Harian Gue (Part 2) Ramuan Kimia Bapak Wana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 May 2014

“Naah jadi itulah reaksi atom yang terbuat. Yang mana…” suara bapak Wana yang sedang mengajari kami di Laboratorium Kimia.

Orang yang satu ini juga sama hebatnya dengan Bapak Dirman, beliau tidak menggunakan buku ajar sebagai teman pengajar beliau dalam menerangkan sebuah teori atau apapun. Hanya menggunakan ingatannya, lelaki berusia 42 tahun ini cukup dengan cakap untuk menerangkan kepada kami tentang materi-materi kimia hari itu. Setiap pelajaran beliau, kami harus selalu masuk ke Laboratorium kimia miliknya. Disini banyak sekali tabung-tabung yang di dalamnya terdapat cairan warna-warni. Ada merah, hijau, kuning, biru, oranye dan lain-lain. Ada juga berbagai tabung yang disimpan dalam etalase transparan dan terdapat tempelan kertas di luarnya yang bertuliskan “JANGAN DIHIRUP”, lalu ada juga “BERBAHAYA BILA TERKENA KULIT”.

Karena banyaknya botol-botol berisikan cairan itu, dulu waktu kelas 10 aku sering menghayal dengan teman-temanku bahwa Pak Wana merupakan seorang kimiawan yang cerdik. Sehingga dia membuat ramuan-ramuan aneh yang bisa membuatnya menjadi monster-monster yang ada di komik marvel. Asal mau tau, wajah beliau ini mirip dengan aktor pemeran John Osborn (green goblin) dalam film Spiderman 2002. Makin lengkaplah khayalanku itu. Berimajinasi bahwa beliau menyuntikkan ramuan-ramuan kimianya ke badannya. Sehingga beliau mempunyai kekuatan super yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya.

Sampai saat ini, aku selalu menyebut beliau dengan sebutan green goblin. Nakal juga ya. Ini tapi bukan sebuah ejekan yang menghina, ini sebuah ejekan yang bermakna bahwa beliau sangatlah cerdik.

Suasana kelas pasti selalu serius apabila beliau yang mengajarkan pelajaran ini. Di sekolah kami terdapat 2 guru kimia, Pak Wana dan Ibu Leni. Keduanya lulus dari Universitas yang sama, Cuma beda tahun angkatannya saja. Secara tidak langsung ini seperti sebuah kombinasi yang tak bisa dibayangkan. Keduanya sama-sama pintar, Ibu Leni, selain pintar beliau juga wanita yang cantik. Cara berbicaranya lumayan lugas dan menandakan bahwa beliau adalah sosok guru yang pantas.

Walaupun begitu, aku tetap saja tidak bisa dan mengerti dengan baik pelajaran kimia. Entahlah aku sudah membeli buku-buku rumus dan kumpulan soal kimia SMA yang ada di toko buku, aku coba kerjakan semua, aku ikut belajar bareng dengan teman-teman, tetap saja aku tidak pandai dalam pelajaran ini. Biarlah, aku masih punya pelajaran lain yang cukup paham kok.

Pelajaran Pak Wana pasti selalu diadakan di pagi hari sampai jam istirahat pertama. Mungkin biar otak anak-anak yang belajar masih cukup sanggup untuk menerima materi-materinya. Tapi ini berbeda denganku, aku tetap saja hanya mengerti 20 dari 100 yang diberikan pada hari itu.

Terkadang aku sempat berpikir, mungkin enak ya menjadi seorang kimiawan. Lalu menciptakan ramuan kimia yang bisa membuat orang mabuk kepayang dan jatuh cinta kepada kita. Alasan inilah yang membuat aku menjadi semangat untuk bisa mempelajari kimia lebih dalam. Aku akan belajar lebih giat untuk persoalan ini. Kalau ada waktu senggang aku akan berbicara kepada Pak Wana atau Bu Leni.

“Dimas, nanti jangan lupa ya pas istirahat kamusnya dibalikin. Gue ada tugas” sms dari Sany. Belakangan ini, aku sering minjam sesuatu kepada Sany. Kamus, USB, modem, dll. Tujuan utama sih supaya bisa lebih deket aja sama dia.
“Iya San, nanti gue ke kelas lo deh. Istirahat kan?” balasku.
“ehh jangan!!, lo lupa waktu lo ke kelas gue jadinya gimana? Kita ketemuan di kantin aja!”
“Hek, iya ya, oke.”

Sany, akhirnya bisa juga aku menjalin hubungan dengan dia. Walaupun hanya baru lewat sms. Terkadang aku sering membayangkan Sany. Gak terkadang juga, sering malahan. Waktu malam-malam, pengen belajar bayangin dia. Lihat film serem, keingetan dia lagi. Waktu pengen mimpi yang… ingat dia lagi. Wah pokoknya dia segalanya bagiku. Apalagi aku udah tau ukurannya… Ehmm eh.

Tumpukkan pasir itu tidaklah begitu terlihat bila dilihat dari jarak yang lumayan jauh. Angin setiap hari membawa butiran-butiran pasir baru yang bersemayam di tumpukkan pasir tersebut. Tak ayal membuat pasir itu semakin lama tidaklah menjadi sebuah tumpukkan, melainkan akan menjadi sebuah gundukan. Seiring angin semakin sering menerbangkan butiran-butiran pasir dan menjatuhkannya di sana, pasir tersebut perlahan akan membentuk sebuah gunung. Tetapi gunung tersebut masihlah belum terlalu tinggi dan kuat untuk menerima sebuah cobaan dan rintangan. Diterpa oleh hujan sebentar, gunungan pasir yang kecil itu sudah lengser beberapa cm.

“Pak Wana! Sibuk?” tegurku sekaligus ingin bertanya mengenai ramuan cinta itu.
“Oh yaa..? Ada apa Dim? Gak kok, bapak mau siap-siap pulang aja.” Jawabnya bijak dengan nada suara beliau yang sangat khas sekali.
“Hm iya pak, saya mau menanyakan sesuatu” ujarku lugas.
“Oke, boleh silahkan.” Jawab Pak Wana sambil meminum kopi dari gelasnya.
“Iya, pak. Apakah ramuan kimia itu bisa digunakan untuk hal apa saja?” tanyaku.
“Iya, dalam bidang-bidang tertentu itu menggunakan ramuan kimia di dalamnya. Apalagi dalam bidang kesehatan. Itu sangat perlu sekali. Kenapa?”
“Kalau dalam bidang kemanusiaan pak?” tanyaku lagi.
“Oh ya sangat jelas bisa dong Dim.” Sambil menonjok bahu kiriku pelan “Asal, jangan sampai salah penggunaan dan manfaatnya harus dipertimbangkan, seperti nuklir, atau penelitian-penelitian kimia untuk kesehatan itu. Itu sangat bermanfaat bagi kemanusiaan apabila dilakukan dengan benar”
“Kalau lebih spesifik lagi pak?”
“Maksudnya? Bapak tidak mengerti?” Pak Wana mengerutkan dahinya.
“Ya untuk masalah kemanusiaan, tapi ini lebih spesifik.”
“Oh ya jelas bisa, untuk obat maksud kamu?”
“Iya bisa jadi seperti itu pak, tapi berbentuk ramuan gitu”
“Kenapa? Kamu kok terlihat seperti bingung? Kamu ngobat?!” Pak Wana mulai curiga.
“Eh enggak pak, saya masih sehat. Hmm anu.. kalau ramuan kimia dibuat untuk masalah percintaan gitu loh pak. Ada?”
“Haa.? Haa Haa Haahahaha… Dimaaas, Bapak kira kamu mau apa. Ya tentu ada lah, ada semacam ramuan untuk membuat libido seseorang itu menjadi meningkat dan hormon s*ks dalam tubuhnya tiba-tiba meraih puncaknya. Kamu kenapa bertanya seperti ini hey, kamu masih muda.”
“Kalau buat nembak cewek ada pak?”
“Sany maksud kamu?”
“Loh, kenapa Bapak bisa nyebut gitu?” tanyaku heran.
“Ya Bapak kan mengajar di kelas dia juga, setiap Bapak ngajar teman-temannya itu selalu mengejek Sany dengan panggilan nama kamu. Aryo Dimas Setyo.. Hahaha” Wajahnya dimiringkan dan terlontar senyum licik keluar dari Pak Wana “Begini.. kalau kamu memang cinta sama si Sany itu.. kejarlah cintamu dengan sebaik mungkin. Bapak menikah dengan istri bapak tidak menggunakan ramuan kimia apapun. Tetapi bapak menggabungkan semua elemen-elemen dalam diri bapak untuk bisa membuat getaran-getaran serta sinyal atau frekuensi yang dapat diterima Istri Bapak. Perjuangkanlah dengan sebaik mungkin Dim, jika kau ingin mendapatkan Sany seutuhnya mencintaimu dengan setulusnya…” Pak Wana tersenyum dan meminum tegukan terakhir kopi di gelasnya. Sambil beliau berdiri dan menapuk bahuku pelan. “Anak muda, keluarlah. Berikan semangatmu di jalur yang benar, kejar, serta raihlah.”
“Pak Wana…” aku mengangguk sanggup dan paham penuh arti. “Terimakasih pak, nasehat Bapak sangat membantu. Saya akan berjuang dengan kemampuan saya, tanpa bantuan apapun”

Aku keluar dari laboratorium kimia itu, aku berjalan pasti mengarah ke gerbang sekolah. Mataku berbinar penuh semangat. Aku tidak pernah merasakan hal seenteng ini dalam hidupku. Langkah kaki seakan seperti rotasi mesin setelah ganti oli. Semua terasa lancar dan terkendali. Tanpa ada aral dan rintangan. Ku jejaki keramik demi keramik lorong sekolah itu. Kujawab sederhana sapaan dan tanyaan dari teman-teman sekolah. Tujuanku satu, Elsany Ghofarri.

“Wish semangat banget bro, kemana?” sapa Romi.
“Ke gerbang sekolah bro!”
“Besok futsal woy, bawa sepatu yak..” ajak Doni lantang.
“Setelah ini kapanpun kita bisa futsal men!”
“Sob kemana sob?” tanya Iman.
“Menuju masa depan yang cerah sob!”
“Hai kak Dimaas, buru-buru..” sapa Ratih anak kelas 10
“Iya, ada perlu!”

Sedikit lagi aku menuju gerbang itu, semoga Sany belum pulang dan masih bercanda dengan teman-temannya. Aku hampiri Lia, dan bertanya kemana Sany.
“Dia lagi fotokopi buat besok, cari aja di fotokopian depan jalan” jawabnya santai.
“Oke, thanks Li!”
“Saam..aa saam..aa, eh eh tuh Dimas kebelet berak?” ujar Lia ke teman-temannya.
Aku tidak memperdulikan apa pun, niatku hanya satu, Elsany Ghofarri menjadi milikku.

Diiin diiin, diiiin, diin “Woy jalan woy!!!” teriak supir angkot di seberang jalan yang menegor angkot di depannya.
Suasana seperti ini sudah sangat biasa ketika jam pulang sekolah. Dengan menggunakan hoodie berwana hijau army, tas reebok berwarna hitam, sepatu kets hitam, rambut sedikit tidak beraturan aku beranikan diri untuk bisa mendekati Sany yang sedang tampak sibuk mengatur lembar fotokopi di sebrang jalan. Panas, debu, angin, serta suara-suara teriakan abang-abang supir angkot semakin membuat adrenalin ku terpacu dengan sempurna. Mengalirkan darah dari jantung terus ke seluruh tubuh. Saluran pernapasan pun tampak sangat lancar sekali. Tidak pernah selancar ini.
“San.. lihat di seberang jalan deh. Ada Dimas..” ujar Zizah kepada Sany yang tampak sibuk merapikan lembar fotokopian.
“Eh duuh, Zah? Dia mau ngapain? Kok tampangnya serius gitu? Gua salah apa sama dia? Eh kok gua jadi panik sih.. Eh dia mau nyeberang. Gimana dong?” ujar Sany.
“Sini sini gua bantuin rapihin nih kertas-kertasnya, lo panik karena dia salah atau lo panik karena dia deketin lo? Hahaha” jawab Zizah dengan melontarkan tanya berupa candaan.
“Ihh masih aja sih… udah ah entar gua gak enak..”
“San! Bisa minta tolong sebentar..?” tanyaku tegas.
“Ada apa ya? Gua lagi sibuk nih Dim…” – “Ga kok gak papa bawa aja, gua bisa ngatur ini sendirian, gak papa kok Dim.” Sahut Zizah cepat.
“Ehh Zizah..!” jawab Sany kaget. “Iya sebentar aja kok San gak lama..” jawabku pelan.

Aku membawa Sany ke depan warung pulsa di pinggir jalan itu. Suara ramai tidak membuat kita masih bisa tetap mendengar satu sama lain. Telinga kita seperti terkoneksi oleh sebuah terowongan mistis yang tercipta dari rasa percaya satu sama lain. Sany terus menelan ludah dan matanya belalakan kemana-mana, karena gugup. Aku sendiri? Mengumpulkan tekad serta niat untuk mengucapkan semua ini. Sampai akhirnya..
“San, setelah semua hal ini terjadi. Gua rasa sudah semestinya ada sebuah ikatan ya..” – “Aaa…Arr.. maaf.. gua kebelet kencing..! Gua kelewat gugup ketemu sama lo. Bentar” Sany berlari ke arah sekolah dan menuju wc di dekat pos satpam.
“Heek, iya…” aku Cuma bisa tertegun dan bingung harus berkata apa “..sebentar, dia manggil gua Ar? AR?.. Aryo!!! Jarang banget ada yang mau manggil gua Aryo di sekolah.”
“Ada apa sih Dim, sampe heboh gitu muka lo.” Tanya Zizah
“Engga kok, ada sebuah urusan aja yang harus diseleseikan hari ini.”
“Ya kalau gitu kejar lah si Sanynya biar cepet selesai, dia itu agak rempong soalnya.”
“Ya masa gua ngikutin ke toliet, dia kebelet tadi katanya.”
“ya gak di tolilet, bilang dimana gitu. Ya udah sana..”
“Oke, lu emang tetangga gua paling kece Ziz.. Thanks yoo”

Aku berlari untuk mengejar Sany ke arah sekolah. Aku mempunyai tekad yang besar untuk hari ini. Aku sudah memimpikan hari ini. Sudah lama aku berjuang untuk mendapat hatinya Sany. Sekaranglah pembuktian yang tepat untuk itu semua.
“Mang? Lihat Sany tadi?” tanyaku kepada Mang Sueb.
“Iya, tadi mau ke toiletnya satpam tapi lagi rusak. Dia ke dalem noh lari tadi”
“Oke makasih mang..”
“Hmm, anak SMA jaman sekarang yak. Suka buru-buru…”

Aku melihat Sany baru saja keluar dari dalam tolilet siswi. Aku dekati dia dan aku akan mengatakan semuanya.
“San..!”
“Oh iya Ar..”
“Huuush huuhf huufh, hmm masalah yang tadi…”
“Hmm kita ke kantin aja dulu yuk, mumpung belum tutup. Yuk”
“Oke…”

Setelah duduk dan membeli sebotol air minum kemasan.
“Kenapa si lo Ar…?” tanya Sany sambil tersenyum manis.
“San… Maaf kalau kesannya agak terburu-buru. Tapi ini nyata, banyak gelombang-gelombang di dunia ini yang menyatakan bahwa mereka itu ada. Termasuk apa yang gua rasain sekarang ini, oleh karena itu…”
“Lo mau nembak gue kan?” jawab Sany sambil tertawa pelan.
“Kok…” mataku menyipit dan mengerutkan dahi “Tau dari mana? Lo bisa baca pikiran?”
“Pak Wana…, beliau itu sering ngejek gue dengan nyebut-nyebut nama lo Ar. Terus beliau bilang, kalau lo itu sebenernya orang yang tepat buat gue.”
“Kapan bilangnya? Baru hari ini tadi gua ketemu sama Pak Wana…?”
“Udah lama, karena anak-anak sering ngecengin gue. Terus Pak Wana ngomong ke gue kalau lu sebenernya pantes buat gue. Makanya ketika lo tadi di sebrang jalan gitu, gua pasti yakin lo abis ketemuan sama Pak Wana. Makannya gua grogi hehe” sambil membenarkan rambutnya yang jatuh.
“Ohh, hmm hahaha iya San. Gua suka sama lo…”
“Gua juga kok Ar.. Aryo Dimas Setyo.. hehe” sambil tersipu malu dan membuang muka dariku.
“Yes! Haha. Oh ya tapi kok lu manggil gua Aryo sih. Jarang banget ada yang manggil gua nama Aryo. Paling-paling juga Dimas doang.”
“Jadi panggilan itu spesial? Iya lah kan lo sekarang jadi yang spesial buat gue.” Sambil menggigit bibirnya menahan tawa.
“Aaaa Sany… oke. Mulai sekarang kita jadian nih.. haha”
“Hmmm yo.. anu…”
“Apa? Mau itu? Aahh masa baru pacaran udah mau …”
“Hii itu idung kamu berdarah, kamu mimisan!”

Bersambung…

Cerpen Karangan: Adenasta
Blog: aaderizz.blogspot.com

Cerpen Harian Gue (Part 2) Ramuan Kimia Bapak Wana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggumu Bicara

Oleh:
Aku Menatap keluar jendela, kusandarkan tubuhku di sisi jendela. Hujan sore ini begitu deras, udara dingin masuk lewat ventilasi jendela. Aku melipat tanganku di dada, lalu aku berjalan ke

Lara

Oleh:
Aku terdiam. Aku sendiri tak tahu pilihan yang kuambil ini benar atau tidak, tapi kurasa… Yah! Semoga saja aku tidak menyesal nantinya. Tanpa bicara lagi, kubalikkan tubuhku. Dari sudut

Thanks to Your Heart

Oleh:
Kulangkahkan kakiku dengan gontai, tak sanggup lagi kutahan air mata di pelupuk mataku. Air mataku tumpah, tak berniat kuseka, karna pasti akan jatuh lagi jatuh lagi. Map biru tua

Catatan Harian Si Angsa Hitam

Oleh:
Makassar, Senin, 2015. Pagi menyapa wajah mengantukku yang nongol di jendela. Matahari belum sepenuhnya terbit, ternyata masih pukul 08;30. “What?!! Gua kuliahnya jam 08;15. Tapi, mataharinya kok belum nampak.

Mematung Sepi

Oleh:
“Masih terngiang akan suara manjanya, kepintarannya, kecantikannya, dan semua hal yang istimewa itu aku sia-siakan ketika aku memilikinya, kini aku hanya mematung sepi, ditemani penyesalan yang teramat dalam, akankah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Harian Gue (Part 2) Ramuan Kimia Bapak Wana”

  1. Hendrik says:

    Ditunggu lanjutan ya :-), bagus aku suka aku suka:-D

Leave a Reply to Hendrik Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *