Hadir Mu, Sang Penolong (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

“Apakah begitu sulit menjadi malaikat untuk malaikat?” Randy.

Hari ini hari minggu. Hubungan Rita dan Pian sudah berusia seminggu. Mereka menjalani hari-hari seperti biasanya. Tak ada yang terlalu berubah. Hanya ada Rita yang tak lagi nampak menangis. Kebahagiaan kini telah bersarang dalam setiap senyuman mereka. Tak ada kesedihan seperti yang dahulu. Malam ini di depan rumah Rita, seorang pria memanggil-manggil namanya. Seorang satpam ke luar dan menanyainya.

“Siapa ya Mas?”
“Saya pacarnya Rita Pak.”
“Maaf Rita sudah ke luar bersama temannya. Eh, pacarnya.”

Tiba-tiba mimik wajah pria tersebut berubah. Kekecewaan begitu mengganggunya sepanjang perjalanan pulangnya. Kejutan yang ia siapkan kini berganti luka. Kekasihnya kini memiliki kekasih yang lain. Siapa dia? Siapa pria yang mampu menggantikan sosok dirinya bagi Rita. Ia hanya berharap pemuda itu lebih baik darinya. Setidaknya pemuda itu tidak akan pernah menyakitinya. Ia teringat pada seorang sahabat yang sering menjadi tempatnya mencurahkan isi hatinya. Pian. Ia harus menemui Pian. Pria itu kemudian memutar balik menuju rumah Pian. Tak berapa lama ia sampai ke rumah itu.

“Eh Nak Randy. Kok baru datang lagi?” sambut Bu Nia melihat sahabat anaknya yang telah lama tak datang berkunjung itu. “Bu, Piannya ada di rumah?”
“Maaf Nak, Piannya sudah ke luar bersama temannya, eh pacarnya.”
“Siapa yah Bu?” meskipun kali ini jawabannya sama dengan yang tadi, Randy merasa mampu untuk bertanya, karena ia tidak akan patah hati mendengarnya. Malah, mungkin ia akan bahagia. “Namanya Rita kalau tidak salah Nak.”

DEG. Hati Randy hancur lagi. Ia tak pernah menyangka ini akan terjadi. Ini semua memang salahnya. Jika saja ia tak berpura-pura mati. Ia memaki dirinya sendiri. Kini ia bingung harus melakukan apa. Ia akan merasa sangat bersalah jika harus bertemu dengan mereka. Namun ia tak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Ia merindukan Rita. Ia ingin bertemu denan sahabatnya.

Bagaimana dengan hubungan mereka berdua setelah melihatnya. Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan hubungan orang-orang yang ia sayangi. Randy menangis dalam perjalanan pulangnya. Ia sangat menyesali rencananya dengan berpura-pura meninggal. Ia hanya ingin melihat dua orang itu menjadi malaikat seperti dirinya. Seperti mantan kekasihnya yang telah meninggal setahun yang lalu.

Sesampainya di rumah, Randy mengurung dirinya di kamar. Ia meratapi dan tak hentinya menyesali keputusannya untuk berpura-pura meninggal itu. Air mata menetes di pipinya. “Aku salah. Aku yang membuat kalian bersama. Aku juga yang terima akibatnya.” gumamnya di sela-sela isaknya. Mamanya yang turut mengantarnya hari ini mencoba menenangkannya, namun ia tak mau mendengarkannya.

HADIRMU KEMBALI
Minggu malam ini aku pergi bersama Rita. Kami menolong orang lagi. Ketika pulang, Rita mengantarku dengan mobilnya. Ia tak sempat turun karena sudah terlalu larut dan langsung melajukan mobilnya kembali ke rumahnya. Aku langsung masuk ke dalam rumah. Ketika aku membuka pintu rumah, ibuku sudah menungguku. Aku penasaran tentang apa yang terjadi. Mengapa ibu harus menungguku pulang hingga selarut ini? Setelah berbicara, aku merasa aku mengerti kejadiannya. Apa yang harus aku lakukan? Tentu saja aku harus memberitahukan ini kepada Rita. Saat aku memberitahukan hal ini kepada Rita, Rita berkata bahwa ia sudah tahu. Satpam di rumahnya telah memberitahukannya.

“Lalu sekarang apa yang kamu lakukan? Apa yang akan kita lakukan?” tanyaku padanya.
“Ayo kita menemuinya.” usul Rita.
“Tidak, jangan sekarang. Besok saja. Mungkin dia sedang butuh waktu sendiri saat ini. Lagi pula sudah malam.”
“Baiklah.” Percakapan kami malam itu sedikit canggung. Kenyataan bahwa Randy telah pulang membuat hati kami berdebar menahan rindu. Rinduku pada sahabatku, rindu Rita pada kekasihnya.

YANG TERMANIS
Pagi ini kami pergi menemui Randy. Ia masih mengurung diri di kamarnya. Kami belum membiarkan ibunya mengatakan ia punya tamu. Kami juga harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Dan setelah lama duduk terdiam. Rita berdiri dan melangkah ke kamar Randy. “Ran, ini aku Rita. Keluarlah, kami menunggumu di taman. Aku dan Pian. Kami akan menjelaskannya.” Rita mencoba terdengar tegar di balik pintu kamar Randy.

Kami pun menunggu Randy di taman seperti kata Rita. Di taman tempat kami sering berkumpul membagi senyum kebahagiaan. Satu jam menunggu, akhirnya kami menemukan sosok Randy yang mendekat dengan motor besarnya. Ia membawa banyak sekali mainan dan makanan. “Jangan berbicara dulu, ayo kita berbagi senyuman. Nanti jika terlihat wajah yang sedih mereka juga bisa ikut bersedih.” Tuturnya lebih lembut dari biasanya.

Berbagi senyum bahagia hari ini telah usai. Kami bertiga duduk di kursi taman bersama. Suasana kembali hening setelah senyuman yang lebar ini kami lempar kepada satu sama lain.
“Ran, maaf…” aku mencoba membuka sesi penjelasan ini. Namun Randy sudah mengacungkan jarinya menyuruhku berhenti berbicara.
“Gue yang harusnya minta maaf karena udah pura-pura mati…” tuturnya lembut, namun terpotong. Kali ini Ritalah yang memberi isyarat itu.
“Biarin Pian yang ngomong dulu.”

“Iya Ran, kita minta maaf. Lo dengerin kata-kata gue dulu. Maaf, karena kita udah tahu kalau sebenarnya cuma pura-pura mati. Kita juga mau balas ngerjain lo. Hmm, makanya jangan suka jahil. Kita nangis dua minggu gara-gara lo. Untung kita mau baik hati biarin lo nangis cuma sehari. Hehehe, maaf yah..” aku dan Rita tertawa kecil. Dan Randy hanya bisa tersenyum haru. Ia memeluk kami berdua erat sekali. Aku sudah menganggap mereka berdua sebagai saudaraku.

Terakhir Randy berkata kepada kami, “Menolong itu seperti menanam. Suatu hari yang kita tanam itu akan berbuah dan dapat kita rasakan manisnya. Aku merasakannya. Aku senang. Aku yakin buah manis itu adalah memiliki kalian, dua orang yang sangat aku cintai dan sayangi.”

Cerpen Karangan: Alif Mahfud
Facebook: Alif Mahfud YangDulu

Cerpen Hadir Mu, Sang Penolong (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Baper

Oleh:
Matahari mulai memancarkan sinar dengan semangat-semanganya saat aku -Firda- dan Ira sedang duduk bedua di bawah pohon depan ruang kelas menunggu dosen masuk. Aku melirik jam tanganku yang sudah

Oralda dan Sisiliano

Oleh:
Oralda gadis yang sangat cantik, matanya berbinar binar, langkahnya begitu cepat dia segera mengambil gaun cantik bewarna putih yang tergeletak di atas ranjangnya, tiba-tiba matanya melihat ada sebuah surat

21 Mei

Oleh:
Hari ini tanggal 21 mei, tapi entah kenapa hati ini tak merasa ketenangan yang terjadi 2 tahun lalu saat cinta dan rasa ini begitu mengebu-gebu dalam dada ini. Tanggal

Harap Yang Sia Sia

Oleh:
Pagi itu gerimis menyerbu tubuhku tanpa ampun yang tengah mengayun sepeda menuju sekolah. Tapi jarak ke sekolah sebentar lagi. aku putuskan untuk tidak berhenti untuk berteduh dulu. “Akhirnya sampe

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *