

Cerpen Hadir Mu, Sang Penolong (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sandiwara In School (Part 1)

Oleh:
Pukul 05.00 pagi, sudah ada 2 gadis standby di Bandara SoekarnoHatta. Rupanya 2 gadis itu ialah Kurnia Maharani dan Kiella Amandas. Entah apa yang mereka tunggu disana. “Hey, Kiella,

Kamu dan Mamahmu

Oleh:
Gemericik suara hujan ditambah dengan tiupan angin yang menggoyangkan daunan, bagaikan lagu merdu yang menghipnotis diri ini untuk semakin terlelap. “TOK.. TOK.. TOK..”. Antara sadar dan tidak, aku seperti

Perbedaan Bukan Penghalang

Oleh:
Hari ini aku bangun agak siang karena hari ini libur kerja tepatnya sih pas imlek. Aku bangun mandi dan seperti biasa setiap kali libur, kerjaanku bermalas-malasan di kosan sambil

Kirito san (Part 3)

Oleh:
Tidak lama kemudian ramen itu habis dan Sima minum. Kemudian “terimkasih Kirito-san. Kau hebat dalam memasak ramen” “aku memang hebat” kata Kirito somobng. “hem. Seharusnya aku tidak memujimu tadi.

Canda Dalam Tangis

Oleh:
Perlahan kubuka lembar buku usang, dengan hiasan debu dan sedikit ukiran dari hewan yang sedikit menggerogoti halaman sampul buku itu. Dalam kenangan masa lalu, ingatan serasa terbuka kembali dikala

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *