Haztin (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 May 2017

Kali ini aku harus mencari seseorang dengan tekad yang benar-benar kuat, agar melancarkan pekerjaanku.

Awalnya itulah yang aku pikirkan, hingga aku melihat seorang gadis berjalan lambat menuju sekolahan di depan sana, gadis berambut pendek dan berkacamata itu bejalan sembari menunduk kepalanya. Wajahnya tertutup sebagian dari rambutnya, benar-benar gadis yang menarik.
Ah, dia mengangkat kepalanya.
Syung…
Deg.
Wajah kalem gadis itu terlihat dan cahaya matahari menyinarinya secara tegas, garis wajah gadis itu terlihat jelas.

Sial. Aku tertangkap basah sedang memperhatikan dia. Dia pasti akan mengangapku aneh namun dugaanku tidak tepat. Gadis itu kembali menunduk dan berjalan santai memasuki halaman sekolahnya.
Deg.
Kenapa lagi aku ini?
Aku terus saja memandang pungungnya yang menjauh, ada rasa ingin tahu yang sangat besar. Mengapa ia bersikap seperti merasa terancam?

Tiba-tiba pandanganku terbentur pada seorang cewek yang berada tak jauh dari tempatku berdiri, cewek itu lumayan cantik namun entah mengapa pesona misterius gadis berambut pendek itu tidak bisa aku hilangkan begitu saja. Ah, sial, lagi-lagi aku bersikap mengerikan seperti ini. Kalau tante tahu aku pasti sudah dijadikan bubuk.

Cewek yang berdiri tak jauh dariku itu sedang mengamati seorang cowok yang baru saja turun dari motornya, ia hanya terdiam tanpa mencoba menyapa, setidaknya meski hanya dengan melambai pada cowok itu.
Ah, benar. Kenapa aku tidak menawarinya saja?

“Kau suka cowok itu?” pertanyaanku membuat cewek itu berpaling dan menatapku dengan pandangan aneh.
“Maksud elu?”
Ah, rupanya dia orang yang popular dan tidak pernah terbiasa sendiri. Baik, ini akan mempermudah aku mendapatkan target.

“Aku hanya bertanya Karena tatapan kamu hanya terfokus pada bocah itu,” aku lalu menunjuk cowok yang sedang berjalan menjauh dari panggung yang telah aku buat.
“Lalu apa urusan lu?” cewek itu hendak berjalan meninggalkan aku namun sesegera mungkin aku menghalau langkahnya, aku berdiri tepat di depannya.
“Aku bisa membantu kamu. Aku tahu bocah itu menyukai orang lain jadi kamu merasa terancam kan?”

Aku membuka pintu dan siap-siap memberi salam ketika apa yang aku lihat di depan mataku mengangetkan aku.
Gadis berambut pendek yang aku lihat ketika mencari target di sekolah itu, dia sedang berbaring di sofa ruang tamu. Yang membuat aku syok adalah tubuh itu melebur seperti plastik habis dibakar, wajahnya bahkan tak bisa kukenali, yang membuat aku mengenali dia adalah rambutnya dan kalung yang bergelayut di lehernya.
Oh, Tuhan.

Aku terjatuh dan mundur dengan ketakutan, badanku gemetaran, peluh sudah berceceran di wajahku. Ada apa ini? Si-siapa yang membuat dia seperti ini?
Siapa? Siapa? Oh, tidak. Aku belum sempat mendekatinya, aku belum sempat berbicara dengannya. Kenapa? Kenapa?
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku benar-benar ketakutan. Tidak aku takut apa yang aku lihat saat ini adalah kenyataan.
Oh Tuhan, sadarkan aku.

“Vicky, kamu sudah pulang?,” wanita itu kini tampak menyeramkan di mataku, dia wanita yang gila.
“Ada apa? Kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu?” tante Amber berjalan ke arahku, ia meninggalkan air yang dibawanya tadi di meja ruang tamu.

Tidak. Jangan mendekat.
“Stop! Tante jangan ke sini.”

Aku merasa langkah kaki tante Amber berhenti. Dia sekarang berdiri tak jauh dariku, dengan pandangan mata yang susah aku artikan. Kutatap dia dengan penuh ketakutan.
“Kamu kenapa? Memang pemandangan seperti ini hal tabu buat kamu?” ia berjalan menghampiri tempat terbaringnya Gadis itu. “Kamu yang menuntun gadis ini hingga dia bisa sampai ke sini. Ini karena kamu, jangan menyalahkan aku.”
“Kenapa dengan gadis ini? Apa dia berharga buat kamu?”
“Sial. Jadi kamu tidak tahu? Gadis ini adalah adik dari cewek yang kamu bawa ke sini, dia adalah gadis yang ditaksir cowok tampan itu. Apa gadis itu sudah terlihat malang di mata kamu?” kedua mata tante Amber berwarna merah, dia dipenuhi amarah dan cemburu.

Dan inilah alasan mengapa aku tidak bisa lepas dari dia. Dia memang bukan keluarga kandungku tapi hanya dialah orang yang bersedia mengadopsiku waktu itu dan sampai sekarang aku tidak pernah mengkhianati sedikitpun kebaikan hatinya tapi kali ini mengapa aku merasa ingin bebas darinya? Dia gila kecantikan, usia dia sebenarnya adalah 43 tahun tetapi karena praktek magicnya ini membuat dia terlihat lebih muda seperti gadis berusia 20 tahun.

Dia tersenyum sinis ke arahku, “Kamulah penyebab cewek ini kehilangan wajahnya. Kamu penyebabnya, Vicky. Kamu gak boleh jauh dariku dan kamu gak akan bisa jauh dari aku. Hahahah..” tawanya terdengar begitu menyeramkan, ia yang berada di depanku sudah terlihat seperti nenek sihir jahat.
“Tidak ada satu pun wanita yang boleh kau cintai dan yang boleh mencintai kamu. Kamu hanya milik aku, hanya milik aku.”

Apa yang dia ucapkan itu sungguh menakutkan, aku merasa dibodohi seumur hidupku. Jadi dia yang menyebabkan aku tidak pernah mendapat kekasih? Dia yang menyebabkan semua gadis yang mendekatiku perlahan menjauh dan bahkan menghilang tanpa aku pernah melihatnya lagi? Jadi dia memang sejahat itu. Ya, tante Amber memang jahat. Dia tidak pantas membunuh gadis ini.
Tidak, dia tidak pantas.

“Dan sekarang, aku hanya perlu memandikan gadis ini, setelah itu kamu akan menemukan wajah gadis ini ada padaku,”

Dengan tekad penuh, aku bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda hendak menyerang tante Amber tapi gerakanku segera dibaca tante Amber, sebagai balasannya tubuhku terbang dan menabrak dinding kamar mandi, ruangan yang tak jauh dari ruang tamu.

“Kamu lupa kemampuan aku, Vicky? Kamu benar-benar menyedihkan.” Dia tertawa lagi dan membuat aku benar-benar jijik.

Aku mendudukkan kepala dan bersiap mengucapkan beberapa kalimat padanya, bukan matra seperti yang dia lakukan barusan padaku tetapi,

“Kamu benar, aku mencintai dia. Aku ingin berada di dekat dia, kenapa? Kamu boleh bertanya apa alasan aku bisa mencintai gadis yang bahkan tidak memiliki waktu lebih banyak untuk bertemu dan berbicara secara langsung. Kenapa? Karena dia gadis yang lembut, gadis yang berbau matahari, rambutnya berwarna coklat dan terang ketika pagi hari, dia seperti malaikat saat itu, dan benar, dia memang malaikat.”
“Tidak ada yang bisa mengentikan aku untuk mencintai dia, sekalipun tante Amber, sekalipun kamu memiliki kekuatan magic.”
Tante Amber berdiri terpaku dan menatapku. Wajahnya memerah, kedua matanya dipenuhi air mata. Dia sudah sadar akan kesalahannya
“Kamu tidak akan pernah bisa memaksakan perasaan aku. Aku benar-benar mencintai gadis ini, aku tidak peduli jika itu harus membuat aku pergi mengikuti keluargaku. Aku tidak keberatan untuk mengantikan dia, agar dia tetap hidup.”

“Cinta memang butuh pengorbanan. Aku sekarang mengerti, mengapa kamu bersedia mengasuhku saat itu, sekarang aku mengerti kenapa kamu bersedia mengajarkan aku membaca dan tak mau membawaku memasuki sekolah, aku mengerti kenapa kamu ingin terus menjadi cantik hingga melakukan praktek Leluhur kamu. Tapi ada yang tidak bisa kamu lakukan dengan wajah cantik itu, kamu tidak bisa mengubah hatiku sekarang.”

Air mata di wajahnya benar-benar berhambur keluar dengan deras.
“Maaf. Maafkan aku, tante Amber. Tapi selamanya aku akan menganggap kamu sebagai keluargaku.”
Tiba-tiba ada asap putih di depanku, menghalangi pandanganku. Ada apa ini?
“Tante Amber.” Aku meneriaki namanya berulang kali tapi tak ada sahutan.
Aku berusaha menerobos asap tebal di hadapanku. Dan yang kudapati adalah tubuh Gadis itu sedang diselimuti dan wajahnya sudah kembali seperti sedia kala. Apa?
“Tante Amber. Tante Amber.” Aku berteriak frustasi
Tidak. Tidak. Aku tidak bermaksud membuat kamu pergi. Tidak, hanya kamu keluargaku, hanya kamu orang yang akan menerimaku.
“Tante Amber. Jangan tinggalkan aku, tante…”

Tiba-tiba seseorang menarik tanganku, aku melihat ke bawah dan mendapati gadis itu sudah tersadar.
“Apa aku di surga?”
Dan pertanyaan itu membuat aku menangis, aku terjatuh ke lantai dan menangis sekuatnya. Apa yang aku perbuat? Mengapa tante Amber harus pergi? Kembali tante. Kumohon!!
“Kenapa menangis?” gadis itu lagi-lagi bertanya. Ia menatapku dengan rasa iba, entah mengapa aku ingin dipeluk, aku ingin menghilang saat ini.

“Bolehkah aku memelukmu?”
Kedua mata gadis itu membelalak kaget, namun terlihat sangat nyaman ketika menatap ke dalam telaga bening itu. Aku benar-benar mencintai gadis ini.
“Bolehkan aku memelukmu?” gadis itu mengulangi pertanyaanku. Wajahku memanas, jantungku berdegup, aku memang mirip cewek ya?
Kedua tanganku merai kepalanya dan memeluknya. Rasa nyaman mulai merasuki tubuhku, suhu panah gadis ini menyamai suhu tubuhku.

Tante Amber, maafkan aku, aku benar-benar mencintai gadis ini. Entah sekarang kau ada di mana, jangan pernah meninggalku lebih jauh. Tetaplah menjadi malaikat pelindungku.
Terima kasih, Tante Amber. Sudah memberiku kebebasan.

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: bungasaljuindah.blogspot.co.id
Hallo, seperti janjiku. HAZTIN muncul nih.
Pada Cover itu karakter untuk Tante Amber, Haztin dan Vicky.
Enjoy Reading yaa.
Tetap nantikan Kelanjutannya yaa.
Kalau ingin bertanya, boleh saja.
Terus dukung aku yaa, agar aku tetap semangat menulis.
Terima Kasih

Cerpen Haztin (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Tiga tahun berlalu. Selama tiga tahun itu terangkum semua kehidupan yang kujalani saat tiga tahun yang lalu. Dari mulai aku bertemu dengan dirinya sampai aku berpisah dengan dia. Vinza

Putri Naswa

Oleh:
Pada zaman itu ada seorang putri naswa yang buruk rupa,hingga pada suatu hari dia bermimpi bertemu seorang pangeran “cantik kemarilah!”katanya sang putri melihat kekanan kiri,tidak ada orang selain ia.

Fobia Kamu (Part 2)

Oleh:
Aku cerita tentang pertemuanku dengan Erlangga di koridor kampus pada Candika. Candika tertawa mendengar ceritaku. Aku manyun. “Hahaha.. lucu banget..” ucapnya “Apanya yang lucu aku kan malu..” ucapku “Ya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Haztin (Part 2)”

  1. danisa says:

    Ini part 1 nya ga ada apa gimana ?

    • moderator says:

      Baca yang keynes (Part 1) di list cerpen yang udah dipublish dari penulis, penulis kayaknya memang sengaja pake judul yang berbeda untuk setiap partnya… nanti part 3 nya juga judulnya beda lagi kalo gak salah… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *