Hortensia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 25 June 2017

Andy mengusap puncak kepalaku. Dan mengapa aku harus menangis? Itu karena Andy, satu-satunya sahabat terbaikku akan berangkat ke Amsterdam. Andy mendapat beasiswa kuliah di sana. Aku? Tidak jauh-jauh dari kota kecil tempat kami lahir. Beasiswa jurusan Art and Design justru aku dapatkan dari University Of Leiden.

“Ayolah wajahmu lebih jelek sekarang”
Tanganku meninju dada Andy. Mengapa dia tak pernah serius! Andy menyentil hidungku. Pukulanku makin kencang bersarang di dadanya. Kami diam, saling menatap.
“Apa tak ada pelukan perpisahan?” tanyaku. Kepalaku tertunduk. Demi musim semi yang harum, aku tak berani menatap wajahnya. Mungkin aku terlihat lebih konyol sekarang.
“Kemarilah” Andy memelukku. Andy tak pernah menolak permintaanku. Ini kali pertama Andy memelukku. Aku bisa merasakan detak jantungnya sangat dekat. Hingga bunyi peluit kereta api memisahkan tautan antara kami.
“Kuliah yang benar. Ok”
“Kau akan sering berkunjung, kan?”
“Kau tahu, dari Amsterdam ke Leiden….”
“Bagaimana jika aku akan jatuh cinta?” sahutku.
“Berarti gadis kecil ini harus merasakannya, bukan!?” ucap Andy. Guratan terpahat di wajahnya sulit kutebak. “Terdengar menarik”. Aku terdiam. Andy melambai padaku sambil tersenyum. Bunyi peluit kereta api kembali memisahkan kami.

Sudah lebih dari setahun. Saat ini, Leiden tengah tertutupi salju. Sepanjang mata memandang kau hanya akan melihat jalanan putih, pohon-pohon putih, begitupula ladang-ladang memutih. Semua atap bangunan di kota ini berhiaskan salju tebal. Dingin. Kuseruput coklat panas. Aku menerima sebuah pesan di emailku.

To Hortensia:
Halo, Sia. Sudah jatuh cinta? Tahun depan aku mengunjungimu.
Aku membalas pesannya cekatan.

To Andy:
Aku tunggu!

Pesan itu membuatku sangat bahagia sore ini, perasaan hangat menjalar ke sekujur tubuhku. Lebih dari setahun kami tidak bertemu sapa akibat fokus kuliah, mungkin? Tak sabar rasanya menanti tahun depan. Bermacam-macam kisah telah kusiapkan dalam kepalaku untuk Andy. Ya, aku terkenal tak bisa diam bila beradu cerita kepada Andy. Dan Andy, dia tidak masalah dengan hal tersebut. Keren kan!

“Belum pulang?” tanya Peter yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. Aku beranjak dari tempatku duduk, mengalungkan tanganku di leher Peter. Dengan berjinjit. Bau lemon menyerbu masuk memenuhi hidungku.
“Andy akan datang” gumamku. Peter menatapku serius mencari kebenaran. Aku mengangguk tegas. “Tahun depan”
“Jadi tahun depan, kapan tepatnya?” tanya Peter. Kami sedang berjalan menyusuri setapak menuju apartemenku.
“Tepatnya, aku tidak tahu” jawabku.
“Semacam sebuah kejutan”
“Hm. Dia tahu aku suka kejutan” imbuhku diselingi tawa.
Peter menatapku dalam. Iris emeraldnya menghangatkan suasana. Aku menengadah ke atas, menyambut butir-butir salju yang mulai berjatuhan. Membiarkannya menyapa setiap jengkal sisi wajahku. Peter juga. Salah satu hal kesukaanku bersama Peter.
“Kita sampai, nona”. Aku mendengus. Peter menepuk puncak kepalaku dua kali, kebiasaanya.
“Masuklah. Keringkan kaki dan wajahmu di perapian” aku mengangguk sekaligus melangkah masuk. Peter akan terus berdiri mengawasiku hingga aku masuk dan mengunci apartemenku. Aneh!? Maksudku, mengapa Peter tidak pulang saja. Kemudian menikmati suguhan istimewa di rumah megahnya itu? Hidupnya selalu berkecukupan. Apa semua warga asli Leiden seistimewa itu hidup mereka? Entahlah. Satu hal yang merong-rong kehidupanku saat ini adalah kesabaranku terpacu waktu. Tak sabar menunggu tahun depan. Baiklah, malam ini ketika aku terlelap. Aku mau bermimpi tentang pertemuanku dengan Andy.

Salju telah usai. Bunga-bunga mulai bermekaran. Bumi seolah terlahir kembali. Seperti biasa, keindahan sore selalu kunikmati dari balik jendela kaca besar kafe langgananku. Bersama Peter yang sedang asik membaca entah buku apa.
“Musim semi baunya harum sekali” gumamku. Kututup laptop abu-abu di hadapanku tanpa mematikannya. Aku menatap menyelidiki pria di depanku. Kacamata bertengger pada hidung mancungnya. Sempurna. Sempat kufoto beberapa kali.
“Pete” panggilku.
“Hm” tanpa mengalihkan fokusnya.
“Pete” kesalku. “Apa yang kau baca?”
“Pete” dengusku makin kesal. Peter memasang tampang bingungnya.
“Ini buku orang dewasa” ucapnya dengan mata menyipit. Spontan kututup mulutku.
“Pria mes*m!” seruku. Gantian Peter yang kaget.
“Apa? Apa yang kau pikirkan gadis bodoh”. Peter kembali menghadap bukunya.
“…”
“Huh, menyebalkan” Peter tersenyum simpul mendengar ocehanku.
“Besok aku jemput pukul 7 pagi. Kita akan berkeliling keukenhof” setelah berucap, Peter memberiku setangkai Hortensia dari balik buku tadi.
“Aku pergi Sia” lalu menepuk puncak kepalaku dua kali.
Pria aneh. Dia pergi tanpa mendengar persetujuanku?

Tepat pukul 7 pagi, Peter datang menjemputku.
“Kau tahu, musim semi selalu difavoritkan para bunga” ucap Peter dari balik kemudi. Kami mengendarai mobil mewahnya.
“Kau yakin, Pete?”
“Hm”
“Tapi aku tidak menyukainya”
Tanpa melepas kendalinya pada kemudi, Peter menatapku dengan tatapan ‘mengapa’. Aku membuang muka ke arah jendela.
“Andy. Dia pergi ketika musim semi” mataku terasa mulai panas mengingat Andy. Peter menghembuskan nafasnya kuat. Dapat kulihat guratan kesal Peter terpahat pada bayangan wajahnya dari kaca jendela mobil. Seterusnya kami hanya diam. Hingga sampai di tempat tujuan.

Kami memasuki kawasan salah satu taman tersohor di dunia ini. Peter telah menyiapkan dua tiket sebelumnya sehingga kami tak perlu mengantri untuk mendapatkannya. Setiap tahun keukenhof selalu ramai pengunjung. Aneka bunga warna-warmi tergeletak indah menghipnotis mata semua pengunjung. Aku mengambil beberapa gambar Peter tentu saja, tanpa sepengetahuannya. Peter tidak suka di foto. Hampir setiap musim semi aku selalu berkunjung ke sini tapi, keukenhof selalu menakjubkan bagiku. Lebih dari satu jam lamanya kami mengitari taman. Tak jarang aku minta digendong bila lelah menyerang kakiku.

“Istirahat dulu, Sia. Di sana” ajak Peter. Peter mengamit tanganku membawaku bersamanya. Kami memilih berteduh di bawah pohon pinus berdahan rendah. Terdapat beberapa lili, tulip, hortensia, dan bouganvile di sekitarnya. Satu jam lebih bersama Peter, membuatku sedikit melupakan harapanku untuk bertemu Andy. Sudah tahun depan dan tak ada pesan apapun dari Andy. Aku kembali memfoto Peter. Dia sedang bersandar pada batang pinus.
“Carilah objek lain Sia!”
Mataku menangkap sekumpulan tulip dan gerbera. “Itu indah!” seruku. Peter tertawa melihat tingkahku yang pasti langsung jepret sana sini.
“Andy” pekikku kaget. Sontak aku berlari menuju seorang pengunjung di seberang tempat kami duduk tadi. Peter mengekoriku. Aku menoleh, memastikan bahwa Peter yang mengikutiku. Maaf, Pete. Aku melihat Andy. Kemarilah akan kukenalkan dia padamu.

Nafasku tersengal. Keringat membasahi pelipisku, jantungku berdetak tak karuan. Susah payah kuatur nafasku. Jarakku hanya tiga langkah di belakang pria yang kuyakini sebagai Andy. Dia pasti Andy, aku sangat tahu. Dengan segenap keberanian, kutepuk punggungnya dan dia menoleh.
“Halo gadis kecil” aku melotot tak percaya.
“Andy! Aku tahu itu kamu. Maksudku, aku sedang mengambil beberapa gambar dan…” ucapanku terpotong. Andy menciumku. Tubuhku menghangat. Itu ciuman pertamaku, Andy mengambil ciuman pertamaku? Aku kaget.
“Aku rindu kamu, Sia”
Andy tersenyum manis. Kemudian mengamit lenganku, membawaku menyusuri ladang tulip. Aku menoleh ke belakang, Peter tersenyum. Dengan kedua tangan tersembunyi di dalam kantong celananya. Seolah membaca pikiranku, Peter mengangguk dan melambai padaku. Ah, pikiranku tak karuan saat ini aku bisa gila.

“Kamu tidak rindu padaku?” tanya Andy.
“Jangan fitnah. Aku rindu kok” mataku menjelajah bunga-bunga di sekitarku. Berusaha menetralisir keadaan.
“Benarkah”
“Hm”
“Aku punya sebuah cerita, Sia”
“Ceritakanlah” pintaku. Andy menarik nafas dan menghembuskannya lembut.
“Aku telah jatuh cinta” ucapnya.
Aku menatapnya dengan ekspresi yang entahlah seperti apa. Hening.
“Gadis itu telah mencuri pelukan pertamaku. Dia membebaskan hatiku untuk mencari cinta, dia sangat luar biasa”
Aku bungkam.
“Dia selalu mencuri mimpiku setiap malam” sambung Andy.
“Gadis itu?”
“Hm. Dan dia menyukai bau musim semi”
Sejauh ini, aku sudah mengerti cerita Andy. Kami bersitatap membiarkan angin melolong merdu seolah mewakili perasaan kami.

“Kau tahu, aku juga punya cerita” ucapku merdu. Kami masih melangkah.
“Kau selalu punya cerita, Sia” . Kami tertawa.
“Aku juga telah jatuh cinta Andy” Andy agak terkejut dan ia menutupinya dengan senyuman.
“Apakah itu setahun yang lalu?”
“Ya. Dengan pria berambut coklat di sana” tunjukku pada Peter di tempat parkir. Wajah Andy seperti kehilangan cahayanya dalam sekejap.
“Aku terlambat bukan?”
“Kau menyalahkan cinta?”
“Tidak”
“Mengapa?”
“Karena aku tak pernah memintanya untuk datang lebih cepat”
Andy tak pernah berubah.
“Lagipula, cinta terlalu sempurna bila harus disalahkan” komentar Andy lagi.
Kami tertawa.

Peter tersenyum hangat melihat kami. Aku langsung memeluk Peter erat. Seolah telah sekian lama tak berjumpa dengannya. Tapi, lebih kepada aku takut kehilangan dirinya. Mereka pun berkenalan. Kemudian Andy pamit pergi, dia harus mengejar kereta sore.

“Kau tak marah padaku? Maafkan aku Pete” tukasku. Masih memeluk Peter.
“Untuk ciuman itu?”
“Kau pasti melihatnya kan!”
“Bukan masalah”
“Kau yakin?”
“Gadis bodoh. Kau bahkan tak perlu bilang maaf”
Aku tertawa cekikikan. Peter tak main-main mencintaiku.

“Baiklah pria mes*m, kendorkan pelukanmu atau aku akan kehabisan nafas”
“Aku mencintaimu, Hortensiaku”
“Aku yang lebih mencintaimu, Pete”
“Baiklah. Kau yang menang”
🙂

Cerpen Karangan: ALis W

Cerpen Hortensia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dania

Oleh:
Di sana, di balik kaca yang berembun aku masih melihat bayangan wajahmu, Dania. Kereta Sriwedari yang kutumpangi kini merapat di Stasiun Purwosari. Dua belas menit memisahkan kita, masihkah kau

My Enemy My True Love

Oleh:
Kriiingg… Suara alarm memecah keheningan, sebuah tangan dari balik selimut menggapai dan mematikannya. Annisa beranjak ke kamar mandi, ia akan bersekolah pagi ini dan bertemu dengan teman-temannya yang menurutnya

Masih Ada

Oleh:
Tik… tik… tik… dentuman detik waktu membawaku berlari begitu cepat. Memaksaku untuk cepat melupakan masa lalu. Ya, masa lalu. Masa lalu yang sulit terdefinisikan. Bahagiakah? Senangkah? Sedihkah? Pilukah? Aku

Sebatang Coklat

Oleh:
Setelah usai pembagian kelompok untuk mengikuti kegiatan MPLS SMAN 22 Bandung selama 3 hari kedepan, akhirnya aku mendapat kelompok 3 “Panda”, bergegas aku memasuki ruangan kelas tersebut untuk mendapatkan

Ku Tak Menyangka

Oleh:
Kenalkan nama ku Mei, Aku memiliki sahabat yang bernama Syifa dan Aryanda. Aku adalah anak orang miskin, Ibu ku adalah pembantu di rumah Sahabat ku Syifa, walaupun begitu Syifa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Hortensia”

  1. Tidak umum dan mengalir dengan mulus.
    Tidak ada rasa jenuh ketika membacanya dari awal sampai selesai. Suka sama semua karakternya, suka sama latarnya yg membuat saya terhanyut ke dalam tulisannya, apa lagi yg di bagian taman tulip. Terima kasih atas ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *