Hati Untuk Menyimpan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 September 2018

Manusia terlahir mempunyai hati, namun membutuhkan pikiran untuk mengendalikannya. Manusia juga terlahir mempunyai jiwa, namun membutuhkan perasaan untuk mengendalikannya.
Dan meskipun hati dan jiwa itu tidak dikendalikan, tetap saja tidak akan hilang, karena yang bisa menganggap hilang adalah perkataan orang lain, bukan yang terlahir memiliki jiwa dan hati itu sendiri.

Saat itu saya duduk di kelas 3 smp, memang pada waktu kelas 3 smp selalu disangkut pautkan dengan banyaknyanya ujian yang akan dihadapi termasuk garangnya UN (Ujian Nasional).
Namun bagi saya semua itu biasa saja, seperti saya menyapu halaman rumah, pegang sapu – kerjakan dan bersih hasilnya selepas itu kita bisa menikmati kebersihan itu yang kita kerjakan dengan tenaga kita sendiri.
Jika UN, pegang pensil – kerjakan dengan jujur kemudian nikmati hasilnya, sejelek atau sebaik apapun hasilnya jika kita mengerjakan dengan kemampuan sendiri itu akan membuat kesan lebih indah bagi diri kita maupun di mata Tuhan, dibandingkan nilai bagus namun itu manipulasi kinerja orang lain, buat apa?

Hari demi hari saya lalui dengan hati yang ikhlas, kejamnya teori-teori yang ada di pelajaran, rumitnya soal-soal, namun itu adalah resiko bagi saya yang memilih sebagai jalan seorang pelajar.
Di sisi lain yang dibahas para pelajar selain teori dan ujian, para pelajar lain juga membahas tentang CINTA.
Bagi saya membicarakan tentang cinta di saat memegang status sebagai Pelajar itu merupakan hal yang bodoh, di satu sisi menganggu di saat belajar di sisi lain membuang buang waktu, karena selalu berpikir tentang Cinta.

Namun di lain hal, pernyataan yang saya katakan bahwa Cinta itu Bodoh itu akhirnya sirna.
Karena pada saat itu, tepatnya liburan akhir semester 1, saya sempatkan untuk pergi liburan di Surabaya, karena pada saat saya berumur 8 tahun – 10 tahun saya sering pergi ke sana waktu libur sekolah, dan Surabaya adalah kota yang sangat indah dan kaya akan sejarah.
Hitung-hitung liburan kali ini saya gunakan untuk refreshing karena banyaknya tugas dan ujian”
Di suatu hari yang mana itu menjadi awal saya berpikir tentang Cinta, khususnya soal wanita.

Waktu itu saya mengunjungi salah satu perpustakan di Surabaya untuk membaca sebuah buku.
Setelah saya mendapatkan buku yang akan saya mau baca, saya memilih tempat agar saya bisa membaca buku lebih tenang, hanya ada satu tempat kosong yang sebelumnya sudah didahului oleh satu cewek yang juga membaca buku, yang saya lihat cewek itu serius banget baca buku tersebut, saya juga berpikir masih ada cewek yang ngeluangin waktu liburannya untuk baca buku. Cewek itu berhijab, dia memakai kaca mata yang menghiasi mata dia, saya juga tidak tahu, kenapa niat saya dari awal yang saya niatkan untuk membaca malah hilang, karena keberadaan cewek itu yang membuat saya penasaran.
Dan saya menghampiri cewek itu, “bolehkah saya duduk di sini?” ujarku
“Boleh, siapa saja boleh duduk di sini” jawabnya.

Halaman per halaman sudah di balik oleh cewek itu, buku yang tebal itu pada akhirnya sudah selesai dia baca, setelah itu dia bergegas mengambil tas lalu beranjak pergi, saya yang dari tadi memperhatikan cewek itu, malah cuek kepada buku yang awalnya ingin saya baca.

Setelah dia mau pergi, ada rasa penasaran yang membuat saya ingin menghampirinya, namun saya tidak mempunyai cukup keberanian untuk menghampiri cewek itu, lalu saya kembali ke tempat di mana saya ingin membaca buku, namun pikiran saya sudah pergi mengikuti cewek itu dan membuat saya tidak tertarik lagi membaca pada saat itu, karena di pikiran saya hanya tertuju ke cewek yang barusan pergi.

Saya juga bingung, kenapa saya begitu mudah memikirkan cewek itu, yang mana sebelumnya saya juga agak tidak peduli soal cewek, mungkin sebab dia tidak seperti cewek yang lain, yang mana ketika liburan dia hanya pergi ke perpustakaan untuk membaca buku.
Kemudian saya berniat untuk mencari cewek tersebut, beberapa jalan sudah saya lalui, namun saya tidak menemukannya.

Saya berpikir bahwa saya hanya bisa menemukannya di perpustakaan tadi, dan saya berniat kembali ke perpustakaan esok hari di waktu yang sama.

Firasatku memang benar, cewek tersebut datang kembali ke perpustakaan itu.
Tanpa basa basi saya mengajak cewek itu mengobrol, yang mana cewek itu yang membuat saya harus memikirkannya.

“Oh iya, aku boleh berkenalan dengan kamu?” ujarku
“Boleh, Namaku Atha” jawabnya
“Namaku Roy, apa kamu memang sering membaca buku di perpustakaan ini?” tanyaku
“Tidak, baru kemarin saya membaca di perpustakaan ini” jawabnya
“Lalu sekarang kamu kembali ke sini apa karena memang kamu merasa nyaman di sini?”
“Tidak juga, aku kembali ke sini karena ada seseorang yang menantiku di sini, kamu kan orangnya?” gumamnya
Saya merasa heran, bagaimana dia bisa tahu,

“Kenapa kamu bisa tahu?” tanyaku
“Aku tidak tahu, aku hanya menebak” jawabnya
“Tapi tebakanmu benar dan itu pas sekali” ujarku
“Apa yang kamu ingin tanyakan?” ujarnya
“Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan ke kamu, namun aku hanya ingin menanyakan dua yang terpenting dari sekian keinginan pertanyaan yang seharusnya kamu jawab, Apa wanita remaja harus menjadi sepertimu?”
“Tidak” jawabnya singkat.
“Apa kamu mengenal cinta dan bagaimana pendapatmu tentang cinta?” tanyaku
“Aku hanya mengenal Cinta yang diberikan Tuhan untukku dan Cinta orangtuaku dan saudara-saudaraku”
jawabnya dengan tegas
“Cinta yang sering remaja masa kini bicarakan apa kamu mengenalnya?” tanyaku kembali
“Tidak, aku tidak mengenalnya, aku hanya mendengarnya dan belajar dari cinta orang lain, menurut aku Cinta itu tidak perlu dibikin pusing, karena Cinta sejati bakal dateng tanpa harus kita rencanain” jawabnya.
“Aku selalu memikirkanmu Atha, bisakah aku mengenal cinta darimu dan kamu bisa mengenal cinta dariku?” jawabku dengan berani.
“Aku suka dengan gaya kamu, kesopanan kamu, pertanyaan-pertanyaan kamu walaupun dalam waktu singkat, namun Cinta itu hanya milik Allah kita harus bisa menjaganya dengan baik, dan jika kamu memang mencintaiku, kamu harus bisa menjadi hamba yang diCintai Allah, selepas itu kamu bisa mencintaiku” jawabnya

Saya terkejut dengan pernyataan Atha, pemikiran dia tidak ada dalam teori, namun sangat penting bagi kehidupan saya.

Hari terakhir saya di Surabaya, saya ingin bertemu dengan Atha lagi.
Di tempat yang sama yaitu di perpustakaan, saya bertemu dengan Atha lagi.

“Assalamuallaikum Atha”
“Waalaikumsallam Roy”
“Aku hari ini mau balik ke Jombang(tempat dimana saya sekolah) karena di Surabaya ini aku hanya di rumah saudara”
“Iyaa, kamu hati-hati”
“Iya, makasih ya, kamu telah memberikan kesan yang berharga tentang pernyataan kamu” ujarku.
“Jika kamu mau menjadikanku cinta sejati, cintailah Allah, kamu tidak harus pintar di sekolah untuk menjadi hamba yang dicintai Allah, namun tanamkan prinsip dan akhlak yang baik selepas itu kembalilah dan jadilah imamku suatu saat nanti, aku akan menunggumu dan mempercayaimu” jawabnya.
“Aku akan kembali setelah memang aku mampu dan bisa menjadi seperti yang kamu mau” jawabku tegas.
“Kamu seorang atlet kan? Jadikan akhlakmu itu seperti nafasmu dikala kamu sedang berlari, kamu bisa mengaturnya agar stamina kamu kuat, dan jika kamu pintar mengatur akhlakmu maka kamu akan menjadi orang yang kuat”. Jawabnya

Selepas dari itu saya selaku berpikir bahwa, menjadi hamba yang diCintai oleh Tuhan tidak diharuskan pintar teori, dan sebaliknya orang yang pintar teori akan lebih mudah melupakan akhlaknya karena kebanyakan belajar teori.

Dan setiap saya liburan, saya mungkin menyempatkan ke Surabaya untuk menemui Atha.
Dan saya selalu disambut baik oleh Atha.
Bahwa apa yang kubawa dari kota kelahiranku sampai aku bertemu dengan Atha, bukanlah teori namun Akhlak.
Sampai sekarang saya selalu mengingat kata-kata ajaibnya yang membuat saya mengenal Akhlak bukan Teori.
Yang mana sebenarnya Atha juga cewek yang pintar Teori, namun yang dikatakan pada saya, saya harus memahami tentang akhlak.

Mungkin di pikiran saya bahwa, “kita menjalani di dunia tidak perlu teori, karena teori itu ilmu pasti, dan jika di dunia bisa di pastikan bahwa hanya merupakan permainan buat mereka yang pintar teori, karena jika orang yang pintar teori menganggap dunia ini adalah permainan, maka orang itu juga menganggap Tuhan yang maha pencipta dunia yang dimainkan ini sebagai bahan mainannya”

Cerpen Karangan: Roy widya
Blog: roywidya0507.blogspot.com

Cerpen Hati Untuk Menyimpan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karenamu, Pertama Kali

Oleh:
Menangis, Dalam ringis, Saat gerimis… *** Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku mengagumi seseorang. Selama ini, yang kukagumi hanyalah para filosofi, ilmuwan, atau pun orang-orang luar biasa. Kemudian, kau

Restart

Oleh:
Kadang aku ingin pergi dan berlari dari semua masalah ini. Menghentikan sejenak aktivitas, pergi dan menjauh dari kebisingan, menghindari siapa pun lalu pergi dan sembunyi. Ingin rasanya berdiam diri

Sempat Bicara

Oleh:
Hallo, Bandung hujan lagi, siang-siang. Macet dimana-mana, pengemis di jalanan makin banyak, air got membludak, sampahnya keluar kemana-mana. Entah kenapa saya suka memperhatikan semuanya dari dalam mobil. Di luar,

Gara Gara Kotoran Kucing

Oleh:
Hai! aku Rissa. aku akan menceritakan pengalaman terlucuku. Nah, waktu itu aku dan semua saudaraku menjenguk nenekku yang sedang sakit di rumah sakit tegalyoso. Nenekku opname di ruang cendana.

Mr. Smile

Oleh:
Pagi itu, hujan membasahi kotaku yang membuat beberapa guru memutuskan untuk tidak mengajar. Begitu juga siswa dan siswinya yang mendadak meliburkan diri. Aku yang datang lebih awal sebelum hujan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *