Hydrangea

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Jepang, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 20 January 2014

Pesona bunga Hydrangea selalu nampak bermekaran untuk menghiasi awal musim panas yang cerah. Meskipun hujan kerap kali membasahi Hydrangea, dirinya tetap saja menghasilkan pemandangan yang sangat cantik. Air hujan yang saat itu membasahinya berbalik memancarkan warna biru dan pink dari sosok Hydrangea itu. Indah, meski telah layu Hydrangea tetap bertahan pada tangkainya.

‘Jika aku hanya mengandalkan aroma yang tersisa untuk mengingatkanku pada masa lalu, aku akan menangis lemah sampai bunga-bunga layu.’

Sampai hari ini aku masih teringat awal musim panas yang saat itu merebahkan sayapnya luas antara kau dan aku. Terdiam diri disini sama sekali tak menghilangkan kenangan di musim itu. Musin panas itu terlalu cepat berlalu meninggalkan bunga Hydrangea yang layu seorang diri disana. Hydragea yang layu itu pasti merasa sepi disana, warna kecoklatan saat itu terpancar di sekitar dirinya yang sendiri. Aku menatap bunga itu iba, mencoba meraih setangkai Hydrangea yang terjatuh.

Tidak ada kenangan indah antara aku dan kau serta bunga Hydrangea itu. Disini hanya ada rasa pilu yang menyeruak memasuki hatiku. Hydrangea yang layu hanya menjadi teman bisuku saat rasa pilu itu perlahan menembus musim panas yang sepi disini. Hujan tak lagi turun karena musim telah berganti, tetapi entah mengapa hati ini seolah tetap dihujani oleh rasa pilu di masa lalu. Mungkin hatiku layu seperti Hydrangea itu.

‘Tujuan kita ke tempat yang berbeda, tetapi kita hanya punya satu payung
Aku tak ingin basah, karenanya ku ucapkan selamat tinggal.’

Teringat lagi musim panas itu, berulang kali ku ingat meskipun saat ini hanya salju putih yang merebahkan sayapnya luas. Ku ingat hari dimana kita masih dapat melihat satu sama lain, hari yang begitu menyenangkan bukan? Tidak ada Hydrangea saat itu, yang ada hanyalah dirimu yang terpantul oleh sinar matahari musim panas terakhir kita. Aah— kenangan yang begitu indah tetapi semakin lama terlalu memilukan.

Hujan turun di musim panas itu, aku merebahkan payungku untuk segera pulang. Dari kejauhan aku menatap dirimu yang tengah memandangi hujan di luar sana. Rintik demi rintik hujan kini telah jatuh di atas telapak tangamu. Dingin bukan? Tidakah kau merasakannya? Musim panas yang diselimuti oleh hujan yang dingin seperti hatimu kini menjadi tema cerita kita berdua.

Aku ingin segera pulang dan meninggalkanmu bersama hujan disini. Aku tak ingin kau melihatku, menyapaku, hingga akhirnya aku tak dapat pergi dari tempat ini. Sejak awal kau dan aku memang berbeda — semuanya berbeda. Tetapi entah apa yang membuat kita terlihat menyatu, aku pun tak tau itu. Biarlah semua itu menjadi rahasia di musim panas ini.

Aku akan pergi.

“Jyaa— Sayonara—”

‘Jika kau ke kamarmu di sekitar sudut jalan ini di mana bunga Hydrangea mekar. Jarak yang dekat, sekarang begitu jauh.’

Entah berapa hari telah berlalu, hujan tak lagi turun dan panasnya musim ini begitu terasa. Walaupun tak turun hujan saat ini, aku masih mengenakan payung itu di bawah teriknya matahari. Saat aku kembali menatap lurus ke depan. Kusadari jalan ini penuh liku, seolah mencerminkan kehidupan yang tak pernah sejalan dengan keinginan. Ya — tak sejalan, layaknya kau dan aku.

Tak selamanya berliku memang, jalan ini telah kembali lurus dan setelahnya aku dapat melihatmu seorang diri di jalan yang lurus itu. Sedang apa? Sebuah pertanyaan dalam hatiku mulai bergema. Walaupun aku melangkahkan kakiku dengan tempo yang lambat, perlahan tetap saja aku akan sampai ke tempatmu berada. Jarak yang semakin dekat dan hati yang menjauh, kurasakan itu.

“Nani o shiteruka?” Lambaian angin panas menerpa menemani pertanyaanku padamu.

“Hydrangea—”

Kau tak memalingkan wajahmu saat itu, menjawabnya dengan singkat seolah aku mengerti dengan perkataanmu. Tidak, aku tak pernah mengerti akan kata-kata yang terlontar dari mulutmu itu. Bisakah kau jelaskan? Setidaknya kau katakan saja dengan kata-kata yang tak terlalu rumit.

“Hydrangea yang indah, aku tengah menatapnya.” Katamu lirih dengan tatapan yag begitu tajam.

‘Poni yang menutupi bulu matamu sedikit tumbuh, dan juga warna ungu kuku yang menghiasi tanganmu.’

Masih menatapmu tak mengerti. Kau tetap tak memalingkan pandanganmu, mengapa? Kau tetap memandang Hydrangea itu tetapi tak sedetik pun kau menatapku. Memang indah sosok Hydrangea itu, aku menyukainya — bunga itu selain indah juga terlihat kuat dan tegar.

Hydrangea yang indah,

Kau nampak anggun dengan warnamu,

Selalu kau datang menghiasi musim panas,

Terkena hujan diawal dan indah kemudian,

Memantulkan cahaya warna yang indah,

Pink dan biru menyatu, bahkan terkadang ungu menghiasi,

Tak bisakah kau berikan satu warna itu padaku?

Jadikanlah aku seperti dirimu, Hydrangea…

‘Sekali aku menemukan satu hal yang ku tak tahu
Aku menyesali hari, bulan, tahun yang telah kuhabiskan.’

Pagi meyeruakan kicauannya, siang merebahkan cahayanya, dan malam menampakkan gemerlapnya. Hari demi hari penyesalan datang menyelimuti diriku yang tak bisa menjadi Hydrangea. Musim akan tetap berganti menjadi berbagai warna yang indah sebagai temanya. Tetapi, hatiku tak akan pernah mengukir nama lain dan menggantinya karena aku hanya dapat mengukir satu nama disana.

Kenangan, semua telah menjadi kenangan yang utuh. Kenangan tentang musim panas satu tahun yang lalu menjadikan hatiku layu bersama Hydrangea di jalan yang liku. Penyesalan tak ada arti, Hydrangea telah layu tetapi dirinya akan datang lagi di musim panas berikutnya. Hydrangea — aku iri padamu. Aku tak bisa seperti bunga itu.

‘Pada pagi hari reuni kita, ketika aku melihat semua hal yang kita semua bawa di punggung kita, aku tak bisa tertawa.’

‘Seorang diri aku menuju pusaran penyesalan.’

Saat itu kita berjumpa kembali,

Kini langit biru menjadi latar pertemuan kita, sebuah pertemuan kecil yang begitu singkat antara kau dan aku. Di tempat ini aku kembali melihatmu dengan jelas, kau — dirimu yang terpantulkan teriknya matahari serta awan putih yang indah. Begitu ingin menyapamu, aku hanya ingin menyapamu dengan sebuah kata-kata singkat. Tidak bisakah ku lakukan?

“Ohayou.”

Suara itu nyaring di telingaku. Aku menoleh, mencari sumber suara itu dan kudapati dirimu tengah berdiri disana. Saat itu kau tersenyum disana, tersenyum seorang diri menyapaku dari jarak yang tidak terlalu jauh. Benarkah kau menyapaku? Sungguh aku tak mempercayainya.

“Ohayou, lama tak berjumpa ya.” Aku mencoba tertawa kecil saat menyapamu, menyapa mentari pagi yang mempertemukan kita kembali.

Kemudian setelah sapaan itu berlalu kita berdua mulai berbicara singkat. Aku menyadarinya, kau yang telah berubah dan semakin dewasa. Dirimu yang telah beranjak dewasa kini tengah berdiri di hadapanku. Kau tersenyum untuk kesekian kalinya, kau menyapa hari ini dengan senyuman hangat bukan?

Singkat, terlalu singkat.

Kini, langit biru dan awan putih telah berlalu meningalkan kau dan aku. Saat ini hanya ada senja yang menjadi latar perpisahan kita. Ya, sebuah perpisahan yang cepat dari pertemuan yang singkat. Aku tak dapat merangkai sepatah kata pun saat itu, wajahmu yang terpantulkan cahaya senja kemerahan semakin membuatku terdiam disana. Kau seolah tenggelam dalam senja.

“Hari akan semakin larut.” Suaramu menyadarkanku sejenak, tetapi aku masih diam.

“Kita harus berpisah disini.” Kau melanjutkan kata-katamu dan kini diriku tanpa sengaja tengah menatapmu di bawah senja kemerahan yang menjadi latar perpisahan kita.

“Ya, sayonara.” Aku melambaikan tanganku saat menatap sosokmu yang kian menjauh. Mencoba tersenyum walaupun begitu berat rasanya.

“Sampai nanti, sampai berjumpa kembali.” Perlahan kau mulai menghilang, kata-kata terakhirmu kini menggema di telingaku saat dirimu benar-benar telah hilang terhempas senja.

Berjumpa lagi?

Mungkinkah?

Tidak mungkin!

Inilah yang terakhir,

“Sayonara, semoga kita berbahagia di jalan yang berbeda.”

Dan kini aku tengah melanjutkan langkah ku yang berlaianan arah dengan dirimu itu. Tetapi ingatlah kenangan itu masih tersimpan rapat di hati ini. Seolah sosok indah Hydrange itulah yang menjadi kunci kenangan tersebut.

Saat itu — dan selamanya.

Ajisai no hana ga saku kono michi no kado o magattara kimi no heya made
Wazuka na kyori kyori ga ima wa tooku

‘Jika kau ke kamarmu di sekitar sudut jalan ini di mana bunga Hydrangea mekar jarak yang dekat, sekarang begitu jauh….’

Cerpen Karangan: Gita Ns
Blog: http://aikagita.blogspot.com

Cerpen Hydrangea merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Yang Menyakitkan

Oleh:
“Lihat! Mereka bertiga!” Tunjukku yang sedang berada di lantai dua sekolahku. “Kalo sudah lihat terus ngapain?” Jawab polos temanku dengan Eyww ingus cap one nya tepat berada di terowongan

Antar Aku Dengan Senyuman

Oleh:
“iya bun.. bunda juga jaga kesehatan ya..!! daaah bunda.. assalamualikum..” ku tutup telpon dari bunda dan segera kurebahkan tubuhku diatas sebuah sofa. Hari ini matahari sangat terik, lumayan juga

Yume Dan Persahabatan Yang Manis

Oleh:
Hari itu hari minggu siang. Terlihat Yume yang berlari riang sambil mendekap karangan bunga lili menuju taman di mana kedua sahabatnya menunggu. Michiko Sakura dan Kazuto Tetsuya. “Hoiii!!!” Gadis

First Love

Oleh:
Awalnya, Kukira aku tidak akan pernah kehilangan dirimu… Kau cinta pertamaku.. Tapi kini telah pergi… Menghilang bersama angin bulan Desember… Aku menatap butir-butir air yang jatuh dari langit. Setiap

Mampu Diam

Oleh:
Hiks.. hiks.. suara isak tangis terdengar untuk kesekian kalinya selama hampir satu minggu ini. Cila, begitu orang memanggilnya, gadis kecil dengan rambut panjang tengah terisak menangisi ulah kekasihnya yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *