Hening Yang Indah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 June 2017

Aku larut dalam lamunan heningku yang indah. Indah dalam hening itulah yang aku lamunkan. “Ayo pergi” ucap seseorang yang membuyarkan lamunan indahku.
“Kau melamun lagi baisotei-chan?” Tanya yamashita-chan yang membesarkan bola matanya. “Hmm, sedikit” jawabku yang tersenyum tipis.

Kenangan, aku tak punya kenangan indah dengannya. Tak ada satu pun kejadian yang membuatku terus mengingatnya hingga menggoreskan senyuman. Tapi dalam lamunan panjangku dia adalah pacarku. Dalam lamunanku, aku dan dia selalu bersama setiap hari ketika di sekolah. Kalau saja lamunanku itu menjadi nyata, aku mungkin gadis paling beruntung bisa menjadi pacarnya. Aku ingin nama “kaoru sekigawa” ada di status bbmku, aku juga ingin nama “namika baisotei” tercantum pula pada status di bbmnya. Namun yang paling aku inginkan itu adalah merasakan keindah dengannya dalam hening.

Aku melirik arloji di tanganku.
“Neechan (panggilan untuk kakak perempuan) baru jam 06:10” kataku yang berdiri di depannya yang sedang terduduk pada sepeda motor.
“Tak apa, kau jadi orang pertama yang datang ke sekolah” jawab neechan dengan tersenyum.
Aku mengangguk dengan memajukan bibirku. “Hati-hati neechan” ucapku dengan wajah yang agak memperingatkan.
“Ya” neechan mengangguk.

Kali pertama setelah aku menjadi siswa SMA, aku menjadi siswa pertama yang hadir di sekolah. Entahlah, tapi aku tak lagi menyukai datang sangat pagi seperti ini. Aku lebih suka datang pagi, namun bukan berarti sepagi ini. Hening sangatlah hening. Dingin, ya udaranya sangatlah dingin sampai menusuk dadaku. Arloji di tanganku kembali kulihat “06:12” baru 2 menit berlalu. Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat ini, tak ada siswa lain yang sudah datang. Hanya ada ibu kantin yang terlihat dengan motor matiknya membawa dagangan.

Aku berjalan mengitari sekolah. Maksudnya adalah agar waktu berlalu terasa cepat, namun aku tetap mempercepat langkahku sehingga waktu tetap terasa lama. Sekolah yang begitu luas terasa sempit, tak butuh waktu lama untuk menjelajahinya. Kini kantin yang biasanya dipenuhi banyak siswa yang mengantre untuk mendapatkan makanan bukan lagi tempat yang penuh dengan kebisingan, kini hanya hening dan kosong. Di tempat inilah setiap hari ketika aku duduk di bangku kelas sepuluh aku dengan leluasa memperhatikannya dari jendela kelas. Melihat langkah pelannya yang membuat bibirku tersenyum. Aku tak khawatir waktu istirahatku terbuang lama, yang terpenting bisa melihat sosok tampannya tanpa beranjak keluar kelas.

Kini beberapa permen telah berada di genggamanku. Kusimpan di saku kecil yang ada di tasku. Tas yang kosong, hanya ada satu buku yang tinggal. Hari ini adalah hari dimana akan diadakan tes olahraga untuk kelas sebelas. Dunia memang berputar begitu cepat, rasanya aku masih duduk di lapang basket memperhatiknya yang sedang menyampaikan puisi ketika MPLS. Dia tetap ada dalam hati, tercantum bagai tulisan dengan spidol permanen, tak terhapus dengan waktu.

Kini aku berjalan kembali, menikmati permen manis yang ada di mulutku. Aku tak lagi ingin berjalan menelusuri sekolahan yang luas, aku ingin duduk di kursi yang sedari tadi aku rindukan. Aku berjalan, tak terburu-buru seperti saat menelusuri sekolahan. Aku berjalan lurus, seseorang muncul dari lorong kecil yang ada di depanku. Aku dan dia berjalan bersamaan. Dia di depanku dan aku di belakangnya, kami seperti punya barisan tertentu. Ini adalah yang aku inginkan indah dalam hening.

Aku ingin berkata “kenapa datang sepagi ini, bukankah biasanya kau selalu datang terlambat?” “Apa ini takdir?” “Kenapa kita bertemu di waktu sepagi ini dan di suasana sehening ini?”. Jika kebetulan, maka tuhan telah membuat rencana sedemikian rupa untuk membuat aku dan dia berjalan berdua di tempat ini menikmati hening yang indah. Aku ingat beberapa kali aku sengaja ingin berjalan di belakangnya, tapi itu sulit terjadi. Ada saja gangguannya, temannya atau temanku yang menjadi parasit.

Mataku hanya terfokus pada pundaknya. Rambutnya yang dicukur rapi sisi kiri dan kanannya, bagian tengah agak panjang sungguh membuatnya semakin tampan. Di belokan, dia menyadari aku ada di belakangnya, dia agak mempercepat langkahnya. Aku pun mempercepat langkahku, sengaja aku membuat sepatuku berbunyi agar dia memperlambat langkahnya. Tapi ternyata tidak berpengaruh. kami berjalan seperti di pasar tetap terburu-buru. Batinku terus berkata. “Cintai aku seperti yang aku lakukan padamu” tanganku yang tadinya beku karena hawa dingin menjadi panas seperti ada energi tertentu yang memanaskan. Seakan ada sentuhan yang membuat tubuhku tak lagi kedinginan. Hanya sekedar melihat tubuh belakangnya aku amat senang, semua rasa dingin hilang secepat petir menyambar.

Aku membelokkan badanku membuka pintu dengan agak kasar agar timbul suara yang memecah keheningan. Dia berjalan lurus, menghiraukan suara pintu yang berbunyi. “Tak inginkah kau menengok ke arahku?” Tanyaku dalam hati yang berjalan menuju ke depan kelas. Sungguh, aku ingin tetap berjalan ribun mil dengannya. Walau ia mempercepat langkah, aku akan mengikutinya dengan cepat pula. Aku tak akan melupakan barisanku yang sejajar dengannya.

Aku dan dia berada di ruangan yang berbeda. Namun tubuh tingginya masih bisa dengan mudah kulihat. Aku berjalan terus, tak duduk di kursi yang sedari tadi aku rindukan. Berjalan di ruang kosong mencari tempat yang pas untuk melihatnya dengan jelas. Entah kebetulan atau tidak, tapi dia pun tak diam atau duduk di kursinya. Dia berjalan seperti yang kulakukan. Walau kami dipisahkan jarak, namun aku masih bisa dengan mudah melihat matanya yang mencari potretan sesuatu yang menunjuk ke arahku. Mata kami saling bertemu, aku dan dia tetap berjalan di ruang masing-masing. “Oh tuhan, inilah lamunan indahku dan ini pun nyata” batinku dengan berjalan pelan menatap matanya menerawang melewati 2 kaca. Saling berjalan, namun mata kami tak pindah satu inci pun dalam beberapa sekon.

Aku menghidupkan lagu yang ada di smartphoneku. Lagu favoritku yang terputar ketika menonton drama korea yang berjudul “Descandants of the sun” masing-masing berjudul always, this love dan you are my everything. Suasana hening dengan lagu indah yang berputar menjadi semakin mengindahkan suasana hatiku. Aku pernah membaca cerpen karya “Renita Melviany” yang berjudul “*Andaikan* Kata Terhoror” ternyata lamunanku nyata tak seperti andai-andai dalam cerpen itu yang tak pernah menjadi nyata.

Kini hanya kepala dan rambutnya saja yang terlihat. tidak tidak lengannya juga masih bisa kulihat, lengan yang sedang memegang handphone. Ada sedikit rasa sakit, dia pasti sedang menghubungi pacarnya. Tapi itu tak mengurangi bahagiaku karena lamunan nyataku. “Suatu hari nanti” kataku pelan. Suatu hari nanti akan ada adegan yang mirip dengan hari ini, namun dengan hati yang tak lagi bertepuk sebelah tangan. Air mata ternyata tetap jatuh, walau hanya beberapa tetes. “Nanti kau tak akan mempercepat langkahmu, kau justru akan menggenggam tangan dinginku dan menghangatkannya. Kau tetap memegang handphonemu tapi untuk menghubungiku” ucapku pelan yang mengusap air mata yang mengalir di pipi dengan lembut.

Lamunan yang menjadi nyata. Walau tak nyata sepenuhnya, karena ada adegan yang terganti dengan adegan yang nyata. Aku tak menyesal banyak melamun tentangnya, setiap saat. Lamunan selanjutnya akan terwujud suatu hari nanti dengan begitu nyata. Indah dalam hening, ya itulah yang selalu jadi lamunan yang paling aku impikan. tanpa permisi tuhan telah membuatku merasakannnya. Indah dalam hening, membuat bunga hatiku mekar.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Hening Yang Indah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Lebih Memilih Setia

Oleh:
Pikiranku kembali menerawangi langit dikala senja. Ya, karena aku adalah gadis pengagum senja. Dan senja bagiku adalah teman sejatiku disaat aku kehilangan teman nyataku. Sesekali aku melihat deburan ombak

Peri Cintamu

Oleh:
“Sampai kapan hubungan kita akan backstreet terus, Qory?” “Aku.. Aku..” Aku pun menangis dan memejamkan mata erat–erat. Kurasakan sebuah pelukan hangat Steven. Kini, aku menangis dalam pelukannya. “Aku tidak

Lagu Cinta Untuk Cherrie

Oleh:
Dentingan piano terdengar indah di ruang tamu ku yang tidak terlalu besar. Mengalun mengiringi sebuah lagu dari bibir mungil ku, “I’ll be on your side, whenever you need me

Ternyata Aku Salah Mencintaimu

Oleh:
Tepat pukul 07:00 jam deringku berbunyi, rasanya sangat malas sekali untuk membuka mata, tapi sangat tidak mungkin jika aku melanjutkan tidurku, karena aku juga harus beraktivitas pagi ini. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *