Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 May 2018

Seorang gadis yang nampak acuh terhadap keaadaan sekitar. Ia hanya menatap lurus ke arah jendela sekolah. Alunan nada melow dipadukan dengan suara bariton yang khas, dan kini tengah mengalun dalam earphonenya. Ia sempat terhanyut dalam sebuah kisah cinta sang pencipta lagu. Sebelum bel kesialan berbunyi.

“Kring… Kring..”
Seorang wanita paruh baya memasuki kelas dengan diikuti seorang anak laki-laki di belakangnya.
“Selamat pagi, anak-anak,” Ucapan salam yang selalu hadir dikala dia akan mulai mengajar.
Dan jawaban serentak dari kami. Selalu dan seperti ini. “Pagi, Bu…”
“Baiklah anak-anak, kita kedatangan murid baru dari…” Oke, dia mulai mengoceh, berceramah dan apalah itu. Dan terpenting gadis itu tidak mau, berepot-repot mendengarkan sedikitpun.

Ia malah melanjutkan meresapi, menghayati lagu yang ia dengar. Sampai sebuah panggilan menginterupsinya agar kembali ke dunia nyata.
“Allitha, kamu dengar tidak. Tolong angkat tangan kamu.” Allitha yang sedikit gelagapan, akhirnya langsung mengangkat tanganya.

Tiba-tiba, ia dikejutkan oleh seseorang yang duduk di sampingnya. Seumur-umur ia tidak pernah duduk berdua. Dan baru kali inilah ia duduk dengan seseorang, dan dia adalah murid baru.
Lelaki itu tersenyum manis, lalu mengulurkan tanganya. “Hai, namaku Diandra Alex, salam kenal.” Allitha hanya melihat sebentar tangan itu lalu ia kembali keaktifitas sebelumnya. Merasa terabaikan Andra meletakan kembali tanganya ke tempat semula.

Allitha, seorang cewek yang berbeda. Bukanya karena dia l*sbian atau semacamnya. Andra berpikir bahwa semua cewek itu sama saja. Centil, terlalu berdandan menor dan selayaknya remaja masa kini.
Allitha adalah orang pertama yang mengabaikanya. Tidak pernah Andra terabaikan seperti beberapa saat lalu.

Minggu demi minggu telah berlalu hingga hingga kini telah berganti bulan. Berbeda dengan pertemuan awal mereka kini mereka malah semakin dekat. Bertukar pendapat dengen kesukaan dan ketidaksukaan masing-masing. Seperti sekarang ini.

“Dra, menurut lo!, lo lebih suka hujan atau pelangi” Allita bertanya kepada orang di sebelahnya.
“Nggak suka dua-duanya,” Ucap Andra dengan nada santai. “Karena, menurut gue, hujan itu melambangkan setiap kesedihan yang gue rasaain. Dan kalo pelangi sih gue gak suka aja.”
“Kalo, menurut gue sih. Gue, lebih suka hujan daripada pelangi. Karena menurut gue pelangi itu kayak, tiap kesedihan itu nggak mesti endingnya bakal bahagia. Karena pelangi juga nggak akan mesti muncul setelah hujan” Allitha berucap dengan semangat.

“Ehm… Lit, lo mau nggak jadi pacar gue,” Andra berucap dengan tiba-tiba.
“Apa…” Allitha kaget, dengan ungkapan Andara barusan.
Lalu terlihat, Andra pergi begitu saja. Setelah mengucapkan kalimat itu.

Hari setelah Andra mengucapkan kalimat itu, Andra jarang terlihat lagi. Allitha bertanya di mana-mana, dan akhirnya ia menemukan kabar bahwa Andra telah pindah sekolah. Tapi, mengapa? Ia tidak bilang kepada Allitha. Apakah Allitha termasuk orang yang tidak penting lagi.

Hari ini, hujan mengguyur deras sekolah itu. Dan mulai saat itu Allitha sadar bahwa hujan memanglah lambang kesedihan setiap manusia. Dan hujan itu sendiri bisa menutupi kesedihanya.

The End

Cerpen Karangan: Dinda Trika
Facebook: Dinda Trika
Seseorang anak yang masih harus banyak belajar menulis cerpen. Dan duduk di bangku SMP tahap akhir.

Cerpen Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Can Only Hear You

Oleh:
17 Maret 2013 Aku membuka mataku. Ku rasakan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku dimana? Batinku. Kulihat ke sekeliling ruangan ini. Semua dindingnya berwarna putih. Sepertinya aku di rumah

Mawar Putih

Oleh:
Aku duduk di taman sekolah. Aku sedang memandang sebuah bunga yang sedari tadi menarik perhatianku. Bunga mawar, berwarna putih. Bunga kesukaan aku ini mengingatkan aku pada seseorang. Tiba-tiba seseorang

Hal Yang Tak Pernah Ku Lupakan

Oleh:
Namaku Chika Aditia. Aku tinggal bersama orangtuaku dan Kakek Nenekku. Aku sama seperti anak yang lainnya. Yang mempunyai rasa bahagia, rasa cinta, suka cita, dan duka. Sekarang aku duduk

Day by Day (Saat Kembali)

Oleh:
“Meow.” Ivi menoleh kanan-kiri saat mendengar sebuah suara yang sangat dikenalnya. “Meooww.” Suara itu semakin keras, membuat Ivi semakin menelusuri dari tempatnya berdiri dengan seksama. Matanya melirik ke dahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *