Hilangnya Cinta Puput

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 July 2013

Udara sore begitu nyaman, pepohonan bergoyang lembut bak seorang penari, yang sedang menari dengan lemah gemulai, aku tersadar tak kala mama memanggil ku “puput… Puput, mandi dah sore!”, “ya ma aku mandi”, dan setelah aku selesai mandi, aku minta izin sama mama, “mam aku mau ke rumah mbah kakung, aku dah lama ga ketemu”, dan mama berkata “ya tapi jangan lama-lama takut hujan hari dah mendung.

Setelah mendapat izin, aku langsung pergi, dalam perjalanan hati ku penuh dengan rasa gembira, karena akan bertemu mbah kakung yang amat menyayangiku, dalam perjalanan aku iseng aku menghitung jari’ hujan ga hujan ga, ‘tapi tiba-tiba mata ku terkesima oleh seorang pemuda tampan, yang sedang berada di teras rumahnya, dia berkain sarung, dan di tangannya, dia memegang sebuah buku, tapi aku sekejap melihat tak begitu menghiraukan dan terus berjalan, tapi dalam perjalan aku merasa, seperti ada sesuatu hal yang membuat aku tidak nyaman, dan hati ku serasa berkata tengoklah menoleh ke belakang, ‘dan apa yang kulihat, oh ternyata pemuda itu masih memperhatikan aku, dan diapun terkejut dengan senyuman nya yang serasa malu karena tertangkap basah karena mencuri pandang pada ku, berjalanpun akhirnya aku jadi salah tingkah, dan hati ku bertanya-tanya siapa sih dia, ko sampai segitu nya ngelitan aku, cantik apa aku? Hmmm.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa bulan rammadhon, telah tiba, dan di bulan rammadhan pemuda karang taruna selalu maengadakan latihan vokal grup untuk acara halal bil halal, dan dipilihlah orang-orang tertentu, untuk menjadi anggota vokal grup, aku terkejut, saat semua sudah berkumpul ternyata, pemuda itu ikut menjadi anggota vokal, dan dia menyapa ku, “hai akhirnya kita bisa bertemu,” sambil berjabat tangan dia menyebut namanya, “indra” dan ku sebut pula nama ku “puput”, saat aku saling memandang teman ku andi ternyata memperhatiakn ku, dan menyadarkan seraya berkata “batal batal puasa” kami tersadar dan tersipu malu, sambil melepas tangan ku, indra berkata, “ntar kita pulang bareng ya”, dan ku jawab “ya”.

Latihan sudah selesai, aku dan indra pun pulang bersama, karena memang rumah ku satu arah, di perjalanan dia bertanya, “puput mas ko ga pernah lihat kamu sih, memang kalau main sama teman-teman di mana?” dengan senyuman, aku takut dibilang kuper, ku jawab, “aku jarang main, aku senang di rumah” “terus sekarang kelas berapa?” “naik kelas 2 sma”, jawab ku. Dan aku balik tanya, “kalau kamu mas kuliah di mana?” “mas kuliah di sumedang, baru semester 4” jawbnya, dan aku hanya bisa membalas, “oh” dan udara sore itu serasa mengerti akan perasan hati yang sedang kami alami.

Malam itu malam yang sangat mendebarkan, dimana aku dan teman-teman akan pentas dan dihadiri oleh tokoh masyarakat, dan yang sangat mendebarkan hati ku, sebelum pentas mas indra, menghampiri ku, dan dia memegang tangan ku, berdesir darah ku serasa kurasakan dingin tubuh ini, dan dia bilang “mas suka sama puput, maukah puput jadi kekasih mas”, mendengar pengakuannya, jantungku berdetak kencang, baru pertama ku dengar kata cinta dan baru pertama ku mendapat sentuhan yang berbeda, dan mas indra mendesak ku tuk menjawab malam itu juga, “jawablah sebelum mas berangkat lagi ke kampus” dan aku tak bisa berkata “ya” aku cuma bisa tersenyum dan menganggukkan kepalaku.

Terasa malam itu, malam yang paling indah bagi ku, dan lagi-lagi andi selalu membuntuti ku, dia mengintaiku menyebalkan huhh. Dan acara pun berjalan dengan lancar, hari semakin larut malam, aku seperti biasa pulang ditemani mas indra, kecupan pertama ku terima sebelum aku masuk, bisikan lirih ku dengar, “selamat malam sayang tidur lah dan mimpikan mas, dan mas besok, berangkat ke sumedang”, dan hanya dengan senyuman aku membalasnya, sepulangnya dia, aku tak bisa tidur, perasaan ku bingung, dan tak terpikirkan oleh ku jikalau mas indra, mencintai ku, sedangkan teman ku riri dan winda begitu sangat mengingikan dia.

Pagi itu udara sangat dingin sekali, membuat aku malas tuk bangun, masih terasa pula kecupan mas indra, menambah kemalasan ku, dan ku peluk guling lagi dan ku peluk lagi, tanpa sadar hari sudah siang, bergegas aku mandi, karena hari ini, adalah pembagian kelas, dan sesampainya di sekolah, pak anto menyapa ku, “segar amat hari ini kamu put” dan tak lama kemudian pula pak engkus, menghampiri ku, “hmmm semalam pulang sama siapa hayooo” dan aku tersipu malu, dan aku bergegas masuk ke kelas, dan ternyata di papan tulis sudah ada pengumum, dan aku masuk ke kelas 2a. Jurusan IPA dan mendapat wali kelas pak engkus, dan aku ke kantor untuk menyelesaikan administrasi, aku pun pulang dengan teman-teman dan juga pak engkus, sesampai di persimpangan jalan, kami mempunyai arah masing-masing kecuali aku dan pak engkus, satu arah, diperjalan pak engkus, tanya padaku “put kamu bener sudah jadian sama inrda?” “iya pak” jawabku, dan ku balik tanya “memang kenapa?”, jawabnya “sedikit banyaknya bapak mengenal dia, jadi hati-hati ya” dan aku hanya menganggukkan kepala.

Hari sabtu adalah hari yang paling menyenangkan dan hari yang paling mendebarkan, dimana hari sabtu aku selalu mendapat surat dari mas indra, karena mas indra pulang hanya sebulan sekali, dan suratnyalah sebagai pengganti dirinya, untuk menemani ku di malam minggu. Dan sampai-sampai titis teman ku kesal, karena setiap kali aku di ajak main ga pernah mau, dan titis pun bilang padaku, “hu kamu tu bodoh banget, mas indra tu disana lagi asik sama yang lain, lagi pacaran, kamu di sini cuma di kasih surat, anteng” dan aku tetep tak pernah percaya apa yang di katakan teman-teman yang sudah berpengalan, tapi bagiku mas indra adalah segalanya, hubungan ku berjalan hampir 2 tahun.

Kini minggu ke-3 telah datang, dan mas iindra pun pasti pulang, “tok tok tok”. Pintu depan terdengar di ketuk, bergegas aku membukanya, ternyata betul mas indra, “hai sayang” sapa nya pada ku, dan ku balas. “hai mas” dan aku pamit untuk keluar, biasa aku pergi nonton, dan dalam perjalan mas indra mengatakan “mas kangen banget sama puput” dan aku balas “aku juga kangen sama mas” sambil mempererat genggaman tangannya, dia memberi tahu ku “oh ya nanti surat-surat mas ga usah di balas ya, karena puput kan mau ujian, mas sayang sama puput, karena mas ingin, kamu dapat nilai bagus” itu alasanya, dan aku tak membantah karena masuk akal.

Ujian pun telah berakhir, tinggal menunggu hasil ujian, aku dan teman-teman saling bertanya-tanya “kira-kira nilai matematika ku bagus ga ya, lagi asik dengan teman-teman, tiba-tiba pak anto, menghampiri kami, dan berkata “sudah tinggal tunggu aja hari senin, dan doa, biar nanti nilainya bisa berubah, ya” sepontan kami teriak “amiiin”. Malam minggu ke-3 pun tiba, dimana aku punya acara apel bersama mas indra, tak ada satupun yang membuat aku bosan padanya, sentuhannya yang lembut membuat aku tak berdaya, dan aku minta padanya untuk tidak berangkat dulu ke kampus esok hari, ku katakan aku hari senin pengumuman, aku pengen mas ada disini, dan mas indra menyanggupinya, dan malam itu malam yang paling indah bagi ku, ku habiskan malam minggu hingga lewat larut malam, serasa aku merasa takkan penah bertemu lagi, ku puas puaskan bersamanya.

Malam senin aku gelisah tak bisa tidur, kendati udara dingin menyelimuti malam itu, apa yang menjadi kegelisahan ku, aku tak tahu, sepertiga malam baru aku tertidur, dengan rasa gelisah. Terdengar sayup-sayup dalam tidur ku, serasa ada yang memanggil nama ku, “put puput… Put puput” oh ternyata mama membangunkan ku, karena hari sudah siang, bergegas aku menuju kamar mandi, dan tak sempat aku sarapan, langsung ku pamit dan minta doa mama. Karena hari ini pengumuman kelulusan, tak lama sampai di sekolah, pak engkus sudah berada di pintu kelas, semua teman-teman dan aku pun bergegas masuk, dan satu persatu amplop hasil ujian di dibagikan, huh rasanya aku was was, aku gemetar takut aku ga lulus ujian dan langsung saja aku buka amplopnya, alhamdulillah aku pun lulus, aku senang dan langsung pulang, tapi tak pulang ke rumah, tapi aku mampir ke rumah mas indra, sampai di rumah ibu mas indra menyambut ku serasa berkata “tumben mau main ke rumah, ada perlu sama mas?” jawab ku “iya, aku mau kasih tahu sesuatu”, dan mimih pun mempersilahkan aku masuk sambil memberi tahu ku jika mas lagi siap-siap mau berangkat ke sumedang “masuk aja” jawab mimi, aku pun langsung masuk.

Sesampainya di dalam, kamar mas indra terbuka dan aku melihat buku-buku mas berantakan di tempat tidur, satu persatu kurapikan, tapi aku di kejutkan oleh sesuatu yang sangat menyakitkan, sebuah buku harian, didalamnya tersimpan surat cinta, dan 3 photo wanita termasuk photo ku, kubaca surat tersebut ternyata, surat cinta dari eni anak jatinangor, dimana tempat mas kkn, dan satu surat dari nia, adik kelas nya, yang mana dia minta di izinkan untuk tidak masuk ke kampus, dan menginginkan mas indra, untuk datang berkunjung ke garut karena dia sakit, hati ku bak di cabik-cabik darah ku mendidih dengan amarah yang melebihi batas, ku sobek-sobek photo ku hingga tak bisa di kenali lagi, melihat aku berada di kamar, mas indra terkejut, langsung aku berkata “oh jadi mas melarang aku membalas surat-surat mas, karena takut ketahuan sama nia kan? Iya kan?” mas indra memeluk ku dan berkata “maafin mas, mas sayang sama puput, mas tetap milik puput, mas hanya memilih puput percayalah” sambil mengusap air mata ku dan menyakinkan diriku, aku pun luluh dalam dekapannya.

Pagi-pagi sekali aku bangun, dan aku merapikan semua keperluan ku, dan aku menemui mama, aku pamit untuk pergi ke jakarta, dan aku berpesan jika mas indra bertanya gak usah di kasih tahu keberadaan ku, dan mama tak bisa melarang kemauan ku, “baiklah dan jaga diri mu baik-baik dan jaga pola makanmu, karena kamu ga boleh sembarangan makan” ku jawab “iya ma akan ku ingat”. Ku cium tangan mama ku dan aku pamit pergi.

Berat rasa kutinggalkan kampung halaman ku, kenangan masa kecil dan kenangan indah bersamanya, sesampainya di jakarta, kakak ku langsung to the poin. Aku harus kuliah, tapi aku memelih untuk kerja dulu, singkat cerita, aku di terima di sebuah perusahan, dan personaliaku ahwa namanya, dia menerima ku sangat baik, hari-hariku, aku jalani sebagai anak kost, tak ada yang ku kenal, aku merasa asing, aku merasa sendirian, tapi lama kelaman aku sering berbicang-bincang dengan ka ahwa dan saling brcerita tentang pengalaman, dan tak terasa pula ternyata aku sudah lama bekerja hampir satu tahun.

Sore itu selesai rapat, aku, sari dan ka ahwa. Pergi makan malam, di rumah makan ka ahwa, memperhatikan ku terus, dengan tatapan yang tajam serasa menembus jantung ku, dan hatiku berkata sendiri, siapa yang beruntung mendapatkan kasihnya, mana ganteng, tinggi, baik lagi, hm. Selesai makan sari di turunkan di perempatan jalan, sedangkan aku dan ka ahwa, masih di mobil, dia bilang “kita jalan-jalan dulu ya, kamu maunya kemana?” Dan jawab ku “terserah kakak”, mobil pun meluncur ke sebuah taman dimana setiap malam minggu taman itu ramai, tapi aku dan ka ahwa masih di mobil, tiba-tiba ka ahwa menggenggam tangan ku dinginnya ac membuat semakin hangat sentuhan tangan nya. Ka ahwa mengutarakan isi hatinya, “puput, maukah kamu bersama ku, maukah kamu menerima kasih sayang ku, kita sama-sama punya kisah pahit, kita sama-sama dalam perantauan, jawablah put” jawabku bukan dalam kata-kata, tapi aku langsung memeluknya, dan dia berkata “inikah jawabannya put?” Dekapannya semakin erat membuat hati ku nyaman.

Hari sabtu yang cerah, hari sabtu yang indah, kurasakan sejuknya udara di pagi itu, dan baru saja ku bisa merasakan ringan nya langkah kaki ku, tapi entah angin apa dan dewa mana yang telah, membawa langkahnya datang menemui ku, pak satpam eko menghampiri ku, “mba puput ada tamu, dia nunggu di pos”. Ku tanya “siapa?”
“Seorang pria, pesannya penting”. “Terima kasih pak, aku kesana”. Aku pun langsung menemui ka ahwa tuk minta izin menemui orang tersebut, ‘pesan ka ahwa’ “jangan lama-lama ya” ku jawab “ya”. Langsung aku ke pos, untuk menemuinya, tapi betapa aku terkejut, ternyata orang itu adalah mas indra, melihatku. Spontan dia menggenggam tangan ku, tanpa basa basi dia berkata “puput maafin mas, beri mas kesempatan, mas janji put, tolonglah kembali pada mas, dan tak perlu tahu dari mana mas dapat alamat puput, itu tak penting, pulanglah put bersama mas” Ku lepaskan genggamannya, seraya aku berkata “maaf mas, aku sudah tak percaya lagi, sulit tuk mengembalikan utuhnya hati ku pada mas, lebih baik mas pilih di antara mereka, pulanglah mas aku tak ingin kembali, cukup sudah mas membohongi ku” sambil ku cium tangannya dan aku berkata, “ini adalah ciuman tangan ku terakhir, dan pulanglah aku harus masuk kerja kembali” dan aku pun pamit.

Dan aku pun masuk kembali ke kantor, dan apa yang terjadi, ka ahwa sudah menghadang ku di pintu ruangannya, dia memanggilku “put kemarilah” dan akupun mendekat, langsung dia menarik ku ke dalam ruangannya, dan langsung mendekapku erat sekali. Bisikan kata-katanya menghibur hatiku “put jangan kamu kembali padanya, jangan kamu pergi dari ku, aku membutuhkan mu, aku menginginkan mu”, oh aku tak berdaya, dekapannya mendamaikan hatiku, erat pelukannya menghilangkan keraguan dan kebimbangan hatiku, karena aku dan dia terbentang perbedaan ras dan kepercayaan, tapi kasih dan sayang dan perhatiannya mampu membuang jauh-jauh kebimbanganku, tak ada cinta lagi dalam hati puput, yang di butuhkan sekarang kasih sayang dan perhatian.

Cerpen Karangan: Pipit Iyunk
Facebook: pipit iyunk

Cerpen Hilangnya Cinta Puput merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Endless Love

Oleh:
Sudah 5 bulan berlalu, kesedihanku belum juga terobati setelah aku putus dari pacarku Sandi dan sudah hampir 5 bulan juga aku tidak pulang ke kampung halamanku di Banten. Nah!

Sahabat Cinta

Oleh:
Setelah lulus SMA aku baru sadar aku mencintai sahabat ku sendiri, bahkan telingaku pun sering mendengar curhatan tentang dia dan pacarnya, ragaku tersenyum tapi hatiku menangis bahkan rasa sesak

Salting Ala Gia

Oleh:
Bibirnya kelu, tangannya bergetar, jantungnya seolah berhenti berdetak ketika teman-teman kerjanya menyangkut-pautkan dia dengan laki-laki gagah dan ganteng itu. VMJ (Virus Merah Jambu) mulai menyebar di diri seorang perempuan

Hiraukan Rasaku

Oleh:
“Kenapa! Kenapa masih aku yang disalahkan, aku sudah mengikhlaskan dia untukmu jadi untuk apa lagi kau menginterogasiku, menjadi stalker di hidupku sedangkan ku sudah tak ada urusan dengan dia

Sebuah Rasa

Oleh:
Di suatu taman tempat yang biasa kudatangi untuk merenungi hariku dan tempat yang menjadi objek fotografer. Aku melihat sosok anak kecil yang cantik, manis dan lucu. Kulihat ia sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *