Her Password

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 26 December 2015

Hei passwordmu apa?
Aku hanya penasaran.
Apakah nama Adikmu?

Yura mulai menyumpal telinga dengan earphone Tosca favoritnya, kemudian tenggelam dalam semua lagu yang ada di playlist. Langkahnya perlahan saja, seolah jika langit akan runtuh pun langkah itu akan tetap seperlahan itu. Langkah ringan seperti seorang penari yang menarikan tarian yang menggunakan beat dengan sangat pelan. Yura bahkan tidak mendengar sebuah langkah tergesa mendekatinya. Oh sadarlah, yang sekolah di sini bukan hanya dirinya, apalagi sekarang jam pertama hampir dimulai, jadi lorong-lorong koridor akan sangat ramai. Langkah perlahan itu berhenti tepat ketika kaki kanannya menjejakkan ke anak tangga yang ketiga.

Berhenti atau tepatnya dipaksa berhenti oleh sebuah seruan tergesa yang memudarkan kenikmatan bawah sadar Yura saat mendengar lagu. Ketika berbalik didapatinya seorang pria jangkung yang seperti orang kehilangan napas. Jadi masih ada waktu untuk melepas earphone secara perlahan, “kau lihat Hyemi tidak?” Oh ayolah, pria ini hanya berlari untuk menanyakan sesuatu yang bahkan tidak penting, ah ralat, sangat-sangat tidak penting. Keberadaan kekasihnya. Apa pentingnya itu? Setidaknya apa pentingnya itu untuk Yura?

“tolong ya Park Chanyeol. Aku bukan tipe mesin pencari serba guna yang tahu dengan jelas di mana letak semua orang. Dan aku tidak mengantongi kekasih tercintamu itu”
Chanyeol mendengus mendengar penuturan Yura, sebelum akhirnya kembali berlari, seperti orang yang kehilangan jam tangan, dan bahkan dengan t*lolnya pria itu melongok tong sampah, memang kekasihnya adalah jenis potongan ayam goreng yang tersisa karena tidak termakan?

Ya setelah Chanyeol berlari, dan Yura rasa ia mendapat tontonan memuakkan, jangan lupakan pemuda yang berada di belakang Chanyeol. Yah sebut saja dia oh Sehun semacam kloning Chanyeol hanya saja lebih dingin, sedingin es balok. Bodoh bagaimana ia bisa lupa jika ada Chanyeol selalu ada Sehun. Pemuda yang sedikit lebih pendek daripada Chanyeol -hanya beda sekitar 10 senti. Pemuda dengan rambut hitam dengan model tataan, hm, Yura tak tahu dengan jelas apa namanya, hanya saja pemuda itu selalu keren dengan varsity navy hitam yang membalut baju seragamnya.

Ah sungguh rasanya Yura ingin pingsan sekarang juga, karena pemuda rupawan itu mulai berjalan ke arahnya, ia menutup mata dan mulai merapal doa, seperti paranormal yang sedang mengusir makhluk halus dari suatu tempat. Yah Bodoh memang. Ketika membuka mata jelas saja pemuda itu lebih dekat ke arahnya. Gadis dengan rambut cokelat terang itu mulai mengerjap-ngerjapkan mata, “hei, jam pertama sudah akan dimulai. Kau mau tetap jadi patung di sini?”

Tuhan biarkanlah ia menjadi asap sekarang, ah sungguh dia akan selalu kabur jika Sehun dalam radius penglihatannya, bukan apa-apa. Jika berdekatan dengan Sehun kakinya selalu terasa seperti agar-agar yang bahkan tidak sanggup menopang berat badan sendiri. Sebelum berucap bahkan Yura sempat-sempatnya merapal doa agar ia tetap kuat berdiri sambil berbicara dengan pemuda ini, walaupun pada akhirnya ia tetap merasa seluruh pori-porinya mengeluarkan keringat dingin.

“ya aku akan jalan sebentar lagi, jangan khawatir. Aku tidak akan telat.”
Ah bicara apa dia barusan? Jika waktu dapat diulang ia akan mengulang beberapa detik itu. Bahkan si pemuda menatapnya dengan aneh. Oke bunuh saja Yura sekarang, ia tak punya muka lagi untuk bertemu dengan pemuda itu, memang siapa dia minta dikhawatirkan oleh orang sepopuler oh Sehun? Tak tahu malu.

“aku tak mengkhawatirkanmu. Jadi jangan ge-er.”
Ah jedotkan saja kepala Yura ke dinding sekarang juga. Bahkan dia yakin sekarang mukanya sudah menjadi merah padam karena menahan malu. Kata-kata Sehun selalu menyakitkan jadi memang apa yang membuatnya menjadi ceplas-ceplos di depan pria dingin ini.

“sudah ah aku ke kelas duluan, kalau mau bersama jaga langkahmu tetap di sampingku.”
Apa itu barusan? Ajakan untuk pergi ke kelas bersama? oh tak akan ada wanita yang akan menolak ajakan itu terlebih Yura, jadi ia mensejajarkan tubuhnya di samping Sehun, lalu menyumpal kembali telinga dengan earphone dan kembali mendengarkan lagu yang mampu meredakan degup jantungnya yang tidak karuan.

Hingga di depan pintu tak ada satu pun kata yang mengudara. Bahkan sekedar percakapan ringan tentang mata pelajaran tertentu. Dan ketika membuka kelas semua mata langsung tertuju pada dua orang yang masuk kelas berbarengan itu. Seluruh mata berubah pandang menjadi menyelidik. Siapa juga yang tidak akan curiga bila dua orang yang tidak terlalu dekat memasuki kelas bersamaan bahkan bersebelahan. Pekikan pertama itu ke luar dari mulut Chanyeol yang berisik. Mulutnya selalu merepet seperti burung seriti kurang makan.

“yak! Kalian berdua jadian?! Kenapa kau tidak bilang-bilang albino!! Kenapa langsung go public?!”
Dan selanjutnya pekikan memekakan yang tak kalah berisik dari apapun. Sudahlah biar saja Sehun yang meredakan ledakan kejut itu, jadi Yura langsung melenggang ke arah selatan tempat duduknya. Dan oh lihatlah Hyemi yang memandangnya penuh selidik. Gadis itu pasti merasa mendapat mangsa empuk yang tidak dapat berbohong.

Saat Yura menghempaskan bokong ke arah kursi, Hyemi mulai berbisik, bisikan yang lebih terdengar sebagai sebuah teriakan, “hei, Yura kau benar-benar jadian?” Bahkan gadis dengan rambut cokelat terang itu hanya menjawab dengan menggeleng, Hyemi tak sempat bertanya lagi karena guru song sudah masuk dan mulai membuka kelasnya.

Ku beri tahu tak semua orang yang menanyakan hal pribadi kepadamu seperti ‘kau pacaran dengan si A?’ atau ‘kau kapan menikah?’ mereka tak benar-benar peduli, justru mungkin jika kau benar-benar menikah mereka ada dalam list yang hanya dikabari lewat sosial media. Mereka bertanya hanya untuk mendapatkan bahasan untuk bercakap-cakap atau bisa jadi saja mereka hanya para lintah penggunjing urusan orang lain. Jadi Yura amat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan kawan-kawannya.

Lima menit berlalu dalam hening. Ya, setidaknya tidak ada yang berbicara selain guru song. Sayang sekali kesenangan Yura tak berlangsung lama.
“hei Yura lihat ke arah Sehun, jangan menjerit atau apapun, kunci mulutmu..”

Bisikan di belakang Yura jelas suara Hyemi. Dengan ogah-ogahan Yura menolehkan kepalanya tepat ke arah Sehun. Ah Tuhan yang benar saja. Ini sih sesuatu hal yang aneh bukannya kemajuan. Sehun menatap lurus ke arahnya. Apa jangan-jangan ia lupa membersihkan kotoran mata pagi ini? Oh mustahil tadi pagi ia jelas jelas sudah membersihkan itu saat mencuci muka dengan sabun. Atau kotoran hidung? nah yang itu bisa saja! Ah gawat bisa semakin tidak punya muka dia di hadapan Sehun -setelah tadi pagi mengeluarkan statement dikhawatirkan.

Jadi dengan perlahan ia mengeluarkan cermin rias yang berpadu dengan bedak padat andalannya, yah tidak mungkin kan ke luar di jam guru song yang tak berperi kemanusiaan itu? Jadi ia mulai menumpuk buku di depan wajah memastikan bahwa apapun yang ia lakukan di balik buku tidak tampak dengan jelas. Lalu mulai menunjukkan tampang aneh saat sedang mencari kotoran hidung, ditelaah seluruh sudut. Bahkan ia tak menemukan barang setitik pun kotoran di lubang hidungnya. Gadis itu mendengus, “kau Bohong tak ada kotoran di hidungku!”

“memangnya siapa yang bilang ada kotoran di hidungmu?”

Keluhan polos yang ke luar dari celah bibir Hyemi membuat Yura menjedotkan kepala ke arah meja, iya juga, memang kapan Hyemi menyerukan bahwa Sehun mengamati kotoran hidungnya? Bodoh. Membiarkan delusi yang terbayang di otaknya menjadi kenyataan dan memberitahukan kepada orang lain, ekor mata Yura memandang ke arah Sehun, dan tepat seperti dugaannya pemuda itu masih memandangnya.

“ku beri tahu. Dia melihat lurus ke arahmu dari tadi tahu, saat guru song mulai berkata.” Suara bisikan dari belakang muncul lagi jelas itu Hyemi -lagi. Yura mendelikkan matanya.
“yang itu aku juga sudah tahu, memangnya kau kira aku Bodoh.” Keluh protes itu mengudara dengan cepat. Hyemi memberenggut di balik buku sejarah dan mulai membuka mulut lagi.
“dan ku rasa dia menyukai mu.”
“mustahil.” Ucapan optimis Hyemi dipotong rasa skeptis di benak Yura. Oh sadarlah kawan, skeptis dan pesimis adalah penyakit kronis seluruh umat manusia. Bukan apa-apa sikap itu nyata-nyatanya sebagai tindakan yang mendahului nasib. Dan semua manusia punya perasaan itu. Sepositif apapun pikirannya.

Jika tak kuat iman, mungkin Yura sudah pindah sekolah sejak ia menjejakkan kaki di lantai kelasnya ini. Kelas 2 SMA kata orang masa yang membahagiakan, oh sadarlah bagi Yura tidak sama sekali. Bukan tidak sama sekali sih, hanya saja kelas ini mungkin sangat keterlaluan jika sudah solid terlebih anak lelaki. Mereka akan solid ketika ada ujian -contek-menyontek tentu saja. Dan akan lebih solid saat mengerjai murid lain, tak akan cukup hitungan jari mereka menjahili satu sama lain. Herannya tak ada yang pernah marah berlebihan bila dikerjai, dan anehnnya lagi Yura selalu merasa senang berada di tengah pusaran hawa positif -menjurus ke arah berisik, kelasnya. Walau, ya hanya dia satu-satunya gadis yang sering dikerjai.

Contoh sederhananya siang ini, saat kembali ke kelas sambil menenteng kain pel dan ember berisi ramuan air dan karbol pembersih lantai. Jika tak ingat harus piket sendiri karena teman kelompok piketnya melarikan diri sehabis bel pulang berdering tanpa pamit sama sekali, mungkin jika ia tak ingat itu ia sudah menjinjing tas dan pulang meredakan pening yang diakibatkan oleh terlalu melihat banyak barang.

Sungguhan kesal. Kesal tak terhingga, tak berlebihan. Lihat saja kelasnya yang lebih mirip kapal yang karam karena karang. Bangku dan meja yang sudah berpindah posisi, beberapa bahkan jatuh di lantai, papan tulis yang tergeletak di lantai, Styrofoam struktur kepengurusan kelas yang melayang di depannya sampah yang bertebaran, dan yang paling mengesalkan. Tasnya terpajang rapi -disangkutkan di paku, tepat berada di sebelah poster rumus Pythagoras.

Jika yang melakukan ini semua Kris, lihat saja pemuda china itu. Yura tak akan malu untuk menaruh ayam goreng korea di kotak bekalnya, atau jangan hanya menaruh tapi juga mengganti bekal pemuda wu itu dengan ayam goreng korea. Jika ia Baekhyun lihat saja mungkin Yura akan merubah isi eyeliner cairnya dengan tinta spidol permanent. Jika itu Chen, oh lihatlah Yura bahkan tak akan segan-segan untuk memutilasi bebek karet kuningnya. jika orang itu Hyemi.. oh tunggu tak mungkin Hyemi, itu impossible jika kekasihnya mungkin saja. Ya itu bisa saja Chanyeol pemuda Park itu. Bisa saja.

Walau di antara recana balas dendamnya, yang harus ia lakukan sekarang sebenarnya adalah mengambil tasnya dari ketinggian. Dan jadilah gadis itu mangesampingkan siapa pun pelakunya hari ini itu bisa diurus nanti, dan tentu saja gadis itu lebih memilih untuk menyelamatkan tas yang ia asumsikan takut ketinggian. Dan karena -lagi. Tinggi badanya adalah tinggi rata-rata anak perempuan di kelasnya -tinggi Yura hanya 149 cm. Maka Yura harus menaiki meja yang susah payah ia dorong dari seberang ruangan untuk mengambil tasnya, dan ia masih harus berjinjit, tetap saja akhirnya ia tetap tak sampai, walau sudah mengulurkan tangannya setinggi mungkin, sampai pegal sendi-sendinya.

“hei mau ku bantu?”

Suara bariton itu. Entah sejak kapan kaki Yura sudah berubah menjadi agar-agar, tapi tetap saja Yura mengunci mulut rapat-rapat, enggan membalas perkataan yang membuat kakinya tak kuat menahan berat badan sendiri. Jadi ia hanya mengabaikan dan kembali fokus pada misi menyelamatkan tasnya yang masih terdampar di atas sana. Suara bariton tadi jelas-jelas kepunyaan Sehun, dan Yura mengabaikannya. Kemajuan!

“Yura-ya aku bisa melihat apa yang ada di balik rokmu itu, ternyata selama ini warnanya putih.”

Sialan!

Ternyata pria dingin juga punya pikiran mesum! Jadi Yura buru-buru mendudukkan diri di atas meja. “bisa tolong ambilkan?” Suaranya terdengar parau, dan ia memandang penuh harap, sebenarnya tidak melakukannya pun Sehun akan tetap mengambilkan tas itu. Pemuda itu bahkan sedikit mengukir senyum, tahu tidak? Seram juga ternyata melihat orang yang tidak biasa tersenyum tiba-tiba mengukir senyum ya walau hanya senyum tipis. Senyum tipis Sehun manis juga.

“sudah sana awas aku mau naik.”

Jadi Yura menurut dan menyingkir dari atas meja, pria itu mulai menaiki meja dan mengambil tas navy-nya dengan mudah, seingat Yura tak ada perjanjian soal pemuda itu boleh membuka tasnya dan mengambil ponselnya, jelas tertera di sana senyum kemenangan, jemarinya mulai bergerak di atas monitor layar sentuh dengan sekejap saja senyumnya surut, ponsel itu menggunakan kata sandi. Oh tentu saja. Yura selalu berjaga-jaga terlebih teman-temannya sedikit yang bisa dipercaya memainkan ponselnya.

“kata sandinya apa?
“tidak tahu.”
Pemuda itu berdecih lalu mulai mencoba mengetikkan berbagai kata seperti ‘namsan’ ‘han Yura’ bahkan kata ‘tidak tahu’ pun ia coba tapi tak satu pun berhasil. Dan pemuda itu menyerah, memangnya pemuda itu sungguh-sungguh ingin tahu apa isi ponselnya begitu? Bahkan saat pemilik ponsel itu berusaha mengambil haknya Sehun justru mengangkat lengan tinggi-tinggi.

“biar ku tebak!”
“margamu apa?”
“han.”
“nama Adikmu?”
“aku tidak punya Adik.”
“nama Kakak mungkin?”
“aku anak tunggal.”
“film favoritmu?”
“apapun itu yang penting marvel!”
“itu kan film animasi!”
“tetap saja film.”

“oke, nama anjingmu?”
“aku alergi bulu hewan.”
“kartun favoritmu?”
“apapun yang ada hamsternya ”
“lebih suka boneka atau bunga.”
“lebih suka cokelat.”
“kalau kencan lebih baik sabtu atau minggu?”

Hei! Hei! Hei! Apa ini bagian dari acara menebak kata sandi?
“Lebih baik melihat ramalan cuaca dulu.”
“sabtu atau minggu?”
“Minggu.”
“lebih suka jalan-jalan di taman hiburan atau kota?”
“tergantung yang mengajak.”
“kalau aku yang mengajak?”
“jalan-jalan di kota.”
“oke. Sudah diputuskan. Kita akan ke luar akhir minggu ini.”
“eh?”

Apa itu barusan? Ajakan kencan? Sungguhan kah?

“kurang jelas? Minggu ini kita kencan jalan-jalan di kota dan mungkin beli bubble tea juga. Selamat membereskan kelas. Jangan lupa beritahu aku passwordnya saat kencan ya.” Hanya itu yang Sehun katakan sebelum menyandang tasnya dah ke luar dari kelas dengan senyum lebar. Dan meninggalkan Yura yang mematung Sambil meremas ponselnya. Ah Sehun terus berterima kasih pada Chanyeol idenya sangat bagus. Walau Sehun sedikit berinovasi. Inovasi yang melelahkan.

The End

Cerpen Karangan: Tetelan
Facebook: https://www.facebook.com/asma.taqiyya.3
Menulis adalah napas, dan saya akan berusaha untuk terus menulis.

Cerpen Her Password merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secangkir Kopi (Alone 1)

Oleh:
“Mas?” Percuma. Iya, sangat percuma aku memanggilnya. Menyebut namanya dalam pesan singkat yang entah sudah berapa kali aku kirim. Ada sesak yang tidak terbayangkan. Sakit, sangat pedih dan aku

Pesan Tersimpan

Oleh:
Perkenalan aku dengan dia bermula saat aku mencoba mendaftar sebagai admin di salah satu sosial media. Awalnya aku tidak menyadari bahwa dia juga ikut, bahkan aku juga belum mengenal

It’s Raining

Oleh:
“Ah, sial. Lagi-lagi aku harus sekelas dengannya.” Gilang mengacak-acak rambutnya. Buku catatannya penuh coretan tidak jelas. Kevin, teman sebangkunya, hanya bisa tersenyum melihat temannya kesal karena satu kelas lagi

Cinta Yang Buta

Oleh:
Apa lagi ini. Musibah macam apa lagi yang menimpaku. Mengapa aku begini, tanpa tersadari, hidupku telah di rampok olehnya secara halus tanpa adanya bukti untuk menjelaskan itu semua. Dan

Bukan Yang Dulu

Oleh:
“Udah gak usah diliatin terus, dulu aja disia-siain” ucap zidan sambil menepuk pundak iqbal yang sedari tadi asyik memandangi seorang perempuan yang sedang asyik dengan laptopnya. “Apaan sih lo?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *