I am Sorry

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 September 2016

“Lo hari ini ada acara lagi, Fel?,” tanya Bram sewot.
“Iya. Maaf guys!”
“Tapi ini gimana?,” tanya Billy memelas sambil menunjukkan buku partitur musik karangan mereka yang setengah jadi.
“Gue janji, besok bakalan jadi!,” ucap Felly mantap.
“Udahlah guys, biarin Felly pergi. Kapan lagi dia bisa cinta sama cowok? Mumpung ada kesempatan, lah guys. Tolong, ngertiin temen lu pada!,” sahut Riska memelas.
Bram dan Billy menghembuskan nafas beratnya. Sedikit kecewa dengan Felly yang berubah. Yah… berubah sedikit jauh kepada mereka seteleh permintaan sekolah menyergapnya.
Bagaimana tidak? Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis cantik dengan tubuh yang semampai indah serta talenta vokal dan juga gitaris terbaik. Namanya, telah beredar di telinga kawasan remaja dan tabloid mingguan. Tidak hanya dia saja, melainkan seluruh personil bandnnya telah masuk ke dalam tabloid dengan liputan kejuaraan-kejuaraan yang mereka raih.
Tentunya, dengan hal itu mata akan tertuju pada mereka. Terutama Felly yang tengah menjabat menjadi kapten mereka. Siapa yang tidak tertarik padanya setelah melihat dan mendengar biografinya? Latar belakangnya? Dan, kepribadiannya yang menonjol. Yaitu, dingin. Sedingin es. Saat ia tersenyum, mereka yang melihat seakan menemukan emas di sana.

“Maaf telat!,” ucap Felly terengah setelah berlarian menuju ruangan yang ditujunya.
“Oh, Felly! Nggak papa kok, nggak terlalu lama juga,” jawab Vino santai dengan membuka buku partitur musiknya.
“Anak-anak kemana?,”
“Tadi sih, katanya beli makanan dulu. Mungkin, sebentar lagi mereka akan kembali.”
“Bagus, lah.”
“Oh, ya diskusi kita yang kemarin banyak komplain yang harus diperbaiki dengan anggota. Jadi, gue terpaksa manggil anak-anak untuk menyatukan pemikira mereka tentang tata panggung dan juga susunan acara dan event-event sebelum pementasan.”
“Ok. Kita selesaikan hari ini. Setelah itu, barulah kita bikin proposal untuk tanda tangan sekolah.”
Vino hanya mengangguk pelan. Menatap Felly yang tengah mulai serius dan terjun ke dalam pekerjaannya. Setiap hari, Felly selalu datang ke ruangan kerja Vino untuk merapatkan acara tentang HUT sekolah. Mereka memanggil Felly sebagai tamu mereka meski Felly sekolah di tempat yang sama. Tentunya, manggung bersama dengan rekan-rekan bandnnya alias Pro Tecno.
Mereka menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah. Setelah 15 menit Felly latihan musik bersama dengan Pro Tecno untuk menyiapkan turnamen tahun ini. Merebutkan piala presiden.

Vino adalah adik kelas Felly. Saat Vino ingin memasuki sekolah yang sama dengan Felly, ia datang ke rumah Felly dan meminta arahan tentang tes dan segala macamnya tentang sekolah yang akan dimasukinya itu. Felly menerimanya dengan kedua uluran tangannya. Bahkan, Felly membantunya dengan memberikan sedikit pelajaran yang pernah keluar di tahunnya tes.
Hingga akhirnya, mereka satu sekolah. Dengan posisi, Vino menjado wakil ketua OSIS. Karena ketua OSIS mengalami kecelakaan, maka Vinolah yang menggantikannya untuk memimpin berbagai rapat. Yah.. rapat untuk persiapan sekolah Felly.

“Udah makan, Fel?,” tanya Ecy dengan membawa sekantong plastik makanan.
“Hmmmm belom sih, kenapa emang?”
“Gimana kalau makan bareng? Mungkin, ini akan kelebihan. Soalnya, anak-anak tadi beli banyak, Fel.”
“Nanti aja, gue mau mengubah ini sebentar Cy.”
“Terserah lu, dah!,” respon Ecy pasrah.

Setelah Ecy meletakkan makanannya di meja, anak-anak anggota OSIS berdatangan dan duduk di tempat masing-masing. Siap menerima presentasi dari Vino, Felly dan Ecy. Mereka adalah tentor utamanya.
Felly berperan sebagai penyanyi, sedangkan Ecy berperan sebagai designernya. Ecy mendesign baju-baju yang dibutuhkan oleh OSIS untuk seragam. Serta objek yang akan naik di atas panggung. Terutama, pertunjukan drama.
Mereka pun bergantian untuk menerangkan bagiannya. Menerima pendapat dari peserta, menampungnya dan menyelesaikannya dengan musyawarah mufakat. Mencapainya dengen kesepakatan yang diambil secara bersama-sama.

Tak lama kemudian, Felly mendapat telepon dari Bram.
“Malam ini bisa keluar?”
“Sorry Bram, gue nggak bisa. Gue udah terlanjur ada janji sama Vino untuk makan malam. Ada apa emang?”
“Enggak, Cuma bahas tentang cord yang nggak cocok aja. Takut keburu DL gue! Hehehe.”
“Enggak, santai aja. Gue akan berusaha nyelesaiin deh nanti malam.”
“Ok! Gue tunggu! Bye!,” ucap Bram mengakhiri pembicaraan mereka.

Felly kembali masuk ke dalam ruangan setelah menerima telfon dari Bram. Kembali mendengarkan model-model fashion yang diterangkan oleh Ecy. Cowok cool yang jadi inceran banyak cewek. Sama kayak Bram dan Billy. Begitu juga dengan Vino.

Belakangan ini, Felly sering ke luar bersama Vino. Bahkan, Vino terus memaksa Felly untuk ke luar bersamanya. Padahal, Felly tidak biasa seperti itu. Bahkan, Bram dan Billy pun terkadang kewalahan untuk mengajak Felly keluar dan mendapatkan jawaban iya dari Felly. Namun, hanya dengan beberapa kata permohonan saja dari Vino, Felly sudah dapat menyerukan suara persetujuannya kepada Vino.

“Fel, gimana kalau kita keluarnya sekarang? Biar pulangnya nggak terlalu larut!,” ajak Vino setelah rapat mereka selesai.
“Boleh deh! Emang kita mau kemana?”
“Kepo, deh lo! Ntar, lo juga bakalan tahu sendiri kok!,” kata Vino dengan memicingkan matanya.
“Dasar! Udah yuk berangkat!,” ajak Vino semangat.

Mereka pun berangkat ke tempat yang mereka tuju. Tempat yang terletak di pinggaran laut. Menghadap ke laut yang berlukiskan matahari senja. Siap untuk berganti malam dengan coretan pigmen berbagai warna. Perpaduan merah dan orange yang menyatu dengan kuning. Membantu siluet burung bangau yang terbang kembali ke sarangnya.
Nuansa classic dengan romantisme lampu yang berkelap. Meja yang terisi dengan mayoritas sepasang kekasih. Dengan hidangan serba coklat. Minuman coklat, Ice cream coklat, desert coklat, hingga cake coklat. Sejenak, Felly merasa bingung dengan situasi seperti itu. Mengingat, Felly adalah gadis tulen yang masih normal. Bahkan, benar-benar normal!

“Felly, makasih ya atas segalanya?,” ucap Vino dengan mengaduk Milkshake Coklatnya.
“Untuk apa?,” tanya Felly bingung.
“Untuk waktu kebersamaan kita. Waktu yang lo berikan untuk gue. Makasih, Fel.”
“Oh, gue kira apaan?!,” ucap Felly santai dengan memotong cake coklat yang telah dipesankan oleh Vino.
Keras! Itulah yang dirasakan Felly saat ia menajamkan pisaunya dengan gesekan yang kuat untuk cakenya.
“Apakah cake coklat di cafe mahal seperti ini? Keras banget, kayak batu! Tahu gitu, mending ngambil batu aja sekalian di laut! Daripada begini!,” gumam Felly dalam hati dan terus berusaha memotong cakenya.
Sedangkan, Vino menatapnya dengan gigitan kecil di bibir bawahnya. Seakan, ia menantikan moment yang benar-benar ia tunggu.

“Susah, ya?,” tanya Vino ragu.
Felly mengangguk dengan menatp mata Vino sejenak. Terus berusaha untuk memotong cakenya. Dan, terpampanglah kertas alumunium di tengah cakenya. Ia terus membuka dengan pisaunya.
Kemudian, seluruh cake hancur karena terlepas dari kertas alumunium itu. Felly terus memotongnya. Hingga akhirnya, Felle kehilangan kesabarannya. Ia membuka kertas alumunium itu. Huruf “F” di atas kotak hitam.
Felly terus membukanya. Dan, terpapanglah kalung dengan model liontin yang begitu indah. Menawan. Serta memukau. Untuk yang pertama kalinya, Felly terpana dengan benda-benda yang begitu feminim. Felly menatap kalung itu dengan heran. Tentunya, dengan dahi yang berkerut.

“Kamu suka?,” tanya Vino.
“Apa maksud ini semua?,” tanya Felly menuntut.
“Gue cinta sama lo!,” jawab Vino tegas dengan nada yang begitu lembut.
“Cinta?,” ucap Felly sinis.
“Kenapa? Apakah aku salah mencintai kamu?”
“Tch! Cinta?!”
“Iya, Fel. Aku benar-benar mencintai kamu. Aku ingin bersamamu. Ada di sampingmu dan menemani hari-harimu.”
“Aku juga mencintai kamu!,” ucap Felly datar dengan mata yang tajam. Sangat tajam. Sama seperti singa yang tengah siap menerkam mangsanya.
“Benarkah?!,” tanya Vino tak percaya.
“Yah! Aku mencintai kamu tak sekedar hanya sebagai adik kecil! Adik yang masih membutuhkan bimbingan kakaknya! Adik yang cacat karena masih tak bisa berdiri di atas dirinya sendiri!”
“Tapi, aku menganggap kamu lebih dari kakakku!”
“Itu hakmu! Tapi yang pasti, aku akan tetap sama menganggap kamu sepert adikku! Dan, tidak sepantasnya kakak berhubungan khusus dengan adiknya!”
“Apa kurangku hingga kamu berbicara seperti itu?”
“Kurang mengerti akan arti sebuah cinta!,” ucap Felly tegas dengan makna yang mendalam.
Vino tertegun mendengar penolakan Felly. Bagimana tidak? Untuk yang pertama kalinya, Vino Laurenndo ditolak seorang gadis.
“Lagi pula, kamu adalah mantan kekasih sahabtku Maya. Sebenci apapun aku keadanya, aku tidak akan pernah menyakitinya dengan menusuknya dari belakang,” lanjut Felly.
“Jadi itu alasan kamu menolak cintaku?!”
Felly mengangguk. Lalu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Vino yang masih lemas menatap kalung yang tak tersentuh jari Felly sama sekali.
“Permisi!,” ucap Felly dengan meraih tas ranselnya dan melangkah pergi ke luar cafe.

Saat di depan pintu, ia berhadapan dengan Ecy yang datang dengan segerombol teman-temannya. Dengan tatapan yang masih panas, Ecy membalasnya dengan senyuman. Felly, hanya dapat membalas senyumnya dengan tatapan datar dan susutan api di matanya. Lalu, cepat-cepat pergi meninggalkan Ecy.
Heran! Tentu! Itulah yang dirasakan Ecy. Sehingga, hal tersebut membuat Ecy harus memutar bola matanya. Menyapu seluruh ruangan hingga ke sudut-sudut ruangan. Hingga akhirnya, ia menemukan Vino yang masih tertegun dan termangu dalam diam menatap makanan di mejanya.
Ecy pun menghampirinya. Begitu juga teman-temannya yang mengekor di belakang Ecy.

“Kalian bisa duluan! Gue ada urusan sebentar!,” pinta Ecy kepada teman-temannya dengan maksud ingin berbicara sejenak kepada Vino.
“Lo kenapa?,” tanya Ecy kepada Vino dengen duduk di depan Vino setelah teman-temannya pergi meninggalkan dia.
Vino hanya menggeleng tana mengeluarkan suaranya.
“Ayolah, men! Gue janji nggak bakalan bilang siapa-siapa, deh! Sueeerrr!,” ucap Ecy mantab dengan mengacungkan jarinya hingga membentuk huruf “V”.
Vino masih tetap terdiam dengan tatapan menyesal yang diselimuti amarah.
“Lo nembak Felly, kan?,” tanya Ecy meyakinkan.
Seketika Vino menatap Ecy dengan tatapan kaget. Seakan, ia melihat dukun yang telah memprediksi kejadian barusan.
“Lo tahu darimana?!,” tanya Vino sedikit marah.
“Karena tatapan mata itu, adalah tatapan mata yang sama dua tahun lalu!,” jawab Ecy yakin.
“Dua tahu lalu? Apakah lo mempunyai masa lalu dengan Felly?”
“Yah.. gue mempunyai masa lalu dengannya. Gue senasib dengan lo! Fadly Alfa Redcy! Pertama kali menerima tolakan dari seorang cewek! Hal tersebut membuat gue syok saat itu. Gue nggak percaya kalau gue ditolak. Karena, sebelumnya gue belum pernah di tolak sama cewek. Seberat apapun cewek itu menolak, pada akhirnya cewek itu akan jatuh ke pelukan gue! Kecuali, Felly!”
“Lo tahu banyak tentang Felly?!”
“Setelah gue memaksakan kehendak gue untuk menjadi sahabatnya.”
“Gimana lo bisa mengatasi frustasi yang lo alami saat itu?”
“Gue berlari kesana dan ke sini untuk melupakan dia. Gue juga melampiaskn amarh gue ke cewek lain. Gue juga nggak peduli dengan apa yang cewek pelampiasan gue rasakan. Hingga akhirnya, gue bertemu dengan teman-teman gue yang punya kerja sampingan sebagai designer. Akhirnya, gue mencoba dan terus mencoba. Dan, berhasil! Satu tahun gue kelam dalam pekerjaan karena Felly! Pada akhirnya, gue juga masih belum bisa seluruhnya menghilangkan cinta gue ke dia.”
Vino hanya terdiam mendengar penjelasan Ecy. Bahkan, Ecy semakin gencar menceritakan perjuangannya yang begitu keras kepada Felly. Akan tetapi, semuanya sia-sia dengan penolakan. Sama halnya dengan yang dialami oleh Vino.
Dan, di sanalah mereka Vino mengerti bagaimana karakter Felly. Setelah, Vino mengetahui kisah cinta Felly yang telah menjadi legenda bagi orang yang telah mendengarnyaa. Yaitu, penantian cintanya kepada cinta pertamanya selama tujuh tahun setelah perpisahan mereka. Bertahan dari cinta yang datang untuknya. Cinta yang siap membahagiakan Felly.
Namun, bagi Felly cinta yang bisa membahagiakannya adalah cinta petamanya yang telah lama hilang karena hanya satu hal. Karir yang masih belum tercapai. Bahkan, untuk saat ini Felly tengah bermaraton dengan mantan kekasihnya. Memperbutkan gelar yang bisa mereka lampaui. Dan, tetap berdiri dengan kesetiaan meski terkadang ada kemunafikan.
Cinta! Itulah kata yang selalu ada di setiap diri manusia. Oleh karena itu, cinta dianggap sebagai anugerah. Karena, setiap manusia pasti akan merasakan cinta. Akan tetapi, cinta belum tentu harus berujung dengan lawan jenis dengan rasa yang begitu khusus. Cinta juga bisa diutarakan kepada sahabat, teman, orangtua, Tuhan, ataupun yang lainnya.
Tentunya, dengan cara dan rasa yang berberda. Serta perwujudan yang berbeda dengan cinta untuk lawan jenis. Dan, semua itu tergatung dengan pemiliknya. Mewujudkannya dalam hal apa. Karena, cinta adalah sebuah sesuatu yang harus di jaga. Dimana, cinta juga bisa berlari meninggalkan kita. Bahka hilang tanpa kita sadari. Namun, tetap ada saat kita tersentuh hingga ke dalam relung hati.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen I am Sorry merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surprise Sweet Seventeen

Oleh:
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun. Sesuatu yang kuharapkan yaitu keluargaku mengingat dan merayakan ulang tahun yang hanya terjadi setahun sekali. Aku berharap ayah

Kota Mati

Oleh:
Udara ini berubah di kota mati Seperti kisah masa lalu Kini membisu Sialan. Sebuah lagu terputar di handphone kunoku. Lagu yang sudah setahun belakangan ini kuhindari. Iya, lebih baik

One More Time To Be Is Last

Oleh:
“Citrrraaaaaa…!!!”, teriakan nyokap gue yang selalu gue denger tiap pagi, siang, malem, bahkan saat gue mandi. Inilah gue, Sabrina Citra Dewi Putri Sailendra, cewek penggemar musik dan… kalian bakalan

Apa ini Dari Nya?

Oleh:
Malam pekat dengan deru angin yang mecekam. Mendidih dalam dingin. Berdiri dalam sederet bulu tubuh yang mencekar. Merasuk dalam tulang. Menerobos gerbang hati. Mengetuk dalam getaran jiwa tuk bangun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *