Hanya Dua Tugas Yang Tidak Dapat Aku Lakukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 September 2021

Dalam benakku “Tentara dilatih dan dididk untuk bertempur” dan tugas utama yang aku ketahui adalah “membunuh musuh”. Doktrin ini melekat dalam hatiku sehingga aku selalu bersemangat untuk melaksanakan tugas perang ataupun berlatih untuk perang.

Berbagai perang telah aku lalui, hampir semua perang itu dapat aku menangkan dengan strategi dan taktik bertempur kecuali perang batin yang hanya dapat dimenangkan dengan rasa syukur.
Bertempur, bagiku menjadi hobi, bukan karena suka membunuh musuh tetapi karena bertempur menjadi kewajiban dan setiap kewajiban itu kujadikan hobi agar senantiasa bersemangat melaksanakannya.

Setelah kembali dari medan pertempuran, kami kembali ke home base yaitu asrama Batalyon yang merupakan habitat kedua dalam kehidupan kami. Habitat pertamanya adalah di medan pertempuran. Dua habitat yang sangat berbeda alam, di medan tempur harus membunuh sedangkan di home base harus membangun. Kedua peran yang harus dilaksanakan.

Keahlianku membunuh tidak perlu diragukan karena terlatih sejak aku menjadi prajurit tetapi membangun justru lebih banyak gagal. Jangankan menanam pohon, memindahkan tanaman dari pot ke kebun saja selalu gagal.

“Tentara kok disuruh bertani”, aku menggerutu ketika Komandanku perintahkan kami menanam 200 batang cabe di Polybag. Menurutku wajar aku protes karena diluar pelajaran yang pernah aku ikuti selama pendidikan di dunia militer.
“Saya memiliki visi, berhasil dalam tugas dan sejahtera dalam hidup’, demikian Komandanku menjelaskan visinya memimpin kami.
“Keberhasilan Kalian dalam tugas tidak saya sangsikan tetapi kesejahteraan dalam hidup kita, harus kita yang memikirkannya, jangan berpangku kepada negara, karena kita bukan anak terlantar”, Komandan menjelaskan tentang kesejahteraan prajuit yang memang saat ini masih jauh dari normalnya tentara di negara manapun.

Kami memang tidak memiliki lahan bertani, tetapi Komandan memerintahkan kami mengelola perkarangan dengan menanam cabe di polybag. Tugas yang tidak favorit yang harus kami laksnakan. Kalau tidak mengingat Sumpah Prajurit, sudah pasti aku orang pertama yang akan membantah beliau.

Mulai kami belajar menyiapkan medianya, walau sambil menggerutu tetap kami lakukan. Hanya karena petugas PPL yang dikirim seorang petugas yang “bening”, seorang gadis yang cuantik sekali sehingga kami yang bujangan tetap bersemangat.

Singkat cerita, setelah dua bulan cabe yang kami tanam pun berbuah. Mungkin karena sang gadis mengatakan “Kalau ingin mencintai, cintai dulu yang dicintai orang yang akan dicintai”. Sindiran halus yang membuat kami mencintai kegiatan yang diluar kebiasaan kami itu.

“Baiklah, para Prajurit sekalian. Saya akan membeli polybag Kalian dengan harga 10 ribu per polybag, apakah Kalian setuju?”, Komandan menawarkan kepada kami. Sebagian besar dari kami menjawab setuju. Aku hanya terdiam.
“Andi, Kamu setuju gak?”. Komandan menanyakan pendapatku.
“Siap, kalau diijinkan, biar kami merawatnya sendiri”, jawabku. Aku tidak setuju karena kalau tidak ada polybag, kecil kemungkinan petugas PPL akan menyambangi kami makanya aku berusaha agar tidak menjual polybagku.
“Baiklah, yang setuju silakan menjual ke Koperasi dan ambil uangnya di Koperasi”, Komandan memberi kami petunjuk. Banyak dari rekanku menjualnya dan rata-rata mereka mendapat uang sebesar 2 juta rupiah.

“Lumayan, buat beli pulsa”, kata teman-temanku yang sudah mendapat uangnya.
“Kamu cuma dapat uang, tapi nanti aku akan dapat hati”, kataku sambil tersenyum. Memang aku sedang menaksir petugas PPL tersebut.

Suatu hari, petugas PPL itu berkunjung ke barakku. Akupun menemuinya di lahan polybagku sambil menikmati tanaman cabe yang sudah memerah dan memang indah sekali tanaman yang aku rawat itu.
“Mas, kok gak dipanen?” tanyanya kepadaku.
“Aku mencintainya, indah sekali ternyata kalau semua berbuah”, jawabku.
“Kalau tidak dipanen, cabe itu tidak akan subur lagi”, jelasnya.
“Kok gak dijual, Mas?”, dia kembali bertanya.
“Aku tidak akan menjual yang aku cintai”, aku mulai menyindir untuk merayunya.
“Mau gak nemanin aku?”, pintanya. Yang sudah tentu tidak akan aku tolak.

Dalam benakku, aku telah berhasil memikatnya. Sore itu juga dengan semangat 45, aku menemaninya. Ini adalah kencan perdanaku. Aku akan traktir dia di restoran yang sangat romantis.

Tidak aku sangka, ternyata dia mengajakku ke sebuah Panti Asuhan. Dia begitu akrab dengan anak-anak yang kurang beruntung di Panti itu. Di panti itu ternyata banyak sekali polybag cabe dan aku tahu kalau polybag itu adalah punya teman-temanku.

“Komandan membeli polybag itu untuk menghidupkan mereka”. Dia menjelaskan kalau Komandanku menyatuni anak yatim dengan cara begitu. Anak-anak itu hidup dari panen cabe yang kami tanam.
“Mencintai bukan sekedar memandang keindahan tetapi harus mampu memberi kehidupan”, dia mengajariku cara mencintai. Mulai dari sore itu akupun semakin dekat dengannya.

Keesokan harinya aku mendatangi panti asuhan itu dengan membawa semua polybagku. Dengan cuma-cuma aku memberi mereka, ternyata lebih indah memberi penghidupan dari pada membunuh.

Aku kembali menyiapkan polybag walau tidak ada perintah dari Komandan. “Kamu masih melanjukan? Ndi”, tanya Komandan kepadaku.
“Siap Komandan!” jawabku singkat.
“Kamu yang dulu menentang, kok sekarang ikutan?” tanyanya kembali.
“Siap, ternyata memberi penghidupan itu lebih indah dari membunuh”, jawabku mengutip kata-kata gadis idolaku.
“Semua tugas itu dapat kita lakukan kecuali dua hal yaitu mengecat langit dan menguras laut”, Komandan menasehatiku yang selama ini hanya terkungkung dalam opini tugas membunuh musuh.

Cerpen Karangan: Riyandi Mallay

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 28 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Hanya Dua Tugas Yang Tidak Dapat Aku Lakukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Kelas Ujung

Oleh:
Aku berlari menuju kelas yang terletak di ujung belakang. Rasanya masih terlalu pagi. Ya tapi peraturan baru harus di taati. Masih terasa embun yang mengenai tangan ku. Wangi pagi

Ketika Rasa Itu…

Oleh:
“Sayang… Aku kangen kamu.” Begitu kalimatnya yang selalu Aryan ucapkan melalui chat di Linenya. Adeeva selalu berharap akan pertemuan dengan pujaan hatinya yang saat ini berada jauh dari pandangan

S pangkat 2 (SS)

Oleh:
Saat ini Aku sedang duduk di kelas 6 SD. Tetapi, pengertianku akan cinta begitu dalam. Beberapa kali Aku dekat dengan cowok. Sekarang Aku sedang sangat dekat dengan adik kelasku

Cintaku Berawal Dari Facebook

Oleh:
Hari ini hari minggu, yaitu hari yang banyak di tunggu-tunggu bagi anak muda zaman sekarang. Tapi tidak denganku, semenjak dia meninggalkanku demi cewek lain, maksudku mantan kekasihku Devid namanya.

Love

Oleh:
Pada suatu hari ada seorang cewek bernama devi ia pintar, baik hati, dan agak telmi. dimasa-masa smanya ia kurang bergaul karena ia merasa minder terhadap teman-temannya. hal itu juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *