He (The Wall)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 17 November 2018

“Kota ini masih tetap sama”, ucapnya dalam keheningan kami.
“Yep, tidak ada yang berubah”, jawabku. Masih tetap memandangi jalanan perkotaan, menyeruput secangkir coffee latte hangat di tanganku.
“Begitu juga kamu”, dia menatapku dan tatapannya penuh arti.
Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya.

“Dan perasaan ini masih tetap sama. I still like you, Naf”, lanjutnya masih dalam posisi yang sama.
“Jangan memulai, Joe”, aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Bola mata hijau indah yang pernah membuatku jatuh. Dia memiliki tatapan yang tajam, yang wanita manapun akan tertarik padanya.

Dia menyunggingkan seulas senyum padaku, manis. “Apa bentengmu masih tetap kuat? Atau telah ada pria lain yang berhasil mengahancurkannya?” tanyanya padaku.
“I won’t let any guy to break it”, jawabku meyakinkannya.
“You are still gorgeous”, dia menyesap secangkir cappucciono latte pesanannya dan kembali memberikan senyum manisnya padaku. Hatiku berdesir. Dia masih tetap sama. Tampan.

“Aku berharap masih ada jalan untuk kita berdua dapat memiliki apa yang kita mau. I still want you be my girlfriend. Tapi aku tidak ingin berada di antara kamu dan prinsipmu”, ucapnya kembali.
“Lalu apa yang kamu mau?”, tanyaku penuh arti.
“Kamu”, jawabnya singkat. Aku pernah mendengar jawaban yang sama, tepatnya 2 tahun lalu sebelum dia memutuskan memilih NYC.

“I like your mind more. Tapi, bentengmu terlalu kuat untukku. I meant to say, I don’t want you to change for me. Aku lebih suka kamu dengan prinsipmu, Naf”, jelasnya padaku.
Aku menarik napas dalam. “Kita pernah membicarakan ini sebelumnya, Joe. Dan jawabanku masih tetap sama. Let’s be friend, it’s better for us”, jelasku. Aku hanya tidak ingin goyah meskipun pria itu adalah dia yang aku cintai. Ya, perasaanku masih tetap sama.

Joe Tanner Patrick… laki-laki berdarah Jerman-Amerika yang besar di Indonesia memang memiliki ruang sendiri di hati ini. Meskipun aku tidak tahu apa perasaan ini. Apapun itu, tetap ada benteng di antara kami. Benteng di antara dua insan manusia yang memisahkan cara kami bersyukur kepada Sang Pencipta.

“So, How’s NYC?”, tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan kami. Aku hanya ingin dia datang dengan obrolan masa depannya, bukan dengan masa lalu yang pernah kami lewati dulu.

Cerpen Karangan: Seila Nafisa
Blog / Facebook: Seila Nafisa Nastiti

Cerpen He (The Wall) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kota Mati

Oleh:
Udara ini berubah di kota mati Seperti kisah masa lalu Kini membisu Sialan. Sebuah lagu terputar di handphone kunoku. Lagu yang sudah setahun belakangan ini kuhindari. Iya, lebih baik

Kepastian Cinta

Oleh:
Mengenal cinta tidaklah mudah, apalagi memahaminya. Sangat sulit sekali. Di masa depan, di mana tak seorang pun tahu apa yang terjadi pada kemudian hari. Semua hal yang penuh dengan

Me And You

Oleh:
Tak disangka aku menangis tersedu-sedu saat ku tahu orang yang ku sayangi akan pindah sekolah dan kita tidak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya. “Dion, apa kamu benar-benar akan

My Stepbrother

Oleh:
Senyuman terus terpancar di wajah seorang wanita dengan balutan gaun berwarna pastel yang berdiri dengan anggun bersama pria pujaannya, wanita yang masih terlihat cantik di usia yang tak muda

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *