Hujan Di Abu Abu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 February 2016

Masih terdiam di derasnya hujan yang membasahi luasnya kota. Dinginnya udara tidak membuat tubuh ini tergerak. Kerasnya suara deras hujan yang jatuh di antara jalanan dan atap bangunan hanya menjadikan latar suara untuk tempat ini. Warna yang saat itu entah hitam ataukah putih hanya sebuah latar di luasnya langit. Dinginnya air hujan yang membasahi tubuh ini hanya membuat mati rasa. Diri ini hanya menunggu redanya deras hujan dan semua rasa dingin yang menusuk sampai ke dalam kulit.

Aku masih terdiam menunggu hujan ini reda. Berdiri di sebuah trotoar jalan yang digenangi air hujan. Pandangan ini masih menatap lurus pada percikan air hujan yang berjatuhan. Dari jauh terdengar sebuah langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat dan suara itu pun berhenti tepat di sampingku. Angin masih berhembus cukup kencang dan membawa dinginnya udara yang menerpa semua bagian tubuh ini. Sesaat aku merasakan sebuah kehangatan pada pergelangan tanganku dan rasa hangat itu bukanlah rasa hangat yang biasa. Bukanlah hembusan angin ataupun air hujan yang berubah menjadi hangat. Aku mencoba mengalihkan pandanganku pada seseorang yang berdiri di sampingku.

“Dia tersenyum.”

Seorang perempuan berdiri di sampingku sambil memegang pergelangan tanganku. Saat ku lihat wajahnya dia tersenyum padaku. Aku tidak mengenal siapa perempuan itu hanya saja senyuman itu seperti ada sebuah kehangatan sekejap yang membuat bias dinginnya udara. Perempuan itu memegang sebuah payung yang dipakainya. Dia menarikku sambil berjalan pergi dari tempat di mana aku berdiri bersamanya. Saat itu angin semakin kencang dan dia terus berjalan sambil memegang tanganku seperti tidak ingin melepaskan pegangan tangannya padaku. Aku tidak tahu sampai kapan dia akan terus berjalan dan kapan dia akan berhenti. Hanya saja kehangatan tangannya membuat perasaan ini berubah. Rasa dingin itu sedikit demi sedikit menghilang. Aku hanya bisa melihat perempuan itu sambil memegang tanganku dari belakang.

“Cermin.”

Entah sampai kapan dia terus membawaku berjalan dan entah sampai kapan hujan ini akan reda. Warna langit yang belum berubah dan suara derasnya hujan masih terdengar di telinga ini seakan berbisik, “Aku tidak akan pergi,” Perempuan itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya padaku. Terlihat bibirnya seperti bergerak ingin mengatakan sesuatu tetapi aku tidak bisa mendengar suaranya. Perempuan itu seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi kerasnya suara deras hujan membiaskan suaranya.

Aku bingung apa yang harus ku lakukan karena aku tidak bisa mendengar suaranya sedikit pun. Lalu dia melepaskan tanganku dan kita mulai berhenti berjalan. Dia seperti mengambil sesuatu di dalam sakunya lalu dia memberikanku sebuah cermin kecil. Aku mengambil cermin itu dari tangannya lalu dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku seperti menyuruhku memakainya untuk bercermin. Aku mulai melihat ke arah cermin itu dan hanya terlihat diriku yang basah oleh air hujan. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu lagi tapi aku tidak bisa mendengar suaranya sama sekali karena derasnya suara hujan yang masih belum berkunjung reda. Mungkin dia bingung dengan apa yang terjadi padaku. Aku pun masih bingung dengan apa yang terjadi padaku karena aku tidak bisa mengingat sedikit pun apa yang terjadi padaku sebelumnya.

Aku berkata padanya, “Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.” Dia terdiam menatapku saat aku mengatakan itu padanya. Mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu tapi seakan bingung ingin mengatakan apa. Dia memegang tanganku kembali hanya saja dia tidak memegang pergelangan tanganku melainkan telapak tanganku. Lalu dia menarikku lebih dekat padanya dan seperti berbisik mengatakan sesuatu. “Aku pun tidak tahu dengan apa yang ku lakukan.”

Aku mulai bisa mendengar suaranya tapi aku tetap tidak mengenal siapa dia. Setelah berbisik dia lalu tersenyum padaku dan tiba-tiba memelukku. Dia memelukku dengan erat dan aku mendengar perempuan itu seperti ingin menangis. Aku bingung apa yang harus ku lakukan padanya. Aku hanya bisa terdiam tapi rasa hangatnya kini saat memelukku seperti ada sesuatu perasaan yang kembali pada diriku. Aku bisa merasakan dinginnya udara hujan yang mulai perlahan menghilang. Perempuan itu masih tetap memelukku dan dia seperti menangis hanya saja aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Lalu dia berbisik mengatakan sesuatu padaku.

“Aku tidak ingin melepaskanmu lagi, aku tidak ingin kehilanganmu lagi dan tetaplah bersamaku walaupun kau tidak bisa mengingatku kembali.”

Aku terdiam entah mengapa air mataku mulai menetes walaupun aku merasa tidak ingin menangis. Seperti diriku yang lain merasakan apa yang perempuan itu rasakan. Aku bingung harus bagaimana dan harus mengatakan apa tetapi suara perempuan itu mulai seperti tidak terdengar asing bagiku. Aku pun mulai mencoba mengingat kembali ingatanku sebelumnya hanya saja tetap aku tidak bisa mengingatnya. Hati ini masih terdiam dalam kebingungan mencoba mengingat sesuatu tetapi seperti ingatan itu pergi kembali. Perempuan itu tetap memelukku dengan erat. Dia seperti enggan melepaskanku untuk bergerak.

Aku bertanya padanya, “Apa kamu mengenalku?” Dia tetap terdiam tetapi sesaat tangisannya berhenti lalu dia melepaskan pelukannya dan memegang kedua tanganku. Dia mulai menatapku sambil tersenyum dan berkata, “Apa pun yang terjadi aku akan selalu mengenalmu, aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan pergi darimu,” Aku seperti terbawa hanyut dalam kejadian itu setiap kata-katanya, suaranya saat berbicara dan senyumannya saat menatapku seperti bukan seseorang asing bagiku.

Deras hujan dan dinginnya udara saat itu seperti tidak memberikan bekas pada hati ini. Saat perempuan itu datang dengan senyumannya dan tangisannya seperti ada yang datang melengkapi setiap ingatanku. Dia mulai memegang tanganku kembali dan membawaku pergi dari tempat itu. Aku seperti terbawa oleh semua arus yang terjadi padaku saat itu tetapi perempuan itu seperti membawaku pergi dari perasaan yang terus menghujaniku. Aku hanya seperti membiarkan perasaan ini terbawa oleh perasaan perempuan itu. Dan pada akhirnya aku hanya akan membiarkan hujan dan perasaan ini berakhir sampai sesuatu membuat ingatanku kembali pada titik dimana aku lupa kapan ini dimulai.

Cerpen Karangan: Rangga Septian M
Facebook: Rangga Septian M

Cerpen Hujan Di Abu Abu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


120 Bulan

Oleh:
“hai semua. Perkenalkan nama saya hiroharu higashiyama” Aku memperkenalkan diri di depan kelas baruku. Aku agak malu memperkenalkan diriku sendiri, mereka hanya menampakkan wajah datar mereka yang tanpa ekspresi,

Ketika Bintang Jatuh Cinta pada Hujan

Oleh:
Siang ini rintik hujan menyapa tepat begitu sepasang sepatu kets kesayanganku hendak melangkah keluar rumah. Semilir angin berhembus dan membuat setiap tengkuk yang dilewatinya bergidik kedinginan. Dua lapis baju

Miss Night

Oleh:
Sounds of owls and howling dogs on the hills tease the eternal loneliness at to night. Momentary voice shouted to each other. Dogs or a owls, I don’t know

Kehadiranmu

Oleh:
Semilir angin menelisik setiap jengkal asa. Meniupkan bumi nan pertiwi, indahnya hari libur tanpa segudang tugas sekolah menghampiri hidupku. Bunga tidur yang setia menemani tidurku, kini benar-benar hadir menghiasi.

Sepuluh Tahun

Oleh:
Perjalanan kali ini sungguh terasa berat bagi seorang pria muda bernama Benjamin. Sudah beberapa tahun sejak ia meninggalkan Hindia Belanda, kini ia harus kembali kesana untuk meliput negeri masa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *