Hati, Uang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 August 2016

“Lo nggak pulang?,” tanya Riska dengan memperhatikan Felly yang tengah sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
“Nggak. Gue langsung ke toko. Nggak enak juga kalau telat teruss-terusan.”
“Tapi Fel, bukannya honor dari foto model dan cafe udah cukup ya buat lo?”
“Nggaklah, Ris. Kalau ada kesempatan, kenapa nggak diambil?,” jawab Felly dengan mengedikkan bahunya dan tersenyum tipis.
“Udahlah, biarin aja! Toh kalau dia sakit yang ngerasain juga dia!,” lanjut Bram setelah ia mem-puse gamenya.
“Hati-hati di jalan, Fel!,” ucap Billy.
“Kita tunggu di studio foto ya?!!! Bye!!!,” seru Riska saat Felly telah ke luar dari kelas.

Mereka pun kembali dengan pekerjaan masing-masing. Bram yang mulai menghafalkan not angka yang harus dihafal untuk acara pentas seni sekolah, Billy yang sibuk dengan petikan bazznya serta Riska yang terus-menerus menghafalkan skenario untuk pemotretan malam ini.

“Felly!,” panggil Bram terkejut dengan membelalakkan matanya.
“Ada apaan, Bram?,” tanya Billy dengan menghentikan petikannya.
“Kalian sini, deh! Lihat ini! Ini hot news hari ini!,” ucap Bram.
“Felly sang..,” gumam Riska terputus.
“Tuh cewek beneran penulis?,” nyata Billy tak percaya.
“Bukan cuman penulis doang. Tapi, cewek gila!,” tambah Bram dengan menggeleng-nggelengkan kepalanya. Karena, mereka tidak pernah menyangka kalau Felly akan muncul di artikel dengan sandangan gelar sebagai penulis.

Yah… Felly memang gila. Gadis dengan nama Felly Anggi Wiraatmaja menyandang banyak gelar dimanapun ia berada. Gitaris, designer, pelayan toko, penulis, model dan masih banyak lagi. Pro Techno tidak pernah mengerti dengan otak Felly. Bayangkan saja, Felly melakukan itu semua setiap hari. Bahkan yang lebih diherankan lagi, orangtua Felly tidak pernah melarang Felly untuk melakukan semua pekerjaan itu.

“Bagaimana dengan data penghasilan kemarin? Naik nggak pengunjungnya?,” tanya Felly memastikan kepada teman seangkatannya.
“Yah.. naik sih.. walaupun cuman sedikit,” jawab teman Felly.
“Baguslah. Seenggaknya, Pak Andre nggak kecewa dengan sistem yang udah kita terapkan di sini.”
“Felly, gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo?,” tanya teman kerja Felly.
“Boleh. Nanya aja.”
“Lo penulis kan?!”
“Tch! Udah nyebar ya beritanya?,” jawab Felly dengan senyuman sinis sambil mengebak barang-barang yang baru datang.
“Lo ngapain ngelakuin ini, Fel?”
“Salah ya, kala gue anak band, modelling berubah jadi penulis?”
“Apakah uangnya sebanyak itu ya? Sampek lo harus banting tulang kayak begini?”
“Menurut, lo?,” tanya Felly dengan mengedipkan matanya genit.
“Ya!!! Felly! Gue serius!”
“Hahahaha! Udah ah! Banyak kerjaan nih! Kapan selesainya kalau kita gosip melulu!”
“Tch! Dasar keras kepala!,” gumam teman kerja Felly yang ada di toko.

Mereka pun kembali bekerja. Dengan selingan tawa dan juga canda gurau, mereka menyelesaikan tugas itu. Hingga mulai banyak pengunjung toko yang datang dan mendatangi meja Felly. Kasir. Yah… Selain menjadi pelayan toko, Felly juga menjad seorang kasir. Sering, ia mendapatkan godaan dari beberapa pengunjung karena ia begitu cantik. Banyak juga yang mengajak Felly foto bersama atau hanya sekedar berkenalan untuk saling menyapa.

“Udah selesai kerjanya?,” ucap seseorang saat Felly hendak kelar dari toko.
“Aaaaaaaa!!!,” kejut Felly.
“Kamu tuh, ya suka bikin kaget tahu nggak sih!,” lanjut Felly dengan menepuk lengan orang yang telah mengagetkannya.
“Habisnya sih, tadi waktu aku mau masuk kamu serius banget.”
“Tahu ah!!!,” ucap Felly dengan memonyongkan bibirnya dan pergi meninggalkan orang itu.
“Sayang!,” panggil orang itu.
“Jangan pake senjata itu dong, Ka!”
“Siapa suruh kamu ngambek? Ngopi yuk!”
“Arka…,” ucap Felly manja.
“Udah, ayo!,” kata Arka dengan senyuman manis dan juga tatapan lembutnya.
Yah.. seperti itulah hubungan Felly dan juga Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Kekasihnya. Tidak. Mantan kekasih sekaligus kekasihnya. Hubungan mereka begitu rumit saat harus berada di dalam jilitan cerita. Kisah cinta yang sempat hilang selama tujuh tahun silam, telah kembali dalam rajutan buaian cinta dan rindu dengan sentuhan lembut.
Mereka berpisah karena sebuah profesi yang terus memisahkan pertemuan mereka. Ditambah, dengan adanya pemikiran dengan emosial yang tidak stabil. Pemahaman cinta yang masih terbatas, serta pengendalian diri yang begitu lemah menjadi pendukung perpisahan mereka. Tapi, apa daya apabila takdir sudah menjadi kartu merah untuk mereka. Jadilah apa yang menjadi kehendak-Nya.

“Kamu, kapan pulang dari New York?,” tanya Felly dengan mengaduk-aduk kopinya.
“Baru hari ini. Kenapa? Nggak suka, ya dengan kedatanganku?”
“Isssshhhhh! Ya! Aku emang nggak suka!”
“Apa? Karena aku nggak istirahat dulu?!,” tanya Arka menebak.
Felly mengangguk mantap dengan mulutnya yang mencibir. Dan Arka membalasnya dengan menepuk kedua pipi Felly pelan. Sehingga membentuk wajah Felly yang hampir sama dengan ikan gabus.
“Udah, Ka!!!,” ucap Felly manja.
“Ok! Aku akan melepaskan kamu. Tapi, jawab dulu pertanyaanku.”
“Iya-iya!”
“Sejak kapan kamu jadi penulis, Fel?”
“Oh.. itu,” ucap Felly rendah.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang ke aku kalau kamu bisa menulis, sayang?”
“Kamu nggak marah?”
“Tch! Untuk apa aku marah? Selama itu nggak ada dampak negatifnya untuk kamu, untuk apa aku marah, Fel?”
“Aku hanya takut kamu marah.”
Arka menghembuskan nafas beratnya. Kemudian, ia meraih telapak tangan Felly. Membelainya lembut dan menatap mata Felly penuh dengan kasih sayang.
“Aku tahu kamu menganggap aku lebih dari sekedar kekasih meskipun aku nggak pernah minta apapun dari kamu. Tapi, untuk kali ini aku minta sesuatu sama kamu Felly. Berikan aku penjelasan mengenai alasan kamu melakukan ini semua? Aku berharap, kamu ngelakukan ini semua bukan karena uang. Kamu tahu kan, aku nggak suka dengan orang yang serakah. Kamu ngelakuin ini bukan untuk uang kan, sayang?”
Felly terdiam dengan tetap menatap mata Arka yang tajam.
“Aku menulis, karena kamu. Arka, emang aku akuin aku workaholic. Tapi asal kamu tahu, aku menulis bukan karena uang. Aku menulis karena aku ingin kisah kita bersemayam di hati orang lain. Aku ingin kisah kita menjadi inspirasi untuk orang lain. Aku ingin…”
“Cukup, sayang. Aku udah ngerti kok maksud kamu seperti apa?,” ucap Arka setelah ia menghentikan ucapan Felly dengan jari telunjuknya yang mendarat di bibir mungil Felly.
“Jangan bilang kamu pulang dari New York ke sini hanya karena memastikan ini semua.
“Maaf…,” ucap Arka lirih.
“Kamu jahat banget sih, Ka! Apa kamu pikir di otakku hanya ada uang, uang, uang dan uang? Ka, aku mencintai kamu bukan karena kamu CEO! Aku sayang sama kamu bukan karena uang!!! Aku cinta kamu tulus, Arka!!! Tapi kenapa… kenapa kamu berpikir kalau ak cewek matre, Ka?!!! Aku berani mencintai kamu bukan karena jabatan kita berdua! Aku kerja siang malem bukan karena untuk membuktikan aku pantas untuk kamu atau nggak! Aku melakukan ini semua sesuai dengan kemauan hati aku, Ka! Bukan dengan logika aku! Okay! Aku akui aku emang cewek yang selalu mengandalkan logika dibandingkan dengan hati. Tapi, asal kamu tahu, aku mencintai kamu tidak pernah menggunakan logikau sedikitpun! Karena aku benar-benar mencintai kamu sekalipun kamu menganggap aku matre!,” ucap Felly dengan linangan air matanya dan pergi meninggalkan Arka setelah ia beranjak dari tempat duduknya.
“Felly! Felly berhenti! Sial!,” decah Arka saat Felly meneruskan langkahnya dengan air mata yang bercucuran.
“Lepasin aku, Ka!,” bentak Felly.
“Felly! Dengerin aku dulu!”
“Lepasin, Ka!”
“Okay!!! Aku lepasin kamu!!! Aku akui aku salah melakukan semua ini!!! Tapi, tolong, Fel! Ngertiin aku! Aku nggak pernah menganggap kamu matre atau apalah itu! Aku hanya ingin kamu memberikan penjelasan ke aku tentang apa yang kamu lakukan! Selam aku di New York, apakah kau pernah bilang kalau kamu seorang penulis? Nggak, kan?!!! Felly, aku tahu kamu mencintaiku apa adanya. Aku tahu itu semua, sayang!!! Aku melakukan ini semua karena aku ingin, aku adalah orang pertama yang tahu alasan kamu. Dan harus kamu tahu, sekalipun kamu nggak dapet uang dari hasil menulis, aku tetep cinta sama kamu! Aku justru senang dengerin asalan kamu kayak tadi. Aku senang kamu bisa menjadi motivasi untuk orang lain. Kalau boleh aku memilih, lebih baik kamu menjadi seorang penulis ketimbang kamu menjadi seorang model.”
“Arka…,” panggil Felly lirih.
“Aku senang kamu jadi penulis, sayang.”
“Kamu…”
“Nggak! Aku nggak pernah menganggap kamu matre!”
Felly tak menjawab. Ia hanya bisa menangis di tengah isak tangisannya. Dan hal itu, mengundang ibu jari Arka untuk menghapus air mata itu. Tapi, tetap saja Felly menangis. Hingga akhirnya, Arka meraih Felly dalam pelukannya. Ia membelai rambut Felly seraya ia mencium puncak kepala Felly.
“Aku, nggak papa kan terusin ini, Ka?,” tanya Felly dengan terisak-isak sisa tangisnya.
Arka menganggukkan kepalanya seraya ia mencium kening Felly. Lalu, ia kembali meraih Felly dalam pelukannya.
“Ayo menikah!”
“Hah?,” tanya Felly polos.
“Setelah kamu menyelesaikan studimu.”
Felly masih terdiam.
“Aku akan menyapa kedua orangtuamu, besok. Jadi, siap-siaplah malam ini. Aku akan mengantarmu pulang.”
“Tapi…”
“Ayo!,” kata Arka dengan menarik pergelangan tangan Felly untuk masuk ke dalam mobilnya.

Sesampainya di rumah Felly, Arka berpamitan pulang setelah ia melihat Felly masuk ke dalam rumahnya dengan aman.Seaman hatinya saat ia mendengar dari mulut Felly kalau kekasihnya menghendaki untuk menjadi seorang penulis. Ia merasa nyaman karena, penulis tidak perlu mengumbar senyum dan tatapan mata yang mengundang hawa nafsu. Penulis hanya cukup memberikan cerita yang indah dan penuh dengan motivasi dan amanat di dalamnya sekalipun tanpa uang. Karena menulis dengan hati, akan menjadi lebih mulia dibandingkan menulis karena uang.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 083-833-687-583. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Hati, Uang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semburat Mimpi-Mimpi Faiz

Oleh:
Mataku berbinar-binar, sangat senang mendengar rencana Masku-Mas Ardy. Aku tidak bisa berhenti untuk tersenyum bahagia. Kutatap Mas Ardy, aku sangat bahagia. Seketika Mas Ardy beringsut dari tempat duduknya, mempersilakanku

There’s a Rainbow Always After The Rain

Oleh:
00:23 Handphone ku bergetar… ternyata dia, Dalam keadaan sedikit tidak sadar, rasa itu muncul kembali membuatku terpaksa menerima panggilan telepon itu, terdengar suara sedikit serak yang sangat akrab ditelingaku

Dio Maaf, Aku Mencintaimu

Oleh:
Aku berjalan dengan semangat sambil bibir terus mengukir senyum menuju tempat pemberhentian bus di sepulang sekolah hari ini untuk menemui seseorang. Seseorang yang akan kutemui itu sudah berhasil membuatku

Seberkas Sinar Cinta

Oleh:
Aku begitu terkejut saat selembar kertas berwarna pink bunga-bunga tanpa amplop masuk ke dalam kantongku. Saat itu aku dan seorang teman baru saja pulang dari mesjid melaksanakan solat tarawih.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *