Hari Ini Lebih Tenang Dari Sebelumnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 22 April 2016

Suara jangkrik-jangkrik bergemerincing di telinga Faiz saat terik matahari Agustus menyelimuti tubuhnya yang sibuk menyirami bunga-bunga mawar di depan rumahnya. Lamunannya tak terpecahkan oleh suara keras dari serangga-serangga berisik itu. Terik matahari yang membakar pun tak menyakiti kulit tipisnya. “Apa itu tadi?” Faiz teringat akan sesuatu saat tangan kirinya tampak sedang sibuk memegangi gayung kecil yang berisi air. Pada saat yang sama, tampak dari kejauhan seorang gadis belia berambut hitam lurus berlari menujunya. Di punggungnya tersandang sebuah tas cokelat yang terbuat dari kulit. Dan dipeluknya dua buah buku tebal berbahasa Inggris dan sebuah Ensiklopedia Biologi.

“Faiz!” Teriaknya halus sambil melambai. Ditatapnya gadis tersebut, dalam naung kosong yang tak bermaya. Matanya layu memandang kedua bola mata hitam gadis itu. Terdiam tak bergerak. Dengan mulut sedikit terbuka, tak berkata.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya gadis itu saat mendekati Faiz.
“Iya, kau bawa buku yang ku minta?” Perlahan Faiz menoleh menjauh dari mata gadis itu. Seolah malu melihatnya.

“I-Iya, ada. Ini buku yang kamu minta. Aku bawa tambahan satu lagi. Mungkin bakal ngebantu.”
“A-Ah. Makasih Sera.” Gadis itu, Sera, sedikit bingung dengan tingkah Faiz yang tak biasa. Matanya lebih lesu, tak terlihat aura keceriaan dari dirinya.
“Mau masuk? Aku buatin minum.”
“Ah, nggak usah, aku langsung pul–”
“Teh atau sirup?”
“Aku…. T-Teh aja.”
“Oke.”

Faiz langsung masuk ke rumahnya, menuju dapur menyiapkan teh untuk Sera. Seperti dugaan Sera, memang ada keganjalan yang menggantung di kedua bahu lemahnya, membebani tubuhnya, dan memberatkan pikirannya. Sera duduk di sebuah kursi kayu tua tepat di sebelah pot-pot bunga mawar Faiz. Harumnya terasa menyegarkan. Pancaran keindahannya sedikit membuat Sera tersenyum sipu. “Kamu bisa minum es, kan?” tanya Faiz, tiba-tiba muncul.
“Ah, iya. Tentu.” Dalam sekejap senyum Sera hilang dihapus angin. Ditatapnya lekat wajah sepi Faiz dengan pandangan lemah. Dua buah bola mata yang sedikit berkaca-kaca memancarkan kata-kata sedih di mata Sera. Seolah memintanya untuk tidak melihatnya.

“Flu-mu, udah sembuh?” tanya Faiz, mengonfirmasi.
“Ah, iya. Udah.”
Tatapan Faiz agak bercahaya. Terlihat dipandangannya mulai agak terang. Mungkin karena mendengar berita bagus dari Sera.
“Sera.”
“K-Kenapa?”
Faiz menatap beku wajah tegang Sera, sambil memantau pikirannya. Sepanjang percakapan pendek yang mereka lakukan, Faiz menyadari ada yang sedang dikhawatirkannya.
“Seharusnya aku yang tanya. Kamu kenapa? Ada yang lagi kamu pikirkan?”
“Eh, engak. Enggak ada apa-apa kok.”

Faiz cuma terdiam. Tak terlihat lagi cahaya yang ada di matanya. Sebuah tatapan kosong seperti sebelumnya kembali mengambil alih wajahnya. Kedua tangannya yang memegang buku diletakannya di lantai. Bersandar kaku. Lesu meninggalkan Sera dengan kekhawatirannya. Sera yang segan berkata-kata tak mampu menarik Faiz ke luar dari lamunannya. Dia hanya duduk terpaku. Tak bergerak sedikit pun dengan pandangannya mengarah kedua cangkir es teh di nampan plastik di depannya.

“Tehnya keburu dingin kalau gak diminum.”
“Sejak awal juga, ini kan teh dingin. Ada es di dalamnya.”
“A…. Aku lupa soal itu. Ada es di dalamnya. Mungkin harusnya gak usah aku masukkin. Sekarang. Tehnya jadi udah dingin sebelum diminum.”
“Iya. Seharusnya, gak usah dimasukkan.” Keduanya hanya terpaku pada kedua cangkir teh tersebut. Tampak lelehan es melebur di dalamnya. Buih-buih oksigen dari dalam esnya ke luar mengapung ke permukaan. Tapi tak seorang pun dari keduanya saling menatap atau bersuara. Sampai akhirnya Sera mulai menggapai tas cokelatnya. Mengeluarkan isi tasnya. Sebuah album foto yang masih baru.

“Buat kamu,” ujar Sera sambil menyerahkan album foto itu.
“Aku?”
“Iya.”
“Kenapa album foto?”
“Ada orang-orang yang harus kamu tetap ingat di dalamnya. Kamu bakal lupa kalau enggak lihat wajah mereka, makanya album foto.”

Mendengar maksud dari pemberian album tersebut, segaris ekspresi dingin di wajah Faiz pun berangsur berubah, menjadi senyum senang. Walau tak banyak, namun dia tersenyum.
“Makasih, Sera….” Sera menunduk malu, agak sakit di dadanya karena tekanan tertentu.
“Pastikan kamu ingat kami ya.” Dalam pandangan Faiz album foto yang diterimanya tak terlihat seperti foto-foto menyenangkan. Kedua tangannya tak tampak ingin membuka halaman foto tersebut lebih jauh lagi. Dia berhenti. Kemudian menutupnya.

“Aku gak begitu peduli dengan siapa aku sudah berteman. Lebih penting lagi, siapa yang akan jadi temanku nanti. Itu yang aku pikirkan sekarang.”
“Kalau kamu takut dengan apa yang bakal kamu hadapin, gimana kamu bisa bergerak ke depan.”
Senyum kecil Sera terbentuk mendengar kata-kata Faiz. Tangan kirinya memegang cangkir tehnya, menyeruput tehnya dengan tenang.
“Gimana rasanya?”
“Manis.”
“Bagus kalau gitu.”
Faiz pun mulai menyeruput tehnya dengan ekspresi yang sama. Tak terlihat kebimbangan dalam dirinya.

“Jam berapa kamu berangkat ke bandara?”
“Beberapa jam dari sekarang. Jadi, gak punya banyak waktu buat ngucapin selamat tinggal.”
“Maksud kamu sampai jumpa?”
“Iya, itu juga boleh.”
Senyum Sera tampak lebih lebar. Seolah hatinya yang gusar telah diceriakan dengan kata-kata pendek Faiz. Matanya yang kosong kini telah terisi dengan wajah ceria Sera.
“Aku lupa satu hal.”
“Apa?”
“Kamu, masuk universitas apa nanti?”
“Ah, kalau gak salah Columbia University. Kalau gak salah di California.”
“Iz, kamu nih niat apa enggak sebenarnya mau kuliah.”
“Aku niat. Tapi sebenarnya gak terlalu minat mau pindah.”
“Kenapa?”

Faiz menatap lekat Sera. Matanya tertutup. Bibirnya membentuk senyum kecil. Bersamaan, angin meniupinya dengan lembut. Bayu-bayu sejuk di hari terik Agustus terasa sangat nyaman membelai tubuhnya. “Ada terlalu banyak orang yang tidak aku ingin tinggalkan di sini. Itu alasannya.”
“Terlalu banyak?”
“Ya. Keluarga, teman, sahabat, orang-orang menyebalkan seperti adikmu, Fendi, Eka, Loli, Seo, dan juga orang yang sering ngajarin aku PR Biologi.”
Sera tersentak sejenak. Matanya melebar, wajahnya juga memerah dan napasnya agak tercekat.

“A-Aku?”
“Bukan.”
“Jadi siapa?”
“Sera.”
Sera tertawa singkat. Setitik air matanya terjatuh. Dalam tawanya pula, dia mulai mengisak. Sedikit demi sedikit mulai menjadi tangisan.
“Jangan basahi wajahmu dengan air mata. Aku ini belum mati.”
Faiz menyorongkan tangannya. Menghapus air mata Sera yang jatuh.

“Tapi kamu bakalan jauh. Bahkan ada kemungkinan kamu bakalan lupa sama aku. Semuanya bule di sana.”
“Aku gak akan lupa. Lagi pula di dunia ini cuma ada satu orang bernama Sera di dunia ini, gimana aku bisa lupa.”
“Tapi–”
“Kalau keraguanmu terus aja kamu ikuti, gimana hatimu mau tenang.”
Sera terdiam. Dia memandang ke bawah, malu untuk menghadapi mata jernih Faiz yang ternyata penuh keyakinan dan kepercayaan. Dia terlalu takut untuk melihatnya.
“Sera, ada satu hal yang belum aku kasih tahu ke kamu.”
“Satu hal. Tentang apa?”
“Sebenarnya, aku mencintaimu.”

Sera tersentak mendengar ucapan Faiz. Hatinya jadi tak menentu. Kepalanya seolah terasa berputar melingkari bumi. Degup jantungnya menjadi sangat kencang, seperti sebuah bom waktu yang sudah siap untuk meledak. Dia tak menyangka, orang yang dia cintai juga mencintainya selama ini. Dalam hatinya tertulis kata. Aku jadi semakin tak bisa melepasmu pergi. Dan ingin memeluk erat tubuhnya, selama mungkin. Walaupun begitu.

“A-Aku juga… Mencintaimu…”
“Baguslah.”
Wajah lesu Faiz yang muram berubah menjadi sangat bersemangat. Penuh dengan cahaya kegembiraan. Senyumnya jadi semakin lebar, dan matanya makin berbinar. Tangannya meraih kepala Sera, mengusap-usapnya. “Kau bisa percaya aku, kan?”
“Ya.”
“Kau bisa menungguku pulang, kan?”
“Itu janjiku.”
Sera berdiri, beranjak dari kegelisahannya dengan semangat yang membara. Kedua tangannya dikepal, berposisi seperti ingin menyoraki tim olahraga dengan teriakannya yang sangat riuh.

“Aku janji!” pekik Sera. Faiz pun akhirnya bisa melihatnya dipenuhi determinasi. Selayaknya Sera, gadis itu tak akan memungkiri janjinya. Dia percaya pada Sera, benar-benar meletakkan semuanya pada gadis bertubuh kecil itu.
“Kalau begitu, aku juga berjanji akan menjaga hatiku buatmu. Pulang dengan sebuah cincin pinangan.”
Sera terpaku, gugup karena ucapan Faiz yang blak-blakan itu.

Dalam berisiknya gemercing jangkrik di musim tak menyenangkan ini, terik matahari terasa sangat sejuk di tubuh Faiz. Angin merdu yang menyanyikan lagu ketenangan berhembus lembut mengayunkan rambut Sera. Serdadu-serdadu jangkrik yang memekikkan teriakannya tak mengganggu telinga keduanya. Beberapa jam kemudian, Sera pun berpisah dengan Faiz. Faiz beranjak dari rumahnya menuju ke bandara terbang, bersiap untuk bereksplorasi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan beasiswa spesialnya, kuliah di sana. Hatinya yang sebelum ini merasa khawatir kini telah menjadi damai. Semua beban yang dipikulnya mulai meleleh seperti es di cangkir teh tadi. Faiz sudah menjawab keraguannya. Kini, dia juga harus berjuang, untuk tetap menjadi dirinya agar Faiz tetap bisa melihat Sera yang dulu di hadapannya kala pulang nanti. Dia akan menunggunya. Dalam hatinya, dia berkata. Hari ini, terasa lebih tenang dari sebelumnya.

Cerpen Karangan: Faz Bar
Facebook: Hanashigaaru
Fazbar A. Falah

Cerpen Hari Ini Lebih Tenang Dari Sebelumnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Terindah Untuk Dinda

Oleh:
Adinda Salwa Nahila, begitulah nama gadis itu. Gadis remaja berusia enambelas tahun. Meski usianya masih belia, namun pemikirannya sudah seperti orang dewasa. Kata-katanya santun, perangainya lembut, pun banyak disenangi

Lingkaran

Oleh:
“Kenapa loe pengen jadi astronot?” tanya kira. “Karena, aku suka bulan. Itulah kenapa aku ingin menjadi astronot. Aku ingin berkunjung ke bulan. Hahaha…” jawab Kenta. “Trus, kenapa loe suka

Lupain Kamu Oh! Ga Bisa

Oleh:
Masuk ke masa dimana semua remaja mengerti cinta, bahagia, sakit, dan tentang dunia. Dimana aku juga merasakan seperti banyak orang rasakan, aku mulai menaruh hati dengan teman dari sepupu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *