Hujan Yang Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 2 January 2016

Suasana kantor mulai lengang. Beberapa karyawan telah meninggalkan ruang kerja mereka sekitar sejam yang lalu. Kembali pada keluarganya untuk sejenak melepas lelah seharian bekerja dan bersiap kembali ke rutinitas biasa esok. Beruntung bagi mereka yang bisa pulang sebelum hujan turun. Namun, tidak bagiku. Aku masih duduk di ruang kerjaku sambil menatap hujan dari balik jendela. Ya, itu alasanku masih berada di sini. Hujan deras ini menahanku. Lagi pula ke luar sekarang sama saja harus bergulat dengan banjir dadakan dan macet di beberapa titik jalan ibukota. Lebih baik aku di sini dulu, menikmati hujan dengan hanya ditemani secangkir kopi. Siapa tahu setelah kopiku habis hujan akan reda, ya siapa tahu.

“Kau masih di sini?” Aku menarik napas. Mengetahui siapa pemilik suara itu.
“Ya, masih ada beberapa pekerjaan yang masih harus ku kerjakan,” kilahku sambil menunjuk beberapa dokumen di atas mejaku yang sebenarnya telah aku selesaikan.
“Lembur? Memangnya kau berani sendirian di sini? Rupanya kau belum dengar kisah tentang kantor kita ini.”
“Kau mencoba menakutiku ya?” Dia terkekeh.

“Lantas kamu sendiri kenapa masih di sini?”
“Tadinya aku sudah mau pulang, tapi aku melihatmu masih di sini. Jika kau mau, aku bisa menemanimu sampai selesai atau mungkin ada yang bisa aku bantu?”
“Tidak, aku bisa mengerjakannya sendiri,” kataku dengan nada suara aku ingin sendiri. Ya, aku tak ingin hujan yang sama menahanku bersamanya lagi. Sepertinya ia mengerti isyaratku. Senja tersenyum lalu pamit. Senja, sepertinya aku sudah terlalu dingin bersikap pada laki-laki itu. Semenjak ia menyatakan cintanya.

Aku menyesap kopi yang hampir dingin dan di luar hujan masih setia di balik jendela. Hujan yang sama pernah menahanku bersama dua orang berbeda. Saat itu aku merasa perbedaan waktu. Entah mengapa waktu terasa begitu lama saat bersama orang yang tidak kau cintai dan terasa cepat bersama orang yang kau cintai. Sama seperti pertanyaan sewaktu sekolah. Kenapa saat belajar Bahasa indonesia terasa cepat dan Matematika terasa lama meski masing-masing mata pelajaran memiliki durasi yang sama. Faktanya aku memang lebih menyukai mata pelajaran bahasa Indonesia ketimbang matematika.

“Aku cinta padamu.”

Kalimat itu ke luar dari mulut Senja. Ia bahkan tak berani menatapku saat mengatakan itu. Sebuah kalimat yang aku hindari dari Senja selama ini. Saat itu suasana sempat hening sementara. Mungkin Senja masih menunggu jawaban dariku sedangkan aku masih mencoba merangkai kata. Bagaimana caraku mengatakan bahwa aku telah mencintai orang lain. Aku menatap ke luar, oh hujan kenapa kau menahanku bersamanya di sini.

“Hmm, maaf aku…”
“Kau tidak perlu menjawab Juli, sebab yang tadi itu sebuah pernyataan bukan pertanyaan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, itu saja,” katanya. Kali ini dia berani menatap mataku dalam-dalam dan itu sempat membuatku salah tingkah. Suasana kembali hening. Hanya suara pergerakan detik pada jam dinding dan hujan yang masih cukup deras.
“Sepertinya hujan masih belum reda, bagaimana kalau kita minum kopi?” tanya Senja yang aku jawab dengan anggukan pelan. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa dua cangkir kopi.

Senja, tak ada yang salah dengannya. Dia bisa dibilang cukup tampan dengan kulitnya yang bersih, dia juga lebih tinggi beberapa sentimenter dariku. Sebenarnya laki-laki itu baik. Bahkan bisa dikatakan terlalu baik. Namun aku tak akan memakai alasan yang sudah mainstream itu untuk menolaknya.
“Hari ini kita lembur ya haha, kalau setiap hari lembur bersama kamu seperti ini dijamin aku gak bakalan ngeluh,” Senja berkelakar.
“Lembur setiap hari? Berapa kilogram kopi yang nantinya akan kau habiskan?” balasku. Kemudian kita tertawa bersama.
“Kopi? Aku tak perlu kopi jika bersamamu. Kau sudah seperti kopi, candu yang membuat mataku tahan terhadap rasa kantuk dan lelah.”

Aku menyesap kopi lalu tersenyum. Senja, mengingat tentangnya bukan berarti aku menyesal dan ingin kembali padanya. Hanya saja, sesekali kenangan semacam itu muncul ketika ada suatu faktor pemicu seperti hujan ini. Ponselku berdering saat aku dan Senja tengah menikmati kopi.
“Sayang, aku sudah di depan kantormu.” Aku melihat ke jendela dan ternyata hujan deras telah berganti dengan gerimis halus. Aku bergegas memasukkan beberapa file ke dalam tas.
“Mau ke mana?” tanya Senja yang melihatku membereskan tas.
“Mau pulang.”

“Hujan sudah reda rupanya, huh padahal tadi aku berdoa agar hujan sampai malam,” dia memunculkan mimik muka sedih yang dibuat-buat.
“Pakai ini, di luar pasti dingin,” Senja melepas jaketnya lalu menyodorkannya kepadaku. Awalnya aku menolak, tetapi Senja sendiri yang akhirnya melingkarkan jaketnya di bahuku.
Di bawah sudah ada Andre yang menunggu, sebenarnya kita belum jadian. Dia hanya sudah mengutarakan cintanya dan aku berniat menjawab hari ini setelah ia mengantarku pulang.

“Siapa dia?”
“Andre,” jawabku singkat. Aku lihat ekspresi wajahnya yang berubah menjadi sedikit muram.
“Aku bahagia kalau kamu juga bahagia,” katanya tersenyum sesaat sebelum aku menemui Andre.

Aku tidak terlalu menghiraukan perkataaannya barusan. Sebuah kalimat klise yang sering aku dengar dalam sinetron dan novel-novel cinta. Suara adzan maghrib telah berkumandang. Sudah pukul enam kurang sepuluh menit, setidaknya itu yang ku lihat di jam dinding. Aku meneguk kopi terakhirku sampai sebuah pesan masuk membuat ponselku bergetar. “Sayang, aku sudah berada di depan kantormu.”

Hujan sudah reda rupanya. Aku bergegas memasukkan beberapa file ke dalam tas dan memastikan semua tempat penyimpanan dokumen telah terkunci. Beberapa langkah sebelum aku ke luar ruangan. Aku melihat jaket kulit hitam milik Senja terlipat di meja dekat pintu. Padahal aku ingat telah mengembalikkan jaket itu. Sebelum aku mengambilnya lalu melingkarkan jaket itu di bahuku. Andre telah menunggu bersama putri kecil kami di dalam mobil. Sebelum mobilku melaju, aku melihat Senja melambaikan tangan. Ia berdiri tak jauh dari pintu masuk kantor. Aku balas melambaikan tangan sambil tersenyum.

“Ibu melambaikan tangan pada siapa?” tanya Lucy. Putri kecilku yang berumur lima tahun.
“Itu teman lama Ibu, sayang.”
“Mana? Aku tak melihat siapa pun di sana.”
“Besok kita pergi menemuinya ya sayang.”
Senja, dulu kau pernah berkata kau bahagia jika melihatku bahagia. Kini, kau bisa melihatnya. Aku bahagia dengan keluarga kecilku. Aku janji besok akan pergi berziarah ke makammu.

Cerpen Karangan: Intan Hanana
Blog: hananazahra.blogspot.com
Facebook: Intan Hanana

Cerpen Hujan Yang Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Pemandang Langit (Part 1)

Oleh:
Dia gadis yang menawan, kebiasaannya adalah memandangi langit, siang atau malam di taman kota. Namanya Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki, ia akan memandangi langit dengan banyak ekspresi, seperti nangis,

Gadis Lily Putih

Oleh:
Jika kamu berpikir aku akan bercerita tentang seorang gadis yang bernama Lily, itu jelas salah karena aku akan menceritakan seorang gadis bernama Lala. Jika kamu berpikir aku akan bercerita

LDR Yang Berawal Dari Game

Oleh:
Aku berkenalan dengan seorang laki-laki seusiaku, perkenalan dari sebuah game COC (Clash Of Clan) yang sampai sekarang masih jadi kesukaan orang-orang, dari situ aku semakin dekat dengannya, namanya Bagus.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Hujan Yang Sama”

  1. Carroll B. arianto says:

    Perjalanan cinta mirip seperti saya alami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *