Harapan Jihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 March 2016

Saat sadar, malam sudah mengutuk dan menistakanku. Terlebih langit, ia seakan tak sudi untuk menampakkan keindahannya, apalagi bintang.

“Hahaha..”
Aku tertawa kecil, memilih untuk satire pada keadaan.
“Hufft…”

Sebuah hembusan napas menarik sedikit anak panah memoriku, baru sesaat sebelum anak panah itu terlepas menancap tepat di hati yang renta ini. Anak panah itu menancap terlalu dalam, hingga tanpa sadar semua memori yang selama ini ku ‘block’ terlepas. Imaji 2 orang jatuh cinta tentang mimpi-mimpi mereka di masa depan. “Kita akan keliling eropa ya nanti, kamu janji?”

Lalu teringat saat ku bilang, “Kita akan keliling dunia. Aku janji..” Aku ingat pertama kali kami bertemu, saat aku dikenalkan padanya oleh temanku. Aku ingat cat tembok warna cream kafe itu, aku ingat betapa poster bob marley tersenyum padaku dari sebelah kiri, aku bahkan ingat aroma cappuccino yang ku minum saat itu, sebuah cappuccino dengan tambahan sedikit pemanis dari senyumnya. Ah, pemanis untuk sesuatu yang ditakdirkan pahit.

Tidak ada yang spesial dari Jihan saat itu, dia hanya gadis biasa sama seperti yang lainnya. Tapi dia memperlakukan setiap orang spesial, seakan ia jatuh cinta pada semua orang. Tidak ada yang istimewa dari seorang Jihan, selain novel yang ia peluk erat dengan lengannya. “Perahu kertas..” ucapku. “Dee..” Tanpa sengaja aku bergumam membaca cover novel yang seakan tak mau ia lepaskan dari pelukannya. Membuatnya terlihat sedikit melirik padaku, dan di situlah ia sadar. Joe, temannya, membawa teman lain.

“Jihan..”

Ia mengulurkan tangannya ke arahku, sambil mengukir senyuman di bibir yang membuat mata itu tertutup hampir sepenuhnya. Sejenak aku memperhatikan jilbab abu-abu yang ia padukan dengan kacamata berbingkai hitam itu.

“Rei..”

Dan itulah saat pertama kali kami bertemu, dia berbicara banyak sekali tentang ‘Dee’. Iya, awalnya tentang ‘Dee’ lalu semuanya berkembang dan masuk ke bagian-bagian pribadi. Hingga kami sadar, kami berdua jatuh cinta. Aku menyeruput kopi yang bertengger di tepi jendelaku, menatap bintang yang masih ragu. Memori-memori itu berputar acak seperti kaset bon jovi yang sudah bertapa bertahun-tahun di laci lemariku, dan hari ini, entah keajaiban apa yang membawanya tiba-tiba masuk ke dvd player. Bernyanyi patah-patah. “I ‘ll be there till the star don’t shine, till the heaven burst and the word don’t rhyme. Baby when I die, you’ll be on my mind..”

Kursi roda ini sangat membatasi gerakku. Sama seperti orangtua Jihan. Kecelakaan 3 bulan yang lalu membuatku harus koma selama 2 minggu, lalu harus menggunakan kursi roda untuk 1 bulan. Sebenarnya sekarang aku sudah bisa berjalan, cuma saja. Tiap kali aku melangkah, tiap ritme derap langkahku, aku mengingatnya. Jihan. Orang yang bersamaku saat kecelakaan itu.

“Ah!!”

Kenapa waktu itu aku menarik gas motorku sekencang-kencangnya saat sedang marah padanya. Kenapa waktu itu aku tidak mengindahkan saat dia menangis dan berteriak di belakang agar menyuruhku tenang dan berhenti. Kenapa aku harus marah padanya saat orangtuanya tidak menyukai hubungan kami. Dan kenapa harus.. Waktu itu, mataku gelap lalu kami jatuh. Sejak hari itu aku tak pernah melihat Jihan lagi, seakan semua tentang kami adalah mimpi dan ia adalah bunga mimpi yang menari di benakku padahal aku sudah bangun. Bunga mimpi yang pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal atau sekedar memberi kabar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya saat kecelakaan waktu itu. Aku tak pernah diberi tahu.

Di sinilah aku, duduk di sebuah kursi roda karena malas berjalan, kehilangan separuh jiwa benar-benar tidak enak. Bersama segelas cappuccino menatap langit gelap penuh penyesalan, tumpukan buku, surat kabar, majalah, dan sebuah novel. Perahu kertas ‘Dee’. Tangan kananku meraih sebuah majalah, ku balik-balikkan halaman demi halaman hingga sampai di sebuah cerpen. Yah, sebuah cerita pendek. Aku tenggelam dalam retorika sang penulis, tapi aku rasa aku tahu gaya bahasa ini. Maksudku yah, hingga aku menemukan sebuah kalimat, “Dee sendiri berkata, satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan, aku cuma mau satu tapi di sinilah aku. Lenyap darinya..”

Napasku tiba-tiba berhenti saat ku lihat nama penulisnya “Jihan –Reidee- Anggreini.” Lalu tiba-tiba sebuah memori kembali “Reidee. Rei yang selalu bersedia mendengar tentang Dee dariku.” Aku tahu itu tulisan siapa, aku tahu nama itu, tapi, sebuah tulisan di bawah nama itu memaksaku diam untuk berpikir “Venice, italy.” dia di italia. Dia pergi sejauh itu agar tak bertemu aku lagi. Lalu tiba-tiba napasku memburu, aku bangkit dan untuk pertama kalinya aku berlari, mengambil handphone, mengetik sebuah nama, “Andre” sambil membongkar lemari, mengecek semua tabungan yang ku miliki.

“Hallo, Dre? Gue Rei. Masih inget gak? Temen SMA lo dulu..”
“Rei?” suara itu tercekat di kejauhan sana. “Ada apa? Enggak biasanya lo nelepon?”
Aku meringis, aku baru ingat, dia teman baikku dulu tapi aku hampir tak pernah menghubunginya kalau bukan dia yang nelepon duluan.
“Lu masih di italy? Di kota mana?”
“Iya, gue di venice..”

Duar! Sebuah hal yang Rei tak tahu apa, terasa meledak dalam dadanya, seperti ada kembang api yang tiba-tiba meletup-letup di jantung. Pertama kali dalam 3 bulan ini, ia merasa benar-benar hidup. Tersenyum. Ia merasa benar-benar ‘bernapas’. Ia merasakan harapan.

“Rei?” Andre masih di telepon.
“Hei… Maaf, lo punya waktu kapan? Gua akan ke venice secepatnya..”

Jakarta february 21st, 2016
– Harapan dari Jihan untuk Rei, harapan dari seseorang yang selalu ingin ditemukan. –

Cerpen Karangan: Eriel Amanda Kutajeng
Facebook: Eriel Amanda Kutajeng

Cerpen Harapan Jihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menempa Dunia

Oleh:
Waktu terus berputar dalam detik dan menit. Waktu yang terus berputar bersama dengan udara, serta waktu yang berputar dengan masa dan peristiwa. Di tengah udara yang menusuk, di bawah

Hikmah Cinta

Oleh:
Nama gue Andri, gue anak smk yang mungkin bisa dikatakan sedikit pintar, jujur gue belum pernah pacaran tapi gue suka begadang malem keluyuran gak jelas. Kisah ini adalah sebuah

Secret Admirer

Oleh:
Tok… Tok… “Rara bangun sayang, solat subuh dulu yuk” suara lembut itu membangunkan mimpi indah Rara. “iya bundaa, Rara ambil wudhu dulu yaa” Pagi ini adalah hari pertama Rara

Cinta Di Gedung Seberang

Oleh:
Pada akhir bulan Juli 2016 di LPI Al Azhar, tepatnya pada saat Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) dimulai. Ada seorang siswa yang bernama Fachrur, ia duduk di bangku kelas (ANU)

Kado Terindah

Oleh:
Sepiring roti isi selai dan segelas susu hangat menemani sarapan pagi Ninda. Seperti biasanya, Ia harus sarapan sendiri lagi karena Ayah dan ibunya ada tugas ke luar kota. Ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *