Hujan Dan Segelas Hot Cappucino

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 17 March 2018

Pagi ini hujan lagi, Namun aku tetap harus berangkat sekolah. Oh iya kenalin nama gue Lorenzi. Pagi ini gue harus jemput sahabat gue sifa, gue bersahabat sejak kelas 6 sd sampai kelas 7 smp ini.

“Ma loren berangkat sekolah dulu ya.” panggilku.
“Sepagi ini?” tanya mamaku bingung.
“Iya hari ini ada rapat osis dan loren harus jemput sifa.” jawabku.
“Sifa anggota osis juga?” tanya mamaku lagi.
“Iya.” jawabku.
“Nih pake jaket.” kata mamaku sambil memberi jaket berwarna hijau.
“Lozen berangkat ya ma, byee…” ucapaku sambil mencium tangan mamaku dan memakai jaket.

Dan aku sekarang berada di bawah rinai hujan.
“Maaf ya hujan gue belum biasa main sama lo, gue harus berangkat sekolah.” gumamku.
Lalu terus berjalan, Sampai di depan rumah sifa. ternyata sifa sudah nunggu dari tadi dengan payung pinknya.

“Woi lama banget!!” omel sifa.
“Iya sorry lah kan lagi hujan.” jawabku.
“Ya udah yuk berangkat sebelum terlambat. gak lupa kan hari ini ada rapat osis.” balas sifa.
“Enggak, yuk.” balasku sambil berjalan. Berbagai rintangan kami lewati mulai dari genangan air hingga lintingan air dari motor dan mobil yang berlalu lalang.

Sesampainya di gerbang sekolah, jaketku basah semua.
“sifa kita telat 5 menit.” ucapku gelisah.
“Santai aja, nanti kalau lo gak mau bicara sama si ketos itu biar gue aja.” tawar sifa.
“terserah lo.” balasku sambil berjalan ke ruang osis.

Sesampainya di ruang osis.
“Sorry kita telat.” ucapku sambil masih mengunakan jaket basah.
“Masuk.” jawab ketua osis yang masih menatapku sampai aku duduk bersama pengurus osis yang lain.
Lalu si ketos itu sambung menjelaskan.
“Blablabla…” sampai selesai.

“Oke semua pengurus osis boleh kembali ke kelas masing masih.” kata ketua osis.
Lalu aku berdiri melepaskan jaket dan mengikatnya di pinggang.

“Loren Lo di sini ada yang mau gue bicarain.” kata ketua osis.
“Sifa tunggu gue nanti di kelas.” panggilku.
“Oke.” jawab sifa sambil menyambung langkahnya.

“Apa yang lo mau bicarakan?” tanyaku kepada ketua osis.
“Dan dari mana lo tau nama gue?” tanyaku lagi.
“Gak penting gue tau nama lo dari mana, dan yang penting lo panggil gue pake nama, ko jeremy.” jawabnya pake nada tinggi.
“Lalu buat apa lo suruh gue di sini?” tanyaku.
Dia hanya diam dan menatap papan tulis yang ada di ruang osis.

“Woi gue bicara sama lo!!” bentaku.
“Lo gak tau cara bicara sama orang yang lebih tua dan gue udah suruh lo bicara pake nama gue.” bentaknya balik sambil berjalan mendekat.
“Terserah gue, mulut mulut gue masalah buat lo.” ucapku marah. namun dia tak menghirukannya dia masih terus berjalan mendekat dan aku terus mundur sampai mentok ke dinding.

“Sekarang apa yang lo mau?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Gue mau lo panggil gue pake nama.” jawabnya dengan nada datar.
“Oke, ko jere.” ucapku.
“Apa tadi lo bilang?” tanyanya.
“Ko jere.” ucapku dengan suara yang keras. dia hanya tersenyum jahil dan menjauhkan dirinya dariku, aku mengambil tas dan berlari keluar dari ruangan osis.

Sesampainya di kelas. ternyata guru gak masuk karena ada rapat.
“Sifa…” sapaku.
“Nah akhirnya lo datang, lama banget.” jawab sifa.
“Sorry tadi ada bisnis.” jawabku.
“Sok sibuk lo.” balasnya lalu aku meletakan tas di kursi dan berjalan keluar kelas tegak d iteras melihat kondisi.

Tiba tiba aku melihat wali kelasku berjalan ke kelasku langsung aku berlari masuk dan duduk di kursi.
“Pagi anak anak.” sapa wali kelasku.
“Pagi buk.” jawab siswa dan siswi serentak.
“Hari ini kalian tidak belajar guru ada rapat kalian boleh pulang.” kata wali kelasku.
Kelas pun menjadi ruh dan pada membereskan barang barang dan bersiap pulang. dan tiba tiba ada penguguman dari TU. “Besok sekolah kita akan mengadakan pensi. bagi yang ingin mengisi acara harap daftar ke osis sekarang. terimakasih.”

“Loren lo gak isi acara?” tanya sifa.
“Mau sih cuma siapa yang mau nyanyi?” tanyaku.
“Gue aja.” jawabnya.
“Kalau gitu besok gue bawa gitar kita main lagu rain-rizky nazar.” balasku semangat.
“Oke, tapi lo yang daftar ya.. gue mau langsung pulang soalnya tadi udah sms mamaku.” kata sifa.
“Oke.” jawabku sambil menyandang tas dan menuju ruangan osis di sana sangat sepi hanya ada si ketos itu.

“Ngapain lo di sini?” tanya ko jeremy.
“Lo tanya gapain gue mau daftar isi acara pensi.” jawabku.
“Nih tulis.” kata ko jeremy sambil menyerahkan pena dan buku. Aku mengambilnya kasar dan menulis dengan cepat. dan langsung berjalan keluar ruang osis.
“Woi pena gue!!” teriak ko jeremy.
“Nih gue gak butuh pena lo.” balasku sambil melemparkan pena ke arahnya.
“Santai lo.” balas ko jeremy.
“Bodo amat.” jawabku sambil melanjutkan langkahku keluar dari sekolah berjalan di tengah tirai hujan yang masih turun dari tadi pagi.

“Akhirnya gue bisa main sama lo.” gumamku sambil meletakan tas di bawah pohon dan melepaskan jaket yang kuikat di pinggang dari tadi dan menadahkan tangan.

Tak beberapa lama kemudian.
“Lo ngapain di tengah hujan.” teriak seseorang.
“Sepertinya gue kenal suara ini, apa mungkin ko jere eh enggak gak enggak gak mungkin.” pikirku.
“Woi lo dengar gue gak sih.” panggilnya. Namun aku masih tak menghirukannya.

Namun setelah 10 menit kemudian aku tak mendengar suara laki laki itu lagi dan memutuskan untuk berteduh di bawah pohon sambil menadahkan tangan ke atas menampung air hujan.

“Nih buat lo.” ucap seseorang di sampingku sambil menawakan segelas hot cappucino.
“Tenang gak gue kasih sianida kok.” ucapnya lagi.
“Thanks.” jawabku sambil mengambil hot cappucino dan berbalik melihatnya.
“Thanks.” ucapku lagi dan ternyata benar itu adalah ko jere.

“Lo suka hot cappucino ya?” tanya ko jere. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Lo cantik jika lagi senyum dari pada tadi meregut aja terus bosan nengoknya.” ucapnya sambil tersenyum jahil.
“Lo suka hujan gak?” tanyaku.
“Suka.” jawabnya.

“Gimana kalau kita main hujan?” ajakku.
“Boleh, yuk.” balasnya sambil mengambil hot cappucino dari tanganku dan meletakkannya di atas sebuah kayu dan menarikku ke tengah hujan.

“Gue sudah lama gak main hujan.” ucap ko jere.
“Menurut lo hujan itu seperti apa?” tanyaku.
“Hujan itu menenagkan. menurut lo?” jawabnya sambil tersenyum.
“Hujan itu indah biasanya orang menunggu pelangi yang datang setelah hujan, namun aku menunggu hujan yang akan datang sebelum pelangi.” balasku sambil tersenyum. mata kami pun beradu tapi entah mengapa jantung ini berdetak lebih kencang.
“Apa gue jatuh cinta?” pikirku.
“Tapi ini tak boleh terjadi.” gumamku.

“Apa yang gak boleh?” tanyanya.
“Dia bisa dengar yang gue bilang?” pikirku.
“Woi gue bicara sama lo, melamun aja.” panggilnya.
“Gak ada.” jawabku salting.
“Lo salting ya?” tanyanya.
“Dia kok bisa tau kalau gue salting?” pikirku bingung.
“E.. enggak kok.” jawabku gerogi.
“Yuk neduh dulu.” ajaknya sambil menggenggam tanganku menarikku kebawa pohon dan mengambil hot cappucino.
“Nih minum lagi.” tawarnya sambil tersenyum jahil. Aku mengambilnya dan meminumnya sampai habis.

“Lo tinggal mana?” tanya ko jere.
“Jalan dahlia komplek mutiara.” jawabku.
“Biat gue antar.” tawarnya.
“Gak usah.” jawabku.
“Cepat aja!!” bentaknya sambil berjalan kearah motor dan menyalakannya.
“Cepat naik.” gesahnya. Lalu aku naik dia membawa motor dengan sangat laju.

Tiba tiba dia ngerem mendadak sehingga aku tak sengaja memeluknya.
“Enak kali lo meluk gue lo kira gue tempat pelukan umum.” gomelnya.
“Iya sorry, siapa suruh lo berhenti mendadak.” jawabku.
“Iya ya ya.. ya udah sekarang pegang.” balasnya.
“Cepat!!” bentaknya lagi, aku melakukanya.

Sesampainya di rumah jam 16.34
“Thanks tumpangannya.” kataku sambil tersenyum.
“Sama sama.” jawabnya sambil tersenyum dan sambung mengendarai motornya dengan cepat.

Di dalam rumah.
“Baru pulang?” tanya mamaku.
“Iya.” jawabku.
“Pasti main hujan lagi, dan cowok tadi siapa pacar loren ya.” goda mamaku.
“Enggak cuma teman.” jawabku.
“Hati hati dari teman jadi pacar, dia siapa?” balas mamaku.
“Itu si ketos, namanya ko jeremy.” jawabku.
“Ooo… sekarang cepat ganti baju.” gesa mamaku.
“Siap boss.” candaku sambil berlari kekamar dan mengganti baju.
Siap ganti baju aku keluar kamar untuk makan. Setelah siap makan aku kembali ke kamar untuk mempersiapkan buat pensi besok.

Pagi hari..
“Loren bangun gak mau pergi sekolah ya!?” panggil mamaku.
“Iya bentar lagi.” jawabku.
“Cepat.” gesa mamaku.
“Ya ya ya.” jawabku sambil berdiri tempat tidur dan ke kamar mandi.

Setelah siap mandi aku mengambil gitar dan hp plus earphone.
“Ma loren berangkat sekolah ya.” panggilku.
“Iya hati hati. buat apa bawa gitar?” tanya mamaku.
“Buat pensi nanti. loren berangkat, bye…”. jawabku sambil berjalan keluar rumah.
“Bye…” balas mamaku.

Di perjalan ke sekolah ada telepon masuk.
“Siapa lagi lah yang nelepon.” keluhku.
“Hallo, kenapa nelepon pagi pagi?” tanyaku.
“Gue gak bisa datang hari ini.” jawab sifa.
“Kenapa?” tanyaku.
“Ada urusan keluarga, udah ya gue tutup teleponnya.” balas sifa. Lalu kau melanjutkan langkahku ke sekolah.

Sesampainya di sekolah aku langsung naik keruang osis buat tidak jadi isi acara pensi.
Sesampainya di depan ruang osis.
“Akhirnya lo datang. sekarang lo bantu gue siapkan pensi.” kata ko jeremy.
“Malas.” jawabku.
“Cepat aja, kalau gak buat apa gue pilih lo jadi anggota osis.” balasnya.
“Malas.” jawabku sambil berjalan pergi namun dia menahan tanganku.
“Iya ya ya. apa yang mau gue bantu persiapan pensi?” tanyaku.
“Nah angkat ini.” jawabnya sambil menberikan barang barang yang mau dibawa.
“Apa ini?” tanyaku.
“Ini buat hiasan panggung.” jawabnya sambil berjalan. Aku hanya mengikutinya sampai di panggung.
“Sekarang bantu gue hias panggung.” ucapnya.
“Lo kira gue suruhan lo.” kataku marah.
“Hampir.” jawabnya.

“Biar gue bantu.” Tawar seorang cewek.
“Nih barang barangnya bantuin dia.” kataku sambil memberikan barang barang lalu berjalan pergi.
“Woi gue suruh lo bukan dia.” teriak ko jeremy.
“Gue gak mau bantu lo.” teriakku sambil berjalan naik untuk latihan sebentar.

Baru saja latihan. tiba tiba aku mendengar suara orang bermain gitar sambil bernyayi lagu rain-rizky nazar.
Aku berjalan memdekati asal suara itu dan..
“Ko jere..?” panggilku dari belakang.
“Kenapa ada masalah?” tanyanya sambil membalikkan badan.
“Gak ada.” jawabku.
“Gue tau lo tadi pagi datang ke ruang osis buat mengundurkan diri dari mengisi pensi karena sifa gak datang kan.” sambungnya.
“Lalu?” tanyaku.
“Dan gue mau lo gak mengundurkan diri dari mengisi pensi jadi gue akan main gitar sama lo, lagu rain.” sambungnya.
“It’s okey.. gak masalah.” jawabku.
“Ya udah kalau gitu kita coba bersama main gitarnya sambil nyanyi juga.” balasnya.
“Ya udah yuk.” aku duduk di sebelahnya.

Lalu kami latihan gitar bersama. Tak beberapa lama kemudian. “Ketua osis dipanggil ke TU sekarang.”
“Gue pergi dulu.” ucapnya sambil membawa gitarnya turun.
“Kalau bisa jujur lo keren dengan gitar dan posisi yang lo sandang sekarang.” gumamku.
Lalu aku sambung bermain gitar sebentar lalu turun nonton acara pensi.

Dan sampailah giliranku mengisi acara pensi aku naik ke panggung.
“tapi mengapa ko jere gak datang datang, apa yang dia katakan tadi bohong.” pikirku.
“Lo nunggu gue kan.” Kata seseorang dari belakang dan aku berbalik untuk melihatnya.
“PD kali lo.” ucapku.
“Gue yang ke PD atau lo yang gengsi.” balasnya lalu duduk disampingku.
Lalu mulai bermain gitar.
“Lo ganteng lagi main gitar.” pikirku.
Dan sesekali mata kami beradu, itu membuatku salting.
setelah siap main gitar gue turun dari panggung dan sambung pengisi acara yang lain.

Seiring waktu langit pun mendung. Acara pensi sudah selesai.
“Para anggota osis berkumpul di ruangan osis sekarang.” panggilan dari TU.
Lalu naik ke ruang osis.
“karena acara pensi sudah siap dekorasinya dapat disimpan kembali.” ucap ke jeremy.
Lalu semua anggota osis turun untuk membereskan semua dekorasi pensi karena nanti basah kenak hujan.
Setelah lama membereskan satu persatu anggota osis sudah mulai pulang dan sekarang hanya tinggal 5 orang.

Tiba tiba hujan pun turun. Semuanya pada berteduh aku malah tegak di tengah tirai hujan.
“Lo main hujan lagi?” tanya seseorang daru belakang.
“Iya.” jawabku singkat sambil masih main hujan.
“Gue boleh ikut.” tanyanya.
“Boleh siapa yang larang.” ucapku.
“Hatimu.” jawabnya membuatku membalikkan badan.

“Ko jere.” panggilku, Lalu ia berjalan mendekat.
“Iya, gue mau bilang sesuatu sama lo.” sambungnya.
“Bilang aja gak ada yang larang.” jawabku sambil masih bermain hujan.
“Sebenarnya gue suka sama lo..” sambungnya.
“Lo mau gak jadi pacar gue?” ucapnya sambil memegang tanganku.
Anggota osis yang ada menjadi riuh.

“Gue juga suka sama lo.” balasku.
“Jadi.” sambung ko jere.
“Gue mau jadi pacar lo.” jawabku.
Lalu dia menarik tanganku dan bermain hujan. Setelah lama bermain hujan kami pun duduk di pinggir kelas yang ada kursinya.
“Gue mau ambil sesuatu buat lo.” ucapnya sambil berjalan pergi.

Tak beberapa lama kemudian.
“Nih buat lo..” sambil menawarkan segelas hot cappucino.
“Thanks.” ucapku sambil tersenyum.
“Sama sama.” balasnya sambil tersenyum.
Kami menghabiskan waktu bersama dengan melihat hujan dan segelas hot cappucino.

The End

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Facebook: winne chintia
Thx telah baca 🙂

Cerpen Hujan Dan Segelas Hot Cappucino merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Dunia Maya

Oleh:
“Although we have never met… but you were able to make me comfortable… I guess I’m fall in love…” Begitu statusku di fb. Namaku Indah, aku adalah seorang gadis

Kehilanganya

Oleh:
Aku memcoba membukakan mata ku, yang terbangun dari mimpi indah ku, sorotan sinar mentari memantul ke arah jendela kamar “ya ampun sudah siang” gumam ku dalam hati segera ku

Sahabat Scouts Selamanya (Part 2)

Oleh:
Jam sudah menunjuk pukul 12:10, kami sudah berkumpul di tengah lapangan, begitu juga dengan peserta lainnya, kami membentuk barisan, dimana setiap barisan berisi anggota dari sangga masing-masing. Kali ini

Sebuah Pertanyaan (Part 1)

Oleh:
Aku masih termangu di basecamp PMR ketika malam mulai meniupkan nafasnya yang dingin menggigit. Acara besar menanti besok, namun hujan belum juga berhenti. Kubetulkan posisi jaket yang aku gunakan

Masa Yang Panjang

Oleh:
Pertama aku melihatnya di teras halaman depan rumahnya, mataku seperti terkunci hanya untuk melihat wajahnya. Maklum aku baru datang di kota ini karena aku baru pindah sore ini ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *