Hingga Akhir Waktu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 January 2016

Merakit tujuan hidup ini memang tak semudah kita mengedipkan mata. Yang hanya satu kedipan tak dapat memakan waktu satu detik untuk kita lakukan. Namun apa daya Tuhan yang maha kuasa telah mengkaruniai kita sebuah harapan untuk hidup di alamnya dengan retorika kehendaknya. Tanpa ada asbabmusabbabnya aku tak bisa mengelakkan diri dari kenyataan yang ada. Dirimu memang selalu ada dalam pikiranku.

Begitu juga dengan dirimu yang tak pernah bosan memikirkanku setiap waktu yang bergulir di sela-sela jam tangan tuamu. aku mengerti tentang keadaanmu saat ini. Kau membiarkanku hidup menjauh darimu agar kau bisa terfokus dengan tugas-tugasmu yang tak bisa ku hitung dengan jari jemariku yang mungil ini. Mungkin teman-temanku mengira kau tak sayang lagi padaku, kau tak cinta lagi padaku, bahkan kau tak ingin diganggu lagi dengan kehadiranku.

Mereka telah berprasangka buruk padamu dengan sikap yang kini kau tumpahkan padaku. Yang dulunya kau begitu menginginkan kehadiranku kapan pun dan di mana pun kau berada, yang dulunya kau selalu menyuruhku untuk mendampingimu setiap kau pergi jauh. Apa ini gara-gara aku sudah beranjak dewasa dan kau malu untuk membawaku ke mana saja? Apa aku ini terlalu pantas untukmu kau jadikan kekasih hingga kau harus malu memiliki kekasih sepertiku?

Apa mungkin kau kira saat ini aku mungkin memiliki kekasih yang butuh kasih sayangku padanya daripada dirimu? Aku telah banyak memakan prasangka-prasangka yang begitu menyakitkan diriku. Kau seorang lelaki sedangkan aku seorang wanita yang setiap hari mengemis dan tak pernah dinaungi sebuah cahaya sejak dirimu mengasingkanku. Jarak kita terpaut jauh di seberang pulau yang begitu memakan setiap keras keringat untuk mencapainya.

Sebongkah harapan dalam lubuk hatiku tersimpan dan tertata rapi hanya untukmu. Mungkin kau tak mengetahuinya jika aku memendam sebuah pengharapan yang mustahil akan terwujud di antara kita. Ku ingat tentang masa-masa bersamamu saat diriku menginjak usia remaja. Tiada yang ku kenali seorang laki-laki hanya selain dirimu. Ku lihat dan ku telaah segala apa yang ada pada dirimu. Aku percaya apa yang kau miliki mungkin tak jauh beda dengan apa yang dimiliki laki-laki di luar sana.

Saat masa-masaku seperti ini yang mengalami masa pemindahan dari anak-anak menjadi remaja, teman-teman lebih tepat menyebutmu sebagai kekasihku. Karena masa ini memang teman-temanku mengalami sebuah hasrat yang berbeda dari masa mereka dahulu. Kini mereka lebih banyak mengenali cinta, namun persepsi mereka tentang cinta ialah sebuah hubungan yang harus dijalin antara wanita dan laki-laki. Hingga lebih tepatnya mereka menjuluki diri mereka masing-masing yang sedang dilanda mabuk cinta dengan sebutan PACARAN.

Aku tak bisa mengelak dengan apa yang mereka katakan kepadaku saat kau selalu bersamaku menuju sekolah. Kau seperti kekasih yang selalu berada di sampingku menuntun untuk masuk ke kelas, kau seperti Ayah yang memberiku nasihat-nasihat dan masukan saat ku merasa ada masalah dengan teman-teman, bahkan kau seperti suamiku yang selalu setia memberikan kebutuhan yang ku inginkan. Namun bukan hubungan yang lebih mendalam. Tapi hubungan kasih sayang layaknya suami istri.

“Lin, kau akan mengerti semuanya setelah kita hidup berjauhan.”

Ucapanmu seakan menganggapku seperti kekasih yang akan berpisah selama-lamanya. Namun terkadang juga kau berucap seperti menganggapku sebagai anakmu sendiri. Aku tak mengerti dengan apa yang dia omongkan padaku sejak dua tahun lalu. Dia yakin diriku akan pergi meninggalkannya setelah aku tamat SMA dan melanjutkan studiku di jenjang perkuliahan. Aku saat itu yakin bahwa aku akan kuliah di sana dengan biaya dari dirimu sendiri. Namun kenyataannya tidak.

Kau memang benar. Aku mengerti kenapa kau bersikap seperti kekasihku saat itu. Kau tiba-tiba bersikap seperti Ayahku sendiri, dan kau bersikap seperti suamiku yang hidup bernaung di satu rumah yang begitu mewah. Dan apa yang kau katakan sekarang memang benar, aku hanya hidup hanya dengan dirimu saja yang menerimaku apa adanya. Kita tak memiliki ikatan yang resmi, tak memiliki darah yang sama, dan tak memiliki garis keturunan yang mengikat di antara kita.

Kau seperti itu agar aku selalu bisa merasakan apa yang orang rasakan saat itu sebelum kau pergi jauh. Kau seperti itu agar aku tidak iri dengan mereka yang memiliki segalanya. Mereka semua memiliki ibu, ayah, kakak, bahkan kekasih yang selalu membuat mereka merasakan kerinduan. Kau berbeda dari lelaki mana pun. Semua yang dirasakan oleh teman-temanku kau bungkus jadi satu hanya untuk mempersembahkanku sebuah kebahagiaan yang tak bisa ku dapat dari orang lain.

Kau mengajarkanku berbagai banyak hal dalam melakukan semua ini. Cinta yang kebanyakan orang dituangkan dalam pacaran namun dirimu menuangkannya dengan sebuah ikatan yang terkadang mereka tak mengerti apa yang kau lakukan. Kau tulus melakukannya hanya karena Allah. Kau buktikan dengan selalu menjaga kodrat dan tabi’at sebagai bukan mahramku. Kau menjaga selalu apa yang kau ingin lakukan. Sajak-sajakmu yang dulu sekarang ku mengerti.

“Hidup tak selamanya indah, tapi yang indah itu akan selamanya hidup walau dalam kenangan.” Yah, hanya dalam kenangan yang selalu hidup menemani dalam setiap derap langkahku.

Dingin yang menyayat kulitku saat ini begitu menusuk sampai ke ujung syarafku yang terdalam. Membuat diriku seperti tersengat listrik menyentuh rumput-rumput anugerahmu wahai Tuhan yang maha kuasa. Aku sangat bersyukur bisa memijakkan kaki bersama sahabatku Lina yang kini menjadi saudara angkatku. Dialah yang menyelamatkanku dari amukan-amukan mulut seluruh warga tentang diriku dan dirinya saat aku berhasil kembali normal. Berkat dialah aku bisa hidup layaknya hidup orang lain yang normal. Dulunya wajahku seperti monster, kakiku lumpuh dan tangan kiriku tak dapat berbuat apa-apa. Aku menyesal dengan kembalinya aku seperti semula membuatku jauh darimu dan bahkan tak dapat bertemu lagi denganmu wahai prisai hidupku.

“Olin berani ke sawah sendirian gak?” Tanya sahabatku itu.
“sepertinya tidak Na.” jawabku saat sampai di daerah persawahan yang mulanya kita melewati perkebunan dulu. Baru kita akan merasakan luasnya ladang persawahan.
“kenapa? Berarti kamu penakut dong?” ledeknya padaku.
“yaa penakut sama saudaramu di kebun yang mengamuk padaku.”
“siapa saudaraku di kebun? Ah ngarang kamu Lin.”
“lya itu kan saudaramu yang sering manjat pohon sambil bilang nyet.. nyeetttt nyeet..” aku mempraktikan gaya monyetku dengan Lina. Dia tertawa terpingkal-pingkal.
“haha kamu ada-ada aja Olin.” ujarnya.

Hari ini kami akan memetik cabe di sawahnya Lina. Selama dua bulan aku tinggal di sini dan baru pertama kali aku ke luar untuk pergi ke ladang. Kejadian pemitnahan antara aku dengan Kak Ramly membuatku terauma. Kak Ramly mengurusku sejak kecelakaan maut menimpaku hingga tubuhku normal kembali. Namun apa yang Kak Ramly dapatkan setelah aku sembuh berkatnya? Aku merasa bersalah. Dan semoga aku bisa membalas jasa-jasanya. Dia ingin aku kuliah dari dana tunjangan Ayahku sebagai Pegawai Negeri Sipil. Aku akan mulai hidupku dari saat ini.

“semoga aku dapat memberikanmu sesuatu kelak jika kau kembali Kak Ramly.” tukas batinku. Panas terik kami terjang terus untuk memetik cabe ini. Andai Kak Ramly ada di sini pasti di tengah terik matahari ini dia beri kami lelucon untuk membangkitkan semangat. Hmm aku sangat merindukannya.
“Olin kenapa? Cieee bengong-bengong sendiri. Mikirin Kak Ramly yah?”
“eh Lina. Gak kok Na. Ayo lanjut biar kita cepet selesai nih.” jawabku menghindari ejekan Lina.

Selesai memetik cabe ini, kami mencoba pergi ke Reban yang ada tengah-tengah sawah sana. Lina mengajakku melihat kejernihan airnya. Dan kami juga bisa mandi di sana dengan kesegarannya di tengah siang bolong ini. “ayoo Olin cepat, aku gak tahan pengen langsung nyemplung di sana.”
“emang gak ada orang yang lihat kita?” tanyaku memastikan.
“Kan kita pakai baju mandinya Linn..” jawabnya.
“hehehe iya dah.”

Sampai di sana aku tercengang melihat air itu. Memang sungguh sangat jernih dan kelihatan segar. Aku tak menyangka ada yang lebih indah dari kolam kota, bahkan ini jauh lebih menarik daripada semua yang ada di kota. “inilah bunga-bunga surga yang ada di dunia yang pernah ku lihat.”
“memang dulu kamu tak pernah ke mana-mana?”
“bagaimana aku bisa ke mana-mana jika sebagian anggota tubuhku lumpuh.” ujarku menjawab agak lemas mengenang masa laluku. Pasti jika Kak Ramly di sini, dia sudah menyanyikanku lagu seiring keindahan dan kesejukan di bawah rindangya pohon kelapa ini.

“Oliin… Apa kau masih tertutup lagi padaku tentang peristiwamu dua bulan lalu? Apa diriku ini sosok orang yang tak pantas dipercaya olehmu?” tukas Lina dengan tiba-tiba berupaya untuk meyakinkan diriku pada dirinya agar mau bercerita apa yang sebenarnya terjadi.
“bukan begitu Naa taaa…pii..” belum tuntasku bicara Lina sudah menyambar ucapanku.
“tapi aku ini terlalu keciiill… Terlalu luguuu untuk mengetahui masalahmu hingga kau sembunyikan? Haaa…” dia berhenti sejenak dan mengucapkan dengan nada kesal.

“jika kau tak mau bercerita, kau seperti memburu hatiku dengan prasangka-prasangka yang tidak-tidak tentangmu. Aku mungkin akan membenarkan kata-kata warga yang memburumu untuk berpisah dari Kak Ramly. Maka dari itu jangan undang prasangkaku ini sama dengan warga-warga di kotamu itu. Buktikan prasangkaku dulu untuk menolongmu memang benar liiin. Aku ini sahabatmu juga sejak kita melewati masa-masa ABG kita.”
“okeee Naaa. Sekarang di bawah pohon kelapa ini kau akan tahu semuanya.”
“Naaah, gitu doong. Aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu sobat.”

Aku tersenyum pada sahabatku ini. Memang dia sahabatku sejak SMA. Namun dia belum tahu kronologiku diamuk oleh warga setempat saat aku masih tinggal di kota Metropolitan itu. “Awal kejadiannya setelah kesehatanku berangsur-angsur sembuh dari kecelakaan maut yang ku dapatkan bersama Ayah dan Ibu. Selama 6 tahun aku lumpuh dan baru setelah kelas tiga SMA dua bulan sebelum pengumuman, aku merasakan kaki dan tanganku bisa bergerak. Kau sudah tahu kan saat malam-malam ketika aku belajar bersama dengan Kak Ramly?” ujarku bertanya mengulang peristiwa itu.

“Yaaah aku tahu saat Kak Ramly membacakanmu Humor lucu lalu kau geram dan tanpa sengaja tanganmu tergerak dan spontan memukul Kak Ramly. Lalu kau juga terkejut dan Kak Ramly juga tak kalah terkejutnya. Laluuu kau digendong oleh Kak Ramlyy dan memutar-mutarmu ke seluruh Ruangan. Hahaha sambil Kak Ramly berkata ‘Tuan Putriku sudah menjelma. Tuan Putriku sudah menjelma.’ huuu pasti seruuu digendong sama Kak Ramly.”

Aku terperangah dengan ucapan terakhir Lina. Aku sama sekali ingin momen-momen itu terulang lagi.
“udaah selesaii angan-angannya?” ujarku membuyarkan lamunan Lina yang ingin juga merasakan seperti apa yang ku rasakan. “heeee iyaa Tuan Putrii, sudah. Lanjuut ceritanya.”

“Lalu ketika sampai pada hari pengumuman, aku sudah bisa jalan sendiri. Dan malam itu tepat pukul 21.35 WIB. Aku mulai menjauhkan kursi rodaku dan aku duduk di sofa termenung. Ketika itu aku tak sadar Kak Ramly teriak dari dapur. Ku lihat dia memegang kepalanya tanda kesal. Kebetulan gorden dapur sedikit terbuka dan kami mudah dilihat dari luar oleh warga saat itu yang sedang lalu lalang. Aku menghampiri Kak Ramly dan dia tak menerimaku namun aku bersikeras menanyakan ada apa dengan Kak Ramly. Seketika itu dia berteriak dan menatapku geram.”

“Aku menjadi takut dan sekujur tubuhku keringat dingin melihat tatapan Kak Ramly. Dia mendorongku ke ruang tamu dan melemparkan tubuhku di Sofa. Aku berteriak histeris takut dengan perubahan sikap Kak Ramly. Dia membentakku agar diam. ‘dengar yaa dek, aku ini bukan memeras harta kekayaanmu dan aku tidak mengharapkan apa-apa dari menjagamu, merawatmu sekian tahun. Kau seperti anakku dan tak pernah jijik untuk terus merawatmu dalam kelumpuhan.’ Ujar Kak Ramly waktu itu. Lalu aku lupa menutup pintu gerbang.

“Dan saat itulah ketika Kak Ramly mendekatkan matanya agar aku percaya bahwa dia tulus telah merawatku dan menyalahkan Bibi dan Pamanku. ‘mereka yang bersalah, mengapa mereka menelantarkanmu demi pekerjaan mereka. Aku yang benar kaaan. jawab Liiin.’ tegasnya. Dan saat itu salah satu orang yang bertugas menjaga keamanan kota mengira Kak Ramly telah melanggar janjinya untuk menjaga kodratku sebagai wanita bukan muhrimnya. Mereka mengira Kak Ramly telah berbuat yang tidak-tidak padaku.” aku mulai menangis mengenang masa lalu itu. Namun ku teruskan ceritaku agar Lina tak penasaran.

“Lalu aku melihat kedua penjaga keamanan kota itu menyeret Kak Ramly yang tubuhnya tak sebanding besarnya dengan tubuh mereka. Kak Ramly meronta namun bukan karena takut ia akan diseret ke luar dan digebukin masa, tapi karena tangannya. Yah karena tangannya yang begitu sakit karena terluka akibat tertindih oleh batu ketika di Proyek tempatnya bekerja. Aku tak menyadarinya namun saat di dapur ku lihat tangannya itu terbuka dan saat menuntunku di Sofa darahnya mulai ke luar akibat persediaan perban tak ada dan membiarkannya terbuka.”

“Itulah yang dijadikan bukti kalau aku sudah melakukan perlawanan kepada Kak Ramly. Aku membela Kak Ramly di tengah amukan masa itu namun nyatanya suaraku lebih kecil dari suara geram para warga yang kecewa pada Kak Ramly. Setelah babak belur Kak Ramly dibawa oleh Ustadz yang kebetulan lewat. Setelah itu aku tak tahu entah ke mana Kak Ramly dibawa.” aku menutup mataku menangis dan menyesal serta sangat merasa bersalah pada Kak Ramly.

“Dia gak salah Naaa. Aku yang salah saat itu, aku yang salah saat itu hanya diam saja ketika Kak Ramly bicara. Aku yang salah Naaa.” Lina langsung memelukku dan menenangkanku.
“Sudah Liiinn, sudaah, kalian berdua tidak salah tapi penjaga keamanan itulah yang salah telah memfitnah Kak Ramly. Aku tahu Kak Ramly orangnya baik dan kuat imannya. Tidak mungkin ia akan menodaimu.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Shollina
Facebook: Sholli Wasallim

Cerpen Hingga Akhir Waktu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lika Liku Kehidupan

Oleh:
Ketika mulut tak sanggup lagi untuk berbicara, disanalah hati yang berucap sambil mengeluarkan setetes air mata. Hidupku yang awalnya bahagia, karena kehadiran seorang ibu.. Kini ibu pergi untuk selamanya

Petualangan dan Cinta (Part 1)

Oleh:
Hari ini tepatnya pukul 08.00 Wib, AKU harus mengisi acara pembukaan Mapala Se-Indonesia yang merupakan Program Kerja Akhir kepengurusan Mapala 2010-2011. Rizal Danis, Itu nama lengkap aku mahasiswa angkatan

Tuhan Sayang Kita, Kok

Oleh:
Sinar mentari telah menerobos ruangan di mana Lina tidur semalam. Itu tandanya pagi telah menyapanya. Babak baru dalam kehidupan akan segera dimulai. Pukul 06.05. “Lin, bangun ini sudah siang.

Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Oleh:
Namaku Maya, aku memiliki seorang Adik bernama Mita. Mita merupakan anak yang menjadi kebanggaan keluargaku, dia pintar, cantik, dan ramah. Tapi aku, aku hanyalah orang yang tak bisa sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *