Hai Namaku Aline (Hal Buruk yang Indah) Part 2

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 December 2016

Beberapa jam kemudian.
Aku menguap, badanku terasa lebih ringan dari beberapa saat sebelumnya. Sesaat, aku tak ingat apapun, satu-satunya hal yang kuyakini adalah aku berada di ruang yang berbeda.

“Chavali, sudah sadar nak?” suara itu terdengar beda dari yang pernah kudengar sebelumnya. “Mengapa paman kemari?” tanyaku sambil melalaikan pertanyaan paman yang kurasa kurang penting itu. Paman tertawa ala khasnya, membuat kumis dan jenggot tipisnya menungging menggambarkan garis-garis halus di sekitar matanya. Itu ekspresi favoritku sepanjang masa. “Bagaimana Blair? Apa kau siap untuk dansa, sepertinya kedua kaki dan tangan mungil ini terlihat sudah sangat tidak sabar,” rayu paman sambil mengelus-elus dahiku. Entah mengapa aku merasa sangat baikan. Rambutku pun terasa lebih segar dan harum. Mungkinkah aku baru pergi ke salon, atau hanya trik dari paman, karena semuanya jauh mendingan dari terakhir kali aku bertemu Aline. Aline? Ya, di mana orang itu? Aku cepat-cepat menanyakan keberadaan Aline pada paman.

Dia tak menggubris pertanyaanku. Tanpa sederet kata pun terlontar, dengan penuh kasih sayang paman menggendongku, menarikku dengan hati-hati ke kursi roda. Sebenarnya aku mampu berjalan dengan tongkat namun naik kursi roda tidak akan membuang tenagaku. Kami menyusuri lorong rumah sakit, para perawat cantik menyapa kami. Aku menggoda paman, “Bibi bakalan marah, nih?” kataku mencibir. “Benarkah? Kalau begitu aku akan lebih bahagia lagi, hanya hidup berdua dengan princess manja juga tak buruk kan,” tanggapnya sekonyong-konyong. Paman tidak pernah mendiamkanku. Selalu ada yang kami bicarakan. Di dunia ini, tidak ada pria yang paling kucintai lebih dari ayah dan paman. Kau bisa pegang kata-kataku hingga aku bertemu dengan orang lain di tempat itu.

“Ini ruang rawat Aline? Ayo masuk!” ajakku ke paman, seakan tak memberikan kesempatan pada beliau untuk menjawab. Paman menggeser kursi rodaku ke samping untuk memberinya celah supaya dapat membukakan pintu ruangan itu. Pintu itu terbuka, rasa tegang menghampiri namun mode dewasaku mendorongku untuk tetap tenang. Hanya ada dua orang di ruangan itu. Paman mengantarku mendekati tempat Aline berbaring. Astaga, dia tidak lebih baik dariku. Aku tak melihat tanda-tanda sehat darinya. Aku menunduk, memang aku cengeng.

“Kalau kemari hanya untuk menangis, sebaiknya perbaiki dirimu,” kata-kata itu menusuk keheningan. Dengan sigap aku mencari sumber suara itu. Mataku, tanpa berpikir panjang menatap lurus ke sosok tepat di depan mataku. Orang itu, tampan. Tidak-tidak! Maksudku, apa yang dia lakukan di sini? Semenjak kapan? Mengapa kedua tangannya menggenggam tangan Aline? Apa dia membahayakan? Bukan seperti itu. Wajahnya tak menunjukkan tanda-tanda membahayakan. Apa dia kakak Aline? Bukan! Anak itu kan tak punya saudara. Satu-satunya saudara yang dipunyainya hanyalah aku. Lalu siapa? Oh ya, mungkinkah dia pelayan pribadi Aline. Bukan, bukan seperti itu juga! Mana ada cowok jaman sekarang mau menjadi pelayan pribadi seorang gadis. Itu, itu kan pelanggaran? Ah, tapi siapa yang peduli akan pelanggaran. Sementara aku bertengkar dengan perasaanku sendiri, aku berkonsentrasi kembali pada penampakan cowok itu. Kali ini dia mencium tangan Aline. Hei, berani-beraninya dia. Awas, jika sampai terjadi kekerasan s*ksual di sini, pamanku tidak akan tinggal diam. Ya, aku harus menyampaikan unek-unekku ini padanya. Aku menoleh ke samping, “Paman?” “Nak, aku harus menjemput bibimu, dia sudah selesai memetik buah, tenanglah kupastikan akan kembali dalam tiga puluh menit,” paman mencium dahiku lalu meninggalkanku begitu saja.

“Nak, tolong jaga Chavali ku sebentar apa kau keberatan?” pesan paman pada cowok itu. Apa? Paman bicara pada dia? Siapa orang ini?

“Apa dia di sini?” ucap Aline lirih pada cowok itu. Dengan penuh tatapan perhatian, cowok itu menjawab Aline, “Iya, kau ingin berdua dengannya?” Aline tersenyum, lalu cowok itu keluar dari ruangan membiarkan kami berdua melepas rindu. Aku langsung meraih Aline, memeluknya, menciumnya dan mengucapkan kata-kata yang paling sering kita ucapkan saat bertemu. “Siapa yang paling manis tapi lambat?” kata Aline memulai kebiasaan kami. “Princess Blair”, “Siapa yang paling cantik tapi cerewet?” sambungku. “Ayolah, bagaimana keadaanmu Chav?” “Aku selalu lebih baik darimu”. Sebenarnya aku ingin menangis, tidak sampai hati melihat Aline kehilangan kedua mata cantiknya. Kukunci rapat-rapat mulutku ini bahwa sebenarnya paman telah menceritakan segalanya.

“Aku ingin main lagi Al, kapan ya?” alihku memulai percakapan.

“Ehm kapan ya? Hei, aku punya kado nih,” Aline mencoba menggapai meja dan mulai menggenggam kado hijau berhiaskan pita merah dengan simpul spesial yang jika dilihat-lihat dari ukurannya sebenarnya sangat mudah ditebak, pasti sebuah buku meskipun penampilan luarnya terlihat lebih mirip makanan lezat.

“Selamat ulang tahun Chav, semoga tambah langsingan ya?” Ucap Aline sembari menyerahkan kado hijau itu. Bagaimana bisa dia lakukan itu semua dengan kepala penuh perban? Pembawaannya begitu tenang. Aku tak percaya, gadis ini benar-benar menakjubkan.

“Apa kau mengigau? Tega sekali mendoakanku tiga bulan lebih cepat,” sanggahku tidak terima.

“Aku tidak lupa, memangnya tak boleh memberikan kado sebelum hari itu tiba. Aku tidak perlu meminta persetujuan umurmu bukan untuk memberikan kasih sayangku? Lagian, kado ini tidak akan memberatkanmu ketika pulang,” sambung Aline.

“Al, aku benar-benar ingin menghabiskan musim dingin denganmu tahun depan.”

“Itu permintaan yang berat Chav, percayalah aku punya yang lebih menyenangkan dari itu. Dengarkan aku, pelajari apapun yang ada di dalam kertas hijau ini, tapi sebelumnya maukah kau melakukan sesuatu untukku?” aku diam. “Bagus, kau harus ke ruangan ini setiap hari di waktu yang sama seperti hari ini, kumohon.”

Esok pagi.
Kebiasaan itu lagi. Meskipun keadaan buruk telah merubah hampir setengah dari kehidupan normalku, rupanya hal tersebut tak pernah mampu menghentikan sifat-sifat alamiah kami. Seperti sewajarnya, bibi menyeduhkanku susu murni panas-panas langsung dia beli pagi ini dari peternakan paman dan bibi Isabelle. Aku tak suka minum minuman panas apalagi itu susu, namun apalah dayaku yang selalu kalah mempermasalahkan susu. Kata wanita berhidung mancung dan berambut tebal bergelombang yang kubilang lebih mirip model iklan favoritku ‘Tuba Buyukustun’ itu, susu murni enaknya diminum hangat-hangat, kalau dingin aku tidak akan dapat menemukan kenikmatan dari meminum susu. Butuh bertahun-tahun bagiku melupakan kata-kata andalan yang hampir setiap dua hari sekali dia orasikan untuk menunjukkan kejengkelannya karena protesku. Aku tahu, itu bukan kekesalan tapi semata-mata karena perhatian. Pamanku tak jauh beda, pagi ini dia kelihatan lebih segar dan tampan karena baru pergi ke barber shop untuk mencukur kumisnya, dan keren dengan buku isu perkebunan favoritnya. Cara dia duduk di sofa dan menyeruput secangkir kopi pahit buatan bibi itulah yang menambah kekagumanku pada paman. Lumayan, dia tak cukup tua juga untuk dijadikan idola. Oh satu hal lagi, sebenarnya ini adalah kebiasaan buruk menurut penilaianku, ternyata meskipun kami sedang tidak tinggal di istana sederhana, lagu klasik kesukaan paman ‘Sleep Away dari Bob Acri’ masih saja ikut menggembirakan suasana pagi itu. Kata paman, lagu itu bagus karena irama cepat yang dihasilkannya dapat meningkatkan tingkat IQ ku. Oh ya? Dalam sekejap ruangan rawat inap itu hanyalah sebuah ruang tamu dan meja makanku. Kukira kedua orang itu memang sengaja membuatku kembali menjadi milik mereka seperti sedia kala.

Sebulan setelah kebiasaan lamaku kembali.

Kau tentu tak akan percaya ini. Kami semua normal. Yang paling membuatku girang adalah sekarang aku sudah mampu berjalan dan pergi ke toilet sendiri tanpa minta gendong paman atau merengek untuk dimandikan oleh bibi. Bahkan Aline dan aku masih saja menyempatkan diri telepon-teleponan meskipun aku telah menengoknya dua kali setiap hari. Sesuai permintaannya, aku selalu datang tepat waktu setiap pagi pukul 6.00 dan kembali lagi sore pukul 4.00. Aku paling senang menengoknya di sore hari karena dokter mengizinkan kami bertiga untuk keliling taman sambil makan sale buatan si koki medis baik rumah sakit. Kau juga pasti tak akan percaya ini, cowok aneh yang tidak sengaja telah kuberikan prasangka burukku itu, kami bahkan sangat dekat. Kami bertiga akan menjadi trio terbaik dan aku berencana untuk kisah persahabatan kami diangkat ke dalam sebuah film, ide yang bagus bukan? Ya, kurasa.

Tiga bulan berlalu semenjak kado hijau itu bersarang di dalam laciku.
Aku sengaja tak membukanya, bukan karena tak suka tapi karena Aline melarangku untuk membukanya. Hari ini adalah pengakhiran bulan April. Sempurna. Musim semi nyaris akan berakhir. Sesuai perjanjian kami berdua, pagi ini kami bertiga makan bersama di balcony rumah sakit. Menu-menu yang akan kami santap disajikan eksklusif oleh para pelayan Aline. Wow, aku benar-benar membayangkan senampan penuh Baklava paling tidak lima potong juga tak apa, namun masing-masing haruslah berbeda, ada yang disiram madu, sirup stroberi dan cokelat. Sebagai pencuci mulut aku lebih suka segelas dondurma, hmm betapa manisnya. Atau kalau perkiraanku meleset, paling-paling Aline juga tidak akan mengecewakanku dengan menawariku segelas boza. Aku tahu itu bagian terlezatnya, baik Aline maupun diriku keduanya memuja minum-minuman manis dan berfermentasi. Aku sudah dapat berjalan seperti gadis normal. Kedua tanganku sudah begitu lincah untuk mengayunkan tali selempang tas merah kado dari Aline setahun yang lalu, pertanda bahwa aku siap untuk pesta kecil ini. Semalam, Aline juga mengirim teks padaku pakai emot-emot lebay khas Aline, katanya hari ini aku haruslah berdandan secantik mungkin. Huh, kau telah merendahkanku Al, bukankah itu artinya cara berdandanku selama ini kurang nyaman dipandang bagimu. Aku tersenyum-senyum sendiri sambil terus berjalan menaiki tangga, mencoba merasakan diriku, berkaca tanpa menghadap cermin, menilai penampilanku sendiri. Mulai dari kepala, rambutku sudah cukup panjang, sehingga aku tak berani mengambil resiko untuk mencatok rambutku pagi ini. Cukup kukuncir tunggal agak ke atas pakai ikat merah berpita yang lagi-lagi itu pun juga kado dari Aline dua tahun yang lalu.Wajahku yang tak terlalu imut ini? Baiklah aku hanya memolesnya dengan bedak dan lipstick warna favoritku, entah jika Aline masih bisa melihatku akan memujiku atau malah menklaimku. Aku tidak yakin mengenai pakaian yang kukenakan, yang jelas blazer warna biru laut selutut dan turtleneck T-shirtkhas musim semi dilengkapi jins warna gelap seharusnya tidak akan terlalu mengecewakan. Tapi sepatuku, bagaimana ini, apa aku cukup terlihat feminin dengan ini? Aku masih hanya mampu mengenakan ankle bootsdan sneakers, pertimbanganku, karena sneakers tidak cocok untuk pesta yang sedikit formal ini jadi aku pakai ankle boots. Aku tak cukup cerdas dalam memadu-padankan sepatu-sepatu yang lebih berbau seksi seperti pumps, stiletto, wedges maupun statement heelsdengan porsi tubuhku yang seperti ini. Atau lebih tepatnya aku tidak dapat bejalan dengan sepatu-sepatu itu. Oke, pukul 8.15, beberapa menit lagi aku sampai ke puncak, aku masih penasaran mengapa Aline tak mengizinkanku berjalan lewat escalator rumah sakit.Ya ampun, betapa dia tahu ini sangat melelahkan. “Kau ini Al,” gerutuku.

“Hai, kau lama sekali!” seru seorang lelaki di tepi tangga.

“Ethan? Kau belum di atas sana? Jamuannya sudah mulaikah sehingga kau diminta Aline untuk menjemputku?” tanyaku santai.

“Bagaimana kalau bicara sambil jalan?” sahut Ethan cuek. Lagi-lagi, dia kembali ke sifat naturalnya, acuh tak acuh. Tak lama setelah kami memutuskan untuk pergi bersama, suasana jadi sedikit aneh. Aku canggung, mau bicara tapi tak ada topik yang dapat dibicarakan. Akhir-akhir ini memang kami sering berdua, membelikan bunga Lale Devri kesukaan Aline, bunga tulip yang menjadi ikon musim semi di negara kami yang kuharap tahun depan bisa benar-benar kuwujudkan impianku untuk dapat berdiri di atas istana Topkapi dan merayakan festival bunga tulip bersama Aline, mengantar dan mengambil laundrian, membelikan Aline baju di toko bahkan menyeduhkan cokelat panas untuknya. Semua itu adalah bagian dari permintaannya dan kami berdua, Ethan dan aku sepakat tidak akan membantah apapun permintaan Aline. Semuanya begitu baik-baik saja sampai…

“Chavali, ada yang ingin kubicarakan, berhentilah sebentar,” pinta Ethan dengan posisi kepala menunduk, tangan kirinnya dengan cepat merayah tangan kananku, gerakan aneh yang menghentikan seluruh bagian tubuhku kecuali jantung, darah dan pikiranku. Pada posisi anehku pula di mana sebelah kaki kiriku melangkah lebih jauh dari yang lain, aku dengan jelas dapat merasakan jemarinya yang keras dan dingin namun genggamannya begitu lembut. Pipiku mungkin memerah namun aku benar-benar membeku. Semua itu masih bukan apa-apa hingga terdengar derapan kedua kakinya, ada beberapa suara detak jantung yang menyertainya yang aku sendiri tak yakin itu punyaku atau punya dia. Dengan penuh kelembutan dia membalikkan badan, menuntun bahuku dengan kedua tangannya seperti mengisyaratkan sesuatu. Kini posisiku benar-benar seperti seorang murid yang hendak disidang oleh kepala sekolah karena bolos selama satu semester. Ini gawat! Ini serius! Mataku membelalak ke bawah, aku tak berani menatap dagu apalagi matanya. Tuhan, ini terlalu dekat, aku tak boleh melakukan ini. Sedikitpun aku tak mampu menggunakan otakku mengapa aku bisa merasakan gugup sebegini daruratnya. Dari siapa? Sejak kapan aku mulai mempelajari perasaan tolol ini?

“Aku mohon, berikan aku sedikit lagi waktu untuk dapat belajar menyukaimu, aku tidak bisa melakukannya secepat ini,” bisiknya membelakangi kepalaku. Tangannya benar-benar menyatu dengan tubuhku, rasanya benar-benar menyelimuti hampir seluruh bahu dan punggungku. Aku tak lagi membeku, sekarang ini nyawaku benar-benar terbang entah bagaimana nanti aku dapat mencarinya. Wajahku pucat, badanku mati rasa total. Di sela-sela kehangatan tak biasa ini masih dapat kurasakan sedikit persen kesadaranku. Aku mulai mencoba menghidupkan kembali bulir-bulir darah yang membeku dan transmiter syaraf-syaraf otakku yang sempat terhenti beberapa menit yang lalu. Iya, aku siap. Kedua tanganku yang lemah coba kupaksa untuk mendorong tubuh Ethan sekuatku.

“Kita… harus segera ke atas Ethan, ada apa denganmu. Ini semua terlalu aneh bagiku, aku tidak ingin mengecewakan Aline karena hari ini kita akan bersenang-senang,” kataku berusaha melepaskan diri dari pelukan Ethan. Tentu saja aku tak pernah benar-benar merangkainya seindah skrip asli. Suaraku parau, patah-patah dan keringat dingin mencuci dahiku.Betapa memalukannya. Jangan dikira aku berani menatap kedua bola matanya karena yang kulakukan saat ini adalah berusaha mengembalikan posisi tubuh yang benar selayaknya orang yang hendak berjalan. Tapi mengapa? Setelah aku bebas lalu berjalan menaiki beberapa anak tangga, tak lagi dapat kudengar derapan kedua kaki orang lain selain diriku. Aku menoleh ke belakang. Sekarang ganti Ethan yang membeku.Dia benar-benar seperti patung yang tak bergerak, namun kudapati sesuatu yang berbeda darinya. Apa dia menangis? Isakan itu tak mungkin telah salah kudengar. Sebagai sahabat yang baik aku pun kembali menuruni anak tangga dan menghampirinya.

“Eth, tak apa, jangan kau masukkan hati kata-kataku tadi, maksudku jika mungkin ada yang ingin kaubicarakan aku akan lebih berkenan bila kita diskusikan bertiga saja, bersama Aline,” kataku menenangkan Ethan. Sebenarnya aku tak cukup percaya dia menangis dari hati, cengeng banget? Apa kata-kataku tadi terlalu menyakitkan, kurasa juga tidak.

“Tidak ada pesta hari ini, kalau masih ada waktu seharusnya kita masih sempat.”

“Apa maksudmu? Hai, kita hampir sampai, tolong jangan merusak moodku seperti ini!”

“Apa kaupikir kau dapat sampai di atas? Bagaimana bisa percaya sebegitu mudahnya? Rumah sakit ini menjulang tinggi hampir 66.000 kaki dan kita masih di lantai tiga?” ejek Ethan sambil berjalan menuruni tangga dan entah apa yang mendorongku sehingga aku mengikutinya.

“Aline sahabatku tidak akan pernah berbohong, apapun yang terjadi dia selalu jujur,” ujarku protes.

“Kalau begitu mulai sekarang, aku mengerti bahwa dia adalah pembohong terbesarmu dan sedikit pun kau tidak pernah menyadarinya.”

“Ethan!” Aku menarik tangannya keras-keras.“Bicaralah yang jelas, ada apa ini!” tanyaku dengan nada menaik.

“Aline..sahabatmu yang juga kekasihku, kekasihku satu-satunya yang aku berjanji akan menikahinya saat ulang tahunnya yang ke-25 kelak, meskipun dia tak pernah mengatakan ‘ya ataupun setuju’ sepanjang hidupnya, kini aku mengerti…” ucapnya terisak-isak, sesekali dia mengusap air mata yang memberikan beban pada energi bicaranya.

“Aku.. tak mengerti, inti dari semua ini apa,” mataku berkaca-kaca seperti merasakan bagian tubuhku yang lain hilang. Bukan karena aku kecewa karena ternyata ada hubungan spesial antara Aline dan Ethan disebabkan semasa hidupku aku belum pernah tahu atau merasakan jatuh cinta dan aku cukup bahagia bermain-main dengan Aline. Aline lah segalanya. “Katakan, bagaimana dan di mana aku harus menemui gadis pembohong itu,” ajakku pada Ethan dengan suara lirih.Kali ini aku benar-benar mengajaknya serius.

Pagi setengah siang, nyaris aku tak memerlukan jam tangan lagi. Yang kupedulikan saat ini adalah melihat sebuah kursi roda dengan seorang gadis duduk di atasnya.

“Mengapa kaubawa aku kemari?”

“Aku akan selalu berada di dekatmu kalau kau memerlukan diriku untuk itu,” kata Ethan.

Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
Facebook: Nur Maizza

Cerpen Hai Namaku Aline (Hal Buruk yang Indah) Part 2 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sehangat Serabi Solo

Oleh:
Pasar Klewer. Huh, kenapa siang-kerontang begini aku malah kemari? Mengendarai motor matic-ku yang seakan menderu lelah mengantarkanku kesana-kemari di bawah terik matahari? Ohya, benar. Aku kemari karena kakakku. Ia

It’s You?

Oleh:
“Contoh Kak Harry! Dia anak rajin dan selalu jadi juara kelas! Kamu? Nilai nggak pernah jauh dari D-E-F. Mau jadi apa sih kamu?” Olokan mama kembali terngiang dalam benakku.

Mengantarmu

Oleh:
Siang itu, di koridor yang sama setiap minggunya. Aku terhanyut lagi dalam masa lalu. Memandang ubin yang selalu bersih ditemani aroma alkohol yang berseliwir. Tempat ini, cukup menyeretku ke

Antara Cinta Sahabat

Oleh:
Mungkin bagi teman-temanku pacaran sama Adit lebih baik dari pada mengharapkan cinta dari Angga yang notabene adalah cowok keren yang aku kenal ramah, baik dan sopan itu, dan lagi-lagi

Bukan Dia Tapi Aku

Oleh:
Hari pertama masuk di kelas dua SMP aku, Rini, dan Naya masuk kelas dengan riang karena sudah hampir dua minggu kami tak bertemu. Ketika pelajaran dimulai masuklah Bu Asti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *