Hujan Bulan September

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 8 February 2017

Dulu kamu bukan siapa-siapa untukku. Aku yang cuek tidak pernah memperhatikan lingkungan sekitar secara detail. Aku hanya tahu namamu itu pun karena kamu pembimbing saat aku masa orientasi di sekolah dan kemudian menjadi salah satu guru di kelasku. Jika kamu tidak mengajar di kelasku belum tentu aku tahu namamu. Tapi tiba-tiba aku mulai cari perhatian. Mulai mengganggu kamu. Aku pikir itu hanya keisenganku di sekolah tapi ternyata itu berlanjut sampai ke rumah. Ah sial!! aku jatuh cinta. Tadinya mengirim setiap pesan singkat ke kamu itu hanya karena ingin meminta pendapatmu tentnag cerpen dan novel yang aku tulis. Tapi ternyata keterusan sampai ke sosial media, chatingan sama seseorang sampai larut malam dan sering itu menyebabkan cinta. Dan ternyata obrolan-obrolan yang tidak begitu penting itu menimbulkan rasa nyaman kemudian sayang.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan, waktu pun terus berjalan mengikutiku tanpa pernah menatap kembali sang mentari yang dahulu pergi, aku masih di sini menantimu mengharapkan akan hadirnya dirimu meskipun aku tahu tak seharusnya aku menyimpan rasa ini. Seminggu lagi adalah hari terpenting bagiku yaitu ujian nasional. Inilah penantian panjangku selama aku berada di sekolah. Sudah tiga tahun aku di sini, menempuh pendidikan sekolah menengah atas yang sangat menguras tenaga dan pikiranku. Setelah itu aku akan mencarinya.

Secangkir kopi terasa lebih hangat meski sebenarnya tak memberi efek samping untuk menghangati hati dan mengobati luka. Suasana sore itu sangat dingin. Tak apa. Tidak masalah bagiku karena dingin di hati ini melebihi itu. Embun semakin peneuhi suasana senja. Menusuk dingin hingga ke tulang. Kembali aku menikmati secangkir kopi yang mulai mendingin. Ada sesuatu yang memasuki diri, menjalar ke dasar jiwa, mecari sumber rasa sakit dan mengikisnya hingga habis. Tak tersisa. Sebelum menemukanmu, sebelum mengenalmu, sebelum mengenal luka setiap hariku jauh dari kata duka. Di bawah guyuran hujan, aku meratapi senja yang berubah kelabu, selayaknya hatiku yang menangis pilu.

“Dari mana? kok berteduh?” ucap seseorang mengagetkanku.
“Les bahasa inggris, mau pulang hujan makanya berteduh dulu.” Jawabku.
“Galau ya, kenapa?” katanya meledek.
“Mau tahu saja”
“ABG zaman sekarang pada galau-galauan.”
“Enak saja sudah 18 tahun sekarang sudah dewasa tahu”
“iya iya, sudah sana pulang mandi ay.”
“Nanti saja kalau sudah sampai di ramah.”
“Hujan tidak akan berhenti karena ada yang belum mandi”
“Hehe bisa saja”
“Jangan galau lagi ya, kalau di dalam al-qur’an mengatakan jangan terlalu lama bersedih untuk sesuatu hal yang sifatnya sementara.”
“Iya iya, sepertinya sudah cocok nih jadi imam udah pinter nasehatin.”
“Siap tidak siap harus siap.”
“Boleh dong jadi makmum?” ucapku menggoda.
“Boleh-boleh. Tapi kok kalau di sekolah disuruh jadi makmum malah kabur-kaburan.”
“Ye… berapa biaya pendaftarannya? Itu kan dulu masih kecil.”
“Gratis kok, tapi ada syarat yang sederhana. Jadi wanita soleha, tidak munafik, yang jelas konsekuen bisa dipegang kepercayaannya dan perkataannya.”
“Itu aku banget hehe.” Aku berdiri lalu lekas pergi.

Malam ini cuaca terlihat makin mendung, perlahan rintik hujan makin deras aku pikir malam ini akan jadi malam yang panjang karena tidurku pasti akan lebih nyenyak. Saat aku jatuhkan tubuhku mengambil ancang-ancang untuk tidur handphoneku berbunyi tanda satu pesan facebook diterima.
“Assalamu’alaikum, apa kabar ay? Bagaimana kabar sekolah?”
Aku terkejut dan bahagia ketika kudapati itu pesan darinya. Orang yang selama ini aku cari dan aku tunggu dalam setiap hariku. Tanpa pikir panjang aku langsung membalasnya.
“Waalaikumsalam pak. Sekolahnya lancar-lancar aja. Bapak apa kabar? Sudah lama tidak kelihatan?”
“Syukurlah, sehat dan baik juga bapak. Kapan UN nya?”
“Tanggal 14 pak, do’akan ya. Bapak sudah tidak mengajar lagi? Sudah lama tidak kelihatan?”
“Sebentar lagi tuh. Iya pasti bapak do’akan. Tidak ay, bapak sudah tidak mengajar lagi”.
“Iya pak, terima kasih. Kenapa tidak mengajar lagi? Lalu mengajar di mana sekarang?. Hmm… sudah menyerahkah menghadapi kami? hehehe”
“Bapak harus menghadapi keputusan sulit, memilih satu diantara dua pilihan tempat bekerja, dan dengan berat harus meninggalkan SMA bangsa. Menyerah sih tidak hehe”
“Hmm jadi sedih. Tetapi kapan-kapan bisa dong mampir ke sekolah pak. Sabar aja pak. Jadi tidak ada yang bisa diganggu lagi deh heheh.”
“Insyaallah masih bisa. Bapak juga sedih meninggalkan kalian siswa-siswi terhebat, tidak bisa dampingin UN dan perpisahan. Perasaan bapak tidak terganggu kok hehe”.
“Bapak bisa ikut perpisahan kok, bapak kan masih keluarga SMA bangsa. Iya insyallah”
“Ditunggu ya kedatangannya pak.”
“Isyaallah raya.”
“Ay ragu deh sama insyallahnya bapak, rasanya kurang afdol jika guru ay kurang satu pak”
“Insyallah bapak 9% pasti kok, hehe.”
“Oh iya ay, bapak sudah ganti nomor ini nomor bapak yang baru 08538480****”
“Iya pak nanti disave. Benar ya pak nanti perpisahan harus datang.”
“Oke.” Jawabnya singkat.
Setelah itu dia off entah apa yang dia lakukan hingga harus meninggalkan percakapan ini jujur aku masih ingin mengobrol panjang dengannya. Aku mengalihkan rasa kecewaku malam ini dengan menulis. Kuharap dia benar-benar datang nanti, aku berpikir sambil menatap keluar dari jendela dekat meja belajarku. Menghela nafas panjang dan mulai menulis lagi. Dan aku berharap perasaan kecewa itu akan menghilang seiring kesibukkan menulis yang aku lakukan malam ini.

Tiba-tiba hanphoneku berdering lagi buru-buru aku mengambilnya kuharap dia, tapi ternyata bukan yang ada hanya teman sekelasku yang bertemu di warung kopi tadi sore sewaktu berteduh pulang les. Heran. Dia sering sekali muncul tiba-tiba disaat yang tidak diharapakan. Seperti ada yang memaksa untuk aku harus membalasnya mungkin karena aku menghargainya karena teman sekelasku. Lagian dia juga bukan siswa yang nakal di sekolahku rasanya tak patut aku untuk menghindar atau menjauhinya. Dia siswa yang pintar terutama dalam mata pelajaran bahasa inggis dia pun suka membantu teman-temanku yang lain untuk membuat tugas atau sekedar belajar menambah ilmu pengetahuan. Sampai-sampai teman-temanku memanggilnya dengan sebutan Mr. selayaknya guru. Aku pun terkadang ikut memanggilnya begitu.

“On terus raya ni ya.”
“Hehe iya mr mumpung lagi banyak kuota. Mr juga on terus, sama kita.”
“Bagi pin BBM dong raya.”
“Tidak ada mr, minta pin mr aja nanti kalau sudah ada aku yang invite mr.”
“27a8d***, benar ya?”
“Iya. Handphoneku sedang rusak belum diperbaiki soalnya lagi sibuk maklumlah kan sebentar lagi UN.”
“Ciee yang sibuk belajar dan les bahasa inggris?”
“Hehe.”
“Setelah lulus mau kuliah di mana?”
“Belum tahu nih, lihat nanti saja.”
“Mau jadi guru bahasa inggris?”
“Hehe daya ingatku lemah mr, stress nanti. Tidak ada minat juga menjadi seorang pengajar takut karma hehe.”
“Haha ada yang takut karma, kenapa takut kalau lagi mengajar ditinggal salah satu muridnya? Seperti yang kamu lakukan pada pak Mario.?”
“Haha iya mr, nah itu tahu. Apa jadinya muridku nanti kalau guru seperti aku. Masih ingat saja.”
“Iya ingat lah, itu awal aku mulai ingin tahu tentang kamu dan pak Mario.”
“Maksudnya?”
Seperti biasa aku selalu ditinggalkan dalam percakapan yang mulai aku tanggapi serius entahlah mungkin dia tak sengaja tertidur atau mungkin tak sengaja ucapkan itu. Aku tidak mau ambil pusing aku mulai melanjutkan tulisanku.
Malam makin larut. Kantuk mulai menyerang sekarang waktunya aku tidur meskipun besok libur sampai tiga hari kedepan karena masa penenangan untuk hari senin. Hari dimana aku akan mengakhiri masa sekolahku yaitu ujian nasional.

Ketika hari UN pun tiba aku merasa goncangan dalam hati tiga hari ini adalah hari terakhir aku mengisi dan menumpahkan apa yang aku pelajari selama tiga tahun belajar. Aku coba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dulu pernah aku pelajari. Alhamdulilallah selama tiga hari aku menjalankan UN tersebut lancar tanpa halangan, godaan dan cobaan Sekarang tinggal menunggu hasil dari pusat mudah-mudahan saja hasilnya memuaskan. Amin.

Tak lama setelah ujian nasional hari yang aku tunggu pun datang yaitu hari perpisahan. Dia sudah janji untuk datang hari ini.
“Kenapa bengong?” pertanyaan yang lagi-lagi keluar dari orang yang tidak aku harapkan.
“Tidak apa-apa.” Jawabku lemas.
“Jangan bohong, tidak mungkin tidak ada apa-apa aku berdiam diri saja di pohon ini tidak bergabung dengan yang lain. Hati-hati kemasukkan hehe”. Katanya sambil tertawa.
“Apaan sih, tidak apa-apa kok”
“Dia tidak datang kan?”
“Siapa?” aku berpura-pura tidak tahu kupikir dia hanya sok tahu.
“Sudahlah aku tahu semuanya. Mau aku telephone kan?”
Aku langsung menatapnya tajam atas apa yang dia ucapkan barusan. Yang benar saja mau diletakkan di mana muka ini jika dia tahu aku begitu mengharapkan dia datang.
“Tenang bukan atas nama aku, atas namaku.” Lanjutnya.
Seperti mengerti apa yang hatiku katakana barusan. Membuat aku tak berkutik. Karena jujur aku ingin dia melakukan itu.
“Terima kasih.” Ucapku pasrah.
“Iya,dia bilang sibuk tidak bisa datang. Apa kamu akan tetap disini menunggu orang yang jelas-jelas tidak akan datang menemuimu?”
“Aku tetap di sini.” Ucapku dengan berlinang air mata yang tak aku sadari jatuhnya.
“Ya sudah aku ke dalam dulu ya.”
“Jangan pergi. Aku butuh kamu.” Aku memintanya dengan lembut.
“Oke.”
Melihatku menangis mungkin dia paham aku tak ingin bicara. Dia hanya berdiam diri di sampingku menatap keramaian sekitar. Hingga ke sekian menit aku membuka pembicaraan.
“Boleh aku Tanya sesuatu?”
“Aku tahu kamu mau Tanya aku tahu dari mana semua ini kan?”
“Iya.”
“Berawal dari saat aku jatuh cinta padamu. Aku mulai memperhatikanmu. Tapi sayang kamu cari perhatian pak Mario. Saat teman-teman berebut untuk belajar bersamaku kamu malah memilih berdiam diri menatap laki-laki tua itu haha.” Ucapnya mencairkan suasana.
“Saat bicara serius kamu masih sempat tertawa? Apa benar apa yang kamu ucapkan barusan?”
“Kenapa tidak, mencintai itu bukan untuk membuat kita berdiam diri memendamnya katakan jika memang iya. Cinta tak harus memiliki begitu pun aku yang tak ingin memilikimu. Jika ada rasa ingin memiliki itu bukan cinta tapi obsesi.”
“Tapi aku…”
“Tenang saja aku tidak memintamu untuk menjadi kekasihku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ada seseorang yang mencitaimu tanpa alasan.”
Aku tersenyum kecil atas setiap apa yang dia ucapkan.
“Percayalah ay kamu tak benar-benar mencintainya kamu hanya berusaha memastikan apakah kamu benar mencintainya. Hentikan sebelum kamu terluka semakin dalam.”
“Entahlah aku bingung dengan perasaanku sendiri.”
“Sudahlah jangan dipikirkan, kamu hanya butuh waktu. Aku tidak bisa lama-lama di sini aku pergi kita sudah terlalu lama di sini. Jangan lupa bahagia. Dan belajar move on dari pak tua itu.” Katanya berlalu pergi meninggalkanku.
“Terima kasih ndra.” Pekikku

Pak tua? Enak saja dia memanggil pak tua. Usia pak Mario hanya terpaut tiga tahun pada kami. Apa dia tidak tahu pak Mario adalah guru termuda di SMA bangsa, SMA nya sendiri.
Astaga. Aku jadi memikirkan semua perkataanya. Apa benar aku hanya memastikan apakah aku benar-benar mencintainya bukan karena aku sungguh mencintainya. Perlahan aku berjalan pulang ke rumah. Rumah yang terletak tak begitu jauh dari sekolah membuat aku memutuskan untuk pulang dan tidak melanjutkan acara perpisahan ini. Setelah mendengarkan apa kata mahendra bak mendung seketika menggoyahkan keyakinanku pada cinta pak Mario.

Hari berlalu begitu cepat, setelah seolah seharian ini mendung kemudian hujanlah sederas-derasnya tak ada lagi matahari hari ini, terbenam pula semua bintang, yang ada hanya gelapnya malam yang disertai deru angin kencang, tetapi lega rasanya berada di kamar yang kutempati sejak kecil ini. Kuharap besok jauh akan lebih baik.

“Sepertinya ada yang tidak mandi sore kemarin.”
Rasanya begitu bahagia kudapati BBM ini sama bahagianya ketika kudapat inbox dari pak Mario.
“Iya, kan lagi sakit hehe. Sakit hati hehe”
“Sekolah juga tidak mandi?”
“Kalau sekolah mandi dong.”
“Ya sudah tidur lagi sana, istirahat agar cepat sembuh.”
“Sudah tidak ngantuk, kamu aja yang tidur lagi sana.”
“Tidak lah aku sengaja bangun pagi biar bisa nonton bola nonton bola, lagi ada siaran langsung hari ini mancester unitied vs AC milan”
“Anak kost punya TV? haha”
“Ada lah, makanya mampir agar bisa lihat.”
“Iya deh kapan-kapan, jangan kasih alamat palsu ya.”
Lagi-lagi menghilang, hanya sekedar untuk say hai percakapan tidak penting. Tapi jujur aku bahagia.

Kata orang masa kuliah itu adalah masa yang paling menentukan hidupmu, masa depanmu, pekerjaanmu, gaya dan bahkan pasangan hidupmu nanti. Kelulusanku hanya tinggal dua hari lagi aku mulai mencari-cari universitas yang yang mempunyai jurusan yang aku mau yaitu psikologi dan sampai akhirnya hari kelulusan tiba aku langsung mendaftar di institut agama islam negeri di kotaku. Universitas yang berbasis agama mungkin aku akan lebih baik di sana terlalu banyak yang aku lupakan terutama tentang agama dan keyakinan hingga hidupku tak karuan seperti sekarang. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mulai berhijab.

Kali ini embun menyerap hebat dengan ribuan pasukan yang halangi pandangan luar jendela kamar. Aku yang mencoba menembusmu, menembus sesak setiap kali rindu datang. Aku yang tak pernah mencapai dasar hatimu karena takdir yang hanya izinkan aku sebagai pihak yang mengharapkanmu.

“Mulai kabur”
Satu kalimat dua kata kutuliskan di status facebookku, mata ini mulai kabur mungkin aku terlalu lama menatap layar laptopku untuk menyelesaikan novel pertamaku ini yang terispirasi dari mereka yang suka mondar-mandir tanpa kepastian di hidupku. Satu pemberitahuan Mario suhendra mengomentari status anda. Dan perasaan aneh itu datang lagi.
“Apa yang kabur?”
“Eh pak guru mau tahu saja apa mau tahu banget?”
“Mau tahu aja tapi banget.”
“Huuu tidak bisa pilih satu aja pak guru? Kalau begitu jadi bingung jawabya.”
“Request mau tahu tempe aja ay hehe.”
“Maaf pak guru tidak menjual tahu tempe adanya toge itu juga sudah basi, hhehe mau?”
“Padahal lapar nih, tapi kalau basi tidak deh nanti jadi penyakit”
“Kalau lapar remus mie istan aja pak guru. Tidak apa-apa sakit nanti kan jadi banyak yang perhatian hehe”
“Tidak ada yang bisa dimasak ay, makanya tadi minta tahu tempe. Kalau begitu tidak apa-apa sakit saja deh hehe.”
Kali ini aku yang meninggalkan percakapan, ini semua karena mahendra. Dia sumber segala keraguanku. Allah yang baik jika dia bukan jodohku aku mohon jauhkan dia dari hidupku tetapi jika memang dia jodohku jauhakan mahendra dariku. Aku takut percakapan rutin ini akan mengundang rasa yang berbeda.

“Ay ada yang menanyakan kamu.” Ane tiba-tiba mendatangiku di taman kampus.
“Siapa?” Tanya ku santai.
“Namanya ma.. ma… aduh lupa nih pokoknya ada ma ma nya begitu”
“Terus kamu bilang apa.”
“Bilang apa adanya hehe.”
“Memang kamu tidak mau tahu siapa orangnya.”
“Kan ada sosial media kalau dia perlu dia bisa hubungi aku kapan saja. Kalau dia lewat kamu berarti bukan perlu sama aku. Paling dia modus doang sama kamu.”
“Ya tidak mungkin ay aku tidak kenal dia. Mungkin dia orang yang suka sama kamu.”
“Yang suka sama aku banyak, Cuma yang gentel tidak ada hehe.” Ucapku sambil terus menatap laptopku.
“Sok cantik kamu. Sini hanphone kamu aku pinjam. Ada kuota kan?”
“Buat apa?”
“Sini dulu.”
“Nih..” kuambil hanphoneku lalu kuberikan padanya.
“Nih lihat ay, namanya Mahendra.”
“Siapa?” Tanyaku lagi memastikan aku tak salah mendengar.
“Mahendara. Tuli ya?” Tegasnya ulang.
“Tuh kan senyum… ayo siapa?” lirikkan mata ane mulai menampakkan keingin-tahuannya tentang mahendra.”
“Teman SMA.”
“Masa? Benar?”
“Iya.. sudah tidak ada jam kan. Pulang yuk.” Ajakku mengalihkan perhatiannya.
“Ayolah. Eh ay tapi kamu jangan katakan pada dia ya. Soalnya aku janji tidak katakan ini padamu.”
“Terus kenapa katakan ini kan sudah janji.”
“Habis kepo sih hehe. Aku yakin dia suka sama kamu. Kalau tahu kamu tidak akan cerita apa-apa tentang dia lebih baik tadi aku diam saja.”
“Huu dasar.”

Sesampainya di rumah, setelah sekian menit beristirahat aku kembali meneruskan cerpenku sambil on di facebook. Harap-harap mahendra akan menanyakan langsung apa saja yang dia tanyakan pada ane sahabatku di kelas. Jujur aku bingung dari mana dia bisa mendapati facebook ane yang jelas-jelas baru aku kenal semasa kuliah ini saja. Tag foto atau status pun tak pernah. Mana mungkin dia tiba-tiba bisa tahu ane. Apakah aku hanya kegeeran saja ya. Ah entahlah otakku rasanya tak kan sampai ke pemikiran mahendra yang aneh itu.

Sekian jam aku on dia tidak juga on. Entah setan apa yang merasuki sampai aku nekat yang inbox duluan hal yang tak pernah aku lakukan pada laki-laki manapun termasuk pak Mario.
“Hmm dengar-dengar ada yang mencari nih.”
“Siapa?” katanya langsung membalas ku piker dia tidak akan membalas secepat ini.
“Tidak tahu, kata orangnya jangan bilang.”
“Kok bisa? Jangan bilang malah sampai ke orangnya.”
“Au ah gelap…”
“Ganti pin ya?”
“Iya.”
“Hmmm.”
“Apa?”
“Mandi sana.”
“MENYEBALKAN”.
“Cari line-nya raya, Mahendra24.”
“Iya.”
Sekian menit, bak terhipnotis aku menurut saja apa yang dikatakannya untuk menambahkannya teman di line.
“Cantik foto line-nya.”
“Makasih gombalannya.”
“Bukan gombal, emang kenyataannya begitu sekarang sudah pintar dandan. Sudah move on kah?”
Aku tak berani menjawabnya, aku bingung rasanya aku mulai menyukainya dengan segala permainannya. Hilang timbul dalam hidupku .Datang membuatku ragu dengan keyakinanku pada pak Mario kemudian menghilang entah kemana, lalu datang bak memberi harapan baru.

“Woy balas dong. Belum move on ya?”. Satu pesan diterima darinya.
“Iya kenapa masalah buat lo?”
“Iya karena kan aku pernah bilang aku cinta sama kamu.”
“Makasih tapi aku belum bisa. Aku takut kamu kecewa.”
“Belum bisa apa? Jangan kegeeran ya.”
“Bercanda terus tidak lucu tahu.”
“Hehe kok marah. Mulai suka ya sama aku? Belajar move saja dulu sampai kapan pun aku selalu cinta sama kamu. Aku tidak mau jadi pelarian kamu. Aku akan kembali setelah kamu benar-benar mau membuka hatimu untukku. Temui aku di bandara besok jam 10 pagi besok. Aku mau lihat kamu untuk terakir kalinya.”
“Maksudnya? Kamu mau kemana?”
Tring… lagi-lagi menghilang. Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa dia harus pergi. Apakah dia sakit lalu dia akan mati? apakah dia akan bunuh diri? Atau dia akan pergi jauh dan tak akan kembali. Sialan dia membuatku gelisah malam ini. Mengapa rasanya aku begitu takut kehilangan dia. Rasanya aku ingin cepat-cepat pagi memastiakn semua permainannya ini. Ya allah apa aku mulai menyukainya? apakah aku terlambat?.

Pagi ini tampak cerah, aku kuliah seperti bisa a. Jam pertama keluar sekitar jam 09.15 jarak kampus ke bandara hampir setengah jam semoga aku tidak terlambat.
“Ne aku harus pergi, tolong izinkan aku jam ke dua nanti ya.”
“Mau ke mana?”
“Bertemu mahendra.”
“Cie..“ katanya.
“Sttt nanti aku ceritakan sekarang aku harus pergi sebelum terlambat.”
“Oke good luck sayang.”
“Thank you.”

Aku menaiki taksi yang biasa aku tumpangi kuharap aku tidak terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 09.55 di mana aku harus menemuinya. Ah bodohnya aku mengapa tak aku tanyakan di mana aku harus menemuinya bandara ini tak hanya semeter dua meter aku pun tak tahu tujuannya kemana atau dia mau melompat dari lantai berapa atau pesawat yang mana. Merasa manusia paling bodoh aku menangis tak tertahankan membuktikan bahwa aku benar-benar takut kehilangannya dan semua kekonyolan yang membuat aku nyaman berada di dekatnya. Di tengah keramaian aku menangis, tiba-tiba suara itu datang. Suara yang selalu membuat aku terkejut.
“Kenapa menangis? Takut banget kehilangan aku?”
“Ndra..”
“Lama sih, aku tidak sempat untuk menjelaskan semuanya. Nih ambil.” Sambil memberikan kotak kecil padaku.
“Kalung ini?”
“Simpan baik-baik aku titip hatiku untuk kamu. Suatu saat aku akan kembali. Jangan menangis, jelek tahu. Nanti pak tua tak akan pernah suka sama kamu. Jangan membuat status-status alay lagi dengan nama inisial dia. Di dunia banyak orang pintar hehe.” Katanya sambil berlalu meninggalkan ku.
Lalu aku hanya tersenyum tipis kata-kata selalu membuat aku tak berkutik. Dia memberikan kalung dolphin berbentuk hati. Aku suka. Aku akan simpan sampai dia kembali.
“Mahendra… terima kasih, aku mulai suka sama kamu.”
Dengan gaya konyolnya dia putar balik, kupikir dia tidak jadi pergi ternyata hanya untuk meledekku saja.
“Apa?”
“Tidak ada replay”
“I’m always love yo ay”
“Jangan lupakan bulan ini September 2012 saat pertama kali kamu bilang suka padaku, hujan jadi saksinya.” Ujarnya kemudian berlalu pergi
“Hujan?”

Aku terlalu terhanyut dalam perasaanku sendiri sampai aku tak menyadari hujan mulai menderas. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kampus dan masuk kelas berikutnya hujan ini tidak akan membasahiku karena aku naik taksi. Sebelum aku menjawab semua pertanyaan Ane nanti tentang hubunganku dengan mahendra. Sambil berpikir aku menuliskan status di facebookku.

“Woy kamu baca ya, status alayku hahaha. Setelah ini pasti kamu meledekku setengah mati. Btw makasih sudah memberi harapan padaku. Jujur aku gak suka sama muka kamu aku hanya nyaman brsamamu. Ingin kamu ada di sini terus. Jangan pergi. Jangan cuek. Aku tidak suka kamu perlakukan seperti itu. Kalau kamu memang harus pergi, pergi yang jauh atau mati saja sekalian agar tak kelihatan olehku. Nanti aku block semua sosmed kamu biar aku juga bisa move dari kamu. Woy kalau kamu baca status ini nanti satu pesan untuk kamu, kasih kepastian dong. Jangan pergi begitu saja tanpa alasan.”

Cerpen Karangan: Oktaviani
Facebook: Oktaviani

Cerpen Hujan Bulan September merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Meraih Mawar Merah

Oleh:
“Berjanjilah untuk datang ke sini minggu depan?” Suara tangisan yang memilukan terdengar di seberang telepon sana, kenapa dia menangis? Aku sedang kerja. Seperti itulah kami kadang tidak saling mengerti

Perasaan Di Teras Gereja

Oleh:
Saat ini aku ingin sekali duduk di sebelahmu, menatap indah mata hitammu, menceritakan tentang kisah kita menurut sudut pandangku. Jika kau mengatakan ini adalah pembenaran diriku atau kebohongan, aku

Clouds

Oleh:
Hari ini terlihat hujan yang sangat deras. Jalananpun basah olehnya dan daun daun pun juga basah. Hari ini cuaca memang sangat tidak mendukung, meski begitu aku tetap berniat mengunjungi

Pria Di Persimpangan Jalan

Oleh:
Dia adalah seorang pria biasa yang baru lahir dari waktu. Ini adalah waktunya untuk berani berjalan menelusuri dunia yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Berawal dari waktu kehancuran tempat

Khayalan Si Bungul 4 (Last Chocolatte)

Oleh:
Di sebuah sekolah yang elit dan terkenal, Terlihat seseorang berjalan di lorong-lorong kelas. Dengan memeluk tas dan kacamata besar di pastikan kalau dia itu culun baget. Dia pertama kali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *