Hujan Hari Jumat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 September 2015

Hujan, hujan itu berkah dari yang Maha Kuasa, hujan patut disyukuri. Hujan memberi berkah tersendiri bagi dunia ini. Tak terkecuali denganku. Sore itu aku duduk di koridor sekolah menanti redanya hujan sembari mendengarkan musik melalui headset-ku. Seusai kerja kelompok tadi hujan turun dengan derasnya. Temanku memilih untuk pulang karena memang mereka ngekost dan kostan-nya dekat dengan sekolah. Ku tenggak yogurt pemberian temanku, tak terasa sudah 1 setengah jam aku duduk. Sekarang pukul setengah enam sore, hujan tak jua kunjung mereda.

“Gak terang terang sih” gerutuku.

Hari sudah petang rasanya tak pantas jika anak sekolah sepertiku masih belum juga pulang. Ya sudah, aku nekatkan saja untuk pulang dengan basah basahan lagi pula besok juga libur.
Aku menuju parkiran untuk mengambil motorku, ku starter motor lalu beranjak pergi meninggalkan sekolah. Setibannya di pintu gerbang, ku dapati seorang perempuan yang duduk di kursi satpam.

“Siapa sih, gini hari segini belum pulang?” Ucapku sendiri. Ku coba dekati perempuan itu.
“Hay, bengong aja nih?” Sapaku.
“Ehh. Mmm, hay juga.” Jawabannya terkaget.
“Tumben jam segini belum pulang, nungguin siapa?”
“Iya nih. Nungguin Mbakku katanya mau jemput tapi sampe jam segini belum nongol-nongol.” Ucap perempuan itu dengan nada sebal.

Dia Maudy, teman satu angkatanku namun beda jurusan. Seseorang yang belum lama ini ku kenal. Ya, sekolah kami berbasis kejuruan, jadi terdapat jurusan studinya.
“Kamu sendiri kenapa belum pulang, kan bawa motor.” Tanyanya padaku.
“Iya tadi abis kerja kelompok, pas mau pulang malah hujan. Mana aku gak bawa mantel lagi, ya udah deh aku tungguin ujannya sampe reda. Eehh malah tambah deres.” Gerutuku.
“Hahaha, ya udah sih gak apa-apa.” Celotehnya sembari tertawa.

Maudy, perempuan berkerudung itu memiliki mata yang sipit, matanya yang kecokelatan, wajahnya yang putih bersih, pipinya yang tembem, senyumnya yang manis. Siapa yang tak mengira dirinya cantik dan menggemaskan.
“Apa mau aku anter pulang, rumahmu kan searah sama aku.” Ajakku.
“Emang gak ngerepotin nih, lagian kan lebih jauh rumah aku.”
“Gak apa-apa mod, soalnya kan udah malem, mana dingin lagi.”
“Iya sih, ya udah aku ikut kamu. Hihihi.”
Akhirnya dia seutuju untuk ku antar pulang.
“Aku gak bawa mantel, kita basah-basahan ya?”
“Siapa takut.”

Kami berdua meninggalkan sekolah. Jalan kota yang kami lalui sudah sepi. Lagi pula siap juga orang yang mau berkeliaran dalam keadaan hujan seperti ini ditambah hawa dingin yang makin lama menusuk tulang. Maudy memegang erat pinggangku. Entah karena ia ingin lebih safety atau karena kedinginan. Saat berhenti di Traffict Light, ku berikan jaket basah yang ku pakai padanya. Paling tidak bisa sedikit menanggulangi hawa dingin yang menerpanya.

“Ini mod, pakek aja jaketku.”
“Ehh, gak usah. Udah basah gini kok.”
“Gak apa-apa, udah pake aja.”

Ia mengangguk. Kami melanjutkan perjalanan. Momen seperti ini jarang sekali ku dapatkan. Apalagi mengantar seorang perempuan pulang. Hmm, mungkin ini bisa ku sebut hal yang langka dan jarang sekali ku alami. Di perjalanan kami aku jarang sekali berkata kata walaupun Maudy mengajakku bicara. Memang aku tipe laki-laki yang sangat kaku pada perempuan. Tapi inilah diriku dengan segala kelebihan dan kekurangan, aku harus bersyukur. Satu setengah jam perjalanan akhirnya sampai di rumah Maudy. Kali ini aku benar-benar sangat kediginan.

“Hmm, gak kerasa udah sampe.” Ucapnya sembari turun dari motorku.
“Iya.” Sambutku dengan nada datar.
“Masuk dulu yuk?” Ajaknya.
“Ehh, gak usah.” Elakku.
“Alahh, gak apa-apa. Masih sore kok.” Sambil menarik tanganku untuk masuk ke rumahnya.

Rumahnya besar, taman depannya pun luas. Terlihat bangunan dengan arsitektur bernuansa Kota Vanice di Italia. Mungkin dia anak seorang konglomerat. Aku duduk di kursi marmer. Maudy masuk untuk membuatkan minuman untukku. Dua puluh menit kemudian ia ke luar membawa sebuah nampan. Kali ini ia terlihat lebih cantik dengan mengenakan baju piyamanya. Rambutnya panjang sebatas bahu.

“Ini tehnya, ini kuenya. Gak usah malu-malu di sini. Hehe.”
“Makasih yah mod.”
“Iyah.” Iya melemparkan senyum padaku.

Senyumnya hangat sehangat teh ini, ia juga begitu manis. Setelah beberapa waktu, aku memutuskan untuk pulang, lagi pula hujan sudah reda.
“Mmm, mod. Aku pamit dulu ya. Udah malem nih.”
“Oh, iya iya iya.” Ia mengantarku hingga depan gerbang.
“Aku pamit dulu ya mod.”

Aku beranjak untuk menaiki motorku. Seketika Maudy menarik tangan ini. Aku pun tersentak. Kali ini ia memandangku tajam, matanya bersinar.
Keningku berkerut. Lalu ia memalingkan pandangannya.
“Rangga..”
Hening.
“Makasih yah.”
“I-iya.” Jawabku terbata bata.

Ia masih memandangku. Aku gugup. Tangannya masih menggenggam tanganku.
“Iya Maudy, ini tangannya jangan dipegang terus. Hehehe.”
Ia lekas melepaskan.
“Hehehe, maaf. Ya udah hati-hati ya. Sekali lagi makasih Rangga.”

Aku hanya tersenyum. Ku starter motor ini lalu lekas pulang. Maudy masih terjaga di depan gerbang dengan melambaikan tangan. Bulan mulai bersinar di balik awan. Malam yang indah. Ku terbayang wajah Maudy, apakah aku menyukainya. Ah entahlah, biarkan perasaan ini mengalir seiring berjalannya waktu. Bulan seperti tersenyum padaku seakan mengerti akan perasaan ini.

Cerpen Karangan: Rangga G Ananta
Facebook: http://www.rngg.url.ph

Cerpen Hujan Hari Jumat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Get Love

Oleh:
Oke, kembali ke pembicaraan. Denis itu suka sama Aris dan Dimas. Ngomong-ngomong, jangan pikir Denis itu laki-laki, perempuan tahu! Gue cuma bisa bengong lihat Denis kayak orang mendoan, eh,

Di Balik Seventeen

Oleh:
Tring.. tring… tring… terdengar suara bel sekolah ke seluruh penjuru kelas, hampir seluruh murid bersorak ria mendengar itu, tapi lain bagi Fika, yang merasa risih campur kesal mendengar suara

The First Boyfriend

Oleh:
Cinta itu Rumit dan sulit dijelaskan… Cinta bisa merubah hidup dan jalan pemikiran kita… Karena cinta Aku kenal yang namanya ANIME, dan karena anime aku kenal dan deket sama

Selfie

Oleh:
Ruslan remaja tujuh belas tahun yang sangat tampan. Wajah tirus, dagu lancip, bibir yang imut dan kulitnya putih nan berseri. Tatkala pipinya merona saat ia tersenyum. Ruslan sangat beruntung,

Disaat Aku Haus Penghargaan

Oleh:
Suara gemercik air dari sudut rumah telah membangunkan ALUYSIUS SENO AJI dari tidurnya. Pagi itu cuaca terlihat sangat bersahabat, semangat yang menggebu gebu dan perasaan yang tenang selalu ENO

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *