Harusnya Aku Menikah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 26 February 2015

Harusnya aku menikah tahun ini. Tahun Naga, 2012. Tahun yang akan membawa keberuntungan banyak buatku. Tahun yang akan menguatkan aku dalam berbagai situasi. Tahun yang akan menebarkan benih-benih kebahagiaan buatku. Aku menginginkannya. Aku ingin menikah di tahun ini. Tahun yang kuyakini memberi efek kebahagiaan yang tiada tara. Aku ingin menikah tahun ini, iya tahun Naga ini.

Kenapa? Why? Apa alasanku? Karena itu tadi, aku meyakini betapa indahnya tahun Naga ini. Aku ingin menikah tahun Naga ini pokoknya. Aku benar-benar mau menikah tahun ini.

Sama siapa? Itu masalahnya, tidak ada petunjuk aku harus menikah dengan siapa? Aku hanya mendapat wangsit, bahwa aku akan siap menikah di tahun 2015. Terlalu lama, terlalu jauh. Bagaimana jika aku nyolong start? Aku ingin menikah di tahun Naga ini. Aku pasti akan bahagia di tahun Naga ini.

Terus? Ya aku akan menikah tahun ini.

Aku menatap buku rencana ku itu. Ehm, tidak ini hanya buku tulis biasa, yang biasa digunakan anak-anak sekolah untuk mencatat materi pelajaran. Aku menggunakannya untuk mencatat semua keinginanku disini.
Aku akan mengutarakannya sama Beni, dia adalah orang pertama yang akan aku ajak nikah. Kira-kira dia mau enggak ya? Dia pacarku, dia pasti mengerti. Pacar yang baik adalah pacar yang segera mengikatkan diri dengan pernikahan, karena pernikahan mempunyai tanggung jawab, sedangkan pacaran enggak.

Aku keluar dari rumah, naik sepedaku. Aku akan menemui Beni. Dia biasa berada di Pe’eSan sebelah tukang jahit. Aku harus menemuinya. Ku kayuh sepedaku ke arah utara. Aku berharap Beni ada disana. Aku tidak memberitahu dia. Aku tidak sms dia ada dimana. Tapi semoga intuisiku benar bahwa dia ada di Pe’eSan.

2 menit…
3 menit..
4 menit..
Aku sampai di depan Pe’eSan itu. Di depan aku melihat mas Ipul. Ah, pasti Beni ada disini.
“Hey, Ben… dicariin cewek kamu nih”, teriak mas Ipul.
“Udah lama dia disini mas?”
“Dari tadi pagi, katanya mau nyari sarapan. Malah ngajak tanding Pe’eS.”
Aku tersenyum mendengar ucapan mas Ipul. Tak lama kemudian, Beni keluar. Dia menatapku heran. Pasti dia bingung kenapa aku mencarinya dengan tiba-tiba. Tanpa ada pemberitahuan dulu.
“Ngapain naik sepeda?”
“Lah punyanya sepeda, Ben. Disuruh naik andong?”, jawabku.
“Mau ngajak kemana? Makan siang?”
“Yuk. Kamu mau makan apa?”
“Kalo berani nawarin itu berani nraktir”
“Yee.. kan barusan kamu tanding Pe’eS kan? Menang kan?”
“He He He, dasar bocah. Tau aja. Pasti mas Ipul yang kasih tau kan?”
Mas Ipul hanya nyengir mendengar ucapan Beni. Itu pertanda bahwa Beni memang menang tanding Pe’eSnya. Ah, bukan masalah uang taruhannya. Aku harus mengutarakan mimpi indahku ini sama Beni.
“Ah, udah ayok Ben. Nanti aku traktir. Yang penting kamu ikut aku, ada yang mau aku omongin”
“Heh, mau ngomong apa? Jangan bilang kamu telat lagi ya”
“Hellooo… telat apaaan? Jangan ngaco deh ah”
“Wah, kayaknya ada yang benar-benar mau rembug tuwo nih”, sindir mas Ipul.
“Enggak mas, nih anak paling juga ngajakin nyari bando anak-anak, atau kalo enggak nyari anting-anting ndeso yang dijual gocengan, atau kalo enggak nyari gelang alay kayak anak-anak reggae gak jelas, atau …”
“Setop! Woy Setop! Udah Ben. Ayok ah”, ajakku sebelum Beni nyerocos yang enggak jelas dan kemana-mana.
Beni mendekatiku, dia yang di depan dan aku di belakang. Dia mengayuh sepedanya ke arah Timur. Pasti aku mau diajak ke warung makan yang di sebelah lapangan itu. Entahlah, dia biasa disitu. Atau mungkin mau diajak ke tempat lain?

“Emang mau ngomongin apa?”, tanya Beni sambil mengayuh sepedanya.
“Aku mau menikah Ben?”
Tiba-tiba Beni mengerem sepedanya mendadak dan keseimbangan pun tak terkendali. Jatuh. Gubrak! Aduh sakit. Aku dan Beni jatuh di pinggir jalan.
“Aduh, kalo ngomong itu yang bener napa sih?”
“Lah iya udah bener Ben, aku udah ngomong bener. Aku mau menikah”
“Tega bener ninggalin aku. Emang aku salah apa sama kamu hah?!”
“Yang mau ninggalin kamu itu siapa? Aku maunya nikah sama kamu tau”, ucapku sambil bangun dan membersihkan bajuku yang banyak debu. Ku ulurkan tanganku dan menarik Beni untuk bangun.
“Kamu itu kesambet apa sih? Aku kan belum kerja, oneeengg”
“Ya udah, kerja trus nikah”
“Ya enggak segampang itu oneengg. Kerja itu harus nabung buat rencana nikah, baru deh nikah. Nabungnya itu butuh 5 tahun atau 7 tahun lagi. Lagian kita masih muda oneeng. Kamu kalo punya mimpi jangan aneh-aneh napa. Kebanyakan baca novel gadungan enggak jelas sih”, ucap Beni sambil menepuk jidatku. Aduh.. panas. Gak ada yang salah kan? Aku punya mimpi dan berusaha mewujudkannya?
“Ya, tapi aku mau menikah di tahun ini Ben”
“Udah sekarang kamu pulang aja deh. Bawa sepedanya. Mikir lagi. Kalo kamu nikah, kamu enggak akan bebas. Kamu harus ngurus suami kamu, kamu harus mikir A, B, C, D, dan sebagainya”
“Lah kalo ngurus kamu kan udah biasa Ben. Selama ini, selama 3 tahun ini, siapa yang ngurusin kamu? Ingat gak? Waktu kamu malam-malam enggak ada mamahmu, kamu mau makan, siapa yang masakin? Aku kan? Ingat gak waktu kamu enggak bisa pulang karena ban motormu bocor? Aku juga kan yang nyepeda jemput kamu?”
“Bukan yang kayak gitu oneengg. Ah susah sih ngomong sama penggila novel gadungan. Udah sana pulang. Aku enggak mau denger mimpi konyolmu lagi. Aku enggak mau nikah muda. Aku mau menikmati masa mudaku”
Aku terdiam. Beni tidak sejalan dengan pikiranku. Aku pulang naik sepedaku. Terus kepada siapa aku harus bilang? Aku punya mimpi indah ini. Aku ingin menikah di tahun Naga ini. Aku mau menikmati keberuntunganku yang akan datang bertubi-tubi di tahun Naga ini.

Cerpen Karangan: Adistyana
Blog: duaempatkosongtiga.blogspot.com
Saya seorang karyawan swasta yang mempunyai hobi menulis. Saya 24tahun, dan masih dalam pencarian jati diri. Saya orang yang suka belajar hal-hal yang baru.

Cerpen Harusnya Aku Menikah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan Ini

Oleh:
“Perasaan ini.. rasanya tidak akan pernah berubah, sampai kapan pun.” Namaku Azka Amrina Natalia. Aku tidak tahu, alasan apa aku hidup di dunia ini. Aku tidak memiliki kesukaan yang

Pangeranku

Oleh:
Ya robbibil musthofa baliqmankoo shidanaa wagfirlanaa mamadho ya waa shialkarokmii. Itulah shalawat yang menandakan shalat taraweh dihari pertama ini telah selesai. Aku melipat mukena dan sajadah lalu bersalam-salaman dengan

Berawal Dari Halte

Oleh:
Langit semakin gelap, gemercik rintikan hujan semakin lama semakin deras. Aku berteduh di halte bus sambil menunggu bus datang menjemputku. Bersama beberapa orang yang sepertinya kedinginan -sama sepertiku- yang

Bianglala

Oleh:
Kutilik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kananku. “Lama sekali sih” gumamku, seraya menopang dagu yang tak lancip ini. Dan entah untuk keberapa kalinya, kutilik lagi arloji warna merah

Isi Hati

Oleh:
Aku menatap gerbang sekolah baruku. Hari ini hari pertamaku di SMA ini sebagai murid pindahan kelas 2. Sekolah yang besar, luas, dan fasilitas yang lengkap. Aku tidak menyangka ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Harusnya Aku Menikah”

  1. eka says:

    Benar emang mbak klo nikah tahun 2012 itu hoki…hehehe…
    ini dah tahun 2015, apa mbak udah nikah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *