HTS (Hubungan Tanpa Status)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 6 October 2017

“Bagaimana rasanya, Put?” Tanya Tari menatapku.
“Coba kau rasakan sendiri, biar tahu” kujawab menatapnya dengan senyum.
Tari mengerutkan keningnya “Aku tidak mau, itu pasti rasanya sakit”. Aku terdiam dan sejenak tersenyum setelah mendengarkan ucapan Tari.

Hubungan tanpa status, aku heran kepada diriku sendiri, tidak hanya aku tapi Tari pun bingung dengan menyikapi diriku. Tari adalah sahabatku, dia tahu hampir semua cerita cintaku, termasuk hal yang aku jalani sekarang.
Katanya aku ini “Bodoh” memilih merespon dia yang tidak ada kepastian, padahal bisa saja aku merespon Reza yang sudah pasti akan memberikan aku kepastian akan sebuah hubungan.

Kau tahu rasanya mencintai seseorang yang tidak bisa memberi kepastian untukmu? Di satu sisi ada seorang pria yang menyukaimu, dan bersedia memberikan kepastian suatu hubungan. Tapi kau tetap terus mencintai yang tidak jelas, kau pernah rasakan itu?. Terkadang aku marah, mengapa rasaku jatuh kepada Gio yang tidak bisa memberikan kepastian? Kenapa aku tidak bisa menerima Reza yang sudah pasti mencintaiku?. Ini rumit bila dijelaskan, terlalu pahit bila aku rasakan dalam dalam.

“Coba saja kamu bisa memilih akan jatuh cinta kepada siapa, mungkin takan serumit ini” Ucap Tari sambil meminum jus mangga di hadapannya.
“Coba saja apa yang dikatakan olehmu itu adalah kenyataan, mungkin aku tidak akan segila ini. Rasa itu tumbuh begitu saja, setelah tumbuh sulit untuk tumbang. Kalau tahu akhirnya aku akan mencintai Gio, pasti dari awal aku tidak ingin dekat dengannya” kujawab dengan menatap minuman yang ada di hadapanku.

Suasana kantin sekolah memang selalu ramai, tapi tetap saja terasa biasa untukku.
“Coba deh menjauh dari Gio, dia memang baik, dia juga bisa membuatmu nyaman. Tapi kalian dekat sudah cukup lama, ini terlalu dekat bila dikatakan hanya sebuah pertemanan. Tapi jauh dari kenyataan bila menganggap kalian adalah sepasang kekasih” Kata Tari menatapku. Sejenak aku diam dan mendengarkan ucapannya, dia benar dan aku tahu, aku tak seharusnya begini.

Aku ingin meminta penjelasan, kita ini apa? Teman? Bila memang begitu, mengapa sangat dekat?. Atau kekasih? Kapan pernyataannya terucap bila kita adalah sepasang kekasih? Kenyataan belum merestuinya karena memang belum ada penjelasan apapun. Bagimu, mungkin ini bukanlah beban. Tapi bagiku, kepastian adalah hal terpenting.

“Benar katamu. Tapi untuk menjauh itu hal yang sulit, Gio pernah berkata kepadaku untuk menjalani saja dulu seperti ini. Meski hal ini membuatku terganggu, bila aku terus menjalani seperti ini, lantas statusku dengannya apa? Baginya mungkin status tidak penting, tapi mengertilah aku ini butuh kepastian” Kujawab sedikit kesal.
Raut wajah Tari berubanh bingung, mungkin ini rumit. Aku menyukai Gio, kita dekat cukup lama, tapi status entah apa. Bukannya aku tidak mau bertanya statusku dengannya apa, tapi bila aku tanyakan dia selalu berkata “Jalani saja dulu”.

Hubungan Tanpa Status, itu adalah hal yang cukup menguras emosi. Aku bahagia karena dia selalu ada, karena dia aku selalu senyum-senyum sendiri, karena dia aku semangat untuk melakukan apapun. Tapi aku kesal, aku tidak bisa mengakuinya sebagai kekasih karena belum ada kepastian. Bila ini hanya sekedar teman, lalu mengapa dia selalu berkata “Kita ini lebih” bila aku berkata kita hanya teman.

“Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan, coba saja kamu tetap bertahan sampai kamu benar-benar lelah. Kalau tetap tidak ada kepastian, perlahan mending mundur dan mulai menerima hati yang baru yang mampu memberi kepastian untukmu. Contohnya aja si Reza, dia menyukaimu bahkan dia selalu mengejarmu. Ah memang cinta, terkadang aku kesal menbahas hal yang bersangkutan dengan rasa” jawab Tari kesal. Sejenak aku menghela nafas dan berpikir jernih.

Mungkin HTS itu menyenangkan, sama seperti pacaran namun bedanya status tidak jelas. Sebenarnya aku tahu alasan Gio tidak memperjelas statusku dengannya apa, ada suatu hal yang tidak bisa aku katakan. Bahkan untuk mengucapkan alasan Gio pun terasa sakit, tapi sudahlah jalani saja dulu.

Katanya mencintai tanpa memiliki itu adalah sakit, aku setuju. Tapi apa daya? Bila keinginan memiliki harus menunggu waktu beberapa saat lagi. Iya beberapa saat, meski aku tidak tau saatnya akan datang itu berapa lama lagi. Tapi sudahlah, ini adalah kebahagiaan kecilku bisa mencintai Gio. Biarkan aku mencintainya untuk beberapa lama lagi, hingga rasa lelah makin terasa maka aku akan menyerah. Bukan maksudku tidak memperjuangkan cinta, tapi mengertilah status bagiku itu adalah utama.

“HTS itu memang menyebalkan, tapi tetap saja aku lakukan. Aku mengerti akan berakhir seperti apa, meski bila akhirnya aku harus mematahkan lagi hatiku, tak apalah setidaknya tuhan pernah menitipkan bahagiaku akan hadirnya Gio di dalam hidupku” Kataku sedikit tersenyum. Tari yang mendengarkan ucapanku menatap dengan senyum manisnya. “Tuhan selalu memberikan apa saja yang seharusnya jadi milikmu, tenanglah. Tuhan sudah mengatur segalanya”.

Cerpen Karangan: Novia Fernanda
Facebook: Novia Sepersial Fernanda

Cerpen HTS (Hubungan Tanpa Status) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Yang Dipisahkan

Oleh:
Hai. Namaku Vivi. Umurku 16 tahun. Hobby-ku adalah berenang. Aku sangat suka dengan semua yang berbau Hello Kitty dan Negara Perancis. Yah, Paris tentunya. Menara Eiffelnya itu loh yang

Kotak Musik Kenangan (Part 1)

Oleh:
Pagi itu lisa membantu bunda menyiapkan sarapan dan berbenah rumah, seperti hal yang biasa lisa lakukan sewaktu di desa dulu. pagi itu masih gelap dan sangat dingin, bunga bunga

Gadis Perpustakaan

Oleh:
Sudah dua minggu lebih Adit menjadi siswa baru di SMKN 1 BLORA, dan hari ini hari selasa, hari yang sulit untuknya, karena hari ini ada pelajaran matematika dan ditambah

Hujan dan Kamu

Oleh:
Aku mulai menghitung dari hari ini, menghitung hari untuk sebuah perpisahan, perpisahan karena tak ada lagi pertemuan untuk waktu yang cukup lama. Memang, hari itu masih jauh, tapi aku

Lubang Kecil Kita

Oleh:
“aku nggak akan membiarkan diriku sendiri masuk ke dalam lubang yang sama, yaitu kamu” ya, hanya itu yang bisa aku katakan pada diriku sendiri saat mendengar nama itu kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *