Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 2 June 2017

Bulir bulir hujan yang turun dengan deras menemaniku sedari tadi. Aku mengeratkan selimut yang menutupi tubuhku. Dingin.
Sorot mataku tak henti-hentinya menatap ke arah luar jendela. Hujan masih saja tak berhenti, malah semakin deras.
Hujan… Banyak orang yang tak menginginkan kehadirannya bahkan mengumpatnya karena bagi mereka mengganggu aktivitas, namun banyak pula yang menyukainya, bahkan ada yang bilang jika “hujan membawa cinta” entahlah, aku tak mengerti dimana turunnya ‘cinta’ itu. Aku termasuk diantara orang-orang yang tak menyukai hujan.
Kenapa?
Yah.. karena hujan itu memang kadang mengganggu. Misalnya saja jika hujan di malam minggu, pasti yang punya rencana buat jalan-jalan dengan pasangan atau keluarganya menjadi terhalang, lagipula hujan itu membawa kedinginan, maksudku dingin untuk fisik, tapi jika hujan datang, waktu yang pas untuk tidur, yang salah satunya hobiku.

Aku merasa aneh, wanita-wanita di sekitarku, maksudku temanku sering mengatakan “hujan membawa cinta” Aneh sekali!, darimana cintanya? apa mereka pikir dikala hujan menurunkan seorang pangeran? haha itu lucu sekali!. Namun meskipun aku tak menyukai hujan, tapi kita tetap tak boleh mengumpat atau membencinya kan?. Hujan itu anugerah dari Tuhan, membawa berkah, maka dari itu kita tak boleh membencinya.. Hujan juga selalu setia, selalu setia turun, meskipun manusia-manusia menghindarinya jika ia datang dan bahkan manusia-manusia itu menghinanya. Dia tetap setia turun untuk menyejukkan kita, memberi kita air untuk minum, dan yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan agar tak mati. Banyak sekali bukan, manfaat hujan untuk kehidupan kita?

Drrrttt drrrtt
Lamunanku buyar, lalu aku segera merogoh saku celanaku mengambil handphoneku yang berbunyi.
“Halo.” Sapaku mengangkat telepon tersebut yang nomernya asing bagiku.
“Hei. Apa kabar?”
“Siapa ini?”
“Apa kau lupa dengan suaraku, heh?”
“Siapa ini? cepat katakan. Aku tidak tau.”
Aku mendesaknya karena penasaran.
“Aku Doni. Teman SMA mu.
jeda sejenak
“Apa kau ingat aku, Shella Riana? Aku dapat nomermu dari Denis, teman dekatmu. O iya, aku cuma ingin memberitahu sesuatu.”
“Astaga! Ternyata kau! Aku baik-baik saja kok. Apa yang ingin kau katakan? Cepat katakan yang ingin kau katakan.” Balasku antusias.

Doni adalah teman SMA ku yang sudah lama tak ada kabar, dan aku senang sekali dia menghubungiku sekarang dengan tiba-tiba?. Perlu kalian ketahui, Doni adalah cowok yang kusuka dari dulu. Tapi setelah lulus dan tak ada kabar, entah kenapa perasaanku mulai memudar. Kini, Dia menghubungiku lagi setelah sekian lama. Dan itu membuat hatiku terasa ada sesuatu yang menjalar hangat.

“Tapi jangan terkejut ya.”
Aku memutar bola mataku bosan.
“Cepatlah.”
“Aku di depan rumahmu sekarang. Keluarlah. Kau tau? Di sini dingin sekali dan kau tega sekali membuatku menunggu dibukakan pintu sambil kehujanan.”
“Apa?! bagaimana bisa..”
“Cepatlah.”
Langsung saja kumatikan teleponnya dan beranjak menuju pintu luar.

Cklek
Kini di hadapanku berdiri seorang pria yang wajahnya tak asing lagi bagiku, namun memang banyak yang berubah, dengan kondisi bersandar di mobil sambil memegangi payung agar terhindar dari hujan yang kini sudah turun tidak terlalu lebat. Langsung saja aku menghambur memeluknya sehingga payung yang dipegangnya terlepas jatuh.

“Kau ke mana saja dasar bodoh!” Ucapku masih memeluknya erat.
Kudengar ia berdecak kesal.
“Apa kau tak merasa kehujanan? lihatlah, payungnya jatuh karenamu. Kita kehujanan nih.”
“Ah maaf. Ayo masuk.” Aku langsung melepaskan pelukanku padanya lalu meraih payung yang tergeletak akibat ulahku dan menutupnya.

“Kau tidak berubah.” Katanya seraya mengelap rambutnya yang sedikit basah dengan handuk.
Kini kami sudah berada di dalam ruang tamu. Dan sedang duduk di sofa sembari meminum coklat panas yang kubuat.
“Kau juga.” balasku singkat sambil membantunya mengelap rambutnya.
“Aku ke sini untuk memberikan sesuatu. Maaf membuatmu terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba ini. Aku tau alamatmu dari Denis, lagi. Kami teman akrab dan satu kantor.” Ujarnya menjelaskan lalu menyeruput coklat panasnya.
“Ada apa? Apa yang ingin kau sampaikan? Sepertinya penting sekali?” Tanyaku terus menerus, lalu menatapnya.
“Ya memang sangat penting.” Ujarnya singkat lalu mengambil sesuatu dari balik jasnya.
Kulihat ia mengeluarkan sebuah undangan pernikahan berwarna biru muda dengan tampilan yang elegan nan indah.
“Doni Setya & Maya Aulia”
Aku tersentak melihat nama calon pengantinnya di undangan itu.

“Aku akan menikah minggu depan. Kau harus datang ya. Teman-teman kita sewaktu SMA dulu juga aku undang. Itulah mengapa aku sampai repot-repot mengantarkan itu di sini.”
Aku hanya diam mendengarnya, entahlah, rasanya hatiku tertusuk oleh ribuan jarum. Sesak dan sakit. Padahal aku baru berbahagia dengan kedatangannya di sini, namun lihat apa yang disampaikannya.

Aku segera membuang undangan yang tadinya berada di tanganku. Tak terasa air mataku mulai turun, aku terisak.
“A-apa yang terjadi? Hei. Kau tak apa?” Doni cemas sekaligus bingung melihatku yang tiba-tiba menangis.
“Kau jahat.” Ujarku seraya menatapnya tajam lalu aku memajukan wajahku dan menarik dasi yang ia kenakan.
Aku mencium bibirnya. Tak ada penolakan dan tak ada juga respon darinya. Aku membuka mataku yang tadinya terpejam, melihat ekspresi Doni yang terbelalak kaget. Tapi tak bertahan lama karena setelah itu aku memaksakan lidahku untuk menggerayangi mulutnya meskipun sulit, Doni membuka mulutnya memberi lidahku celah untuk masuk, aku melumat bibirnya dengan lembut, tanganku kini berada di lehernya, mengalungkannya. Setelah merasa benar-benar kehabisan pasokan oksigen, aku pun menyudahi ciuman itu, ciuman yang bagiku pertama kalinya.

“Apa yang kau lakukan?!” Tanyanya dengan nada tinggi.
Aku hanya menatapnya dengan air mata yang masih tinggal di pipi
“Aku mencintaimu.” Jujurku.
Akhirnya perasaan itu kini terungkapkan meskipun sudah lama.
“Jangan bodoh. Apa kau gila, hah?!” Dia membentakku kali ini.
“Ya. Aku memang orang gila yang memendam perasaannya padamu dari SMA hingga bertahan sekarang.” Ucapku lalu tersenyum miris.
“Biarpun kau mencintaiku. Apa gunanya baru mengungkapkan sekarang? Aku ke sini ingin memberikan undangan pernikahanku dengan calon istriku. Bukan memberimu waktu untuk mengungkapkan itu. Maaf. Tak seharusnya aku berada lama-lama di sini.” Dia sudah mulai ingin beranjak meraih knop pintu. Namun dengan cepat aku menahannya dan memeluknya dari belakang.
“Aku tau ini sudah terlambat. Seharusnya aku mengungkapkannya dari dulu. Aku memang bodoh.” Kataku sambil menyandarkan kepalaku di punggungnya.
“Oke. Lalu apa maumu sekarang?” Kini dia berbalik menghadapku.
“Aku ingin meminta satu hal.”
“Apa itu?”
“Katakan kau mencintaiku.”
Dia menghela napas berat
“Aku mencintaimu Shella Riana.” Ucapnya sembari menatapku.
Kini dia mengikis jarak di antara kami
Cup
Dia menciumku kali ini namun singkat. Ya, cuma ciuman singkat lalu ia melepasnya.
“Terima kasih sudah menjaga perasaanmu selama ini untukku. Namun maaf. Mulai sekarang lupakanlah aku. Dan terima kasih untuk ciumanmu.” Dia berkata lalu tersenyum lembut padaku.

Kini ia pun beranjak pergi meninggalkanku diikuti suara mobilnya yang meninggalkanku yang masih terpaku.
“Sama-sama Doni.”

Setelah kejadian ini, entahlah aku harus percaya dengan kata-kata “hujan membawa cinta” atau tidak. Tapi disaat kedatangan Doni di sini saat hujan turun, mungkin menurutku “Hujan membawa cintaku pergi.”

End

Cerpen Karangan: Melliaty Yopina Pratika
Facebook: Meliyati

Cerpen Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takut Jatuh Cinta

Oleh:
Pasti kalian sudah bisa nebak jalan cerita inikan! Begini waktu aku kelas 2 SMP aku tak tahu kenapa dan kebodohanku bisa–bisanya menyukai seorang cowok yang cuek banget walau begitu

Rindu Senja (Sebelum Senja Part 2)

Oleh:
“Terkadang hidupku, hidupmu dan hidupnya saling berhubungan. Terkadang hidup ini tak menentu dan tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang juga hidup ini tak kita mengerti. Namun bagaimanapun

Cincin Tahun Baru

Oleh:
Aku masih saja duduk termangu disini, bersama deburan ombak, serta langit dengan semburat warna oranyenya. Aku seperti merasakan anugerah yang Maha Kuasa di tempat ini. Ditambah lagi aku baru

LDR Seindah Cinta Semestinya

Oleh:
Sekarang gue pacaran dengan seorang wanita yang usianya di atas gue 2 tahun, dia lulusan baru angkatan 2014 bergelar S,Pdi (Sarjana Pendidikan Islam). Bagi gue dia adalah pacar dan

The Truth

Oleh:
“Serius lo, Gi?” Yogas menatap Egi geram. Seakan tak percaya dengan apa yang baru dikatakan sahabatnya barusan. Egi pun berusaha menatap Yogas dan perlahan mengganggukan kepalanya. “Gi, lo bebal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *