Hai, Namaku Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 31 August 2021

Suara derak halus mengiringi laju kereta yang membawanya pulang. Bangunan, pepohonan, sawah, tegalan dan sungai silih berganti bermunculan di pelupuk matanya bagaikan slide-slide film dokumenter yang baru saja ia lihat kemarin sore. Fitri mengembuskan nafasnya berat, seberat perasaan hatinya yang tengah tertikam pedih. Ia mendesah. Luka di hatinya itu kembali menganga. Walau telah berkali-kali perasaannya dirobek oleh tajamnya pisau asmara, namun rasa sakit itu tetaplah mendera.

Berawal di lima tahun yang lalu ketika Dede, kekasih yang sangat ia cintai memilih pergi dari hidupnya demi Ay, sahabatnya sendiri. Luka pertama itu meninggalkan goresan yang sangat dalam. Berbulan-bulan Fitri mencoba menyatukan kembali serpihan hatinya yang tercerai-berai. Sampai suatu ketika, sebuah nama terdengar merdu di telinganya. Yani, salah seorang teman barunya di sebuah komunitas hobi yang ia ikuti bernama RTC memperkenalkan kakak lelaki satu-satunya kepadanya. Dan pria humoris bernama Ami itu berhasil membuat Fitri menjahit rapi luka hatinya.

Namun, setelah satu tahun merajut asmara, hubungan Fitri dan Ami kandas karena lelaki itu mendapat pekerjaan impian di luar sana. Fitri tak sanggup menjalani hubungan beda benua, karena setiap hari kepalanya selalu dipenuhi prasangka. Dan Ami tak cukup piawai untuk meruntuhkan semua prasangka itu. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk berpisah.

Tahun demi tahun berganti, Fitri tetaplah sendiri namun Ami kembali ke tanah air dengan menggandeng seseorang yang sama sekali tak Fitri duga sebelumnya. Nunuk Cita, gadis berlesung pipit, putri ibu kosnya yang beberapa bulan kebelakang kuliah di negari yang sama dengan Ami telah merobek kembali luka hati Fitri dengan senyumnya yang manis sesaat setelah ia mengulurkan undangan berwarna merah jambu yang langsung menusuk kalbu.
Walau sudah tak memiliki hubungan apapun dengan Ami, namun tak dapat dipungkiri bahwa ada jahitan-jahitan kecil dalam hati Fitri yang kembali terbuka. Renik namun pedih.

Kereta mulai melambat untuk berhenti sejenak di sebuah stasiun kecil. Fitri menatap seorang gadis di luar sana yang tengah melambaikan tangannya kepada pemuda yang hendak menaiki kereta. Ada raut khawatir di wajah gadis itu, meskipun senyum terkembang menghiasi bibir tipisnya. Fitri merasa seakan-akan gadis itu adalah dirinya saat dengan berat hati melepas kepergian Kensha. Ya, Ken, teman masa remajanya yang dikirimkan Tuhan untuk membasuh lukanya sekaligus mewarnai hidupnya kembali itu harus pergi. Ken dan satu rekannya dinyatakan hilang tanpa jejak dalam sebuah ekspedisi di gurun Lop Nor beberapa bulan yang lalu. Pedihnya, hal itu terjadi sesaat setelah mereka mengikrarkan janji diantara lilitan cincin perak bakar yang kini masih mencengkram erat jari manisnya. Fitri menatap nanar cincin berdesain rumit itu, matanya berkabut.
“Cukup sudah.” Fitri bergumam sambil merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil alumunium bergaya vintage yang ia buka dengan segera.

Kereta mulai bergerak, membuat kedua belah tangan Fitri yang memegang cincin dan box alumunium itu ikut terguncang lalu hilang kendali. Fitri sibuk mencari cincin yang terjatuh sementara box alumunium telah berada di tangannya kembali. Ia melihat cincin itu tergeletak diantara sepasang kaki yang baru saja menempati bangku kosong di sebelahnya. Fitri mencoba menjangkaunya namun sebentuk tangan kekar lebih dulu menyentuh benda kecil itu. Gadis berambut panjang itu menatap lelaki yang mengulurkan cincin tersebut kepadanya, dan entah bagaimana awalnya, antara gugup dan tergesa box alumunium yang ujung tutupnya kasar itu menggores lengan lelaki itu. Fitri terkesiap.

“Astaga, kamu luka?”
“Ya, Aku Luka, kok kamu…” Perkataan lelaki itu menggantung.
“Maafkan aku.” Fitri menunjuk lengan lelaki itu yang tergores tutup box alumuniumnya lalu mengulurkan selembar tisu dan plester penutup luka yang selalu ada di dalam tasnya kemana pun ia pergi.
“Tak apa, setiap hari aku Luka kok.” Lelaki itu tersenyum sambil menerima barang-barang yang disodorkan Fitri.
Fitri tersenyum tipis. “Dulu aku sering disambangi luka, namun kini aku memutuskan untuk menjauhi apapun yang menyebabkan luka.” Kata Fitri lirih.
“Mengapa? Tak semua Luka menyakitkan.” Lelaki itu memperbaiki cara duduknya dan kembali tersenyum.
“Semua luka menyakitkan dan meninggalkan goresan yang mungkin tak akan pernah hilang begitu saja.”
“Waktu dapat menghilangkan goresan ini. Cepat atau lambat, tergantung bagaimana kita merawatnya.” Lelaki itu mengusap lengannya yang terluka.

Fitri melirik lengan lelaki itu dan merasa sangat bersalah.
“Sekali lagi maafkan aku, aku tidak sengaja.”
Lelaki itu tertawa. “Ah santai aja, serius banget. Luka kecil, gak harus sampai dibawa ke rumah sakit ini.”

Sebuah taksi berhenti dihadapan mereka seiring dengan berakhirnya obrolan tentang banyak hal antara Fitri dan lelaki itu. Lalu lelaki beraroma maskulin itu mengucap selamat jalan dan melambai sesaat sebelum Fitri menaiki taksi yang akan membawanya pulang. Fitri tersenyum, baru kali ini ia mengobrol panjang lebar dengan seseorang tanpa ada jabat tangan dan saling menyebut nama. Hari yang ganjil, begitu batinnya.

Fitri menatap ibunya tak percaya ketika mendengar perkataan yang keluar dari wanita yang ia sayangi itu. Baru satu hari ia berada di rumah dan tiba-tiba ia merasa ingin segera kembali ke kota dimana ia bekerja karena perkataan sang ibu yang sangat mengganggunya.

“Jadi hal ini yang membuat Ibu memintaku pulang?”
“Fit, mengertilah, adikmu Wahyu sebentar lagi akan dilamar.” Ibu dan Fitri sama-sama cemberut.
“Terus masalahnya apa bu?”
“Apa kamu mau dilangkahi adikmu?”
“Untukku itu bukan masalah besar Bu. Aku rela dan ikhlas kok.”
“Tapi ibu tidak rela, Nak.”
“Bu, jodohku belum datang dan aku gak mau menghalangi kebahagiaan Wahyu.”

“Kak Fit, aku rela kok menunggu.” Tiba-tiba Wahyu menyela pembicaraan ibu dan putri sulungnya itu.
“Enggak, Yu, jangan menunggu sesuatu yang tak pasti. Aku sudah mengalami banyak peristiwa pahit dan aku ingin membebaskan hatiku dari hal-hal itu.”
Wahyu tersenyum. “Gak papa kak, aku akan menunggu sampai kakak menemukannya.”
Fitri menatap nanar wajah lembut adiknya, lalu ganti menatap ibunya.

“Baiklah Bu, aku bersedia.”
Tiba-tiba wajah ibunya terlihat semringah.
“Kalau begitu, cepat dandan sana, ibu gak mau Pak Ikhwanul dan Bu Siti menunggu.”
Fitri mengangguk lemah. Dalam pikirannya berkecamuk pikiran-pikiran buruk tentang wacana perjodohan yang membuat raut wajahnya bagai digayuti mendung yang tak jua menjadi hujan.

“Satu hal Nak, Ayah dan Ibu gak memaksa kamu kok, setidaknya berkenalanlah dulu. Tak ada salahnya kan mengenal dan menambah satu orang teman dalam hidup kamu?”
Fitri mengangguk pasrah.

Suasana restoran bergaya tradisional itu tidak terlalu ramai, Fitri melangkah kan kakinya dengan berat. Ia tertunduk seakan tak ingin menatap kenyataan bahwa ia akan bertemu dengan seorang lelaki asing di dalam sana.
“Ah, malang nian nasibku.” gumamnya.

Keluarga itu rupanya telah menunggu. Fitri menatap dua sosok orang tua yang ramah dan bersahaja. Senyum selalu mengembang di bibir mereka. Namun tak ada sosok lain yang terlihat disana. Fitri mulai bertanya-tanya dalam hatinya, namun tak memakan waktu lama jawaban atas pertanyaan itu muncul seketika.

“Selamat malam semua. Maaf terlambat, tadi ada teman lama menyapa.” Sebuah suara terdengar dari balik punggung Fitri. Alih alih menoleh Fitri malah tetap mematung tak sanggup untuk melihat.
“Nak Fitri, kenalkan dulu, itu putra ibu dan bapak.” Kata Bu Siti ramah.
Dengan berat Fitri membalikan badannya. Seakan ditotok raga, Fitri hanya bisa berdiri kaku di tempatnya ketika melihat wajah itu.

“Hai, namaku Luka, Lukanea Padika.” Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Fitri lalu berbisik di telinganya.
“Aku Luka yang berjanji tak akan pernah membuat hatimu sakit.”

Cerpen Karangan: Ika Septi
Facebook: Ika Septi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 31 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Hai, Namaku Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Klasik

Oleh:
“Sorry ya. Udah nunggu lama?” Cowok yang semula fokus pada jalanan di luar sana langsung menoleh ke arahku. “Enggak kok. Baru juga.” Senyumnya selalu bisa membuat jantungku berdegup dua

Dibalik Jeruji Besi

Oleh:
Terlihat seorang Mahasiswi yang baru pulang setelah melakukan PKL berupa melakukan sensus penduduk di Desa Sayang kecamatan Jatinangor. Perempuan berkacamata itu bernama Nisa Nurguspadita, seorang Mahasiswi jurusan Statistika Universitas

Sejuta Bintang

Oleh:
Aku mengelap lensa kacamataku berulang-ulang sambil mengamati Frans. Dia masih saja mengetik di laptopnya. Dia begitu sibuk akhir-akhir ini, aku yakin kalau dia lupa aku masih ada di ruangan

Segi Empat

Oleh:
Mereka adalah 5 sahabat. 5 sahabat yang tak terpisahkan dari SMP sampai sekarang sudah lulus kuliah. Mereka terdiri dari Revand, Fadil, Johan, Mutiara dan Shasa. Kemana-mana, mereka selalu bersama-sama.

Perempuan Ini

Oleh:
Matahari terus bersinar dengan bangga, Ryan menatap ke atas satu kata yang pasti terlintas di otaknya “Panas” cukup untuk menggambarkan keadaanya yang begitu mengenaskan. Anak laki-laki ini hanya menatap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *